Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
84 Malam Yang Panas


__ADS_3

Reva menelan ludahnya susah payah mendengar perkataan Rafael dengan suara nada rendahnya itu, "Apaan sih? Awas minggir ah, lo berat," ketusnya.


Tetapi Rafael tidak melepaskan Reva, Ia tetap memegang kedua tangan perempuan itu agar tidak pergi. Rafael tahu perempuan itu hanya malu setiap Ia bersikap seperti ini, tapi Rafael benar-benar sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Selama ini selalu ditahan, sekarang waktunya sudah aman.


"Reva aku serius, apa aku boleh minta hak aku sekarang?" tanya Rafael dengan ekspresi wajah tidak menyebalkannya lagi.


"Lo serius?"


"Hm, tapi aku harus minta izin dari kamu." Rafael tidak mau memaksa, khawatir Reva ketakutan atau marah padanya.


"Tapi.. Tapi gue takut," cicit Reva sambil menundukan pandangan, gugup sekali saat bersitatap dengan Rafael.


"Jangan takut, gak papa kok." Rafael berusaha menenangkan, Ia punya firasat jika akan diberikan izin.


"Gimana kalau gue kesakitan?" tanya Reva.


"Kesakitan gimana? Aku gak bakal gigit kamu kok, paling gigit juga gak kenceng." Rafael mengatakannya dengan polos, membuat pria itu jadi terlihat bodoh.


"Ih bukan itu, tapi katanya kalau keperawanan diambil pertama kali itu sakit," celetuk Reva sambil menahan rasa malunya. Ia sering mendengar ini, entah dari internet atau gosip bersama teman-temannya.


"Mungkin awalnya gitu, tapi sakitnya juga katanya cuman sebentar. Nanti rasa sakitnya bakal berubah jadi enak hehe."


Reva berdecak melihat Rafael yang dari tadi terus bergurau, padahal sekarang dirinya gugup sekali. Tetapi sepertinya malam ini Reva tidak bisa mengelak lagi, Rafael tidak akan melepaskannya. Reva mengerang di dalam hati, bingung sekali apa yang harus dilakukannya?


"Jadi gimana? Boleh gak?" tanya Rafael membuat lamunan Reva terhenti.


"Gak tahu." Nada suara Reva pelan menandakan jika sedang bingung.


"Ya sudah kalau gak mau gak papa, mungkin aku harus ngasih kamu waktu lagi." Rafael terlihat kecewa, pria itu pun melepaskan Reva dan bergeser duduk dengan tidak lagi menghimpit Reva.


Reva pun duduk sambil menyampirkan helaian rambutnya, melirik Rafael tidak enak. Apakah suaminya itu marah? Tentu saja pasti. Tetapi kan Reva juga tidak bermaksud menolak, Ia hanya masih bimbang. Kalau ditanya belum siap, entahlah. Ini sudah lama dari waktu pernikahan mereka, dan kenapa juga Reva belum siap juga?


"Tidur lagi aja, aku mau pindah ke kamar aku," ucap Rafael sambil berusaha tersenyum. Pria itu lalu beranjak untuk keluar, tapi baru saja akan membuka pintu langsung terhenti merasakan pelukan dari belakang.


"Jangan pergi!" tahan Reva. Oh Tuhan apa yang dilakukannya?

__ADS_1


"Reva?" Rafael menolehkan kepala untuk melihat, tapi yang Ia lihat hanya puncak kepala perempuan itu saja.


"I-iya boleh deh," cicit Reva sambil memejamkan matanya, berharap semoga dirinya tidak menyesal. Rasanya Reva akan merasa bersalah jika sampai menolak Rafael lagi, mau sampai kapan?


Mendengar mendapatkan izin membuat Rafael tidak bisa menahan senyumannya lagi. Pria itu melepas tangan Reva di perutnya, lalu berbalik untuk berhadapan. Rafael tidak bisa menahan rasa bahagianya. Melihat wajah Reva yang malu-malu menatapnya, membuatnya semakin gemas.


"Kamu gak bisa narik perkataan kamu lagi," ucap Rafael.


"Iya-iya."


"Kok cemberut gitu sih? Gak ikhlas nih ngasihnya?"


"Ikhlas kok." Nada suara Reva ketus begini karena perempuan itu sedang menahan gengsinya.


Rafael dengan cepet mengecup pipi Reva, membuat perempuan itu terkejut dan langsung menyentuh pipi kirinya yang baru dikecup itu. Melihat kepala pria itu mendekatinya, membuat Reva pun memejamkan mata dan menunggunya dengan detak jantung tidak karuan. Padahal ini bukan ciuman pertama mereka, tapi rasanya tetap saja berdebar.


"Kyaa!" Reva menjerit karena terkejut saat tubuhnya tiba-tiba diangkat.


Rafael hanya terkekeh kecil melihat tingkahnya, "Tenang sayang, kamu terlalu gugup," ucapnya.


Reva membatin protes, tentu saja karena pria itu yang membuatnya terkejut. Sedang asik-asiknya menikmati ciuman, tiba-tiba tubuhnya digendong. Ternyata Rafael memindahkannya ke ranjang, dan Reva merasakan detak jantungnya semakin tidak karuan karena merasa mungkin ini sudah waktunya Ia memberikan tubuhnya kepada Rafael.


"Iya, kamu tenang saja." Lagi pula mana mungkin Rafael melakukan dengan kasar, khawatir perempuan itu kenapa-napa dan jadi tidak mood melanjutkan.


Selama itu pun Reva lebih banyak memejamkan mata, sesekali mulutnya terbuka merasakan sentuhan pria itu di tubuhnya. Reva benar-benar sudah menyerah, membiarkan Rafael bertindak sesukanya. Tetapi Reva merasa cukup tenang karena Rafael benar-benar memperlakukannya dengan baik, tidak menyakitinya sedikit pun.


"Hei buka mata kamu," bisik Rafael sambil mengusap pipinya.


Perlahan kedua mata Reva pun terbelak, kini Rafael berada di sebelahnya dengan dada telanjang yang naik turun. Terlihat bulir keringat di kening pria itu, sepertinya kelelahan. Reva pun sama merasakannya, walaupun Ia dari tadi hanya diam.


"Apa aku menyakiti kamu?" tanya Rafael.


"Enggak, cuman tadi agak kaget pas kamu masukin itu," jawab Reva dengan wajah memerah nya.


Rafael terkekeh kecil lalu bergeser mendekat dan memeluk pinggang telanjang Reva, "Maaf ya, tapi sekarang apa masih sakit?"

__ADS_1


"Sedikit, agak linu aja."


"Mungkin besok juga jalan kamu akan sedikit berbeda, tapi gak akan lama kok. Percaya sama aku."


"Hm." Reva juga tahu itu, mungkin Rafael hanya berusaha memberinya ketenangan saja.


Keduanya berbaring sambil berpelukan, terdengar deru nafas berat menggema di kamar yang hening itu. Entah berapa lama mereka melakukannya, tapi sangat menikmati dan sama-sama beruntung. Mereka bahkan berbaring tanpa mengenakan sehelai benang pun, bisa merasakan hangat dari kulit yang saling bersentuhan.


"Gimana kalau gue hamil?" tanya Reva tiba-tiba.


"Kamu memangnya sudah siap?" tanya Rafael balik sambil memainkan ujung rambut panjang Reva. Dagunya berada di puncak kepala perempuan itu, bisa merasakan wangi sampo yang manis.


"Belum, kita masih terlalu muda."


"Hm sebenarnya aku juga belum siap, tapi kan yang ngasih Tuhan. Dia yang paling tahu kapan waktu yang tepat diberikan pada kita."


Kepala Reva mengangguk pelan, "Iya, tapi tadi pakai pengaman, kan?"


"Iya, aku pakai pengaman kok."


Kenapa Rafael melakukan itu di malam pertama mereka? Ya karena Rafael terlalu takut dirinya kebablasan, bagaimana jika keluar di dalam? Rafael berjaga-jaga saja, lagi pula Reva juga kan belum siap memiliki anak.


"Sudah tidur, sudah terlalu malam," ucap Rafael.


"Hm, capek banget."


"Sama, kayanya besok kita bakal bangun kesiangan."


"Gak papa deh, kan gak ada kegiatan juga."


"Iya bener." Rafael memejamkan matanya, tapi tangannya tetap bergerak mengusapi kepala Reva.


Reva mengangkat kepalanya melihat Rafael, sepertinya pria itu sudah terlelap. Cepat juga terlelapnya, mungkin karena kelelahan. Rafael kan tadi yang lebih aktif dan banyak bergerak, Reva saja yang tidak melakukan apapun tetap lelah.


"Ternyata tidak se menyakitkan itu," gumam Reva pelan sambil tersenyum-senyum.

__ADS_1


***


Hai teman-teman yang baik, jangan lupa baca "Ternyata Aku Istri Keduanya" Ceritanya gak kalah seru loh, yuk mampir


__ADS_2