Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
18 Belum Siap Jadi Orang Tua


__ADS_3

"Reva bangun, mau ikut gak?"


"Enggh."


Rafael menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Reva yang sangat sulit dibangunkan. Ia sudah berusaha dari sekitar satu menit yang lalu, tapi belum berhasil juga. Rafael lalu dengan jahilnya malah mencapit hidung Reva beberapa saat.


"Ahh gila, lo mau bunuh gue ya?!" pekik Reva sambil membuka kedua matanya.


Bukannya merasa bersalah sudah membangunkan istrinya itu, Rafael malah terkekeh kecil merasa lucu sendiri. Wajah Reva yang khas bangun tidur terlihat lucu, bahkan rambut panjangnya itu berantakan.


"Bangun, mau ikut gak?" tanya Rafael mengulang.


"Kemana emangnya? "


"Lari pagi keliling komplek, yuk."


"Ck ogah, males banget!" dengus Reva kembali berbaring dan memeluk gulingnya, "Emangnya sekarang jam berapa sih?"


"Jam setengah enam pagi."


Pluk!


"Nyebelin banget, lagi enak-enak tidur malah dibangunin!" kesal Reva.


Rafael menggeleng-gelengkan kepala berusaha kembali fokus karena tadi wajahnya sempat ditimpuk bantal guling oleh perempuan itu. Ia lalu mundur beberapa langkah memberi jarak takut kembali mendapatkannya.


"Lagian sebentar lagi juga siang, gak usah tidur lagi."


"Gak ah, masih ngantuk. Ini kan hari libur, terserah dong mau bangun jam berapa juga."


"Solat dulu."


"Lagi haid."


"Oh."


Terus kenapa kemarin Reva menggodanya? Kalau sampai Rafael benar tergoda kan bisa gawat, sedang perempuan itu sedang halangan. Memang dasar istrinya itu nakal sekali, tapi Rafael tidak berdaya juga memarahinya.


"Ya sudah kalau mau lanjut tidur, kalau gitu aku pergi dulu ya."


"Hm, nanti kalau sudah balik bangunin."


"Iya."


Rafael tadinya akan jogging sendiri, tapi tanpa diduga di depan malah bertemu Ayahnya. Mereka berdua lalu berolahraga keliling perumahan itu bersama. Terlihat akur sekali, terkadang mengobrol untuk menghilangkan kesunyian.


"Reva masih tidur ya?" tanya Ayahnya.

__ADS_1


"Iya, tadi sudah aku ajak tapi dia gak mau, males katanya."


"Hm kayanya kalian semalam sudah bergadang."


"Ck apaan sih Yah? Enggak kok," bantah Rafael yang sudah tahu obrolan ke arah dewasa.


Ayahnya malah tertawa kecil, "Tapi ya terserah kalian, toh kalian yang suami istri. Kalau Ayah sih dulu pas masih muda, selalu semangat begituan sama Bunda kamu."


"Ish sudah ah, jangan ngobrolin itu lagi."


"Hahaha iya-iya." Ayahnya pun tahu jika putranya itu merasa malu.


Cukup lama mereka jogging, saat dirasa sudah lelah memutuskan istirahat sejenak. Melihat ada gerobak penjual bubur, membuat keduanya memutuskan ke sana. Istirahat sambil sarapan dengan semangkuk bubur.


"Kamu sering ribut gak sama Reva?" tanya Ayahnya.


"Hah? Em enggak juga," bantah Rafael.


"Gak papa jujur aja, lagian suami istri cekcok itu biasa, kadang memang selalu berbeda pendapat."


Rafael terlebih dahulu menelan makannya, "Iya, kadang ada sih ribut gitu."


"Tapi kamu kan yang ngalah?"


"Iya lah, aku selalu ngalah."


"Bagus, ingat ya kamu juga jangan sampai kebawa emosi dan hilang kendali. Pokoknya harus selalu sadar."


"Sebentar lagi juga kalian lulus, jadi apa Ayah sama Bunda sudah bisa dapat cucu?"


"Ukhuk!" Rafael sampai tersedak makannya mendengar itu, Ia pun segera meminum air putihnya.


"Makanya kalau makan pelan-pelan, Ayah juga gak akan minta."


"Ck Ayah yang bikin aku kaget."


"Kaget kenapa? Kan Ayah cuma tanya cucu aja," bela Ayahnya.


"Tapi aku kan belum siap, aku merasa masih banyak impian yang ingin aku gapai. Usia aku juga masih muda, rasanya belum siap saja jadi orang tua."


"Kamu berbeda ya dengan Ayah."


"Iya lah, kan dulu Ayah mah nikahnya pas usianya sudah matang."


"Hehehe." Ayahnya hanya tertawa kikuk.


"Kayanya dalam beberapa tahun ini, aku dan Reva belum memutuskan untuk memiliki anak. Maaf ya?"

__ADS_1


"Hm gak papa, kami juga tidak bisa memaksa. Memang sih kalian masih muda, pasti masih ingin bebas dulu. Kalau nanti sudah jadi orang tua, fokus kalian ya ke anak."


"Makasih sudah mengerti."


"Iya, tapi apa Reva juga maunya begitu?"


"Iya sih, dia juga pasti masih pengen bebas." Apalagi kan lingkup pertemanan perempuan itu lebih luas di banding dirinya.


Setelah makanan habis, keduanya memutuskan langsung pulang. Tidak berlari lagi karena habis makan, nanti perut akan sakit. Sekitar pukul tujuh nya, mereka baru sampai di rumah. Terlihat Alisa yang sedang menyapu lantai di teras rumah.


"Kalian dari mana? Kok gak ajak Bunda sih?" tanya Bunda nya merengek.


"Bunda kan gak suka jogging, Ayah ajak juga selalu gak mau."


"Tapi Ayah gak bilang bakal jogging nya sama Rafael, kalau dia ikut Bunda juga pasti ikut."


"Ah alasan Bunda aja."


Bunda nya hanya mengerucutkan bibir lalu menatap lagi putranya, "Dimana Reva? Dia juga ikut, kan?"


"Enggak, dia mah masih tidur," jawab Rafael, "Jadi dia belum bangun ya?"


"Oh kirain Bunda dia ikut."


Rafael lalu meminta izin pada kedua orang tuanya untuk pergi ke kamar. Saat masuk langsung melihat ke arah ranjang, menghela nafasnya melihat Reva yang ternyata benar masih tidur. Rafael lalu ke arah gorden untuk membukanya lebar, membuat cahaya matahari langsung masuk.


"Reva bangun, sudah siang," ucapnya sambil menggoyang-goyangkan bahu.


Perlahan kedua mata perempuan itu terbuka, "Lima menit lagi ya?"


"Ck enggak, ayo bangun sekarang. Ini aku sudah bangun, gak enak sama Bunda dan Ayah kalau kamu bangun siang."


"Hah baiklah," desah Reva pasrah.


Dengan berat hati Reva bangun dari berbaring nya. Mengumpulkan nyawa sambil mengikat rambut panjangnya. Ia memperhatikan Rafael yang sedang membawa baju dari lemari, sepertinya akan mandi.


"Lo belum mandi? Kirain udah," tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Belum, kan baru pulang jogging. Kalau mandinya sebelum olahraga, pasti keringetan lagi."


"Hm ya sudah, kita mandi bareng aja ya?"


Rafael langsung menoleh, "Enggak, sendiri-sendiri aja," tolak nya.


"Gue males banget mandi, rasanya pengen banget dimandiin," ucap Reva seperti mengkode.


Tetapi sayangnya Rafael tidak mempedulikan dan malah melenggang masuk lebih dulu ke kamar mandi. Reva yang melihat itu hanya mendengus pelan lalu kembali menguap lebar. Suaminya itu memang aneh sekali, padahal kan katanya suami istri bermesraan itu akan mendapat pahala.

__ADS_1


"Aneh si Rafael itu, kalau cowok lain yang diajak pasti gak bakalan nolak cewek cantik dan bohay kaya gue," gumam Reva, "Jadi makin curiga aja dia punya kelainan seksual."


Merasa bosan harus menunggu Rafael mandi, Reva malah kembali membaringkan tubuhnya. Di lubuk hati berjanji hanya memejamkan mata, tidak akan sampai tidur terlelap lagi.


__ADS_2