
Memasuki kelasnya, Reva langsung didekati kedua temannya. Mereka lalu memberitahunya jika ada murid baru di kelas ini, dari rumor yang beredar pun murid itu katanya tampan.
"Katanya mirip Mario Maurer," ucap Ica.
"Wih ganteng banget dong kalau gitu."
"Iya, semoga nanti bisa jadi pacar gue deh."
"Kayanya bakalan suka sama gue duluan."
Reva memutar bola matanya malas melihat dua temannya yang heboh, "Udah-udah sana balik ke meja masing-masing, ganggu aja tahu gak?!"
"Ih Reva, kan kita cuma ngasih tahu."
"Iya sekarang gue udah tahu."
"Tapi emangnya Reva gak penasaran?" tanya kedua temannya bersamaan.
"Enggak ah biasa aja."
"Awas aja kalau Reva pas lihat murid baru itu langsung terpesona ya."
"Iya, gak akan," acuh Reva. Ia menduga jika sepertinya murid baru itu adalah laki-laki menyebalkan tadi.
Saat wali kelas mereka masuk, semua murid langsung duduk di bangkunya masing-masing. Guru itu lalu memberitahu ada murid baru di kelas ini, para perempuan yang sudah tahu dari awal langsung heboh sendiri.
Suasana kelas semakin ricuh saat murid itu masuk, membuat para perempuan dibuat terpesona. Ternyata benar dari kabar yang beredar, jika si murid baru itu sangat tampan. Tetapi hanya satu yang tidak tertarik, yaitu Reva.
"Ayo kenalkan diri kamu," perintah si guru.
"Ekhem perkenalkan semua, nama saya Lucas. Saya pindahan dari Amerika, mohon kerja samanya semuanya."
"Iya pasti Lucas."
"Pantesan aja wajahnya agak bule-bule gitu, kayanya blasteran."
Bisik-bisik dari para perempuan masih terdengar, tidak ada habisnya memuji si murid baru. Lucas tentu senang, pandangannya lalu tertarik pada seseorang yang duduk di bagian belakang dekat jendela. Seringai pun terukir di bibirnya.
"Silahkan Lucas bisa duduk, ada dua bangku yang kosong."
"Iya Bu, makasih. "
__ADS_1
Tanpa ragu, Lucas langsung melangkah dan akan duduk di bangku yang bersebelahan dengan Reva. Perempuan itu yang menyadarinya hanya memutar bola mata malas sambil memalingkan wajah.
"Kalian perlakukan Lucas dengan baik ya, jangan dijahili," ucap si guru.
"Iya Bu, tenang aja."
Setelah si guru keluar, banyak para murid perempuan langsung beranjak mendekati bangku yang diduduki Lucas, ingin berkenalan dengan pria tampan itu. Reva hanya meliriknya tanpa ada niatan melakukan hal yang sama.
"Hei sedang apa kalian? Ayo duduk, kita mulai pelajarannya sekarang," tegur guru laki-laki yang baru masuk.
Dengan desah kecewa, para murid perempuan pun kembali duduk di bangkunya masing-masing. Padahal masih banyak ingin mengobrol dan ingin tahu tentang Lucas itu, untung saja mereka satu kelas.
"Ayo kumpulkan tugasnya, yang tidak mengerjakan nanti pulang sekolah ada tugas baru untuk kalian."
Mendengar itu membuat Reva meringis, melupakan jika ada tugas. Mungkin kalau ingat, dari semalam bisa Ia minta Rafael mengerjakan. Memang biasanya yang mengerjakan tugasnya ya suaminya itu, Rafael kan pintar.
Jam istirahat pun datang juga, membuat para murid merasa senang. Biasanya mereka langsung beranjak ke kantin, tapi sepertinya kali ini lebih tertarik untuk mendekati lagi Lucas. Terlihat pria itu yang kepayahan dikerubuni, ingin pergi tapi ditahan terus.
"Reva, mau kemana?" tanya temannya.
"Ke kantin lah laper, mau ikut gak?" tanya Reva balik.
"Huh dasar."
Sekarang tujuan utama Reva adalah kelas Rafael, Ia akan mengajak pria itu ke kantin bersama karena tidak mau sendirian. Tetapi ternyata tidak ada di kelasnya, ada yang memberitahu jika pria itu sudah ke kantin dari tadi. Reva pun segera kesana menyusulnya.
Tatapan Reva memicing melihat orang yang dicarinya sedang makan berdua dengan perempuan yang dibencinya, Dinda. Dengan langkah menghentak, Reva pun mendekat dan menggebrak meja itu.
"Aduh Reva apa-apa an sih? Bikin kaget aja," kesal Dinda.
"Alay banget lo, perasaan biasa aja," acuh Reva.
Dengan santainya, Reva malah duduk di sebelah Rafael. Bahkan tanpa malu perempuan itu juga meminum jus milik Rafael sampai beberapa teguk. Dinda dan Rafael yang melihat terdiam sanking terkejutnya.
"Rafael, kok kamu gak marah sih?" tanya Dinda, "Itu kan minuman kamu."
"Hah? I-itu--"
Dinda menghela nafasnya karena sudah tahu Rafael itu tidak akan berani memarahi Reva karena takut. Sepertinya Ia yang harus turun tangan, karena Dinda tidak takut pada Reva.
"Reva, kamu tiba-tiba duduk aja di sini, terus minum jus punya Rafael," ucap Dinda tidak suka.
__ADS_1
"Emangnya kenapa? Bangku kantin ini punya Bapak lo?" tanya Reva sambil tersenyum sinis.
"Ya bukan gitu, tapi kamu tahu gak sikap kamu gak sopan?"
"Masa sih?" Reva lalu menatap Rafael, "Lo gak masalah kan tadi jus nya gue minum?"
Sebelum Rafael menjawab, Ia sempat melirik Dinda yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan dalam. Pasti perempuan itu berharap Ia membantah Reva dan lebih berani. Tetapi Rafael tidak bisa melakukan, lagi-lagi Ia harus mengalah.
"Gak papa," jawab Rafael pelan.
Reva lalu merangkul bahu Rafael sambil menatap Dinda, "Tuh kan denger sendiri, Rafael gak masalah. Lo aja yang riweh, tau riweh gak? Rempong."
"Aku yakin Rafael sebenarnya gak suka, tapi dia tahu kalau ngebantah pasti bakal kamu apa-apain."
"Apaan sih lo? Sok tahu aja ah," dengus Reva.
Reva juga membawa bakso milik Rafael lalu memakannya dengan tenang dan lahap, sesekali Ia menawarkan Rafael tapi pria itu hanya menggeleng pelan. Tanpa perempuan itu sadari, tatapan Dinda semakin tajam ke arahnya.
"Reva, kamu makin semena-mena ya!" kesal Dinda, "Mending kamu pergi sana!"
"Siapa lo berani ngusir gue?"
"Aku temen deket Rafael, dan aku lihat dia gak nyaman karena kehadiran kamu."
Rasanya Reva ingin tertawa mendengar itu, teman dekat katanya? Hell sok mengaku sekali. Kalau si Dinda itu tahu Reva dan Rafael sebenarnya suami istri, pasti malu sekali dengan kata-kata nya tadi.
"Kamu kenapa sih Reva selalu mengganggu Rafael? Ngerasa hebat bisa ngebully dia?" tanya Dinda.
"Iya bangga banget, gue juga suka gangguin dia," jawab Reva santai sambil tetap makan.
"Apa?!"
"Kenapa sih? Perasaan lo ikut campur banget."
"Karena aku tahu sikap kamu ke Rafael itu gak baik, aku pengen lindungi dia dari orang semena-mena kaya kamu!"
Reva menyimpan sendoknya kasar di mangkuk, sampai membuat Rafael di sebelahnya tersentak. Pria itu menelan ludah kasar melihat tatapan dari dua perempuan itu yang menghunus tajam. Jangan sampai ada keributan lagi.
"Jangan-jangan lo suka ya sama Rafael?" tanya Reva pelan.
Rafael yang mendengar itu langsung melirik Dinda, bisa melihat kebingungan di wajah perempuan itu. Rafael menunggu jawaban Dinda dengan perasaan berkecamuk, bolehkah Ia berharap jika Dinda memang menyukainya?
__ADS_1