
Saat menunggang kuda dengan kecepatan rendah di tenggah ramainya pengguna jalan, banyak pandangan mata yang tertuju pada Yura dan Arvan.
Mungkin Arvan sudah terbiasa dengan pandangan mata khalayak yang tertuju padanya. Pasalnya banyak orang yang sudah mengenalnya sebagai lelaki yang menjabat dan memiliki gelar Penasehat Besar sekaligus Dokter Utama Kerajaan di usia yang masih terbilang muda. Tak jarang banyak orang pun menilai dirinya tampan.
Jadi, Arvan sudah merasa terbiasa dengan pandangan mata dan penilaian banyak orang terhadapnya. Namun, entah apa yang dirasakan oleh Yura saat banyak orang yang kini memandanginya dengan tatapan mata yang seolah menilai dirinya aneh. Arvan bahkan merasa tidak suka dengan pandangan mata orang yang seolah merendahkan dan meremehkan diri Yura. Padahal Yura sendiri tampak tidak peduli dengan pandanga mata atau penilaian orang lain terhadapnya.
Mungkin karena saat ini Yura adalah seorang gadis yang menunggang kuda dengan menggunakan pakaian berkuda yang artinya memakai setelan pakaian dengan celana. Itu adalah hal yang bertentangan dengan peraturan, tradisi, dan sikap moralitas seorang perempuan yang telah dijaga dan dipertahankan sejak lama.
Sebenarnya Yura pun mengerti soal penilaian orang lain hingga membuat mereka menatap aneh pada dirinya. Yura mengerti kalau saat ini orang lain menganggapnya tidak sopan dan tidak mencerminkan keanggunan seorang gadis. Namun, Yura hanya mengabaikannya.
"Lihat, itu adalah Penasehat Besar. Dokter Utama Kerajaan!"
"Tampan sekali dia!"
"Ya, seperti biasa."
"Lalu, siapa orang yang menunggang kuda lain bersamanya itu?"
"Bukankah itu seorang gadis?"
__ADS_1
"Seorang gadis menggunakan celana dan menunggang kuda di tempat ramai seperti ini?"
"Sungguh tidak anggun!"
"Siapa gadis itu? Berani sekali merebut posisi di samping Tuan Penasehat!"
"Aku lebih pantas berada di samping Tuan Penasehat dari pada gadis serampangan tidak jelas yang tidak berkelas itu!"
"Gadis itu pasti memiliki wajah yang buruk rupa hingga menutupi wajahnya dengan cadar seperti itu."
"Dia saja tidak percaya diri dengan wajahnya sendiri. Bisa-bisanya malah berjalan berdampingan dengan lelaki tampan panutan seperti Tuan Penasehat Besar!"
Banyak orang yang mengagumi ketampanan dan keberhasilan yang dimiliki Arvan, ada juga yang menjelekkan sosok Yura, atau bahkan yang merasa iri dengan kedekatan antara Yura dan Arvan.
"Sebentar lagi kita sampai, tokonya ada di depan sana. Aku sudah lama tidak berada di kota Kerajaan dan tidak pernah pergi ke mana pun saat terakhir kali aku di sini. Jadi, aku tidak tahu jalan lain selain jalan ini yang sudah pernah kulewati sebelumnya," jelas Yura
Kini Yura dan Arvan berjalan sambil menunggang kuda masing-masing secara berdampingan. Keduanya telah melewati jalan deretan toko yang ramai pengguna jalan.
Kecuali berada di desa kecil, memang biasanya toko senjata berada di jalan yang lebih sepi karena toko lainnya tidak mau terganggu dengan kebisingan aktivitas toko yang sedang membuat senjata. Namun, selain karena hal itu, biasanya toko senjata di kota ternama akan memiliki dan menggunakan bangungan yang tampak luas dari luar agar banyak orang yang langsung tahu bahwa toko senjata tersebut adalah toko berkualitas tinggi, makanya biasanya akan terletak di jalan yang lebih sepi namun terpandang.
__ADS_1
"Toko senjata yang kumaksud memang tidak berada di jalan ramai dan malah terletak di jalan yang lebih sepi. Tokonya sudah dekat, ada di depan sana. Kau sudah bisa melihat tokonya dari sini," kata Yura
"Rupanya, ada di sini. Lain kali aku yang akan memimpin jalan kalau ingin ke sini agar kita bisa lewat jalan pintas lain yang tidak ramai," ujar Arvan
"Tidak akan ada lain kali karena kita akan langsung menuntaskan penyelidikan, meski harus memakan waktu berhari-hari. Aku tidak akan mau menggunakan jasa toko yang bekerja sama dengan orang yang ingin mencelakai kakakku. Apa kau berpikir ini ke sini lagi lain kali? Tapi, kenapa tidak mau melewati jalan yang barusan? Apa karena pandangan mata orang lain di sepanjang jalan tadi? Kupikir kau sudah terbiasa dengan hal seperti tadi, tapi ternyata aku salah, ya?" tanya Yura
"Kau sendiri, apa sama sekali tidak merasa risih dengan pandangan dan penilaian banyak orang tadi?" tanya balik Arvan
"Tidak perlu peduli dengan pandangan atau penilaian oramg lain, yang tahu seperti apa nilai pada diri kita adalah kita sendiri. Abaikan saja mereka semua," jawab Yura
"Meski pun semua orang menilai dirimu sangat rendah dan sangat buruk seperti tadi?" tanya Arvan
"Aku bisa mengerti alasan mereka menilai diriku seperti itu. Jika dari segi aturan, tradisi, moralitas keanggunan seorang gadis, aku memang telah teralihkan jauh dari itu semua. Seorang gadis bukannya mengadakan pesta minum teh dengan gaun yang anggun malah menunggang kuda dengan celana. Meski gadis yang berkuda sudah mulai bermunculan pun, hal itu tetap mendapat kecaman karena pakaian berkuda yang dipakai seorang gadis dapat memperlihatkan lekuk tubuh hingga terlihat sangat tidak sopan," ungkap Yura
"Meski mereka menghinaku sebagai gadis tidak bermoral, yang kulakukan ini juga bukanlah tindak kejahatan atau kriminal. Jadi, aku tidak bersalah, lalu aku yang tidak bersalah ini, kenapa harus peduli dengan ucapan orang lain? Lebih baik abaikan saja dari pada mengganggap penting gangguan seperti itu. Sepertinya mereka hanya merasa iri padaku, anggap saja seperti itu. Hidup itu tidak perlu selalu terpaku pada tanggapan orang lain, kalau tidak hidup kita tidak akan bisa maju ... " sambung Yura
"Sepertinya memang hanya aku yang terlalu menganggap penting hal seperti ini dan yang kau ucapkan memang benar," kata Arvan
Arvan merasa senang saat obrolannya dengan Yura sudh kembali membaik dan selalu bersahutan seperti sebelumnya. Arvan harap hubungannya dengan Yura pun bisa kembali membaik bahkan bisa menjadi lebih dekat lagi.
__ADS_1
"Namun, apa alasanmu memakai setelan pakaian dengan celana hari ini? Padahal biasanya bukankah kau selalu memakai gaun meski melakukan hal yang sulit seperti praktek bela diri, berpedang, bahkan berkuda sekali pun?" tanya Arvan yang memberanikan diri untuk kembali mengajak bicara karena merasa Yura terus meresponnya dengan baik.
"Sebenarnya dulu aku cukup merasa kesulitan saat harus terus berganti antara gaun dengan setelan pakaian bercelana. Seperti pada sehari-hari, aku yang seorang gadis harus selalu memakai gaun, namun pada kebanyakan hobiku mengharuskan aku memakai setelan pakaian dengan celana supaya bisa lebih mudah bergerak dengan nyaman dan leluasa. Jadi, aku membiasakan diri melakukan semua kegiatan dengan memakai gaun agar tidak repot berganti pakaian lagi. Namun, kali ini berbeda ... " jelas Yura yang lebih dulu mengungkap cara berpakaian pada kesehariannya di masa lalu.