Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
74 Didukung Sahabat


__ADS_3

Sepanjang perjalanan ke kantin, Reva merasa terus di perhatikan banyak siswa, mereka bahkan sambil berbisik membuatnya yakin jika dirinya lah yang sedang dibicarakan. Untung saja ada Tata dan Ica di sebelahnya, jadi Reva tidak terlalu gugup.


"Mau ke kelas suami dulu gak?" tanya Tata setengah menggoda, perempuan itu bahkan menyenggol tangan Reva.


"Enggak deh, gak usah," tolak Reva.


"Kenapa?" Kini giliran Ica yang bertanya, menurutnya tidak masalah.


"Kita kan kalau di sekolah gak terlalu deket," ucap Reva sambil nyengir lebar.


"Ck tapikan berita tentang kalian suami istri juga udah kesebar, jadi kayanya gak masalah dong. Emangnya gak cape pura-pura terus? Waktunya go publik dong," celetuk Tata menyemangatinya, perempuan itu terlihat sangat mendukung hubungan sahabatnya ini dengan Rafael.


"Iya sih, cuman malu ah." Reva bisa merasakan pipinya memanas, kedua sahabatnya ini dari tadi terus menggodanya.


"Geli banget liat si Reva malu-malu ih."


"Hahaha sialan kalian, gue juga cewek!"


Sesampainya di kantin mereka langsung mencari tempat duduk dahulu, Reva diminta duduk saja sedang pesanannya akan dibawakan kedua sahabatnya. Mereka memang pengertian sekali, tahu jika sekarang Reva sedang malu dan pasti akan menjadi pusat perhatian. Setelah kepergian mereka, Reva memutuskan memainkan ponselnya.


"Reva-Reva!" panggil Ica dengan suara keras menghampirinya.


Reva menaikkan sebelah alisnya, "Loh kok cepet banget? Udah pesennya?" tanyanya bingung.


"Bukan itu, tapi gue mau ngasih tau sesuatu."


"Apaan?"


"Tadi gue gak sengaja lihat Rafael sama Dinda lagi duduk berduaan di belakang kantin." Setelah mengadukan itu, Ica terlihat mengatur nafasnya yang memburu.


"Lo nguping mereka ya?"


"Ih kok reaksinya malah gitu?"

__ADS_1


"Hah? Terus harus gimana dong?"


Ica menatap aneh sahabatnya itu, lalu duduk dengan kasar di sebelahnya, "Harusnya lo marah dong, terus labrak suami lo yang lagi berduaan sama cewek lain," ucapnya bersungut-sungut.


"Tapi kan mereka emang temenan, terus kalau di sekolah juga selalu bareng." Lagi pula Rafael juga waktu itu sudah menjelaskan jika pria itu menolak pernyataan cinta Dinda, sudah tidak memiliki perasaan lebih pun.


"Gak bisa gitu dong Reva, masa ngebiarin gitu aja suaminya lagi berduaan sama cewek lain. Lo emang gak normal!"


"Apa?!"


"Mau temen ke atau apa, cewek normal itu pasti selalu gak mau cowoknya deket sama cewek lain. Emangnya Reva gak ngerasa cemburu?"


Reva terdiam beberapa saat memikirkan nya. Sebenarnya kalau boleh jujur cemburu sih, tapi kan Reva juga sudah terbiasa selama di sekolah melihat kebersamaan pria itu dengan Dinda. Begitupun sebaliknya, Rafael yang melihatnya berduaan dengan Lucas.


"Ayo ikut, kita labrak mereka," ajak Ica sambil menarik tangannya.


"Aduh mau kemana sih?" protes Reva yang ikut berdiri karena tangannya itu ditarik.


"Reva jangan anggap biasa dong, gimana kalau mereka ternyata ada sesuatu? Jangan terlalu dibiarin, perasaan seseorang kan bisa berubah."


Sesampainya di tempat itu, Ica langsung menunjuk tempat dimana di sana ternyata benar ada Rafael dan Dinda yang sedang berduaan. Mereka terlihat mengobrol serius dengan saling pandang. Ica pun menarik Reva semakin dekat, mereka pun berdiri di hadapan dua orang itu membuat obrolan mereka pun terhenti.


"Hei Rafael, apa-apa an ini?!" protes Ica dengan suara melengking cempreng nya.


Rafael berdiri dari duduknya, "Ada apa?" tanyanya bingung.


"Ada apa?" tanya Ica mengulang sambil tersenyum sinis, "Kok lo berduaan sama dia sih? Gak ngehargain Reva banget! "


"Em itu kami--"


"Berita tentang kalian suami istri itu udah kesebar, gak enak kalau dilihat murid lain pasangannya malah asik berduaan sama yang lain," omel Ica layaknya orang tua, tatapannya dari tadi terlihat tajam.


Pandangan Ica pun beralih pada Dinda, "Heh lo juga Dinda, jangan jadi pelakor dong!"

__ADS_1


"Aku enggak kok," bantah Dinda.


"Sekarang kan udah tahu si Rafael itu suaminya Reva, jadi jangan cari kesempatan buat deketin dan jangan sok kecentilan lagi sama Rafael. Ngerti?!"


Reva menggoyangkan tautan tangannya dengan Ica, membuat perempuan itu menatapnya, "Udah Ca, gak papa kok," ucapnya.


"Kok Reva gitu sih? Jadi Reva gak masalah kalau Rafael misal ada sesuatu sama cewek itu? Reva kan istrinya!"


"Tapi mereka cuman temen kok, percaya sama gue," ucap Reva berusaha menenangkan. Ia tahu sahabatnya itu hanya khawatir, dan Ia sangat menghargai itu.


"Reva jangan terlalu bebasin Rafael sama cewek lain, apalagi sama dia."


"Iya Ica, tenang aja. Rafael gak mungkin selingkuh kok, iyakan?" Reva sengaja nelirik Rafael di akhir katanya, pria itu sempat terkejut tapi tidak lama mengangguk pelan.


Ica menghembuskan nafasnya kasar, "Ya sudah kalau gitu, pokoknya kalian itu harus saling jaga perasaan pasangannya."


"Iya."


Ica pun pamit pergi dari sana, kasihan Tata pasti kebingungan mencarinya dan Reva. Mereka memang sempat terpisah karena membeli makanan di lain tempat, Ica akan menyusulnya. Tetapi Reva tidak ikut, mungkin perempuan itu butuh waktu bicara dengan Rafael.


Setelah kepergian Ica, untuk beberapa saat di sana pun hening.


"Aku gak nyangka kalian ternyata punya hubungan sejauh itu," ucap Dinda baru berdiri sambil menghadapkan tubuhnya pada Reva.


"Pasti gak nyangka, secara lo dulu selalu nganggap gue penggangu Rafael. Gimana pendapat lo?" tanya Reva sambil menarik sebelah sudut bibirnya.


"Speechless sih, gak bisa berkata-kata juga pas awal denger. Tapi kalian hebat juga ya bisa akting begitu, semua orang sampai gak nyangka." Dinda terlihat tersenyum, tapi senyuman itu sulit diartikan.


"Lo gak patah hati, kan?" tanya Reva.


Dinda tersentak mendengar itu, kenapa Reva menanyakan itu. Apa jangan-jangan Reva tahu jika Ia ada perasaan pada Rafael? "Entahlah," gumamnya pelan.


Reva lalu mendekati Rafael dan memeluk tangannya begitu saja, Rafael hanya diam membiarkan tidak protes sama sekali. Untungnya di sana sepi dan tidak ada siapapun selain mereka, makanya Reva pun berani mengekspresikan diri.

__ADS_1


"Sekarang lo udah tahu kan kalau gue sama Rafael ada hubungan, jadi lo jangan terlalu berharap. Sebenarnya gue juga gak terlalu suka lihat lo deketin Rafael, apalagi gue tahu tujuan utama lo."


"Iya aku tahu, tapi sekarang aku udah gak gitu kok." Dinda terlihat menghela nafasnya berat, "Aku akan berusaha lupain, lagi pula aku juga gak akan mungkin bisa dapetin Rafael. Selamat untuk kalian, semoga.. Semoga jadi pasangan yang bahagia." Setelah mengatakan itu, Dinda pun pergi dari sana dengan dada sesaknya. Ternyata menyukai seseorang yang tidak akan mungkin dimiliki itu sangat sakit.


__ADS_2