
Reva menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, perlahan isakan kecil terdengar dari mulutnya. Tetapi berusaha Ia redam suara tangisannya itu dengan bantal karena tidak mau terdengar sampai keluar. Reva tidak bisa menahan tangisannya lagi setelah masuk ke kamar, hatinya sakit saja melihat perubahan sikap Rafael.
"Hiks apa dia marah aku pacaran dengan Lucas?" tanyanya seorang diri di sela tangisan. Reva yakin begitu, karena sifat Rafael pun berubah dari semenjak Ia memberitahu jika dirinya berpacaran dengan Lucas.
Tetapi kan tadi Reva akan memberitahu semuanya, juga alasan mengapa dirinya mau menjadi pacar Lucas. Hanya saja mood Reva jadi hancur saat Rafael yang berkata sinis sambil bilang jangan mengurusi hidup masing-masing. Bukankah mereka suami istri? Kenapa harus hidup masing-masing? Seharusnya mereka melakukan segalanya bersama-sama.
Drrrt!
Deringan ponselnya membuat perhatian Reva teralih, Ia pun membawa ponselnya itu lalu melihat siapa yang menghubungi, ternyata itu Papanya, "Hallo Pah?"
["Kok suara kamu serak begitu? Kamu habis nangis ya?"] tanya Papanya dengan suara khawatir. Ternyata Papanya itu sangat peka, membuat Reva kembali berkaca-kaca.
"Enggak kok, aku gak papa," bantah Reva. Jangan sampai Papanya itu tahu, Reva tidak mau membuatnya khawatir.
["Beneran? Atau mungkin kamu sakit?"]
"Enggak juga. Jadi ada apa Papa nelepon malam-malam begini?"
["Begini, malam ini Papa mau ke Surabaya untuk jenguk Oma. Oma jatuh di kamar mandi kata mbak dan langsung dibawa ke rumah sakit, Papa khawatir sama dia."]
Mendengar perbicaraan serius itu membuat Reva langsung duduk, "Terus Oma gimana keadaannya?" tanyanya ikut cemas sendiri.
["Papa belum tahu lagi karena belum dikabarin, tapi semoga dia baik-baik aja."]
"Papa emangnya berangkat jam berapa?"
["Ini sudah mau berangkat, Papa bakal diantar supir soalnya lumayan jauh pakai mobil."]
"Aku ikut ya," ucap Reva tiba-tiba. Entah kenapa Ia memutuskan ini begitu saja. Selain khawatir pada keadaan Neneknya itu, Reva juga entah kenapa untuk sementara waktu ini ingin menghindari Rafael.
__ADS_1
["Bukannya kamu lagi ujian?"]
"Sudah selesai kok, sekarang lagi bebas."
["Terus gimana sama Rafael?"]
"Nanti aku bicara sama dia, Papa jemput aku ya."
["Baiklah, Papa berangkat ke sana sekarang."]
"Aku siap-siap dulu sebentar."
Setelah mematikan panggilannya, Reva bergegas turun membawa tas gendongnya dan memilih beberapa pakaian dan barang yang sekiranya dibutuhkan selama pergi ke sana. Ia juga sempat membasuh wajahnya dan memakai sedikit riasan agar menyamarkan bekas tangisnya.
Saat Reva keluar dari kamar, Ia memperhatikan sekitar mencari Rafael. Apakah Reva harus meminta izin dulu pada suaminya itu? Tetapi kan Ia sedang ngambek, alias mereka marahan. Rafael juga terlihat tidak ada di apartemen, mungkin saja masih di luar. Reva pun mengedikkan bahu mencoba acuh lalu keluar begitu saja. Tidak lama menunggu, akhirnya jemputan pun datang.
Reva tersenyum lebar, "Serius dong, sekalian liburan aja hehe."
"Mana Rafael? Papa mau ketemu dia dulu."
"Em dia katanya sakit perut, jadi langsung buru-buru masuk ke dalam lagi," bohong Reva.
"Memangnya dia izinin kamu pergi ke Surabaya bareng Papa?"
"I-iya," angguk Reva terlihat ragu. Reva berbohong pada Papanya, membuatnya tidak enak sendiri. Semoga saja Papanya itu tidak curiga.
"Terus dia gak ikut?" Papanya terlihat masih kepo sekali dan banyak bertanya, hanya untuk berjaga-jaga saja.
"Dia mah gak akan ikut, mau bebas juga tetep bakalan sekolah soalnya kan anak rajin," ucap Reva setengah meledek.
__ADS_1
"Begitu ya, ya sudah deh tidak papa. Yang penting kamu sudah minta izin dia dan dia pun tahu kamu pergi sama Papa ke Surabaya." Setelah mengatakan itu, Papanya pun meminta si supir melanjutkan perjalanan.
Kebetulan Rafael yang baru kembali malah tidak sengaja melihat mobil familiar yang baru saja pergi di depan apartemennya. Kernyitan terlihat di keningnya merasa jika mobil mewah itu milik Papa mertuanya, plat nomornya pun sama karena Ia masih hapal. Apa mungkin Papanya baru saja mampir? Rafael pun memutuskan naik menuju unit apartemennya.
"Reva, apa tadi ada Papa kesini?" tanya Rafael yang baru masuk dengan suara kerasnya. Tetapi sayangnya tidak ada tanggapan, membuat Rafael bingung.
"Reva? Kamu di kamar? Aku masuk ya." Saat Rafael masuk ke kamar Reva pun, tidak ada perempuan itu di sana. Rafael semakin dilanda perasaan bingung, sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Loh dia kemana?" Batinnya.
Rafael mencoba mencarinya lagi di apartemen, tapi Reva tidak ada dimana pun. Sebenarnya Ia enggan sekali menghubungi karena hubungan mereka kan masih belum baik, tapi Rafael memilih menurunkan egonya karena perasaan khawatir. Tetapi sayangnya nomor perempuan itu tidak aktif, panggilannya yang sudah dua kali pun tidak diangkat.
"Apa dia di bawah? Tapi tadi aku tidak lihat," gumam Rafael masih berpikir positif, "Mungkin saja, nanti juga kalau sudah ngantuk dia pasti pulang."
Rafael pun ke kamarnya sendiri dan menyimpan beberapa buku yang sudah Ia pinjam dari perpustakaan umum yang tadi Ia kunjungi. Di pukul sepuluh nya Rafael memutuskan untuk tidur, tapi sayangnya walaupun matanya terpejam hanya saja Ia kesulitan untuk terlelap. Rafael kembali membuka matanya sambil menatap ke langit kamar.
"Dia sudah pulang, kan?" tanya Rafael seorang diri, "Pasti Reva sudah pulang, mungkin sekarang dia sudah tidur." Sebenarnya Rafael ingin mengeceknya, tapi nanti kalau ketahuan kan malu sendiri. Rafael pun mencoba kembali tidur, sambil terus berharap semoga dugaannya itu benar.
Besok paginya seperti biasa Rafael selalu bangun lebih awal. Setelah mandi dan memakai seragam sekolahnya, Ia pun keluar kamar. Sempat melirik pintu kamar Reva yang tertutup, tapi memutuskan melanjutkan langkah ke dapur. Rafael memanggang rotinya, anehnya Ia malah memanggang empat. Apa duanya untuk Reva? Bukannya waktu itu bilang sendiri tidak peduli.
"Kemana dia itu? Kok belum keluar juga?" tanya Rafael yang sudah menghabiskan setengah rotinya. Merasa ada yang mengganjal, Rafael beranjak untuk mengeceknya ke kamar.
Setelah mengumpulkan keberanian, Rafael pun membuka pintu kamar itu dan melengokan kepalanya mengintip ke dalam. Kernyitan terlihat di keningnya karena di dalam tidak ada yang dicarinya, perlahan rasa cemas pun hinggap di dadanya.
"Astaga apa Reva semalam tidak pulang?" tanyanya panik sambil meremas rambutnya yang sudah Ia rapih kan tadi, "Lalu dia pergi kemana?"
Rafael pun kembali mencoba menghubungi Reva, tapi panggilannya lagi-lagi tidak diangkat. Di ketiga kalinya, akhirnya Ia pun menyerah. Rafael duduk di sisi ranjang dengan helaan nafas berat. Saat Ia sentuh seprai di ranjang itu terasa dingin, dan sepertinya memang benar semalam tidak ditempati.
"Ya Tuhan, apa kemarin aku terlalu berlebihan ya?" Rafael tiba-tiba jadi merasa bersalah, apakah terlalu terlambat?
__ADS_1