One & Only

One & Only
119 - Datang Untuk Membantu.


__ADS_3

Yura kembali melempar pisau yang ada di tangannya saat merasa ada yang mengawasi. Setelah itu, Yura bersama Yasha dan beberapa prajurit lain bergegas memeriksa ke arah pisau dilempar oleh Yura. Namun, saat dilihat tidak ada siapa atau apa pun di sana. Selain hanya ada jejak tetesan darah yang menjauh pergi.


"Tidak ada siapa pun di sini."


"Namun, ada jejak darah di sini. Mungkin pisau yang tadi kulempar sudah berhasil mengenai seseorang," kata Yura


"Ini pasti perbuatan orang Brande. Apa perlu kami ikuti jejak darah ini dan mencari siapa yang tadi berada di sini dan terkena lemparan pisau dari Nona Yura?"


"Tidak perlu. Jika memang benar itu adalah orang Brande dan jika orang yang terkena pisau punya teman atau bantuan, maka akan berbahaya untuk mengikutinya. Lagi pula, pisau yang saya lempar tadi sudah lebih dulu terkena darah ular berbisa yang juga saya lempari pisau sebelumnya," jawab Yura


"Jadi, itu cukup untuk memberi hukuman pada orang itu karena jika darah seseorang terkontaminasi dengan darah ular berbisa juga bisa menimbulkan alergi atau bahkan juga keracunan, meski pun mungkin tidak separah saat terkena gigitan ular berbisa secara langsung. Saya curiga dan menduga kalau ular tadi juga perbuatan orang Brande yang sengaja menaruhnya di sini," sambung Yura


"Yura, bagaimana kalau itu bukan orang Brande seperti yang kukatakan tadi? Kalau tidak, bagaimana jika orang yang terkena lemparan pisau darimu datang untuk meminta agar kau bertanggung jawab karena telah melukainya?" tanya Yasha


"Kak, aku mengerti jika kau merasa khawatir padaku sebagai seorang kakak, tapi tidak perlu berlebihan. Jika ada yang datang untuk meminta pertanggung jawaban dariku, maka aku akan melakukannya. Aku akan menawarkan racun dalam dirinya dan mengobati juga dia punya luka lain, aku bahkan besedia membayar jika diminta. Biar itu jadi urusanku saja," ungkap Yura


"Namun, ini adalah medan perang. Tidak peduli kapan waktunya kita harus selalu waspada dari pada bersikap lalai atau pun tidak sama sekali. Kau hanya perlu bersikap sebagai pemimpin seperti biasa dan anggap saja aku ini adalah bagian dari anggota pasukan prajuritmu. Kau sendiri yang bilang agar jangan memberi perlakuan istimewa padaku. Kau juga harus memegang ucapanmu sendiri," sambung Yura


"Baiklah, kau benar. Namun, kau harus selalu berhati-hati agar aku tidak perlu merasa khawatir secara berlebihan lagi," kata Yasha


"Aku bisa menjaga dan melindungi diriku sendiri serta akan bertanggung jawab pada setiap tindakan yang kulakukan. Kak Yasha, kau tenang saja ... " ucap Yura


Saat itu semua pun saling membubarkan diri. Ada yang beristirahat dan melakukan tugas untuk berjaga.


"Kupikir Nona Yura sangat hebat. Sebelumnya meski kita tidak melihat, Nona Yura menyerang pasukan musuh dengan tembakan anak panah. Tidak sembarang orang memiliki kemampuan menembak anak panah dengan tingkat ketepatan target yang sempurna."


"Lalu, saat membunuh ular tadi juga. Selain punya kepekaan dan gerak refleks yang baik, lemparannya juga tepat sasaran. Begitu juga saat melempar pisau ke arah orang misterius yang mengintip kamp kita. Meski pun kita tidak melihat saat pisaunya mengenai sasaran, jejak darah itu membuktikan bahwa ada yang terluka karena lemparan pisau dari Nona Yura."


"Bagaimana menurut kalian?"


"Benar. Kemampuan yang dimiliki Nona Yura tidak main-main. Beruntung dia datang ke sini untuk membantu kita di kamp prajurit ini."


Tak lama setelah itu ada seseorang yang datang sambil menunggang kuda. Karena baru saja mencurigai ada musuh yang mengawasi kamp prajurit, para prajurit menjadi kembali berjaga-jaga dan bersiap siaga di tempat saat ada orang yang tidak dikenal datang di tempat itu.

__ADS_1


Yura yang sedang merapikan sesuatu langsung mendengar tentang kedatangan orang tak dikenal di sana. Mengetahui hal itu, Yura pun bergegas untuk melihat sikon (situasi dan kondisi) yang sedang terjadi. Namun, Yura merasa dapat mengenali penunggang kuda yang baru datang itu.


"Kak Yasha, tolong suruh pasukanmu untuk menurunkan senjata sekarang juga," ucap Yura


"Ada apa, Yura? Apa kau kenal dengan orang itu?" tanya Yasha


"Tentu saja. Apa satu pun dari kalian semua tidak ada yang bisa mengenalinya? Dia adalah Tuan Penasehat Besar, Arvan. Tenanglah, semuanya ... " jawab Yura


Orang yang baru datang itu pun menurunkan tudung jubah putihnya dan beranjak turun dari atas punggung kuda. Tepat seperti yang dikatakan oleh Yura bahwa orang tersebut adalah Tuan Penasehat Besar, Arvan. Barulah saat itu para prajurit benar-benar menurunkan senjata.


"Selamat malam, semuanya ... " sapa Arvan


"Selamat malam dan selamat datang, Tuan Penasehat Besar," sahut Yasha


"Arvan, kenapa kau pergi meninggalkan Istana Kerajaan dan datang ke sini?" tanya Yura


"Baginda Raja sudah membaca surat yang datang dari daerah perbatasan soal permintaan pengiriman bantuan pihak medis dan Beliau memutuskan untuk mengirimku ke sini. Aku pergi dari Istana Kerajaan dan datang ke sini atas perintah dari Baginda Raja," ungkap Arvan


"Begitu, rupanya. Itu adalah surat yang kukirim tak lama sebelum Yura datang ke sini," ujar Yasha


"Itu memang benar. Namun, aku datang untuk membantu Yura di posisi bantuan pihak medis tersebut karena tidak mungkin pihak medis hanya diisi oleh satu orang," kata Arvan


"Kedatangan Tuan Arvan sangat berarti dan membantu kami di sini. Terima kasih banyak sudah bersedia datang untuk membantu kami si sini," ucap Yasha


"Karena kau sudah datang, maka langsung istirahat saja. Kau pasti lelah selama berada di perjalanan menuju ke sini," ujar Yura


"Sepertinya Nona Yura tidak pantas bicara seperti itu pada Tuan Penasehat Besar karena Nona Yura pun sama sekali belum istirahat sejak datang ke sini."


"Saya akan langsung istirahat setelah ini karena urusan saya di sini hari ini sudah selesai," kata Yura


"Kalian semua, jangan lupa untuk jangan masuk sembarangan ke dalam tendaku karena Yura akan memakai tendaku untuk tidur mulai malam ini. Lalu, tolong segera siapkan makanan untuk Tuan Arvan," ucap Yasha


"Siap, laksanakan, Ketua!"

__ADS_1


"Jika aku memakai tendamu, kau akan tidur di mana malam ini, Kak?" tanya Yura


"Aku akan tidur di dalam tenda prajurit lain. Hal seperti ini sudah biasa, jadi tenang saja dan istirahatlah dengan baik," jawab Yasha


"Kalau begitu, saya akan mengantar Tuan Arvan ke dalam tenda yang akan jadi tempat istirahat Anda. Mari, ikuti saya ... " sambung Yasha


"Sepertinya Yura tidak senang dengan kedatanganku di sini karena dia langsung pergi istirahat saat melihatku datang. Apa Yura masih marah padaku? Tapi, kata salah satu prajurit tadi Yura memang belum sempat istirahat sejak datang ke sini. Mungkin dia hanya merasa lelah dan aku hanya terlalu berlebihan," batin Arvan


Arvan pergi dari Istana Kerajaan sejak jam 5 sore dan sampai di kamp prajurit daerah perbatasan pada jam 10 malam. Lelaki itu melajukan kudanya dengan kecepatan maksimal dan hanya menempuh waktu 5 jam selama berada di perjalanan. Ia menghemat waktu selama 1 jam perjalanan dari yang seharusnya karena biasanya jarak waktu tempuh perjalanan bisa sampai 6 jam lamanya.


Yura pun beranjak masuk ke dalam tenda milik Yasha untuk istirahat, sedangkan Yasha mengantarkan Arvan ke dalam suatu tenda lain untuk istirahat dan langsung meninggalkan Arvan di dalam tenda setelah mengantarnya.


Namun, tak lama setelah itu Yasha kembali untuk mengantar seporsi makanan pada Arvan.


"Pernisi, Tuan. Saya mengantar makanan untuk Anda. Silakan dimakan. Ini adalah masakan yang dibuat langsung oleh Yura dan prajurit lain mengatakan rasanya lezat. Meski pun hanya makanan sederhana, semoga cocok untuk Anda," ujar Yasha


"Baiklah, terima kasih banyak. Kau tidak perlu terlalu sungkan dan formal denganku. Bicara santai saja. Karena kau adalah Ketua dan aku tetap harus mengikti aturanmu di sini," ucap Arvan


"Baiklah, Arvan. Aku akan langsung pergi. Makanlah sebelum kau istirahat," kata Yasha yang langsu g beranjak pergi dari sana.


"Setidaknya aku bisa merasakan masakan buatan Yura. Aku sudah merasa senang karena ini pertama kalinya untukku. Karena sebelumnya selalu makan masakan koki Istana Kerajaan," batin Arvan


Arvan pun mulai menyuap makanan ke dalam mulutnya dan sangat menikmati rasa masakan buatan Yura itu. Yang bahkan terasa pas di lidahnya.


Di suatu tempat lainnya, tampak seseorang berjalan dengan langkah terhuyung-huyung sambil sibuk mencari sesuatu.


"Sepertinya kali ini aku terlalu tergesa-gesa. Bukan hanya rencanaku gagal, tapi aku juga termakan oleh siasatku sendiri. Harusnya aku tidak datang ke kamp Chuya. Tidak hanya ular kesayanganku mati, aku juga terkena racun ular berbisa milikku sendiri. Untung saja, aku punya ramuan penawar racunnya."


Rupanya ia mencari kotak obat dan ramuan. Setelah menemukan kotak tersebut, ia mencabut pisau yang mengenai dada kanannya. Ia memang sengaja baru mencabut pisau yang menancap pada dadanya karena kalau sedari tadi ia mencabut pisau itu, bisa-bisa ia kehabisan darah sebelum kembali untuk mengobati lukanya. Namun, ia terpaksa menahan rasa sakit yang ditimbulkan oleh racun darah ular berbisa yang bercampur dengan darah di dalam tubuhnya dari pisau yang menancap pada dadanya.


Ia pun mengobati dan membalut lukanya serta meminum ramuan penawar racun ular berbisa.


"Beruntung pisau itu mengenai dada kanan hingga tidak terkena ke jantungku. Namun, bisa-bisanya hanya seorang perempuan melukaiku sampai seperti ini. Siapa sebenarnya perempuan itu? Mungkin hanya j*l*ng penghibur prajurit Chuya, tapi bagaimana kalau aku menculiknya? Tidak hanya bisa menghangatkan ranjangku, dia juga akan berguna dengan kemampuannya menikam lawannya itu."

__ADS_1


Rupanya ia adalah seorang lelaki dari Negara Kerajaan Brande yang terkena lemparan pisau oleh Yura.


__ADS_2