
Baru saja duduk di bangkunya, Reva sudah dihampiri Lucas. Melihat pria itu membuatnya kembali mengingat kejadian kemarin saat bertemu di Mall. Jangan bilang akan membahas lagi?
"Hei selamat pagi," sapa Lucas dengan senyuman lebarnya seperti biasa.
"Apaan?"
"Ketus banget."
"Kalau gak ada yang penting mending pergi deh, jangan ganggu."
"Cuma pengen deket-deket lo aja, gak boleh ya?"
"Gak!"
Lucas malah terkekeh kecil, "Gue paling suka nih kalau deketin cewek galak, makin ngerasa tertantang."
Reva hanya memutar bola matanya malas dan berusaha mengabaikan Lucas dengan bermain ponselnya. Perempuan itu sangat sadar terus di perhatikan Leon yang duduk di depannya, rasanya ingin sekali Ia tendang pergi.
"Hei Lucas, kamu kenapa duduk di sini? Ini bangku aku," tanya Ica yang baru datang.
"Oh iya sorry, silahkan Tuan putri."
"Ih Lucas mah bisa aja ah, aku kan jadi malu."
Lucas pun beranjak pergi, tapi sebelum itu sempat mengedipkan sebelah matanya pada Reva. Ica lalu duduk di bangkunya itu, lalu memutar tubuhnya menjadi menghadap Reva.
"Kalian tadi abis ngapain?" tanya temannya itu.
"Gak ngapa-ngapain."
"Bohong, pasti sempat ngobrol kan? Ngobrolin apa?"
"Kepo lo."
"Ih Reva mah gitu ah." Ica mengerucutkan bibirnya.
Selintas ide lalu terpikirkan di kepala Reva, bibirnya pun menyeringai, "Tadi dia tanya-tanya tentang lo ke gue," bohongnya.
"Oh ya? Tanya apa katanya?" tanya Ica semangat.
"Dia tanya apa malam ini lo sibuk enggak, gue bilang aja lo pengangguran jadi gak sibuk."
"Terus-terus?"
__ADS_1
"Kayanya malam ini dia bakal ngajak lo jalan, nanti tanyain aja ke si Lucas langsung."
Ica langsung menyentuh kedua pipinya yang terasa panas, "Ya ampun, ternyata bener dugaan gue kalau selama ini Lucas diam-diam suka sama gue. Emang sih pesona Ica gak bisa diabaikan."
Reva hanya terkekeh kecil melihat sahabatnya itu yang sudah kepedean, padahalkan sedang Ia bohongi. Tidak apalah, toh malah bagus juga kalau si Lucas itu dekat dengan perempuan lain, jadi tidak akan mengganggunya terus.
"Geli banget gue tadi pas lihat lo sok manis gitu ke si Lucas!" dengus Reva.
"Namanya juga ke orang yang disuka, harus sok manis dong."
"Hih geli."
Jam pelajaran pun berlangsung beberapa jam dengan diisi dua pelajaran yang cukup memusingkan, matematika dan biologi. Reva melirik jam di dinding, masih ada setengah jam lagi menuju jam istirahat. Entah ke berapa kalinya Ia menguap, merasa matanya semakin berat membuatnya beranjak izin ke toilet.
"Nanti pas kuliah bakal tetep ada pelajaran matematika gak yah?" tanyanya seorang diri. Kalau bisa jangan deh, Reva harus mencari jurusan yang tepat. Kepalanya pusing jika sudah menghadapi pelajaran yang satu itu.
"Enak banget Dinda setiap ada tugas pasti dikerjain sama Rafael."
"Oh iya dong, makanya tugas aku nilainya suka bagus hehe, kan lumayan tuh."
"Emangnya Rafael gak protes gitu kalau tugas kamu di kerjain dia?"
"Enggak lah, kan dia suka sama aku. Malahan kayanya Rafael selalu senang kalau bisa berduaan sama aku, jadi itu bonus untuk dia."
"Buka pintunya gak usah keras-keras kali, kaya mau ngerusak aja," sindir Dinda tanpa menatap.
"Kenapa?" tanya Reva polos.
"Jangan mentang-mentang kamu cucu Kepala Sekolah jadi seenaknya di sini. Ini kan masih fasilitas sekolah, kalau ada yang rusak juga semuanya ikut patungan, bukan cuma kamu aja."
"Ya elah repot banget sih lo. Gue bisa bayar sendiri, uang gue banyak!" ketus Reva membalas.
Salah satu teman Dinda lalu pamit pergi lebih dahulu, sepertinya merasa tidak nyaman melihat suasana di sana yang mulai panas. Semua murid di sekolah ini pun tahu kalau Reva dan Dinda itu tidak akur dan sering cekcok.
"Hei Dinda, lo cupu banget ya ternyata," ucap Reva.
Dinda langsung berbalik, "Enak aja kalau ngomong, maksudnya apa?!"
"Iya lo cupu, soalnya manfaatin orang lain buat kepentingan lo sendiri."
"Gak jelas kamu Reva!"
"Lo deketin si Rafael cuma karena ada maunya, kan?" Reva dua langkah mendekat, "Emang udah gue duga sih kalau lo deketin si Rafael itu gak tulus."
__ADS_1
"Apaan sih? Aku sama Rafael itu temenan kok."
"Temen? Bukannya lo nganggap dia kacung lo ya?"
"Hah? Apaan sih Reva, gak jelas banget!"
"Dia kan sering ngerjain tugas lo, lo manfaatin itu dari si Rafael."
Tatapan Dinda memicing, menduga jika sepertinya Reva mendengar perbincangannya tadi dengan temannya dari luar. Tetapi Dinda tidak gentar dan menganggap santai, lagi pula Reva itu tidak akan sampai membuat hubungannya dengan Rafael terancam.
"Terus?" tanya Dinda.
"Apa?"
"Terus emang kenapa kamu rempong? Gak usah ikut campur."
Reva tertawa sinis, "Lihat, emang dasar cewek beban gak tahu diri. Sadar gak lo kalau sikap lo itu buruk?"
"Enggak tuh, lagian Rafael juga gak masalah."
"Oh ya? Gimana kalau sebenarnya dia itu keberatan, tapi gak berani bilang?"
"Kamu bisa tanyain aja ke dia nanti, apa Rafael itu keberatan atau enggak. Tapi kayanya Rafael gak keberatan sama sekali tuh, dia malah senang-senang aja," ucap Dinda enteng.
Kedua tangan Reva terkepal merasa kesal melihat sikap sok polos dari Dinda, apalagi kata-katanya itu yang terkesan sombong, membuat emosinya jadi naik turun saja. Kepedean sekali mengatakan Rafael senang mengerjakan tugasnya, mana ada.
"Kamu kenapa sih Reva? Selalu saja ikut campur antara aku dan Rafael."
"Karena gue gak suka sama lo," ucap Reva blak-blakkan, "Lo di depan aja sok paling bener, pakai ngata-ngatain gue. Lihat, lo sendiri lebih busuk karena manfaatin Rafael."
"Kamu masih benci ya Reva sama aku karena kejadian dulu? Jadi sampai sekarang pun masih dipendam dan musuhin aku?"
Sebelah alis Reva terangkat mendengar itu, apa maksudnya?
"Pas di SMP itu, kamu pasti kesel ya orang yang kamu suka malah sukanya sama aku?"
Deg!
Dinda terkekeh kecil, "Jadi karena itu kamu makanya benci banget sama aku? Terus apa hubungannya kamu sama Rafael? Jangan bilang kamu suka sama dia, tapi sayangnya Rafael sukanya sama aku. Kayanya semua milik kamu itu lebih tertarik ke aku ya Reva."
"Sialan lo," desis Reva.
"Jangan marah dong, emang bener, kan yang aku bilang?"
__ADS_1
Merasa tidak bisa membendung lagi rasa kesalnya, Reva berhambur ke Dinda dan menjambak rambutnya itu kasar. Dinda berteriak kesakitan, tapi tidak lama perempuan itu pun membalas dengan menjambak rambut Reva. Selanjutnya terjadilah keributan di toilet itu.