
Keesokan harinya.
Kini Yura kembali pada kesehariannya di Istana Kerajaan. Tentu saja berbeda dengan kesehariannya di medan perang pada wilayah perbatasan. Yura tidak lagi memakai setelan pakaian dengan celana, melainkan memakai gaun. Rambut gadis itu juga tidak lagi diikat, melainkan dibiarkan tergerai.
Ada juga yang membuatnya berbeda dari yang biasa seperti sebelumnya. Yaitu, gadis itu kini menggulung sebagian rambutnya dan menghiasnya dengan tusuk rambut miliknya yang diberikan oleh Arvan semalam. Tak hanya itu, mulai hari ini Yura juga memakai gelang manik permata pada pergelangan tangannya pemberian dari Arvan semalam.
Lalu, ada satu hal lagi yang membuat kesehariannya berbeda dengan yang dulu. Yaitu, kehadiran keponakan kedua dan ketiganya. Keponakan ketiganya yang baru saja lahir kemarin dan keponakan keduanya yang baru ditemui olehnya kemarin.
Saat ini pun Yura sedang berjalan menuju kediaman utama Raja dan Ratu untuk membantu mengurus keponakannya di sana. Namun, sepertinya Yura datang terlambat karena kedua orangtuanya sudah lebih dulu tiba di kediaman Ratu.
Dilihatnya, Nyonya Haris sedang menimang Putri Mahkota dan Tuan Haris sedang mengajak Pangeran Kedua bermain.
"Maaf, sepertinya aku datang terlambat. Apa masih ada yang perlu bantuanku di sini?" tanya Yura
"Kau benar-benar terlambat datang. Di sini sudah tidak perlu bantuan lagi," jawab Nyonya Haris
"Ini tidak adil. Aku juga ingin membantu menggendong Putri Mahkota atau bermain dengan Pangeran Kedua. Kalian para orangtua, apa sama sekali tidak ingin mengalah denganku?" tanya Yura
"Yang benar saja, kau, gadis yang hanya tahu bertarung bahkan baru kembali dari medan perang, tahu apa kau tentang mengurus anak? Jadi, kau lebih baik diam atau kecilkan suaramu karena kau telah mengganggu ketenangan di sini," ujar Tuan Haris
"Aku sudah bicara dengan suara yang nyaris seperti berbisik, suara Ayah-lah yang terlalu besar. Arkan bahkan tampak ketakutan mendengar suara Ayah barusan dan Putri Mahkota yang masih memejamkan mata saja langsung tersentak kaget dalam buaian Ibu. Lalu, jangan salah tentang aku tidak bisa mengurus anak. Sebelumnya aku pernah membantu mengurus Arsha dan keponakan perempuan Arvan. Aku juga pernah membantu mengurus bayi atau anak secil selama mengembara dulu," ucap Yura
"Maafkan Kakek, Arkan. Kakek tidak bermaksud untuk memarahimu, jadi kau tidak perlu takut," kata Tuan Haris yang langsung membelai kepala cucu keduanya.
Pangeran Kedua, Arkan, langsung memeluk lengan Tuan Haris dengan erat sambil memejamkan mata karena merasa takut. Meski begitu, untunglah bocah kecil itu tidak berlari dari Kakeknya karena ketakutan. Tuan Haris pun langsung memeluk tubuh mungil Arkan sambil mengusap punggung bocah kecil itu untuk meredakan ketakutannya.
Nyonya Haris juga terlihat terus menimang Putri Mahkota untuk menenangkannya agar tidak menangis setelah terkejut. Bukannya merasa terganggu dengan keributan adik dan kedua orangtuanya, Ratu justru terkekeh kecil. Mendengar itu membuat Yura mengalihkan pandangannya pada saudari kembarnya itu.
"Kak Yuna, apa kau sudah makan?" tanya Yura
"Belum, aku baru saja habis membersihkan tubuh dan berpakaian setelah menyusui Putri Mahkota," jawab Ratu
"Kalau begitu, duduklah dulu dengan hati-hati. Aku akan meminta pelayan agar segera mengambilkan makanan untukmu," ujar Yura yang langsung menghampiri Ratu untuk membantu saudari kembarnya itu duduk dan bergegas beranjak untuk memanggil dan meminta bantuan pelayan.
"Tidak perlu terburu-buru, Yura. Aku masih belum merasa lapar," kata Ratu
"Itu tidak mungkin karena ibu menyusui yang baru saja melahirkan justru adalah yang paling sering merasa lapar. Mungkin saat ini rasa laparmu sudah lebih dulu tertahan, sebenarnya itu yang harusnya dicegah. Jadi, kau harus cepat makan," ucap Yura
__ADS_1
Yura pun beranjak untuk memanggil pelayan dan meminta bantuan agar segera mengambilkan makanan untuk Ratu. Bahkan setelah makanan tiba pun, kalau Ratu tidak melarang, Yura hendak membantu menyuapi saudari kembarnya itu.
Setelah Ratu selesai makan, Pangeran Kedua, Arkan, yang belum lama ini baru bisa berjalan pun melangkahkan sepasang kaki kecilnya menghampiri Ratu yang sedang duduk bersama Yura.
Saat itu Tuan Haris yang mengira Arkan sedang berlatih memperlancar cara berjalannya pun memanggil nama cucu keduanya itu berharap Pangeran Kedua itu berjalan berbalik ke arahnya. Namun, Arkan justru mengabaikan panggilan dari Kakeknya dan asik menarik gaun yang dipakai oleh Ratu.
"Bu-bu!" seru Pangeran Kedua, Arkan, dengan suara mungil khas balita.
"Arkan, pintar sekali. Sudah bisa berjalan dan mulai bicara, ya. Jangan ganggu Ibu dulu. Ayo, main sama Bibi Yura ... " ucap Yura yang langsung mengangkat Arkan ke atas pangkuannya.
"Bu-bu ... " panggil Arkan sambil menatap wajah Yura dengan penuh rasa heran dan bingung karena wahah Yura yang sangat mirip dengan wajah Ibunda Ratu-nya.
"Arkan, itu bukan Ibu, tapi Bibi. Kalau kau memang ingin memanggilnya Ibu juga tidak apa-apa. Anggap saja Bibi Yura sebagai Ibu asuhmu," ujar Ratu
"Coba latihan panggil Bibi. Ini mudah untukmu, kau pasti bisa. Coba lakukan sepertiku, bicara dan panggillah ... Bibi," kata Yura
"Bibi!" seru Arkan yang langsung bisa dalam sekali coba.
"Wah ... hebat sekali, Arkan," puji Yura
"Yura ingin menikah? Apa itu benar?" tanya Nyonya Haris
"Merencanakan untuk menikah itu tidak mudah," jawab Yura
"Yang penting itu adalah apa kau sudah punya keinginan untuk menikah?" tanya Tuan Haris
"Aku masih belum ingin membahas soal itu," jawab Yura
Akhirnya Yura pun memiliki kesempatan bermain dengan Pangeran Kedua, Arkan. Namun, tak lama setelah Putri Mahkota tertidur, Pangeran Kedua juga ikut mengantuk dan tertidur. Mungkin pada waktu itu adalah jamnya bayi dan balita untuk tidur.
"Kak Yuna, apa kau dan kakak ipar sudah memutuskan nama untuk Putri Mahkota?" tanya Yura
"Ya, namanya adalah Aurelia Arsalan yang artinya emas yang berharga yang pemberani," ungkap Ratu
"Nama yang bagus dan cantik," kata Yura
"Yura, kau bilang pernah membantu mengurus keponakan Arvan. Bukankah itu adalah anak selir Raja? Anak itu juga perempuan, kan? Apa dia tidak mempermasalahkan anaknya yang tidak menjadi Putri Mahkota? Bagaimana pun juga anaknya juga adalah anak Raja, kan?" tanya Nyonya Haris
__ADS_1
"Soal ini bertanyalah pada Kak Yuna, jangan padaku ... " jawab Yura
"Aku tidak tahu pemikiran selir Raja, tapi sepertinya dia bukan orang yang seperti itu. Dia adalah wanita yang sangat patuh dan baik," ungkap Ratu
"Lebih patuh dari Arvan? Siapa nama selir Raja dan anaknya itu?" tanya Tuan Haris
"Dari pada Arvan yang seorang lelaki, dia jauh lebih baik dan patuh juga lembut karena dia seorang perempuan. Namanya Azkia dan anaknya adalah Afia. Selama berada di Istana Kerajaan ini aku berteman baik dengan Azkia dan usia Afia sekarang mungkin sudah lebih dari 3 tahun," jelas Yura
"Berarti Azkia adalah satu-satunya selir Raja yang tersisa, ya?" tanya Nyonya Haris
"Apa maksudnya itu? Bukankah selir Raja ada 3 orang?" tanya balik Yura
"Kau belum tahu karena selama ini berada di medan perang. Selir pertama dan kedua telah diusir secara tidak terhormat. Baginda Raja sudah menyelidiki konspirasi mereka berdua dan keduanya terbukti bersalah. Keduanya diberi hukum pengasingan, bahkan keluarga selir pertama juga ikut diasingkan karena terbukti bersekongkol dengan selir pertama melakukan pemberontakan. Sedangkan selir kedua terbukti sebagai orang yang mengompori perbuatan jahat selir pertama," jelas Ratu
"Aku mengerti jika selir pertama dihukum bersama keluarganya karena pernah mendengar soal kebencian mereka pada keluarga Kerajaan. Kalau selir kedua, kebencian apa yang dia punya hingga membuatnya melakukan perbuatan jahat dan berakhir dengan dihukum?" tanya Yura
"Setelah diselidiki ternyata selir kedua punya kebencian yang mendalam. Rupanya, dulu mendiang kakak selir kedua adalah perempuan yang jatuh cinta pada Raja semasa muda. Karena tidak diterima dan diangkat menjadi Ratu, kakaknya yang frustasi dan patah hati akhirnya memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Selama ini selir kedua berpikir kalau yang menyebabkan kematian kakaknya adalah Raja," ungkap Ratu
"Dia masuk ke dalam istana harem dan menjadi selir pun hanya karena ingin balas dendam atas kematian kakaknya. Seperti yang kau duga, selir kedua memiliki kemampuan untuk mengendalikam pikiran dan menghipnotis orang lain. Dengan kemampuan itulah dia balas dendam dengan memanfaatkan selir pertama yang telah dihipnotis olehnya. Seolah selama ini dia tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi dia justru adalah dalang dari semuanya," sambung Ratu
"Bahkan dia juga sudah membuatmu sempat disalah-pahami oleh semua orang di Istana Kerajaan ini dan hampir merusak hubungan baikmu dengan Yuna, dia pantas mendapatkan hukuman itu," ucap Nyonya Haris yang merujuk pada kejadian lilin aroma pembius pada 3 tahun yang lalu.
"Ibu tahu soal itu?" tanya Yura
"Tentu saja, tahu. Selama kau tidak ada di sini, Ibu dan Ayah selalu mengikuti perkembangan dan berita terbaru dari Istana Kerajaan. Bahkan tak jarang Ibu dan Ayah menginap di sini untuk menemani Yuna selama kehamilannya," jawab Nyonya Haris
"Kau sendiri juga, kenapa tidak pernah bercerita pada orangtuamu? Baik secara langsung atau melalui surat?" tanya Tuan Haris
"Kejadian itu bukan kesalahanku dan harusnya aku tidak terlibat di dalam masalah itu, jadi kupikir tidak perlu memberi tahu pada Ibu dan Ayah karena aku juga tidak ingin kalian berdua merasa khawatir," jawab Yura
"Kau selalu saja seperti itu, begitu tertutup. Harusnya kau lebih terbuka pada keluarga, terutama dengan Ibu dan Ayah ... " ujar Nyonya Haris
"Aku memang tipe orang yang seperti ini. Sebagai orangtua, Ibu dan Ayah juga pasti tahu tentang hal ini," kata Yura
Setelah mengobrol bersama, Yura beraniak ke luar untuk berlatih bersama prajurit pelindung Ratu, Pevita dan Rio, seperti yang telah dijanjikan olehnya sebelum pergi ke medan perang. Ketiganya pun berlatih di halaman luar kediaman Ratu.
Saat Yura berlatih bersama Pevita dan Rio, Raja datang mengunjungi kediaman Ratu saat jam istirahat kerja bersama Arvan.
__ADS_1