
Di tengah malamnya Rafael merasa haus, dengan terpaksa sambil menahan kantuknya pria itu pun beranjak keluar kamar menuju dapur untuk minum. Keadaan apartemen di dini hari terlihat temaram, memang sengaja karena agar lebih nyaman. Setelah menghabiskan segelas air putihnya, Rafael akan kembali ke kamarnya. Tetapi langkahnya malah terhenti di depan kamar Reva yang sedikit terbuka.
"Kenapa lampunya nyala?" tanyanya bingung. Rafael pun membukanya dan masuk untuk melihat, terdiam melihat Reva yang tertidur dengan kepala di meja.
"Astaga dia itu."
Merasa tidak tega untuk membangunkan, Rafael dengan hati-hati menggendong Reva untuk memindahkannya ke ranjang. Tetapi ternyata pergerakannya dapat membuat Reva terjaga, perempuan itu hampir terjatuh di pangkuannya sanking terkejutnya melihat posisinya yang digendong Rafael.
"Ih Rafael, lo ngapain sih?!" tanya Reva ketus. Perempuan itu pun turun, hampir terjatuh karena kesadarannya belum terkumpul semua.
"Kenapa tidurnya di meja? Kamu bergadang ya?" tanya Rafael balik. Ia kan hanya khawatir, Rafael jadi sedikit malu karena terlihat sangat peduli.
"Tadi nonton film, tapi gak sengaja ketiduran," jawab Reva sambil menguap lebar. Saat melirik jam di dinding ternyata sudah pukul satu dini hari, tidak terlalu lama juga Ia nonton.
"Mentang-mentang libur, jangan kebiasaan bergadang," tegur Rafael.
"Enggak kok, tadi cuman lagi nemu film yang seru," bantah Reva.
"Ya sudah tidurnya yang bener, kalau di meja nanti pegel-pegel."
Reva pun bisa merasakannya, apalagi di bagian leher yang entah kenapa sangat-sangat pegal. Sambil menunjukan wajah memelas nya, Reva lalu meminta bantuan suaminya itu untuk memijat nya sambil mengoleskan krim hangat ke lehernya.
"Hah ya sudah," desah Rafael tanpa penolakan, Ia juga kasihan jika perempuan itu tidak nyaman tidur.
Rafael keluar kamarnya sebentar untuk membawa krim hangat itu, setelah mendapatkannya kembali ke kamar Reva dan ikut naik ke atas ranjangnya. Pria itu menyampirkan semua rambut panjang Reva ke satu sisi agar tidak menghalangi. Sebelum mengoleskan krimnya, Rafael pun memijat sekitar tengkuk dan bahunya lebih dahulu.
"Aww pelan-pelan dong," protes Reva saat merasakan pijatan kuat di tengkuknya.
"Ini sudah pelan kok," ucap Rafael.
"Ya dirasa-rasa aja dong, gue kan cewek," ketusnya.
"Hm iya-iya, sudah jangan bawel." Rafael tetap melanjutkan memijat, walau Reva kadang tidak bisa diam karena kegelian lah atau alasan lain.
__ADS_1
"Sudah sekarang olesin krimnya," perintah Reva. Tetapi perempuan itu merasa bingung karena Rafael hanya diam, kepalanya pun menoleh ke belakang untuk melihat.
"Kok ngelamun?!" tegur Reva sambil menepuk paha Rafael.
"Hah? Enggak papa." Rafael berdehem pelan mencoba mengenyahkan pikirin di kepalanya. Ia pun mulai mengoleskan krim hangat itu di tengkuk Reva, dengan gerakan pelan.
Reva awalnya biasa saja, tapi perlahan bisa merasakan jika tingkah Rafael agak aneh. Pria itu memijat nya dengan gerakan yang berbeda, bahkan sampai mengusap-usap membuatnya merinding sendiri. Reva juga bisa merasakan hembusan nafas berat di samping telinganya, membuatnya antara aneh tapi juga gugup.
"Sudah belum?" tanya Reva berusaha bersikap biasa.
"Sudah sih." Rafael hanya menjawab singkat.
"Ya sudah makasih, sana balik ke kamar lo, lanjutin tidur."
"Gimana kalau aku tidur di sini?" tanya Rafael tiba-tiba.
Reva sampai menoleh dan menatap pria itu terkejut, "Apa?"
"Kan bisa pakai selimut."
"Tetep aja dingin, beda lagi kalau selimutnya bernyawa hehe." Tanpa meminta pendapat, dengan santainya Rafael malah merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu.
Reva yang melihatnya panik, "Ih Rafael, enggak ah. Sana tidur di kamar sendiri," tolak nya keras.
"Ayolah, gak papa dong kita tidur bareng." Rafael lalu mengusap sisi kosongnya, "Kenapa? Kamu malu ya?"
"Enggak kok," bantah Reva cepat.
"Oh ya? Ya sudah kalau gak malu dan gugup, biasa aja dong." Rafael seperti menantang Reva agar perempuan itu pun menerima tawarannya, Reva kan selalu tidak mau kalah.
Merasa tidak mau dianggap seperti itu oleh Rafael, Reva pun akhirnya ikut berbaring di sisi sebelahnya. Untuk beberapa saat pun mereka saling terdiam sambil menatap ke langit kamar. Rasa kantuk itu tiba-tiba menghilang begitu saja, tergantikan karena perasaan canggung.
Pluk!
__ADS_1
"Aduh," pekik Reva terkejut saat sebelah kaki Rafael bertengger di pahanya, "Apa-apa an sih? Berat tahu!" kesalnya.
Melihat tidak ada tanggapan dari pria itu, membuat Reva pun membalas dengan melakukan hal sama. Tetapi ternyata serangan Rafael semakin menjadi, kini tangan kanannya ikut bertengger di lehernya dan hampir mengenai wajahnya, Reva yang semakin tertantang pun kembali membalasnya.
Ternyata Rafael belum selesai, pria itu menaikkan lagi sebelah kakinya ke atas kaki Reva. Dan benar saja Reva pun melakukan hal yang sama, kini posisi mereka pun sudah saling berhadapan. Karena satu tangannya masih menganggur, jadi Rafael kembali menyimpan nya di atas leher Reva lagi.
"Aduh Rafael!" jerit Reva yang mulai fruastasi sendiri dengan tingkah tidak jelas pria itu. Mereka pun saling menyerang dan tidak mau kalah, tapi saat merasakan sakit di kaki karena pitingan membuat Reva menyerah dan melepaskan diri. Perempuan itu pun terduduk sambil menatap tajam Rafael yang berbaring sambil menyeringai ke arahnya.
"Kalah ya?" Rafael sengaja tersenyum sinis ingin memanas-manasi Reva.
"Cih siapa yang kalah hah?"
Sebuah ide lalu melintas begitu saja di kepala Reva, dengan tiba-tiba perempuan itu pun menaiki perut Rafael dan duduk di sana. Reva membawa satu bantal di dekatnya lalu di pukul-pukulkan tanpa tenaga pada wajah Rafael. Tawa Reva langsung terdengar melihat Rafael yang kini tidak berdaya di bawahnya dan hanya bisa protes.
Tetapi tawa Reva tidak bersalah lama, karena tawanya langsung terhenti saat Rafael dengan kekuatannya dapat membalikan posisi. Perlahan perasaan panik pun hinggap di dada Reva, apalagi Rafael yang berada di atas terlihat dominan sekali. Reva langsung menahan nafas saat Rafael merendahkan kepalanya lalu berbisik di depan wajahnya.
"Kamu mau mancing aku ya?" tanya Rafael dengan seringai menyebalkannya itu.
"Siapa juga yang mancing? Lo duluan kali tadi," balas Reva tidak mau kalah.
"Tapi kan Reva naik ke atas tubuh aku, maksudnya apa ya?"
"Ya itu kan cuman--"
"Syuut sudahlah, mending Reva ngaku aja," sela Rafael sambil menyimpan telunjuknya di bibir, membuat Reva langsung terdiam.
"Ngaku apaan?" tanya Reva bingung.
"Apa Reva sudah siap?"
"Siap apaan? Lo kalau ngomong yang jelas dong." Mungkin Reva bersikap seperti orang bodoh dan tidak tahu, padahal kenyataannya Ia sudah bisa menebak apa yang dipikirkan Rafael.
"Gimana kalau malam ini kita lakuin itu? Malam pertama yang sempat tertunda sampai beberapa bulan dari awal pernikahan kita." Rafael terlihat tersenyum lebar saat mengatakannya, tatapannya pun terlihat berbeda sekali malam ini. Seperti seorang pemangsa.
__ADS_1