
Tak lama setelah itu, Yura kembali menghampiri seseorang yang masuk ke dalam area kamp prajurit. Untungnya itu adalah pihak kawan dan bukan pihak lawan.
Sepertinya orang tersebut datang dengan terburu-buru hingga Yura harus menunggunya selesai mengatur nafas yang tersenggal-senggal untuk mendengarnya bicara.
"Benar seperti itu, aturlah nafasmu lebih dulu sebelum bicara. Aku menghampirimu tanpa membawa air untuk kau minum agar kau bisa membasahi tenggorokanmu yang terasa kering, tapi apa aku harus mengambil dan membawakannya untukmu sekarang juga?" tanya Yura
"Tak perlu sampai mereporkanmu, Nona." Ia menjawab sambil menggelengkan pelan kepalanya.
"Kalau begitu, tenangkan dirimu lebih dulu. Kau bisa bicara saat kau merasa mampu. Bukankah kau adalah prajirut yang bertugas mengawasi medan perang? Apa ada kabar dari sana? Apa yang telah terjadi?" tanya Yura
"Benar, Nona. Saya datang ke sini setelah terus memperhatikan situasi yang terjadi di medan perang. Situasi di sana mungkin bisa berubah jadi buruk karena pihak musuh terus menerus mendatangkan pasukan tambahan berturut-turut tanpa henti. Saat ini situasinya masih terkendali. Namun, jika terus seperti ini pasukan kita hanya bisa terus bertahan dan menyerang sebisanya. Saya pikir kita harus bertindak lebih dulu secepatnya."
"Aku mengerti. Kau istirahatlah dulu sebentar sebelum kembali ke pos pengawasanmu. Aku akan segera membuat keputusan," kata Yura
Saat itu Yura tidak punya pilihan dan pikiran selain akan menyusul pasukan dengan pasukan baru ke medan perang. Yura pun langsung bersiap dengan memakai baju besi. Saat hendak bersiap, Yura bertemu beberapa anggota prajurit di sana.
"Nona Yura, apa yang hendak Anda lakukan?"
"Situasi di medan perang mungkin memburuk, kita harus pebih dulu mengambil tindakan dengan menyusul ke medan perang. Kalian tolong sampaikan pada yang lain yang ingin ikut untuk segera bersiap," jelas Yura
"Baik, Nona."
Setelah itu, Yura lanjut bersiap dan segera mengambil senjata miliknya. Lalu, Yura pun bergegas memanggil prajurit lainnya.
"Kalian yang sudah bersiap pasti sudah mendengar tentang kabar di medan perang. Jadi, kalian semua yang akan ikut pergi ke medan perang?" tanya Yura
"Benar."
"Aku akan memberi sedikit waktu lagi. Bagi yang ingin ikut, cepat bersiap dengan memakai baju besi dan bawa senjata. Yang tidak memakai baju besi tidak diperbolehkan ikut karena ini demi melindungi keselamatan diri. Lalu, sisakan beberapa orang untuk tetap berada di kamp prajurit untuk melindungi tempat ini. Jangan sampai tempat ini lengah dari penjagaan dan jangan biarkan ada yang menyerang tempat ini saat kami pergi menyusul ke medan perang. Selalu utamakan keselamatan diri. Aku harap kalian semua bisa mengerti," ucap Yura
"Kami mengerti, Nona."
"Siapa yang akan memimpin kami pergi menuju ke medan perang?"
__ADS_1
"Aku sendiri yang akan memimpin jalan menuju ke medan perang. Apa ada yang merasa keberatan dengan hal ini?" tanya balik Yura
"Bukankah Ketua sudah meminta Nona untuk tetap di sini untuk istirahat demi memulihkan kedua mata Anda?"
"Di saat seperti ini, aku harus memastikan kondisi Ketua dan yang lain dengan mata kepalaku sendiri. Tak ada yang perlu dikhawatirkan karena aku sudah baik-baik saja dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa," jawab Yura
Setelah semua yang ingin ikut ke medan perang selesai bersiap, mereka pun langsung mengambil masing-masing kuda dari kandang dan segera pergi menuju ke medan perang dengan Yura yang memimpin jalan.
Saat sudah dapat melihat lokasi medan perang dari kejauhan, semua pun tahu bahwa pasukan musuh dari Negara Kerajaan Brande sedang berusaha untuk menekan dan mendesak pasukan Negara Kerajaan Chuya yang tampak terus berusaha bertahan dan menyerang.
"Semuanya, terus maju bantu Ketua dan pasukan di depan!" teriak Yura
Para prajurit yang pergi bersamanya pun terus bergerak maju ke medan perang dan membantu pasukan untuk menyerang pihak musuh. Sedangkan Yura tetap di tempat. Namun, Yura tidak lantas hanya berdiam diri.
Gadis itu seolah menyatukan diri dengan alam. Merasakan hembusan dan gerakan angin. Lalu, mulai mengeluarkan busur dan anak panah. Menarik anak panah pada busur sambil menutup sebelah mata. Segera melepaskan tangan dari anak panah, seketika saja anak panah itu melesat jauh hingga menancap pada tubuh pihak musuh. Itu menjadi serangan jarak jauh yang akurat dan mematikan.
Pasukan yang berada jauh lebih depan langsung melihat ke arah belakang saat menyadari adanya bantuan. Saat itu mereka juga melihat Yura dengan postur tubuh di atas punggung kuda yang siap untuk terus melakukan serangan anak panah.
Dengan datangnya pasukan bantuan, serangan balik pun dilakukan. Bahkan situasi mulai berbalik. Tidak peduli pasukan musuh masih berjumlah lebih banyak, mereka berhasil ditekan untuk terus bergerak mundur. Perang benar-benar pecah dan kedua pihak tidak ada yang mau mengalah atau menyerah.
Saat itulah Yura bisa saling berhadapan dengan Yasha.
"Yura, ternyata benar aku tidak salah lihat bahwa itu adalah kau. Kau datang ... " ucap Yasha
"Ya, Kak. Ini aku. Apa sudah sampai seperti ini, kau masih juga mau melarang keberadaanku di sini?" tanya Yura
"Tidak, justru aku berterima kasih karena kau sudah datang membawa pasukan bantuan," jawab Yasha
"Mereka yang ikut denganku adalah prajurut tambahan yang datang dari Istana Kerajaan di hari kau memimpin pasukan ke medan perang. Lalu, aku ingin memberikan surat yang dikirim oleh Baginda Raja. Maaf karena aku sudah lebih dulu membacanya," ucap Yura
Yura pun memberikan surat yang dibawa olehnya pada Yasha. Lalu, kakak sulung Yura itu langsung membuka dan membaca isi surat yang diberikan oleh adik bungsunya itu.
"Baiklah, aku sudah selesai membaca suratnya. Sekali lagi terima kasih karena sudah datang," ucap Yasha
__ADS_1
"Kau juga, sebenarnya apa yang ada di dalam pikiranmu? Kenapa kau tidak langsung mengirim orang untuk memanggil bantuan ke kamp prajurit? Apa kau hanya ingin pasukanmu terus bertahan saat pasukan musuh terus mendatangkan bantuan ke medan perang? Apa kau pikir bisa terus bertahan dengan situasi dan kondisi yang seperti itu? Apa kau baru akan meminta bantuan saat sudah banyak prajuritmu yang telah dikalahkan? Apa kau ingin kehilangan seluruh pasukan?" tanya Yura tanpa henti.
"Aku mengerti sudah bersalah. Sekarang bagaimana dengan kondisi kedua matamu?" tanya balik Yasha
"Kau tidak perlu merasa khawatir karena kedua mataku sudah jauh lebih baik. Aku bahkan membawa obat penetes mata dan akan selalu memakai kacamata meski harus bertarung tanpa henti sekali pun. Jadi, biarkan aku tetap dan terus ikut denganmu," ungkap Yura
"Kau adalah bantuan yang sangat berharga. Aku akan menjagamu," kata Yasha
"Kita akan saling menjaga," sahut Yura
Akhirnya, kedua Haris bersaudara itu saling berpelukan satu sama lain.
Di satu sisi, Yasha merasa lega dan tenang karena bisa melijat Yura saat ia mengira tidak bisa bertemu lagi dengan adik bungsunya itu karena perang yang semakin mengerikan itu. Di sisi lain, Yura pun merasa lega dan tenang setelah bisa memastikan dan melihat kakak sulungnya yang dalam kondisi baik di tengah kondisi perang yang semakin mengganas.
"Apa rencanamu setelah ini, Kak?" tanya Yura
"Aku berencana untuk membawa pasukan untuk terus maju menyerang wilayah Negara Kerajaan Brande. Kita akan mulai merebut wilayah pihak musuh satu per satu karena mereka terus mendesak kita sebelumnya. Kali ini kita yang harus bergerak dan terus maju ke depan. Aku sudah memberi tahu tentang rencanaku ini pada Baginda Raja pada surat yang kukirim sebelumnya. Mungkin karena itu Baginda Raja mengirimkan prajurit tambahan lagi," jelas Yasha
"Aku setuju dan mendukung penuh apa pun rencanamu," kata Yura
"Kau memang setuju, tapi bagaimana dengan yang lain?" tanya Yasha
"Kami akan mengikuti Ketua sampai akhir!"
"Sudah kuduga, semua akan ikut perintah Ketua. Sekarang lebih baik kita istirahat dulu di sini sebelum memulai kembali perjalanan. Terutama kau, Yura ... " ujar Arvan
"Meski pun aku hanya seorang perempuan, aku tidak selemah yang kau pikirkan," kata Yura
"Aku mengerti dan sangat tahu soal itu. Meski begitu, tetap harus istirahat karena sudah beberapa hari ini kita tidak sempat istirahat. Lagi pula, tidak hanya dirimu karena semua pun butuh istirahat yang cukup," ucap Arvan
"Baiklah, hari ini kita istirahat di sini dan besok kita mulai kembali perjalanan. Ke luarkan persediaan makanan dan minuman yang telah dibawa, makan dan minum secukupnya saja," ujar Yasha
"Siap, laksanakan!"
__ADS_1
Akhirnya semua pun beristirahat di lokasi medan perang itu karena besok akan mulai bergerak maju merebut wilayah negara musuh.