One & Only

One & Only
102 - Belati Melawan Pedang.


__ADS_3

Melihat semua orang menaruh senjata di hadapannya untuk memberinya hak bebas dalam memilih, Yura pun ikut melempar sesuatu ke tanah. Itu adalah kantong uang. Sepertinya Yura selalu tidak lupa untuk membawa uang dalam kantong yang disimpan di dalam saku pakaiannya. Sekali pun selalu memakai gaun, sepertinya gaun miliknya selalu didesain dengan saku sebagai tempat menyimpan barang.


"Aku sudah lebih dulu mengeluarkan uang taruhannya karena aku tidak pernah menyalahi aturan atau mengingkari ucapan. Kalau aku kalah, aku akan menambah jumlah uangnya ... " ucap Yura


"Sepertinya kau sudah bersiap untuk kalah. Kau pasti merasa takut sekarang."


"Jangan bercanda, aku tidak merasa gentar sedikit pun. Tidak perlu banyak bicara. Ayo, kita mulai saja ... " kata Yura


"Kau akan menyesal, Nona. Kalau begitu, kau sudah bisa memilih senjata yang akan kau gunakan untuk melawanku." Prajurit yang akan melawan Yura sudah bersiap dengan senjata miliknya sendiri yang akan digunakan untuk bertarung, yaitu sebuah pedang.


"Tidak perlu terlalu terburu-buru. Ada banyak senjata yang bisa digunakan di sini juga akan ada waktu yang tepat untuk mengambilnya saat bertarung. Namun, apa kau yakin kalau kau sendiri yang akan bertarung melawanku?" tanya Yura


"Memangnya kenapa? Apa kau mulai merasa ragu, Nona? Bukankah sudah terlalu terlambat untuk mencabut perkataanmu yang sombong sejak awal itu?"


"Mencabut perkataan, maksudmu membatalkan pertarungan? Yang benar saja, aku tidak pernah seyakin ini. Namun, berbeda dengan dirimu. Aku pernah mendengar suaramu ini yang mengatakan bahwa jangan sampai berurusan dengan orang seperti diriku, tapi kali ini kau malah maju dengan sendirinya untuk mengajakku bicara dan ingin bertarung denganku. Entah kau hanya ingin bertindak sok jago di depan semua rekanmu atau kau memang tipe orang yang suka menjilat ludah sendiri atau mungkin kau hanya seorang pria labil," ungkap Yura


"Kau juga sendiri yang bilang untuk tidak perlu banyak bicara." Prajurit yang sudah tersulut emosi dan tak sanggup lagi menahannya pun akhirnya melangkah maju untuk mulai menyerang ke arah Yura. Namun, Yura bisa menghindar dengan sangat baik.


"Teknik menghindar yang bagus." Pujian itu terdengar seperti cibiran saat si prajurit yang mengatakannya.


"Kau juga punya semangat yang bagus dan sangat membara. Namun, kau juga harus berhati-hati karena bisa saja hanya kau yang terbakar seorang diri," ucap Yura


Si prajurit terkejut. Karena ia sengaja menyerang secara tiba-tiba agar Yura merasa takut dan gentar. Namun, ternyata justru sebaliknya. Yura tampak tidak takut atau gentar sedikit pun.


"Yura tidak pernah main-main dengan ucapannya, dia benar-benar ingin bertarung. Namun, tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Yura sedang marah karena rumor yang beredar tentang dirinya dan Baginda Raja itu. Wajar saja jika dia marah karena rumor tanpa dasar itu sudah sangat keterlaluan, jadi biarkan saja dia menghibur diri dan melampiaskan emosinya di sini," batin Arvan


Meski pun merasa khawatir, Arvan juga tahu kemampuan milik Yura. Jadi, lelaki itu hanya bisa diam sambil terus memerhatikan dari jauh. Berbeda dengan Arvan, Pevita dan Rio merasa sangat khawatir saat melihat Yura bertarung dengan tanpa senjata.

__ADS_1


"Mari, lihat ... seperti apa dan sampai kapan kau akan menghindar lagi."


Ingin cepat membungkam dan mengalahkan Yura, si prajurit kembali maju untuk menyerang. Namun, tidak seperti ekspetasinya. Kali ini Yura tidak menghindar lagi, justru ikut maju untuk menyerang.


Tidak tanpa senjata. Yura mengeluarkan pisau belati dari balik lengan gaun panjangnya. Hingga saat belati milik Yura dan pedang milik si prajurit saling bertemu karena saling menyerang satu sama lain, terdengarlah suara denting antar dua benda tajam seperti dalam peperangan sungguhan. Namun, si prajurit malah tertawa lebar.


"Sudah kuduga, tangan kemayumu yang lemah gemulai itu tidak akan sanggup untuk mengangkat pedang. Kau sungguh mencari senjata yang mirip dengan pisau dapur itu untuk bertarung. Memang sangat cocok untukmu. Namun, bisa apa kau dengan belati kecil seperti itu? Sepertinya pemenang pertarungan ini sudah bisa ditentukan langsung. Lebih baik jangan sia-siakan tenagamu yang hanya sedikit itu. Kalau kau menyerah sekarang, kujamin kau tidak akan menanggung malu, Nona."


"Sudah selesai bicara? Terima kasih, deh. Karena yang ke luar dari mulutmu hanya omong kosong. Memangnya siapa yang bilang kalau aku pasti menggunakan senjata dengan memilihnya salah satu dari yang telah dikumpulkan oleh para rekanmu? Lagi pula, tidak ada aturan untuk menentukan senjata yang akan digunakan dan tidak boleh menggunakan senjata milik sendiri, kan? Karena kau sendiri menggunakan senjata milikmu," ujar Yura


"Masih terlalu cepat untuk mengetahui siapa pemenangnya dari sekarang karena di dalam kamus milikku satu-satunya kata menyerah hanyalah PANTANG MENYERAH alias maju terus, pantang mundur! Belum diketahui siapa yang akan menanggung malu di akhir pertarungan nanti. Biar kuberi tahu, sejak awal strategiku adalah bertahan. Namun, teknik bertahan itu tidak hanya soal menghindari serangan. Lalu, teknik bertahan yang baik, salah satunya juga adalah menyerang!" Yura pun maju dengan langkah besar dan sekuat tenaga.


Yura benar-benar melakukan serangan balik yang tak dapat dihindari. Sekali pun lawannya adalah pria yang menggunakan pedang, Yura selalu bisa menemukan titik celah dan menyerang dengan menggunakan belati miliknya. Hingga si prajurit yang melawannya tampak kewalahan.


Semua yang menyaksikan pertarungan antar keduanya mulai merasa takjub pada Yura. Mereka tidak menyangka dengan kemampuan bertarung milik Yura yang hebat. Si prajurit yang menjadi lawan berusaha menemukan kelemahan pada tatapan atau wajah Yura. Sudah sebagian wajah Yura ditutupi dengan menggunakan cadar, si prajurit tidak bisa menemukan setitik pun kelemahan atau pun rasa lelah pada tatapan mata Yura.


Saat semuanya merasa takjub dengan melihat kemampuan bertarung gadis bercadar, maka saat itulah si prajurit merasa dirinya telah direndahkan. Merasa tidak terima dengan itu, si prajurit pun mulai menyerang dengan membabi-buta. Entah berapa kali serangan yang dilakukannya, pada 2 serangan terakhir mampu mengenai Yura. Hingga Yura terpaksa bergerak mundur.


Semua yang menyaksikan tampak terkejut saat melihat wajah Yura yang sangat mirip dengan Ratu bagai pinang dibelah dua. Kecuali Arvan, Pevita dan Rio yang memang sudah pernah melihat wajah Yura tanpa cadar. Namun, semua orang dibuat bergidik ngeri dengan senyum seringai yang terpatri pada wajah Yura yang kini membuatnya tidak mirip dengan Ratu. Karena Ratu selalu tersenyum dengan lembut bukan malah tampak mengerikan seperti itu.


"Kau terluka, Nona. Apa rasanya sakit? Apa itu membuatmu ingin menyerah?" Si prajurit itu mengoceh untuk menghilangkan rasa tertekan yang dirasakan setelah melihat senyum seringai pada wajah Yura.


"Apa itu rasa sakit? Bertarung itu tidak mengenal sakit hanya ada rasa bangga, tapi itu mungkin hanya untuk sebagian orang. Aku memang merasa sedikit merinding, tapi bukan karena rasa sakit melainkan hanya karena merasa tergelitik. Aku tidak menyangka kau bisa melukaiku seperti ini. Kalau begitu, kuakui kemampuanmu. Lalu, perlu kau tahu saja kalau bertarung tanpa melukai lawan itu juga merupakan sebuah kemampuan," jelas Yura


Lagi-lagi si prajurit merasa tudak terima, kini ia merasa terhina saat Yura berkata seperti itu. Karena dari perkataan Yura seolah dirinya memang sengaja tidak melukai si prajurit. Sedangkan rasa bangga hanya untuk sebagian orang menandakan Yura selalu bangga karena selalu bisa menang pada saat bertarung yang artinya juga secara tidak langsung Yura mengatakan si prajurit tidak akan menang melawannya.


Si prajurit pun kembali bergerak menyerang Yura. Kali ini pun Yura tidak akan kehilangan penjagaan dirinya dan balik menyerang. Hingga keduanya pun kembali saling menyerang. Si prajurit fokus pada belati yang digunakan Yura sebagai senjata penyerang hingga terfokus pada bagian atas tubuh. Yura pun merasa telah menemukan titik lemah si prajurit, yaitu pada bagian bawah.

__ADS_1


Awalnya, Yura melakukan gerakan serangan palsu ke arah pergelangan tangan si prajurit. Hal itu membuat si prajurit lengah hingga melepaskan pedang miliknya dari genggaman tangannya. Melihat ada kesempatan, Yura pun menjegal kaki si prajurit hingga membuatnya jatuh tersungkur hingga berlutut di atas tanah. Lalu, Yura pun mengarahkan belati miliknya pada leher si prajurit hingga membuatnya tak bisa berkutik.


"Mari, lihat ... apa kau masih sanggup bangkit untuk kembali menyerangku? Namun, kali ini tidak bisa kupastikan kalau aku tidak akan melukaimu seperti yang terus kuusahakan sebelumnya. Selain kau yang berusaha bangkit, aku tidak akan menjauhkan senjata kecil milikku ini, kecuali jika kau berkata telah menyerah ... " ujar Yura


"Apa kau terlalu enggan mengeluarkan kata menyerah dari mulutmu karena telah menanggung malu? Lalu, bagaimana dengan nasib pertarungan kali ini? Maksudku, bagaimana dengan hasilnya?" tanya Yura melanjutkan karena si prajurit hanya sibuk menundukkan kepalanya.


"Kalau begitu, izinkan saya yang menentukan hasil pertarungan kali ini. Melihat Tuan Prajurit yang telah kehilangan senjata dari genggaman tangannya, sedangkan senjata yang ada di tangan Nona Yura telah diarahkan pada bagian tubuh Tuan Prajurit, maka telah ditentukan bahwa hasil pertarungan kali ini menyatakan pemenangnya adalah Nona Yura," ungkap Rio


Selain Rio yang bicara, yang lain hanya terdiam. Tidak ada sorak sorai atau selamat untuk pemenang. Mungkin karena semua yang menyaksikan masih tidak menyangka kalau pemenang pertarungan kali ini adalah seorang gadis yang menggunakan belati dan si prajurit yang menggunakan pedang dapat dikalahkan.


Sementara, Arvan memang ikut membisu dan hanya terus menyaksikan hingga akhir. Namun, lelaki itu tersenyum cerah saat mengetahui Yura adalah pemenang dari pertarungan kali ini sama seperti dugaannya.


Si prajurit terus menunduk tanpa sanggup mengangkat kepalanya. Mungkin karena telah berlumuran oleh perasaan malu.


"Terima kasih, Rio. Jadi, apa masih ada yang ingin maju untuk bertarung melawanku di sini?" tanya Yura


Selain semuanya sibuk terdiam dan terpukau dengan aksi bertarung Yura, tempat itu terinterupsi oleh kedatangan Raja dan Ratu yang hadir di sana.


Melihat kehadiran sang penguasa, Yura langsung memasukkan belati miliknya ke dalam sarung pelindungnya yang berada di balik lengan gaun pada pergelangan tangannya.


"Salam dan hormat saya pada Baginda Raja dan Yang Mulia Ratu," ucap Yura sambil membungkukkan badannya.


Menyaksikan penghormatan yang Yura lakukan, para prajurit lainnya baru tersadar akan kehadiran Raja dan Ratu di sana. Semua pun ikut berlutut seperti si prajurit yang telah dikalahkan Yura, namun kali ini untuk memberi penghormatan hagi Raja dan Ratu. Kecuali Arvan yang tetap berdiri.


Menyadari Arvan ada di sana, Yura tidak merasa heran sama sekali. Bahkan raut wajahnya sangat datar.


"Yura tidak terkejut saat melihatku. Apa dia sudah tahu kalau sejak awal aku ada di sini setelah mengikutinya?" batin Arvan

__ADS_1


"Sudah kubilang, kau tidak perlu memberi salam pada kami berdua, Yura ... " ujar Raja tanpa menghiraukan semua prajurit yang berlutut di sekelilingnya.


Mendengar itu, Yura pun kembali menegakkan tubuhnya dan berhadapan langsung dengan Raja dan Ratu. Selain Arvan, semua prajurit yang ada di sana terus berlutut.


__ADS_2