
"Apa yang sedang kau pegang itu, Ratu-ku?" tanya Raja
"Benar juga. Aku sedang bingung ingin meletakkan ini di mana. Ini milik Anda," kata Ratu yang langsung memberikan kertas dan buku dokumen pada Raja.
"Apa ini?" tanya Raja yang menerima kertas dan buku dari Ratu.
"Dokumen. Sebenarnya apa alasan Anda masih membawa pekerjaan pada liburan yang Anda rencanakan sendiri?" tanya balik Ratu
"Ini bukan aku yang menaruhnya di dalam koper barang. Ini pasti ulah Arvan. Aku memang memintanya untuk mengemas barang milikku untuk dibawa saat dia masih saja sibuk mengurus dokumen Istana sebelum pergi. Dia pasti lupa malah menaruh dokumen itu di dalam koper barang milikku atau dia memang sengaja menaruh dokumen itu di dalam koper barang milikku sebagai tanda protesnya," jelas Raja
"Kalau memang pekerjaan Istana sebanyak itu, kenapa Anda harus memaksa untuk merencanakan liburan secara mendadak seperti ini? Bukankah kita masih bisa berlibur di lain waktu?" tanya Ratu
"Liburan kali ini tidak dipaksakan atau dibuat secara mendadak, tapi aku memang merencanakannya sejak lama. Tidak usah pedulikan dokumen ini dan nikmati saja liburan kita kali ini," jawab Raja yang lalu menaruh dokumen ke dalam laci meja di samping ranjang besar yang ada di sana.
...
"Paman Arvan, ada yang ingin kutanyakan padamu ... " kata Arsha
"Silakan tanyakan saja, Putra Mahkota," sahut Arvan
"Paman Arvan, apa kau dekat dengan Bibi Yura? Apa kau menyukainya? Apa kau berteman dan akan menikah dengannya seperti ayah Raja dan ibu Ratu? Apa kau akan sungguhan menjadi Paman-ku?" tanya Arsha
"Apa kau bertanya seperti ini atas permintaan ayahanda Raja-mu?" tanya balik Arvan
"Aku tidak mendengar permintaan semacam pertanyaanku barusan dari ayah Raja dan kau mendengar pertanyaan barusan itu dariku, jadi pertanyaan barusan itu murni berasal dariku, Paman. Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku barusan," jawab Arsha
"Aku dan Bibi Yura-mu memang berteman sejak dia masuk Istana Kerajaan, tapi kami berdua tidak terlalu dekat. Hanya itu jawaban yang bisa kuberikan atas pertanyaanmu barusan," ungkap Arvan
__ADS_1
Saat itu pintu kamar terketuk dari luar.
"Siapa di luar?" tanya Arvan dari dalam kamar.
"Ini, aku ... " jawab seseorang dari luar kamar.
"Itu Bibi Yura. Masuk saja, Bibi ... " pekik Arsha
Yura pun membuka pintu kamar dan beranjak masuk ke dalam.
"Yura datang ... apa dia sempat mendengar pertanyaan Putra Mahkota dan jawabanku tadi? Apa dia akan salah paham? Tunggu ... tapi, kenapa aku harus merasa khawatir soal itu? Terserah saja dia mau salah paham atau tidak, tapi memang lebih baik jika dia tidak salah paham," batin Arvan
"Aku datang karena ingin melihat-lihat kamar yang katanya adalah yang terbaik di sini. Bolehkah, Arsha?" tanya Yura
"Silakan saja, Bibi. Kau bisa melihat-lihat sepuasmu sepertiku di sini," jawab Arsha
Saat Yura mulai jalan perlahan sambil melihat ke arah sekeliling untuk memeriksa jika saja ada sesuatu yang mencurigakan atau berbahaya di dalam kamar tersebut, hingga akhirnya kedua matanya tertuju pada koper barang yang tergeletak di dekat ranjang tidur.
"Belum, Bibi. Aku terlalu asyik melihat pemandangan dari jendela kamar ini," jawab Arsha
"Kalau begitu, biar Bibi saja yang merapikan barang bawaanmu," ujar Yura yang langsung mendekati ranjang dan duduk di tepi agar lebih mudah memeriksa isi koper barang milik Arsha.
"Putra Mahkota, kau adalah seorang lelaki, tapi kau masih membiarkan orang lain bahkan seorang perempuan memeriksa barang pribadi milikmu?" tanya Arvan
"Aku ini bukan orang lain, tapi Bibi-mu sendiri, adik dari Ibu Ratu-mu yang sama seperti ibumu sendiri. Tidak masalah jika aku melakukan hal seperti ini untukmu," ujar Yura
"Perkataan Bibi Yura dan Paman Arvan memang sama-sama ada benarnya," kata Arsha
__ADS_1
"Tidak usah dengarkan kata Paman Arvan, di Istana Kerajaan pun yang mengurus barang-barang milikmu adalah ibu Ratu-mu atau bibi pengasuh, jadi tidak ada bedanya jika Bibi Yura yang melakukannya," ucap Yura
Usai memastikan koper dan barang di dalamnya aman, Yura pun mulai memindahkan barang bawaan milik Arsha yang kebanyakan berisi pakaian ke dalam lemari.
Saat itu, Arvan bersandar di depan lemari agar bisa lebih mudah bicara dengan Yura.
"Yura, sebenarnya apa alasanmu membayar kusir yang mengurus koper barang kalau ternyata kau juga akan memeriksa ulang isi koper barang seperti yang kau lakukan pada milik Putra Mahkota barusan? Bukankah kau sudah membuang-buang uangmu, tapi masih harus bekerja sendiri? Bisa dibilang, bukankah kau seperti bekerja dua kali?" tanya Arvan
"Aku memberikan uang tips untuk dua kusir tadi sebagai imbalan karena aku berbaik hati, tapi bukan hanya karena itu. Aku punya maksud tersembunyi. Kupikir jika saja mereka berdua mencoba untuk berbuat hal buruk, kuharap mereka berdua akan berpikir dua kali setelah kuberi uang dan akhirnya mereka berdua pun bisa mengurungkan niat buruk mereka setelah kuberi uang. Itu hanya untuk berjaga-jaga, tapi harus aku sendiri juga yang memastikan kalau semuanya aman," jelas Yura
"Apa kau harus berbuat seperti itu? Apa kau tidak merasa lelah dengan perbuatanmu yang berlebihan?" tanya Arvan
"Meski merasa diri sendiri berlebihan dan lelah, aku baru akan merasa tenang setelah melakukannya. Aku merasa sangat khawatir dengan yang terjadi dengan Ratu sebelumnya. Kau pasti juga bisa mengerti soal itu," jawab Yura
"Aku bisa mengerti soal apa?" tanya Arvan
"Apa Yura bertanya seperti ini karena tahu aku juga sama sepertinya yang merasa khawatir pada kondisi Ratu? Apa itu artinya dia tahu kalau aku sebenarnya menyukai Ratu?" batin Arvan
"Kau pasti mengerti kalau keamanan dan keselamatan keluarga kerajaan adalah hal yang sangat penting karena itu juga termasuk ke dalam pekerjaanmu," jawab Yura
"Rupanya, Yura hanya menganggap itu semua adalah bagian dari pekerjaanku dan tidak hanya soal Ratu, tapi seluruh keluarga kerajaan. Kau salah, Yura. Aku hanya peduli pada Ratu, kakakmu. Namun, untung saja dia tidak menyadari apa pun," batin Arvan
"Sudahlah, kau jangan menggangguku. Kau di sini hanya menghalangiku bekeria untuk memindahkan barang ke dalam lemari. Lebih baik kau periksa seluruh ruangan ini dan pastikan tidak ada sesuatu yang mencurigakan atau berbahaya," ujar Yura
"Baiklah," kata Arvan
Arvan pun hanya bisa mengikuti perkataan Yura untuk memeriksa kondisi kamar tersebut secara keseluruhan. Untung saja, Arsha masih sibuk melihat pemandangan dari jendela kamar hingga tidak mendengar percakapan keduanya yang dilakukan sambil berbisik atau saat keduanya memeriksa keamanan kamar tersebut.
__ADS_1
Setelah itu, Yura dan Arvan sama-sama pamit ke luar dari kamar Putra Mahkota untuk memilih kamarnya masing-masing yang belum sempat dilakukan oleh keduanya.
Rupanya, posisi kamar mereka saling berdekatan. Kamar Yura berada tepat di depan kamar Arvan. Sedangkan kamar Raja dan Ratu saling berhadapan dengan kamar Putra Mahkota. Jika dilihat dari posisi bersebelahan, kamar Yura berada di samping kamar Putra Mahkota dan kamar Arvan berada di samping kamar Raja dan Ratu.