
Arvan pun mulai berjalan lebih dulu sambil menunggang kuda karena berada di paling depan. Namun, lelaki itu merasa sedih karena tidak bisa menunggang kuda berdampingan dengan Yura lagi. Karena Yura berjalan di bagian paling belakang.
Semua rombongan pun mulai berjalan meninggalkan Vila Kerajaan untuk kembali menuju ke Istana Kerajaan.
Rio tampak merasa sedih dan kecewa karena Yura telah pergi meninggalkan Vila Kerajaan tempatnya bekerja untuk kembali ke Istana Kerajaan. Karena itu artinya pendekatan yang dilakukannya beberapa hari ini terhadap Yura menjadi gagal dan sia-sia belaka. Namun, Rio tidak akan menyerah pada perasaannya terhadap Yura. Rio bertekad untuk mengejar cinta Yura sampai ke mana pun, bahkan sampai ke ujung dunia. Apa lagi jika pujaan hatinya hanya berada di Istana Kerajaan, Rio pasti bisa mengejar dengan menyusulnya suatu saat nanti.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya semua rombongan pun tiba di Istana Kerajaan.
Yura dan Arvan pun beranjak turun dari atas punggung kuda masing-masing. Sedangkan, Raja, Ratu, dan Putra Mahkota Arsha pun beranjak ke luar dari dalam kereta kuda.
Lalu, ada beberapa pelayan yang sudah langsung siap mengurus dan koper barang dari kereta barang, serta pelayan yang mengurus dan mengambil alih kuda untuk dibawa masuk ke dalam kandang.
Rupanya, di sana juga ada para selir yang menyambut kepulangan anggota keluarga kerajaan. Namun, sebenarnya yang mereka pedulikan hanya Baginda Raja dan tujuan mereka adalah mencari muka dan perhatian dari Baginda Raja.
"Hormat dan salam sejahtera bagi keluarga Kerajaan Yang Mulia dan Agung," ucap ketiga selir yang menyambut kedatangan kembali anggota Keluarga Kerajaan di sana.
"Kita semua adalah keluarga, jadi tidak perlu ada salam hormat di antara kita," kata Raja
"Baginda Raja, Yang Mulia Ratu, dan Yang Mulia Pangeran Mahkota pasti lelah setelah menempuh perjalanan. Bagaimana kalau Anda semua istirahat lebih dulu bersama kami sambil meminum secangkir teh?" tanya seorang selir bernama Frizka, Selir Kedua.
"Sebelumnya aku minta maaf karena sudah pergi berlibur bersama Ratu dan Putra Mahkota tanpa memberi tahu pada kalian. Pesta minum teh setelah kembali berlibur memang terdengar menyenangkan. Namun, maaf sekali lagi karena aku sudah harus langsung mengurus pekerjaan yang menumpuk di ruang kerja Istana Kerajaan. Jadi, lebih baik kalian tidak perlu menghabiskan banyak waktu dan kembali saja pada kediaman masing-masing," ujar Raja
__ADS_1
"Kami mengerti kalau Baginda sangat sibuk memgurus pekerjaan. Namun, kami juga berharap Anda tidak lupa meluangkan waktu untuk istirahat dan menjaga kesehatan," kata seorang selir bernama Nitami, Selir Pertama.
"Aku akan ingat pesan kalian untuk tetap menjaga kesehatan diri. Tidak ada yang perlu kalian khawatirkan karena ada Arvan yang selalu membantuku dalam banyak hal, terutama soal pekerjaan ... " ucap Raja sambil melirik ke arah Arvan yang ada di sana.
Arvan pun langsung mengangguk kecil sebagai respon saat Raja menyebutkan namanya di dalam kalimat ucapannya. Seolah Penasehat Besar Kerajaan itu juga berkata, "saya akan selalu berada di samping Baginda Raja untuk membantunya."
"Azkia, bagaimana keadaan putri kita, Afia?" tanya Raja beralih bicara pada Selir Ketiga yang merupakan adik perempuan dari Arvan, Azkia.
"Afia, putri kita baik-baik saja, Baginda. Dia baru saja kembali tidur setelah lelah bermain," jawab Azkia.
"Berapa usianya saat ini?" tanya Raja
"Pasti sudah mulai ada perkembangan di usianya sekarang. Lain kali aku pasti berkunjung ke kediamanmu untuk melihat putri kita," ujar Raja
"Saya akan mengingatnya dan menyambut kedatangan Anda saat berkunjung nanti. Namun, Anda tidak perlu memaksakan diri jika memang tidak punya waktu karena sibuk," ucap Azkia
"Aku pasti bisa meluangkan waktu demi anak, meski sibuk sekali pun ... " kata Raja
"Baiklah, kalau Baginda berkata seperti itu," sahut Azkia
"Kalau begitu, aku akan pergi. Kalian juga silakan kembali," ujar Raja
__ADS_1
Saat Raja beranjak pergi, para selir pun membungkuk sebagai salam hormat. Ratu dan Arsha pun beranjsk pergi dari sana ke arah yang berbeda, begitu juga dengan Selir Azkia. Namun, kedua selir lainnya tidak langsung membubarkan diri. Selir Pertama dan Selir Kedua malah menatap dengan sinis ke arah Ratu dan Selir Ketiga, Azkia, yang pergi berlalu dari sana.
"Baginda Raja selalu saja seperti ini. Hanya karena Yang Mulia Ratu dan Selir Ketiga sudah melahirkan dan memberikannya seorang Putra Mahkota dan seorang putri, Baginda Raja jadi pilih kasih ... " bisik Frizka, Selir Kedua pada Selir Pertama, Nitami.
"Sebelumnya maaf jika perkataan saya barusan membuat Selir Pertama merasa tersinggung. Saya tidak ada maksud seperti itu dan hanya mengatakan yang sebenarnya," sambung Frizka dengan suara pelan.
Selir Pertama, Nitami, berusaha tidak memedulikan perkataan Selir Kedua, Fizka yang berniat menyinggung perasaannya. Pasalnya, Selir Pertama Nitami juga sudah sempat memiliki anak dengan Raja, seorang putra yang akhirnya meninggal dunia saat sedang sakit demam dan flu berat ketika pergantian musim di usia 4 tahun.
Memang seperti itulah sikap perlakuan penghuni Istana Harem. Mengeluarkan kata-kata yang mampu menyinggung perasaan, namun berkata tidak bermaksud untuk membuat merasa tersinggung. Seolah kemampuan bicara dan bersilat lidah adalah hal yang paling penting dan utama untuk dikuasai. Seperti yang baru saja dilakukan oleh Selir Kedua Frizka terhadap Selir Pertama Nitami.
Dahulu Selir Pertama Nitami juga pernah mendapat banyak kasih sayang dari Raja karena mampu melahirkan dan memberikan seorang putra sebagai keturunan Raja. Namun, itu tidak berlangsung lama. Setelah putra Selir Pertama Nitami yang merupakan Pangeran Kedua meninggal dunia, Selir Pertama Nitami seolah kehilangan kasih sayang dari Raja.
Kasih Sayang dari Raja hanya selalu berlaku pada Ratu yang sangat dicintai. Apa lagi, setelah Selir Ketiga Azkia melahirkan seorang putri. Kasih sayang dan perhatian Raja jadi ikut tercurah pada Selir Ketiga Azkia, terlebih lagi Raja memang sudah menantikan kehadiran seorang putri.
Selir Pertama Nitami berusaha bersabar dan tegar dalam kesehariannya setelah kehilangan putra tercintanya. Karena bagaimana pun Raja pssti masih terus dan tetap mempertahankannya karena dirinya yang berasal dari keluarga bangsawan tertinggi Kerajaan dengan gelar Duke.
Terlebih lagi keluarga Selir Pertama Nitami adalah yang pertama kali menyetujui Raja Evan untuk naik tahta saat dulu masih hanya menjadi seorang Pangeran, karena dahulu ada 2 kandidat pangeran yang bersaing untuk naik tahta.
Sempat mendengar apa yang dibicarakan oleh Selir Pertama dan Selir Kedua, Yura langsung melayangkan tatapan tajam pada kedua selir itu. Bahkan tatapan mata Yura mampu mengalahkan dan lebih dahsyat dari pada tatapan sinis dari kedua selir itu sebelumnya.
Saking tajamnya tatapan kedua mata Yura, seolah mampu menusuk dan mencabik-cabik tubuh Selir Pertama dan Selir Kedua. Bahkan kedua selir itu sampai merinding ngeri melihat kilatan tajam dari tatapan mata Yura.
__ADS_1