
Akhirnya, Yura pun menyimpan lembaran kertas undangan yang diberikan oleh pegawai toko senjata ke dalam sebuah laci meja yang ada di dalam kamar penginapan tersebut.
"Tidak ada strategi khusus. Lakukan saja yang seharusnya dilakukan untuk menggali informasi pada acara malam nanti. Tanyakan saja semua yang ingin kita tahu. Menurutku, sih ... kalau yang melayani kita benar-benar hanya pegawai toko yang tadi, dia akan memberikan semua informasi yang kita mau," ujar Yura
"Kenapa kau bisa berpikir dengan sangat yakin seperti itu?" tanya Arvan
"Menurutku, kau juga bisa mengetahuinya karena kau pasti juga pandai menilai karakter seseorang. Pegawai itu adalah orang baru yang bisa dibilang masih polos. Yang kulihat sepertinya dia masih belum tahu tentang banyak hal dan hanya diberi tahu bahwa yang terpenting adalah uang. Sepertinya inilah prinsip toko itu, makanya sebelumnya kubilang mereka adalah pemuja uang. Jadi, asalkan kita membayar harga yang sesuai, pasti kita akan mendapat apa pun yang kita mau di tempat itu," jelas Yura
"Lagi pula, kalau memang tidak berjalan sesuai keinginan dan ternyata kita mengalami kesulitan, langsung saja kita pakai cara memaksa yang jujur. Katakan saja kalau kita memang sedang dalam misi penyelidikan sambil menunjukkan lencana emas milik Raja. Ini juga disebut dengan cara menakuti lawan dengan kekuatan yang kita miliki atau apa yang disebut dengan strategi ancaman. Aku yakin kita tetap akan berhasil. Tidak, bagaimana pun caranya kita harus berhasil. Itu pasti," sambung Yura
"Baiklah, aku mengerti dan aku akan mengikuti rencanamu," kata Arvan
"Sejak awal kau hanya terus bilang akan mengikuti rencanaku. Apa itu rencanamu? Maksudku, apa kau benar-benar tidak punya rencanamu sendiri?" tanya Yura
"Karena sejak awal ini adalah misi yang kau rencanakan seorang diri, bahkan awalnya kau hanya mengajukan dirimu sendiri untuk melakukan misi ini, dan lagi pula Raja hanya memintaku untuk menemanimu. Jadi, aku tidak akan mengganggumu, tapi aku pasti akan membantumu," jawab Arvan
"Ya, seperti itu lebih baik dari pada kau hanya ikut untuk mengacau," kata Yura
"Itu tidak akan terjadi. Namun, Yura ... aku ingin bertanya sesuatu padamu, apa boleh?" tanya Arvan
"Kalimat terakhirmu barusan saja sudah berupa pertanyaan. Silakan saja, akan kujawab kalau bisa ... " jawab Yura
"Sebelumnya saat kita masih berada di Istana Kerajaan untuk mengambil barang bukti kipas penari itu, kenapa kau tidak langsung menunjukkan lencana emas milik Raja saat ingin bertemu kepala penjaga penjara? Bukankah semua akan dipermudah jika kau mengeluarkan lencana itu?" tanya Arvan
__ADS_1
"Aku hanya tidak ingin dianggap pamer memiliki barang kepunyaan Raja. Lagi pula, aku yang adalah seorang perempuan bisa mempunyai lencana yang seolah menunjukkan kekuasaan Raja juga ada di tanganku, bisa-bisa orang jadi salah paham karena hal seperti itu. Namun, untung kau juga ada di sana hingga bisa mempermudah, meski pun hanya sebagiannya ... " jelas Yura
"Ya, aku bisa mengerti. Namun, apa itu artinya kau sengaja memanfaatkan diriku?" tanya Arvan
"Tidak, aku bukan bermaksud seperti itu. Kau jangan salah paham. Saat itu aku membiarkanmu untuk ikut karena aku tidak sepertimu yang dengan mudahnya bisa mengabaikan orang lain begitu saja," ungkap Yura
"Maafkan atas sikapku sebelumnya. Aku janji tidak akan mengabaikan atau menjauh darimu lagi, jadi tolong kau juga jangan mengabaikan atau menjauh dariku lagi," ucap Arvan
"Itu tergantung dengan sikapmu dan suasana hatiku ke depannya. Kali ini hanya pengecualian," kata Yura
"Sepertinya aku masih harus beeusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan kembali kesan baik dari Yura. Namun, aku senang karena meski kali ini hanya pengecualian, Yura jadi tidak mengabaikan dan menjauh dariku untuk sementara waktu. Lagi pula, aku tidak masalah sekali pun Yura ingin memanfaatkan diriku karena itu artinya Yura bergantung padaku. Aku justru merasa senang. Yura, kau bisa memanfaatkan diriku sepuasmu. Aku rela," batin Arvan
"Kalau begitu, aku ingin bertanya satu hal lagi. Sebelumnya kau meminta pola four leaf clover untuk desain senjata yang kau pesan. Itu adalah pola yang sama dengan yang ada di sapu tangan yang kau berikan padaku dulu. Apa kau menyukai pola tersebut? Apa pola tersebut memiliki arti khusus?" tanya Arvan
"Tidak bisa dikatakan khusus karena merupakan hal yang umum, tapi terdengar bagus, makanya aku menyukainya. Four leaf clover atau yang disebut semanggi berdaun 4 memiliki arti di setiap helai daunnya, yaitu kepercayaan, harapan, cinta, dan keberuntungan. Yang juga dipercaya membawa kebahagiaan. Kata-kata ini aku tidak terlalu mempercayainya, tapi aku sangat menyukainya. Seolah bisa menjadi doa yang menyertaiku. Bagaimana pun juga aku akan mewujudkan kebahagiaanku sendiri," ungkap Yura
Saat itu Yura pun merebahkan dirinya di atas ranjang yang tentunya berbeda dengan ranjang yang ditempati oleh Arvan. Karena kamar penginapan tersebut memiliki 2 ranjang berbeda.
"Yura, kau sudah mau tidur? Apa kau tidak ingin makan dulu?" tanya Arvan
"Tidak. Membayangkan akan mendengar informasi tentang insiden penari kipas sudah membuatku naik darah, jadi aku ingin menenangkan diri sekaligus mempersiapkan diri dengan istirahat lebih dulu. Lagi pula, aku tidak leluasa makan di luar dengan memakai cadar. Kalau kau ingin, ke luar saja dan makanlah lebih dulu. Tolong belikan saja aku roti garlic dan sebotol susu untuk kumakan setelah bangun tidur nanti. Akan kuganti uangmu nanti," jawab Yura
"Roti dan susu, baiklah. Akan aku belikan dan kau tidak perlu mengganti uangnya," kata Arvan
__ADS_1
"Alu hanya akan memberi tahu, kita akan pergi saat matahari terbenam nanti," ujar Yura
"Bukankah acara di toko senjata dimulai sebelum tengah malam? Kenapa kita harus pergi lebih awal?" tanya Arvan
"Kau mungkin lupa, tapi kita harus mencari dan membeli topeng lebih dulu untuk menyesuaikan dengan kode busana saat datang ke toko senjata itu. Mencari topeng mungkin akan sulit karena bukan sedang waktunya diadakan pesta topeng dalam jumlah besar dan aku memang ingin belanja barang lainnya, jadi sekalian saja ... " ungkap Yura
"Aku mengerti, tapi kau akan belanja barang apa lagi?" tanya Arvan
"Aku sudah bilang akan ke luar untuk membeli keperluan dan berjanji akan kembali dengan membawakan barang bagus sebagai oleh-oleh untuk Arsha. Aku ingin membeli barangnya mulai sekarang agar tidak lupa dan supaya bisa membeli barang yang bagus. Tapi, kalau kau tidak ingin ikut juga tidak apa-apa. Memang sepertinya agak merepotkan," jelas Yura
"Tidak akan repot dan aku akan ikut denganmu," kata Arvan
"Lalu, ingatlah untuk menjaga batasan. Tetapkan pengendalian dirimu dan hati-hati dengan matamu. Jangan sampai aku mencungkil keduanya ke luar dari dalam kelopaknya," pesan Yura yang sudah siap untuk segera tidur.
"Aku mengerti. Aku akan sangat berhati-hati, jadi tidurlah dengan tenang ... " kata Arvan
"Kata-katamu seperti aku adalah orang yang ingin mati saja," sindir Yura dengan niat bergurau.
"Maaf, Yura. Tapi, aku yakin kau sebenarnya mengerti dengan yang kumaksud," ujar Arvan
"Ya, ya ... cepatlah pergi, makan sampai kau puas ... " sahut Yura yang langsung memejamkan kedua matanya.
"Dasar, Yura. Kau masih saja sempat bercanda di saat seperti ini. Namun, ini bagus karena meski kali ini hanya sebuah pengecualian, aku tetap bisa bicara dengan lancar dan nyaman denganmu. Ke depannya aku akan berusaha keras untuk mendapat kesan baik darimu lagi," batin Arvan
__ADS_1
"Ya, aku ke luar untuk makan dulu saja. Aku yakin saat kembali nanti aku masih punya kesempatan untuk melihat pemandangan saat kau tidur seperti ini. Ya ampun, kau bahkan masih sangat cantik saat tidur, Yura ... " sambung Arvan bergumam dalam hati.
Arvan pun beranjak ke luar dari kamar dengan langkah kaki pelan dan hati-hati agar tidak mengganggu Yura yang sedang bersiap untuk tidur.