
Mendengar adanya keributan, ternyata Arvan melihat Yura sedang berdebat dengan orang-orang dari pasukan musuh yang datang ke sana.
Arvan pun menghampiri Yura yang juga berdiri di dekat Yasha.
"Yura, sebenarnya ada apa ini?" tanya Arvan
"Entahlah. Orang-orang yang pihaknya mengajukan gencatan senjata malah datang untuk mencari keributan. Mana yang lebih cocok untuk mereka, tak tahu malu atau tak tahu diri? Sepertinya kedua-duanya cocok untuk mereka," ungkap Yura
"Yura, sudah tahu mereka datang untuk mencari keributan, tapi kau malah mengompor-ngompori amarah mereka. Kau ini seperti meniup angin ke arah bara api hingga justru menyalakan api yang lebih besar," gumam pelan Yasha
"Hanya seorang perempuan lemah, tapi omongannya besar sekali. Mari, lihat seberapa besar dan seberapa jauh kemampuannya." Orang-orang dari pasukan musuh itu langsung mengeluarkan senjata mereka.
Lagi-lagi Yura kembali memperlihatkan senyumannya.
"Memang tidak akan ada hal baik jika orang-orang seperti kalian muncul di sini. Bukankah dari awal kalian memang ingin menantang dan melihat secara langsung seperti apa kemampuanku? Ayo, majulah sekaligus ... " ujar Yura
"Nona, jangan bertindak secara gegabah. Saat ini Nona bahkan tidak memegang senjata."
"Aku tidak akan menerima tantangan mereka kalau aku tidak punya persiapan atau masih belum siap. Tenang saja, biarkan aku mengajari tamu tak diundang ini untuk menjadi orang agar mereka tidak hanya bisa menggonggong di depan orang lain," ucap Yura
"Arvan, tolong kau bawa Kak Yasha untuk menghindar dari sini. Biarkan ini menjadi urusanku dengan mereka semua," sambung Yura
Arvan pun segera menarik Yasha untuk menjauh dari pertarungan yang sesaat lagi dimulai di depan mata.
"Arvan, kenapa kau malah membiarkan Yura bertarung seorang diri melawan mereka? Harusnya kau cegah saja atau hentikan dia," ujar Yasha
"Kalau Yura sudah memutuskan untuk ingin melakukan sesuatu, maka tidak ada yang bisa melarangnya. Bahkan Baginda Raja saja tidak bisa melarang saat dia ingin pergi ke tempat berbahaya seperti ini. Kau hanya perlu percaya pada adikmu itu seperti biasa," ucap Arvan
"Dari ucapanmu, aku jadi tahu kalau Yura datang ke sini bukan karena Baginda Raja yang memberi perintah padanya, tapi justru sebaliknya. Yura-lah yang memohon pada Baginda Raja untuk memberi izin agar dia bisa pergi. Namun, bagaimana kau bisa tenang saja melihat ini? Apa saat aku tidak ada di sisinya, Yura juga pernah melakukan hal yang serupa dengan menantang orang untuk bertarung dengannya?" tanya Yasha
"Benar. Meski saat itu, lawannya hanya satu orang. Namun, selain itu ... apa kau tidak tahu kalau di Istana Kerajaan memiliki peran sebagai pengawal Yang Mulia Ratu? Sebelum memiliki peran seperti itu, dia meminta Baginda Raja untuk menguji kemampuannya sendiri," ungkap Arvan
"Saat itu dia bertarung dengan beberapa lawan dalam waktu bergiliran. Mulai dari pelayan Yang Mulia Ratu yang memiliki kemampuan bela diri, sampai beberapa orang dari prajurit rahasia Baginda Raja, bahkan aku pun pernah menjadi lawannya. Yura tetap baik-baik saja setelah pertarungan berakhir dengan dia yang menjadi pemenangnya," sambung Arvan
__ADS_1
"Meski begitu, tetap saja sebagai kakaknya, aku tidak bisa tidak merasa khawatir melihat adik perempuanku melawan 10 orang seorang diri," ujar Yasha
"Jangan hanya banyak bicara, tunjukkan dan buktikan saja kemampuanmu!" Orang-orang dari pasukan musuh itu mulai bergerak maju untuk menyerang Yura.
Yura yang berdiri tenang, langsung bergerak menghindar saat lawannya sampai tepat di hadapannya. Namun, tak hanya itu. Yura tak hanya melakukan teknik menghindar yang sangat mulus dengan baik, tapi juga menyerang secara diam-diam dan tiba-tiba dengan akurat.
Saat lawan bergerak maju ke arahnya, Yura sudah bersiap mengeluarkan senjata tersembunyi miliknya. Seperti biasa, Yura menyembunyikan belati miliknya di balik lengan pakaiannya. Saat lawan tiba tepat di hadapannya, Yura langsung menghindar sambil menyerang titik lemah lawannya. Yura bergerak dengan sangat cepat hingga tak ada yang tahu atau melihat saat ia melakukan serangan.
Beberapa lawannya terluka dan saat darah mulai menetes, barulah mereka sadar kalau telah terluka.
"Hanya dengan luka kecil tidak akan membuat kalian merasa sakit, kan?" tanya Yura
"Dasar, sombong! Kami akan membalas perbuatanmu yang telah merusak mata ketua kami!"
Pertarungan antara Yura melawan 10 orang pun terus berlanjut. Yura terus bergerak menyerang dan menghindar dengan sangat baik dan cepat.
"Ketua, mohon pinjam pedang milikmu sebentar," kata Yura
Tak hanya itu, saat Yura berhasil menjatuhkan lawan hingga senjata berupa pedang milik lawan terhempas jatuh ke tanah, Yura juga langsung mengambil pedang milik lawannya itu. Hingga saat ini Yura tak lagi bertarung menggunakan belati miliknya, melainkan dengan dua pedang pada kedua tangannya.
Gerakan Yura yang sangat cepat dan tak kunjung berhenti itu mampu membuat lawannya kewalahan. Bahkan saat ini sudah ada beberapa lawannya yang sudah jatuh tak berdaya karena terluka parah hasil serangan Yura.
Dari 10 orang lawan, 5 di antaranya sudah terkapar bersimbah darah dan tak mampu lagi untuk bergerak. Meski tidak menyerang pada titik vital lawan, Yura mampu menumbangkan lawannya dengan mudah hanya dengan beberapa kali serangan. Saat ini Yura hanya perlu menghadapi 5 orang lawan yang tersisa.
Namun, lagi-lagi Yura dapat menyerang dengan sangat mudah. Kali ini Yura berhasil memojokkan lawan yang tersungkur di atas tanah dengan pedang yang ada di tangannya hingga tidak bisa bergerak dengan bebas. Jika salah bergerak, mungkin saja pedang yang ada di tangan Yura akan langsung menebas lehernya. Saat tak ada pilihan lain, lawannya yang sedang dipojokkan oleh Yura langsung menggenggam tanah berpasir dan melemparkannya ke arah wajah Yura dengan cepat.
Yura pun bergerak mundur beberapa langkah. Namun, tanah berpasir yang dilempar ke arahnya sudah berhasil mengenai tepat pada kedua mata Yura hingga pandangan gadis itu sangat kacau. Yura gagal saat berusaha membuka kedua matanya. Benda asing yang masuk membuat kedua matanya terasa sangat perih. Meski begitu, Yura tidak mengeluh sama sekali.
Semua orang yang menyaksikannya terkejut, terutama Yasha dan Arvan yang rasa khawatirnya terhadap Yura bukannya berkurang justru kian bertambah. Lawan yang sebelumnya dipojokkan oleh Yura pun bangkit berdiri. Semuanya langsung mengira kondisi telah berbalik dengan Yura yang tak bisa lagi berkutik.
"Orang sombong memang dapat dikalahkan dengan cepat."
Beberapa orang dari pasukannya hendak menghampiri untuk menolong Yura.
__ADS_1
"Jangan ada yang mendekat atau bergerak dari tempat! Pertarungan ini masih belum berakhir! Siapa yang bergerak mendekat akan kuanggap lawan dan akan langsung kuserang dengan cepat!" teriak Yura
Mereka yang ingin menolong Yura pun langsung menghentikan langkahnya.
"Yura, apa kau kau bicarakan dan pikirkan? Berhenti bertarung sekarang juga!" teriak Arvan yang tidak diindahkan oleh Yura.
"Masih bisa sombong, rupanya. Namun, kami akan berbaik hati. Kami akan benar-benar berhenti dan pergi jika kau memohon ampun sambil beesujud pada kami. Kami akan melupakan kejadian ini bahkan kau yang melukai rekan kami."
"Jangan bercanda! Aku tidak mengerti dengan apa yang kau minta untuk kulakukan. Kami, Keluarga Haris sekaligus Pasukan Prajurit Negara Kerajaan Chuya sama sekali tidak mengenal kata ampun atau menyerah!" teriak Yura yang langsung kembali pada posisi siap bertarung meski dengan mata tertutup.
"Memangnya kau bisa apa sekarang dengan mata yang buta seperti itu?"
"Kau pikir aku hanya bertarung menggunakan mata? Lagi-lagi kau salah besar," ujar Yura
"Maksudmu kau akan bertarung dengan mulut? Saat ini kau hanya bisa bicara. Jangan main-main dan menyerah saja. Lalu, bersujudlah sambil memohon ampunan kami. Namun, hanya boleh kau yang melakukannya dan yang lain tidak boleh menggentikanmu."
"Tidak akan ada yang menggantikan aku dalam pertarunganku sendiri dan aku tidak pernah main-main dengan tindakan dan ucapanku. Ayo, majulah kalian!" teriak Yura dengan lantang dan berani.
"Dasar, orang sombong yang keras kepala. Kalau begitu, kami akan kabulkan permintaanmu dengan menghabisi nyawamu!"
Mungkin sebentar lagi Yasha akan dibuat pingsan dan Arvan akan dibuat segera menangis deras oleh kelakuan Yura.
Pertarungan kembali berlanjut. Saat lawannya mulai kembali bergerak, dengan indera penglihatan yang telah tumpul, Yura menajamkan indera pendengaran serta indera perabanya. Karena saat ada yang bergerak untuk mendekatinya, akan ada suara yang terdengar dan udara yang lebih dulu menyentuh kulitnya.
Saat itulah Yura melakukan serangan balik dengan cepat dan akurat. Bahkan tanpa indera penglihatannya, Yura mampu menyerang langsung pada titik vital lawan hingga lawannya langsung tumbang dalam sekejap. Meski begitu, Yura tidak melakukan serangan yang mematikan hingga lawannya masih tetap hidup dengan terluka parah.
Tak lebih dari lima menit, keempat lawannya telah terkapar. Mereka telah meremehkan Yura hanya karena gadis itu tidak bisa lagi menggunakan matanya. Satu orang yang tersisa berniat menyerang Yura dari arah belakang. Namun, Yura berbalik dengan cepat dan menyayatkan pedang pada leher lawannya itu. Satu-satunya lawan dibuat terkejut dengan serangan dan gerakan mendadak Yura hingga limbung dan terjatuh ke belakang. Lalu, Yura pun mengacungkan pedangnya tepat di hadapan mata lawannya yang sudah terjatuh itu.
"Hanya kau satu-satunya tersisa dari semua rekanmu yang tidak terluka parah. Aku akan melepaskanmu dan berhenti sampai di sini. Pergilah selagi masih kuberi kesempatan. Cepat, pergi sebelum aku berubah pikiran dan sebelum pedang ini kembali kuayunkan ke arahmu!" teriak Yura
Satu-satunya lawan yang tersisa pun langsung bangkit dan berlari dengan cepat tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun lagi. Lalu, menunggangi kuda yang digunakannya saat datang ke sini untuk pergi secepat mungkin.
Menyadari lawannya telah pergi melarikan diri, Yura pun menghela nafasnya.
__ADS_1