One & Only

One & Only
47 - Belajar Bersama Paman Arvan.


__ADS_3

Ratu melihat ke arah saudari kembarnya yang berlalu menjauh memisahkan diri sendiri hingga kini hanya tersisa dirinya dan Raja.


"Dari apa yang dikatakan oleh Yura, sepertinya hubungan antara dirinya dan Arvan memang tidak berjalan baik. Entah apa penyebabnya, kita gagal menyatukan mereka berdua ... " ujar Ratu


"Kau tidak perlu bersedih hanya karena itu. Mungkin mereka berdua memang tidak berjodoh, kita tidak memaksa mereka berdua untuk harus bersatu," kata Raja


Ratu pun hanya mengangguk pelan.


...


Seperti sebelumnya, hari ini Rio pun menunggu di kandang kuda karena berharap Yura akan datang hingga ia dapat bertemu dengan gadis bercadar itu.


"Rio, belakangan ini kau jadi lebih sering datang ke sini. Ini sudah hari ketiga, kan?" tanya Denny, pengurus kuda.


"Memangnya kenapa? Apa tidak boleh? Bukankah justru bagus karena aku jadi bisa membantu pekerjaanmu?" tanya balik Rio


"Ya, selama kau tidak menggangguku, itu memang bagus. Namun, alasanmu jadi lebih sering datang karena ingin menjadi akrab dengan Nick itu bohong, kan? Apa kau menyukai nona Yura?" tanya Denny lagi.


"Soal alasan yang ingin akrab dengan Nick itu harus kukatakan itu tidak sepenuhnya benar atau tidak sepenuhnya salah? Sebenarnya meski sudah punya kuda milik sendiri, nona Yura terlihat menyukai Nick, sepertinya nona Yura memang sangat menyukai kuda. Lalu, memang apa salahnya jika aku suka dengan nona Yura? Apa kau ingin bersaing denganku karena kau juga suka dengannya?" tanya balik Rio lagi.


"Tidak, bukan seperti itu. Kalau kau suka dengan nona Yura, apa dia akan menerimamu? Maksudku, nona Yura terlihat seperti bukan gadis biasa dan sepertinya meski hanya seorang pelayan, dia juga termasuk gadis dari keluarga bangsawan. Jika memang benar, itu artinya statusmu berbeda dengannya karena kau hanya kalangan rakyat biasa. Lalu, bagaimana dengan Pevita?" tanya Denny untuk ke sekian kalinya.


"Bagiku yang membedakan antara aku dan nona Yura adalah lelaki dan perempuan, selain itu tidak ada lagi. Aku pun yakin kalau nona Yura tidak akan membedakan status seseorang dan kalau aku terus mengejar cintanya suatu saat nona Yura pasti akan membalas perasaanku. Lalu, aku hanya berteman dekat sejak kecil dengan Pevita dan tidak lebih dari pada itu," jelas Rio


"Padahal aku yakin kau punya chemistry khusus dengan Pevita dan kalian berdua tampak serasi dan cocok. Mungkin kau hanya tidak menyadari hal itu," ujar Denny


Rio tidak lagi mendengar perkataan yang diucapkan oleh Denny, karena pandangan matanya telah tertuju pada Yura yang mulai berjalan mendekat ke arah kandang vila tersebut.


"Semoga Nona Yura tidak mendengar percakapan kita berdua tadi. Aku pergi menyapa kedatangan Nona Yura dulu," kata Rio yang lamgsung beralih menghampiri Yura.


"Kau saja tidak mendengar perkataan terakhirku barusan. Dasar, budak cinta ... " gumam Denny


"Hari ini pun Nona Yura datang lagi, ya," sapa Rio

__ADS_1


"Ya, aku tidak punya kegiatan lain, jadi aku hanya bisa datang ke sini," kata Yura


"Apa Nona ingin membawa Grace pergi jalan-jalan lagi?" tanya Denny


"Ya, aku ingin bermain bersama Grace ... " jawab Yura


"Kalau begitu, biar langsung saya pasangkan pelana pada Grace," ujar Denny yang langsung mengeluarkan kuda milik Yura dari bilik pagar dan memasangkan pelana.


"Kali ini pun aku akan membawa Nick ke luar, ya, Denny ... " kata Rio


"Terserah kau saja," sahut Denny


Rio pun langsung mengeluarkan kuda Nick dari bilik pagar dan memasangkan pelana. Setelah itu, Yura pun ke luar kandang dengan menunggangi Grace dan Rio mengikutinya sambil menunggangi Nick.


...


Arsha yang kini bersama Arvan di dalam kamar Tuan Penasehat itu sedang saling berbincang.


"Jadi, selama dua hari ini kau terus berada di dalam kamar? Lalu, apa saja yang kau lakukan di sini, Paman Arvan?" tanya Arsha


"Rupanya memang benar kau mengurung diri untuk bekerja," ujar Arsha


"Siapa yang mengatakan itu padamu, Arsha? Apa itu Baginda Raja?" tanya Arvan


"Bukan ayah, tapi bibi Yura. Dia bilang, aku tidak perlu berlatih dengannya setiap hari dan menyarankan padaku untuk sesekali belajar sesuatu darimu. Entah maksudnya memang ingin aku belajar denganmu atau sebenarnya dia ingin aku menemanimu agar tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan saat kita sedang berlibur seperti saat ini," ungkap Arsha


"Yura berkata seperti itu, apa dia memang benar-benar peduli padaku? Apa kali ini bukan karena aku terlalu berharap tentangnya?" batin Arvan bertanya-tanya.


"Jadi, Arsha, apa kau benar-benar ingin belajar denganku? Apa yang ingin kau pelajari untuk saat ini?" tanya Arvan


"Apa saja, yang penting aku ingin belajar tentang sesuatu darimu, Paman Arvan ... " jawab Arsha


"Baiklah. Kalau begitu, mari kita mengulas lebih dulu ... apa saja yang sudah pernah kau pelajari sebelumnya?" tanya Arvan

__ADS_1


Arsha pun menjelaskan satu per satu apa saja apa yang telah dipelajari olehnya sebelumnya. Setelah mendengarnya, Arvan pun jadi mengetahui apa yang perlu dipelajari oleh Arsha dan mulai memberi pelajaran yang sesuai untuk Putra Mahkota itu.


Seperti biasa, Arsha memiliki pemahaman yang baik dalam banyak hal hingga membuatnya dapat mempelajari sesuatu dengan mudah dan dalam waktu yang cepat dan singkat. Karena itulah sesi belajar bersama Arvan pun dapat berakhir dengan cepat.


"Kalau begitu, aku tidak akan mengganggumu yang sedang sibuk lagi lebih dari pada ini. Aku akan kembali ke kamarku sendiri," ujar Arsha


"Biar aku antar kau sampai ke luar kamar," kata Arvan


Arvan pun mengantar Arsha ke luar dari dalam kamarnya.


"Aku bisa kembali ke kamarku sendiri dari sini. Paman Arvan, kau kembali sibuk saja," ucap Arsha yang langsung beralih menuju ke kamarnya sendiri.


Melihat Arsha yang sudah masuk ke dalam kamarnya sendiri, Arvan pun memilih untuk melangkah ke luar dari kamarnya. Kali ini pun Arvan berniat untuk berkeliling.


"Jika hari ini Arsha belajar bersamaku di dalam kamarku, apa hari ini pun Yura pergi berkuda bersama pelayan lelaki itu lagi seperti kemarin?" batin Arvan


Tidak peduli jika harus melihat pelayan lelaki itu juga, yang jelas Arvan ingin menyempatkan diri untuk melihat wajah Yura meski hanya dari jauh dan tertutup cadar sekali pun. Sebentar saja, Arvan ingin melepas rasa rindu.


Tanpa terasa Arvan telah melangkah hingga ke sekitar tempat berkuda dan langsung tersenyum saat melihat Yura di kejauhan sana. Namun, senyuman itu tampak memilukan dan menyakitkan.


Tepat seperti yang telah Arvan duga, pelayan lelaki itu juga ada di sana menemani Yura seperti sebelumnya. Arvan tidak peduli dengan rasa sakit di hatinya, yang penting dirinya bisa melihat gadis pujaan hatinya.


Tak tahan melihat gadis yang disukainya sedang bersama lelaki lain, Arvan pun beralih menuju ke arah lain.


Sudah menyelesaikan beberapa kali putaran dengan barpacu menunggang kuda, Yura pun mengembalikan kudanya ke dalam kandang. Begitu juga dengan Rio.


Grace dan Nick, kedua kuda itu pun kembali masuk ke dalam bilik pagar masing-masing untuk kembali istirahat usai berolahraga sejenak.


"Apa Nona Yura jadi ingin berkeliling? Apa aku masih boleh menemani Nona Yura selama berkeliling?" tanya Rio


"Boleh, kebetulan aku merasa bosan saat berkeliling di tempat yang sama sejak pertama kali datang ke sini. Aku ingin melihat tempat lainnya dan kau pasti lebih tahu banyak tentang seluk beluk tempat ini," jawab Yura


"Kalau begitu, aku akan mengajak Nona pergi melihat tempat yang pasti Nona akan menyukainya," ujar Rio

__ADS_1


Setelah itu Yura dan Rio pun beranjak bersama untuk pergi berkeliling.


__ADS_2