
Raja dan Ratu pun beranjak ke luar dari kamar bersama.
Begitu pintu kamar dibuka, sudah ada Arsha yang terlihat sedang menunggu Raja dan Ratu.
"Aku dengar dari pelayan, Ayahanda Raja dan Ibunda Ratu belum ke luar dari kamar, jadi aku datang untuk mengajak Ayahanda Raja dan Ibunda Ratu untuk makan bersama," ujar Arsha
"Ibu baru saja selesai membantu Ayah bersiap," kata Ratu
"Ayo, kita ke ruang makan ... " ajak Raja
Arsha pun mengangguk, lalu ia pun beranjak bersama Raja dan Ratu menuju ke ruang makan.
Saat itu, Yura dan Arvan baru saja ke luar dari kamarnya masing-masing secara bersamaan. Yura dan Arvan yang kamarnya tepat berseberangan pun membuat keduanya saling bersitatap satu sama lain.
Yura yang menyadari matanya bertemu dengan milik Arvan pun langsung mengalihkan pandangannya. Saat itulah Yura sadar bahwa ada Raja, Ratu, dan Arsha yang sedang beranjak bersama.
"Bibi Yura dan Paman Arvan, juga baru ke luar dari kamar, ya?" tanya Arsha seraya menyapa.
Yura hanya tersenyum dari balik cadar yang senantiasa menutupi sebagian wajahnya. Saat itu, lagi-lagi Arvan merasa sedih karena Yura mengabaikannya dengan mengalihkan pandangan darinya.
"Salam sejahtera dan hormat pada Keluarga Kerajaan Yang Mulia ... " Yura dan Arvan langsung memberi salam hormat secara bergantian.
"Sangat canggung rasanya kalau kalian berdua selalu memberi hormat saat kita sedang berlibur seperti ini. Apa lagi, sekarang kita bukan sedang ada di Istana Kerajaan, jadi tidak perlu terlalu formal dan santai saja," ucap Raja
"Baik, Baginda ... " sahut Yura
"Kalian berdua juga belum makan, kan? Kalau begitu, ayo kita ke ruang makan bersama," ujar Ratu
"Aku ingin jalan bersama Bibi Yura," kata Arsha yang langsung menghampiri Yura.
"Baginda Raja dan Yang Mulia Ratu, silakan jalan lebih dulu di depan," ucap Arvan
"Tidak, kalian saja yang jalan lebuh dulu bersama Arsha. Kami berdua akan jalan di belakang," ujar Raja
"Ayo, kita jalan lebih dulu ... " kata Arsha yang langsung berjalan di tengah-tengah antara Yura dan Arvan.
__ADS_1
"Melihat Arsha jalan bersama Yura dan Arvan sudah seperti melihat keluarga harmonis saja. Padahal Arsha itu anak kita," ucap Ratu yang berjalan bersama Raja di belakang Yura, Arsha, dan Arvan yang berjalan lebih dulu di depan.
"Kau benar, Ratu ... " kata Raja
"Sayangnya kita masih belum tahu seperti apa hubungan antara Yura dan Arvan," ujar Ratu
Arvan memang berjalan bersama Yura dan Arsha. Namun, Arvan justru merasa dirinya hanya berjalan sendiri tanpa pasangan. Karena yang berpasangan hanya Raja dan Ratu, lalu Yura dan Arsha. Dirinya benar-benar merasa terasing seorang diri.
Saat sedang makan bersama di ruang makan, sama seperti sebelumnya, para pelayan diminta untuk pergi meninggalkan ruang makan agar suasana makan bersama terasa lebih kekeluargaan dan leluasa untuk Yura membuka cadarnya selama makan.
Sudah menjadi keputusan Yura untuk terus menyembunyikan wajahnya yang mirip dengan Ratu dan tidak ada yang bisa menentang dan melarang keputusannya, termasuk Raja sekali pun.
Saat ada pelayan lelaki yang ingin masuk ke dalam ruang makan, pelayan lainnya langsung melarang dan mencegah pelayan lelaki itu di pintu masuk.
"Saat sedang makan bersama, semua pelayan dilarang masuk."
"Kenapa harus seperti itu?"
"Itu adalah perintah Raja yang ingin menjaga suasana makan secara kekeluargaan."
"Sayang sekali, kalau begitu ...."
"Saat bangun pagi ini, aku sudah ada di dalam kamar dan tidur di atas ranjang, padahal semalam kita semua ada di luar untuk melihat pemandangan langit malam bersama-sama. Jadi, siapa yang memindahkan aku semalam?" tanya Arsha yang membuka suara untuk memecah keheningan saat makan bersama.
"Baginda Raja yang memindahkan Arsha ke dalam kamar semalam. Baginda Raja adalah Ayah yang sangat baik," jawab Yura yang berdusta.
"Kalau begitu, terima kasih banyak, Ayahanda Raja ... " ucap Arsha
"Hmm ... sama-sama," balas Raja dengan sedikit merasa canggung saat harus mengakui hal yang bukan dilakukan olehnya.
Mungkin Yura menjawab seperti itu karena ingin hubungan ayah dan anak antara Raja dengan Arsha menjadi lebih baik, dekat, dan akrab. Padahal semalam Yura-lah yang memindahkan Arsha dari halaman vila ke dalam kamar.
"Yura, ada apa dengan lehermu? Kenapa jadi terlihat lebam seperti itu?" tanya Ratu yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Benarkah? Aku tidak sadar. Padahal kemarin bahkan saat bersiap sebelum ke luar kamar tadi, aku lihat leherku masih baik-baik saja. Tidak ada luka atau lebam yang terlihat," gumam Yura yang langsung menyentuh lehernya sendiri.
__ADS_1
"Maafkan aku, Yura. Yang Mulia Ratu, lebam pada leher Yura adalah perbuatan saya. Namun, jangan salah paham. Kemarin kami berdua melakukan sedikit latihan cara bertarung bela diri. Sepertinya saya terlalu keras memukul bagian leher Yura saat berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Yura," ungkap Arvan
"Tidak perlu bilang maaf, Arvan. Ini bukan salahmu, akulah yang tidak hati-hati hingga bisa mendapat luka lebam ini. Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri," ucap Yura
"Bibi Yura, apa itu terasa sakit?" tanya Arsha
"Tidak sama sekali kok. Arsha, tidak perlu merasa khawatir," jawab Yura
"Sebenarnya itu salahku, Ibu, Ayah. Kemarin saat sedang latihan bela diri, aku yang meminta Bibi Yura dan Paman Arvan untuk memberi contoh cara bertarung padaku dengan cara saling melawan satu sama lain hingga Bibi Yura mendapat bekas luka lebam di lehernya itu. Aku janji tidak akan meminta hal seperti itu lagi," ungkap Arsha
"Kau juga tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, Arsha. Luka ini bukan salahmu," kata Yura
"Jadi, pada latihan bela diri kemarin siapa yang menang antara Bibi Yura dan Paman Arvan?" tanya Raja
"Tidak ada yang menang, kami berakhir dengan seri ... " jawab Arvan
"Menang atau kalah itu tidak penting," kata Ratu
"Yang Mulia Ratu, Anda tidak perlu merasa khawatir. Menang atau kalah memang tidak penting, tapi terluka selama latihan harusnya juga bukanlah suatu masalah. Karena luka itu sendiri menandakan kalau kita harus dan bisa menjadi kuat untuk bertahan dan melawan. Ini akan jadi penguji seberapa besar kekuatan yang kita miliki. Saya harap jika Arsha terluka selama latihan atau pada pertarungan sungguhannya nanti, Anda tidak akan terlalu merasa khawatir," ucap Yura
"Yang dikatakan oleh Yura memang benar," kata Raja
"Jika Arsha terluka saat latihan atau bertarung sungguhan nanti, itu tidak masalah asalkan bukan luka fatal karena dia adalah lelaki, tapi kau itu adalah seorang gadis, Yura ... " ujar Ratu
"Namun, saya adalah orang dewasa, jadi luka ini bukan suatu masalah," sahut Yura
"Justru karena kau orang dewasa, bukankah artinya kau bisa untuk tidak terluka karena artinya kau bisa lebih menjaga dirimu sendiri?" tanya Ratu
"Tidak mestinya seperti itu juga karena di atas langit masih ada langit. Jika ada orang yang kuat berarti juga ada yang lebih kuat lagi, apa lagi kekuatan yang dimiliki Arvan pasti lebih besar dari pada milik saya yang hanya seorang gadis," jawab Yura
"Sudah tahu kau adalah seorang gadis, kenapa kau malah memilih untuk suka bertarung dan mengembara?" tanya Ratu
"Karena itu jalan yang saya pilih sendiri dan saya memang menyukainya. Padahal selama ini Anda tidak pernah mempermasalahkan tentang hal yang saya suka," jawab Yura
"Itu karena selama ini aku tidak pernah melihatmu terluka. Kau sendiri kenapa selalu menjawab semua perkataanku?" tanya Ratu
__ADS_1
"Saya hanya mereson hal yang Anda bicarakan dan jika Anda bertanya, tentu saya akan menjawabnya. Kalau soal luka lebam ini, Anda tidak perlu merasa khawatir. Nanti akan saya oleskan obat agar cepat hilang dan akan saya tutupi supaya tidak terlihat," jawab Yura
Akhirnya, Ratu pun terdiam karena tidak bisa lagi berkata-kata karena Yura yang selalu menyahuti perkataannya.