
Meski pun sudah pergi meninggalkan Istana Kerajaan dengan menggunakan kereta kuda, Ratu dan Yura masih belum bisa bernafas lega. Bisa dibilang nafas mereka terasa tercekat dan justru tidak bisa merasa tenang karena memikirkan nasib mereka yang menghadapi bahaya penjahat yang sesungguhnya di Istana Kerajaan. Kusir yang membawa mereka pasti merasakan hal yang sama, sedangkan Arsha masih tampak tertidur.
"Semoga perjalanan kali ini lancar hingga kita selamat sampai tujuan. Kalau saja aku tahu akan jadi seperti ini, aku tidak akan melarang Arsha untuk kembali pergi ke Akademi Kerajaan pagi hari tadi," gumam Ratu
"Tidak perlu menyalahkan diri dan tenangkanlah dirimu karena semuanya akan baik-baik saja. Aku yang akan memastikan hal itu," kata Yura
Ratu hanya mengangguk lesu dan Yura berusaha tersenyum untuk menyalurkan sedikit rasa tenang pada hati saudari kembarnya.
Yura memang berusaha untuk tetap tenang dengan tersenyum. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa perasaan tidak enak terus menyerang keteguhan hatinya seolah berusaha merobohkan ketenangan dalam dirinya. Sejak tadi firasatnya terus terasa buruk, meski telah berkali-kali ia berusaha menepisnya.
Setelah mendapat laporan bahwa kereta kuda yang digunakan Ratu, Yura, dan Arsha telah pergi meninggalkan Istana Kerajaan bersama seorang prajurit yang menjadi kusir pengendali kuda, Raja pun beranjak menuju kediaman Ratu.
"Salam sejahtera untuk Baginda Raja," ucap Pevita dan Rio yang terus berjaga di depan pintu kediaman Ratu.
"Salam diterima dan aku akan masuk," kata Raja
"Mohon maaf dan ampun, Baginda. Kediaman Yang Mulia Ratu sedang kosong karena Yang Mulia Ratu telah pergi bersama nona Yura dan Yang Mulia Putra Mahkota," ujar Rio
"Aku tahu karena aku yang mengirim mereka untuk pergi lebih dulu. Namun, apa aku tidak boleh masuk ke dalam kediaman istriku sendiri hanya karena tempat ini sedang kosong?" tanya Raja
"Tentu saja, Anda boleh masuk. Silakan, Baginda. Mohon maaf dan ampuni kelancangan barusan," jawab Pevita
"Tanpa perintah dariku, kalian berdua tidak boleh meninggalkan tempat ini meski pun hanya selangkah. Terus berjaga di sini dan tetap siaga dengan senjata yang kalian miliki," ujar Raja
"Kami mengerti dan siap melaksanakan perintah," sahut Pevita dan Rio dengan tegas dan patuh.
Setelah itu, Raja pun melangkah masuk ke dalam kediaman Ratu. Raja mengamati seisi kediaman yang kosong tersebut dan menghela nafas panjang begitu saja.
__ADS_1
Kalau saja tidak ada laporan dan kejadian tentang para penyusup, saat ini pasti Raja sedang berkumpul bersama keluarga kecilnya. Padahal hari ini urusan pekerjaannya selesai lebih cepat. Namun, hanya karena adanya laporan perihal para penyusup, Raja pun kembali menjadi sibuk untuk membahas cara mengatasi para penyusup.
Begitu semuanya selesai, anggota keluarga kecilnya justru telah pergi untuk melindungi diri sementara waktu dari situasi yang mungkin bisa berbahaya sewaktu-waktu dan Raja-lah yang mengirim keluarganya pergi. Itu pun Raja lakukan demi keselamatan keluarga tercintanya.
Baru ditinggal sebentar, Raja sudah merindukan keluarga kecilnya. Saat ini Raja berada di kediaman Ratu karena sengaja untuk mengobati sedikit rasa rindu yang sudah menyerang dirinya.
Karena hanya ada dirinya seorang diri di sana, Raja pun melakukan segala hal seorang diri. Mulai dari mandi, membasuh dan membersihkan diri. Raja mulai bersiap untuk tidur malam seorang diri di kediaman Ratu. Berharap malam ini akan bermimpi indah tentang keluarga kecilnya.
Baru saja selesai mandi serta berpakaian dan bersiap untuk tidur, keributan terdengar dari luar kediaman. Bahkan suara Arvan pun terdengar di sana.
Saat Raja hendak memeriksa keadaan di luar, Arvan tiba-tiba sudah masuk dari luar begitu saja.
"Para penyusup datang menyerang! Lindungi Baginda Raja dengan segala cara!" teriak Arvan
Beberapa Prajurit Istana Kerajaan ikut masuk bersama Arvan untuk melindungi Raja. Raja yang sudah bersiap membawa senjata miliknya pun ikut bersikap waspada. Meski begitu, Raja lebih banyak diam karena sudah banyak yang bergerak dan melakukan berbagai cara untuk melindungi dirinya.
"Jumlah mereka lebih banyak dari yang kita kira, mereka masuk melewati dinding besar dari segala sisi, kecuali sisi depan, dan sempat bersembunyi di ketinggian pohon. Mereka semua sangat mahir bela diri dan menghindari serangan," jelas Arvan
"Awalnya mereka masuk ke dalam kediaman Anda. Namun, karena hanya ada saya di sana, mereka langsung beralih menuju ke sini," sambung Arvan
Benar yang dikatakan oleh Arvan bahwa para penyusup itu sangat banyak jumlahnya. Hingga saat itu mau tak mau Raja pun ikut menghadapi para penyusup yang datang.
Tak lama kemudian para penyusup itu seolah menyerah dan mulai menarik gerakan untuk melarikan diri. Apa mereka sungguh merasa takut saat Raja telah turun tangan sendiri dalam menghadapi mereka? Namun, sepertinya Raja tidak merasa seperti itu. Hal ini bukan karena Raja ikut bertarung, melainkan para penyusup itu seolah ingin mengincar target lain.
"Kejar dan tangkap para penyusup itu. Jangan biarkan mereka semua melarikan diri, satu orang pun tidak boleh lepas. Tidak peduli hidup atau pun mati," titah Raja
Raja merasa dirinya bukanlah bukan satu-satunya target para penyusup itu, melainkan dirinya memang bukan target para penyusup itu. Karena itulah Raja memberi perintah untuk mengejar dan menangkap para penyusup itu tanpa terkecuali. Karena kalau target para penyusup bukan Raja, pasti yang menjadi target mereka adalah Ratu dan Arsha.
__ADS_1
"Hanya sedikit orang yang tahu ke mana Yuna, Yura, dan Arsha pergi. Semoga para penyusup itu berhasil ditangkap hingga mereka tidak bisa mengejar atau pun menemukan Yuna, Yura, dan Arsha ... " batin Raja
"Seperti Raja yang khawatir dengan Ratu, aku pun mengkhawatirkan Yura. Semoga semua baik-baik saja, begitu juga dengan Yura ... " batin Arvan
Saat menyadari hanya ada Raja di dalam kediaman Ratu, para penyusup itu bergerak mundur. Namun, bukan karena ingin menyerah, melainkan seolah ingin mencari target yang sesungguhnya. Yaitu, Ratu.
Saat Para Prajurit Istana Kerajaan mengejar dan berusaha menangkap mereka, salah satu penyusup itu membuat isyarat dengan suara nyaring seolah meminta bantuan. Namun, bantuan yang muncul bukan untuk menyelamatkan mereka yang masih berada di dalam lingkup Istana Kerajaan, melainkan pergi meninggalkan kawanannya. Seolah telah menerima misi lain meski harus kehilangan rekan.
"Utus prajurit untuk mengejar dan menangkap kawanan penyusup yang pergi itu. Aku ingin mereka seluruhnya tanpa terkecuali," titah Raja
Saat itu, perasaan Raja semakin tidak enak. Raja terus merasa khawatir dengan istri, anak, dan juga adik iparnya.
Di dalam perjalanan, kereta kuda terus berguncang saat melalui jalanan berbatu. Hingga membuat Arsha yang tertidur tersadar secara perlahan.
"Ibu, kenapa kita ada di dalam kereta kuda? Kita sedang menuju ke mana saat malam hari seperti ini?" tanya Arsha sambil mengerjapkan kedua matanya sesekali.
"Kita hendak berkunjung ke tempat kakek dan nenekmu karena katanya mereka rindu denganmu, cucu mereka ... " jawab Ratu
"Arsha, kau tidur saja lagi. Tahan sebentar guncangan ini. Kami akan membangunkanmu saat sudah sampai nanti," ucap Yura
Arsha hanya mengangguk kecil dan kembali memejamkan kedua matanya secara perlahan tanpa banyak bertanya meski pun merasa penasaran.
"Kenapa Ibu dan Bibi saling bertukar penampilan? Lalu, apa kita harus pergi saat malam hari seperti ini? Padahal besok aku masih harus pergi sekolah ke Akademi Kerajaan. Apa benar-benar hanya karena kakek dan nenek rindu denganku?" batin Arsha bertanya-tanya.
"Maaf, Yang Mulia, Nona ... saya hanya ingin memotong jalan lewat jalan pintas. Namun, tidak disangka jalanannya malah penuh dengan batu seperti ini," ujar prajurit yang menjadi kusir dari luar kereta kuda.
"Tidak masalah. Fokus saja pada jalan yang ada di depan," kata Yura
__ADS_1
Meski pun melalui jalanan berbatu, kereta kuda dikendarai secara perlahan dengan hati-hati. Namun, tiba-tiba saja kereta kuda terasa melaju dengan amat cepat.