
Bersama asistennya, Arvan pun pergi menemui Raja di ruang kerja Istana Kerajaan.
Begitu masuk di ruang kerja Istana Kerajaan, sudah ada Raja yang berdiri di belakang meja kerjanya.
"Ada yang perlu saya bantu, Baginda?" tanya Arvan
"Kan, memang kau yang selalu membantuku saat mengurus pekerjaan. Arvan, aku sudah memeriksa dan menanda-tangani beberapa berkas dokumen persetujuan yang sengaja kau bawa dan masukkan ke dalam koper barang milikku saat kita berlibur ke Vila sebelumnya. Kau periksalah lagi dan untuk berkas dokumen yang tidak kutanda-tangani, itu artinya aku menolak permintaan persetujuan yang disampaikan dalam berkas dokumen tersebut," jelas Raja sambil menyerahkan beberapa berkas dokumen yang dimaksud pada Arvan.
"Baiklah, saya mengerti. Akan segera saya tinjau lagi berkas dokumennya," kata Arvan yang menerima beberapa berkas dokumen dari tangan Raja.
"Lalu, kau dan asistenmu ... tolong pilihkan beberapa berkas dokumen penting yang harus kukerjakan, selagi aku pergi sementara waktu ... " ujar Raja
"Memangnya Anda ingin pergi ke mana, Baginda?" tanya Arvan
"Aku sudah berjanji pada Arsha untuk mengajari dan menemaninya belajar setelah kembali ke Istana Kerajaan. Sebentar saja, aku juga harus punya interaksi dan kedekatan dengan anakku. Aku tidak akan lama dan akan segera kembali lagi nanti untuk mengurus pekerjaan bersamamu," ungkap Raja
"Baginda, Anda memintaku untuk datang menemui Anda, tapi setelah saya datang, Anda justru akan pergi dengan segera ... " ucap Arvan yang merasa tertohok karena kesal dengan perbedaan jabatan dan status antara dirinya dengan Raja.
Saat itu ada suara ketukan pintu dari luar ruang kerja Istana Kerajaan.
"Ayahanda, aku datang ... " Terdengar suara Putra Mahkota dari luar ruangan.
"Baiklah, karena Anda sudah lebih dulu berjanji pada Putra Mahkota, maka tepatilah janji Anda itu. Namun, lain kali jangan lagi terlalu sering mangkir dari pekerjaan," ucap Arvan
__ADS_1
"Aku tidak akan seperti itu dan aku tahu kau bisa mengerti. Aku akan pergi dan kembali nanti," kata Raja yang lalu beranjak ke luar dari ruang kerja Istana Kerajaan dan menghampiri Putra Mahkota kesayangannya.
Lalu, Raja pun pergi bersama Arsha yang ditemani oleh pelayan Ratu untuk belajar di tempat lain. Kali ini Raja ingin memiliki quality time hanya bersama putranya.
Arvan hanya bisa menghela nafas panjang menatap pekerjaan yang bertumpuk di hadapannya setelah Raja pergi.
"Rino, pasti sangat melahkan bagimu untuk mengurus semua pekerjaan di sini saat Raja dan aku pergi," ucap Arvan yang bicara pada asistennya yang bernama Rino.
"Meski begitu, semua ini tetap pekerjaan yang harus saya handle. Namun, saya tetap tidak bisa mengurus semua pekerjaan ini seorang diri. Maafkan saya," ujar Rino
"Tidak perlu sampai bilang maaf. Aku dan Raja pun tidak sanggup mengatasi pekerjaan sebanyak ini. Kalau tidak, tidak mungkin sudah lama aku bekerja dengan Raja, tapi pekerjaan tetap bertumpuk seperti ini dan kalau kami sanggup mengerjakan semua ini berdua, aku mungkin tidak perlu lagi memperkerjakan kau," ucap Arvan
Berbicara dengan Rino, Arvan jadi teringat dengan pelayan lelaki di Vila Kerajaan yang namanya hampir mirip dengan asisten lelakinya itu. Mengingat pelayan lelaki yang menjadi akrab dengan Yura melebihi dirinya membuat Penasehat Besar sekaligus Dokter Utama Kerajaan itu merasa kesal di dalam hatinya.
Tanpa sadar, Arvan bahkan menggebrak meja dengan berkas dokumen yang ada di tangannya. Suara yang ditimbulkan saat Arvan menggebrak meja mampu membuat Rino merasa terkejut.
"Tidak, ini bukan karena dirimu. Lupakan saja. Maaf sudah membuatmu terkejut," jawab Arvan
"Baiklah, tidak masalah ... " kata Rino
"Rino ini sepertinya tak jarang memiliki tebakan yang bagus dan tepat. Seperti kali ini meski bukan langsung karena dirinya, yang membuatku merasa kesal adalah karena namanya membuatku teringat dengan pelayan lelaki yang menjadi tampak akrab dengan Yura. Rino memiliki kemampuan menebak yang baik seperti Yura," batin Arvan
"Jadi, yang membuat Tuan Arvan merasa kesal adalah karena Baginda Raja yang pergi atau karena hal atau orang lain? Misalnya, mungkin karena nona Yura?" tanya Rino yang merasa penasaran karena Arvan sampai terbengong seperti sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Kau ... sudah kubilang, lupakan saja. Kembalilah bekerja," jawab Arvan yang enggan berbagi masalahnya dengan asisten lelaki itu.
"Tuan Penasehat Besar Arvan barusan seperti ingin mengatakan hal lain. Kalau ingin bertanya dari mana dan bagaimana aku bisa tahu, jawabannya adalah karena tadi dia sedang bersama dengan nona Yura dan Tuan Arvan langsung terlihat tidak senang karena tidak bisa bicara lebih lanjut dengan nona Yura saat aku memanggilnya atas permintaan Raja," batin Rino yang bisa langsung menebak.
"Kali ini pun tebakan Rino benar lagi. Bicara soal tebakan, Yura bisa menebak kalau selama ini aku menyukai Ratu hanya dalam waktu yang terbilang singkat. Lalu, apa dia juga bisa menebak kalau aku jadi menyukainya setelah kami berdua cukup saling kenal? Lagi pula, yang benar-benar kusukai adalah Yura, aku menyukai Ratu hanya salah mengira dia adalah penyelamat masa kecilku yang ternyata adalah Yura. Menurut kemampuannya, aku harap Yura bisa menebak ke arah sana sedikit saja supaya dia bisa sedikit mengerti dan tidak terlalu salah paham denganku," batin Arvan
"Dan bicara soal Yura, tadi dia bilang tidak bisa bicara denganku meski hanya sebentar adalah karena harus melatih Arsha. Kalau dipikir-pikir lagi, Raja pergi juga karena hendak menemani dan mengajari Arsha belajar. Bahkan Arsha sendiri yang menghampiri Raja ke sini tadi, jadi dia tidak mungkin berlatih bersama Yura. Berarti tadi Yura hanya berbohong saat bilang akan melatih Arsha? Atau apa Yura tidak tahu kalau akhirnya Arsha lebih memilih belajar dengan Raja? Apa pun yang sebenarnya terjadi, pada akhirnya aku tidak bisa bicara dengannya. Bahkan setelah aku bisa mengetahuinya sekarang pun aku tidak bisa pergi mencari Yura untuk bicara dengannya karena semua pekerjaan yang menumpuk ini. Pekerjaan ini menjeratku! Bahkan meski bukan karena pekerjaan, kurasa akan sangat sulit bagiku untuk bisa bicara dengan Yura lagi. Menyedihkan sekali nasibku ini," oceh Arvan di dalam hati.
Arvan sungguh terjebak di ruang kerja Istana Kerajaan dengan pekerjaan yang menjeratnya di sana. Pada akhirnya, Arvan hanya bisa mengurus pekerjaan tanpa rasa semangat dan karena hal itu asistennya jadi harus lebih bekerja keras
•••
Keesokan harinya.
Di pagi hari seperti ini, biasanya Arvan sudah terbangun dari tidurnya. Namun, kali ini justru berbeda. Tuan Penasehat Besar sekaligus Dokter Utama Kerajaan itu masih bergumul di bawah selimut nyamannya dan berada di atas ranjang yang empuk.
Meski pun tidak sering, sesekali Arvan memang suka terbangun agak telat dari tidurnya. Alasannya yang membuatnya seperti itu adalah karena terlalu lelah setelah mengurus pekerjaan yang menumpuk di hari sebelumnya. Sama seperti saat ini. Karena belum lama pulang dari berlibur di Vila Kerajaan membuatnya harus mengurus lebih banyak pekerjaan yang ditinggal selama liburan hingga membuatnya merasa lelah dan terlambat bangun pagi.
Namun, sebenarnya bukan hanya itu alasannya. Karena selain merasa sangat lelah setelah mebgurus pekerjaan, kini Arvan sedang tertahan di dalam dunia mimpi. Bukan sekadar mimpi biasa, melainkan itu adalah bagian dari memorinya.
Di dalam mimpinya, Arvan melihat sosok dirinya sendiri ketika masih kecil. Saat itu Arvan kecil sedang berada di suatu taman Istana Kerajaan dan saat berjalan santai ia tidak sengaja menginjak ekor anjing. Anjing itu pun marah dan berlarian ke arahnya hingga mau tak mau Arvan pun melarikan diri.
Saat Arvan kecil terjatuh karena tersandung batu setelah terus berlari, datang seorang gadis kecil yang berusaha menyelamatkannya dari kejaran anjing dengan menghadang Arvan tepat di hadapan anjing tersebut.
__ADS_1
Setelah proses penyelamatan yang tampak tidak begitu sulit, Arvan pun mengobrol ringan dengan gadis kecil penyelamatnya. Meski tampak biasa saja, sebenarnya Arvan merasa senang bisa mengobrol dengan gadis yang menyelamatkannya yang bahkn memberinya kue daging kotak dan sapu tangan untuk membalut tangannya yang terluka akibat sempat terjatuh.
Lalu, Arvan merasa kecewa saat gadis itu harus pergi meninggalkannya karena ada yang mencarinya. Hingga akhirnya, Arvan kecil merasa sedih saat menyadari dirinya menyukai gadis kecil penyelamatnya, namun setelah itu ia malah melihat gadis itu sedang bersama Putra Mahkota dengan tatapan saling suka.