Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
Merasa Beruntung


__ADS_3

Saat Reva sedang mengganti bajunya, perhatiannya teralih mendengar pintu terbuka. Terlihat di sana Rafael sedang menyeringai ke arahnya, Reva yang melihat itu hanya menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sudah tahu apa isi pikiran suaminya itu.


"Sayang banget kita lagi di rumah Papa, jadi aku gak bisa apa-apa in kamu," kata Rafael.


"Memangnya kenapa kalau di rumah Papa? Gak berani ya?" Reva berusaha menantang, ingin melihat seberani apa Rafael itu.


Rafael lalu berjalan mendekat sambil memasukan tangannya ke saku celana, "Takut ketahuan ah," jawabnya.


"Hahaha kenapa takut? Waktu itu aja pernah pas kita lagi di ruang utama."


Ya walaupun hanya kiss, tapi itu adalah kejadian membekas di kepala Rafael. Entah kenapa Ia malu saja, perasaan Harry pasti campur aduk sekali mendapati anak kesayangannya sedang Ia apa-apa kan. Walaupun sudah berhak, tapi pasti tetap ada rasa cemburu.


"Sudah ah jangan goda aku," ujar Rafael. Percayalah Ia sekarang mudah on.


"Siapa juga yang goda kamu?" dengus Reva.


Rafael lalu memilih duduk di sisi ranjang, memperhatikan istrinya itu yang sedang memakai skincare seperti biasa sebelum tidur. Pantas saja semakin cantik, ternyata Reva sekarang sudah rajin perawatan.


"Uang bulanan dari aku cukup, kan?" tanyanya.


Reva menoleh, ekspresi wajahnya langsung memelas, "Enggak," geleng nya.


"Masa? Jangan bohong."


"Beneran gak cukup, sekarang kan aku lebih banyak kebutuhan."


"Kamu sih shopping terus. Berapa kali aku bilang, jangan beli barang yang gak terlalu kamu butuhkan," nasihat Rafael.


Memang sih perempuan itu kalau sudah belanja pasti selalu kalap, tapi Reva kan sudah sering dan banyak juga memilikinya. Uang Rafael memang banyak, bukan berarti Ia juga pelit pada istrinya ini. Ternyata untuk masalah mengatur uang, Reva belum berubah.


"Tapi kan aku juga butuh perawatan, beli skincare sama make up," sahut Reva membela diri.


"Bukan shoping beli baju aksesoris kan?"


"Sekarang sudah jarang, aku lebih suka beli skincare." Reva lalu berdiri dari duduknya, "Kamu lihat sendiri kan sekarang aku makin cantik? Kamu juga pasti bakalan bangga punya istri cantik begini."


Rafael tidak bisa menahan tawanya mendengar tingkat kepercayaan diri istrinya itu. Memangnya dulu Rafael tidak bangga punya Reva? Memang sih benar yang dikatakannya juga, tapi mau dulu ataupun sekarang Rafael tetap bangga pada Reva.


"Ya sudah nanti aku tambahin, tapi beli yang butuh aja. Ngerti?"


"Hehe iya sayang, makasih ya."

__ADS_1


Reva pun mendekati Rafael di ranjang, lalu mereka naik ke atas untuk tidur. Malam ini mereka memang tidur di rumah Papa, terlalu malam juga untuk pulang ke apartemen. Tante Intan pun sama menginap, tentu saja tidak sekamar dengan Harry karena belum sah.


"Katanya Vanessa sudah sadar, tadi bibinya SMS aku," ujar Reva cerita.


"Syukurlah kalau dia sudah sadar, kamu mau kesana?"


"Iya, besok sebelum pulang kita ke rumah sakit dulu ya?"


"Hm."


Reva bergeser mendekat, "Aku seneng banget kamu pulang," ungkapnya jujur.


"Oh ya? Kamu kangen ya sama aku?"


"Bukan itu aja, aku juga ngerasa gak sendirian lagi. Setelah kamu pergi, aku harus mandiri ini itu dan rasanya sangat berat. Aku mungkin sudah terbiasa, tapi tetap saja butuh kamu."


Ungkapan manis itu membuat dada Rafael bergetar, rasanya berbunga-bunga karena sosoknya seperti sangat dibutuhkan kehadirannya oleh Reva. Sekarang istrinya ini sudah tidak gengsian lagi mengungkapkan isi hati, Rafael senang Reva yang blak-blakkan begini.


"Maaf ya aku gak bisa terus ada di sisi kamu," ucap Rafael tidak enak. Tangannya dari tadi bertengger di pinggang ramping itu, mengusapnya seduktif.


"Apa kamu juga ngerasain sama kaya aku?" tanya Reva berharap. Memang sih Rafael itu orang yang mandiri, tapi tentu Reva juga berharap kehadirannya dibutuhkan di sisi pria itu


"Contohnya?"


"Contohnya masalah kepuasan biologis." Setelah mengatakan itu, Rafael langsung terbahak.


Senyuman di bibir Reva menghilang, Ia pun repleks memukul tangan Rafael. Pikiran pria itu memang ke arah dewasa mulu, tidak ada romantis-romantisnya, padahal Reva sudah serius bicara dari dalam hati tadi.


"Dasar otak kotor!" maki Reva. Perempuan itu pun berbalik menjadi tidur membelakangi.


Tawa Rafael perlahan berhenti, Ia pun memeluk istrinya itu, "Sayang aku becanda, bukan cuman itu aja kok, banyak," ujarnya beralasan.


"Sudah ah, aku mau tidur."


"Jangan marah dong," bujuk Rafael. Dengan modusnya lagi pria itu malah mengecup-ngecup pipi Reva.


"Ih bisa diam gak sih? Siapa juga yang marah?!" ketus Reva.


"Tuh bicaranya masih ketus gitu."


"Ck terserah aku lah."

__ADS_1


Rafael meringis pelan melihat istrinya yang sepertinya benar ngambek, sepertinya Rafael salah waktu bercanda. Untuk beberapa saat pun Rafael mendiamkan saja, memberikan waktu pada Reva menenangkan diri.


"Nanti besok pulang dari rumah sakit aku temenin shoping deh," kata Rafael.


Kedua mata Reva yang tadinya terpejam pun langsung terbuka, bibirnya berkedut menahan senyuman, "Beneran nih?" tanyanya memastikan.


"Iya, tapi jangan ngambek lagi."


"Oke, tapi harus tepati janji ya."


"Iya-iya."


Reva pun kembali membalikan tubuhnya menjadi menghadap Rafael, memberikan senyuman manisnya seolah menunjukan bahwa dirinya sekarang sudah tidak ngambek. Dengan imbalan begitu, siapa juga yang tidak senang.


"Sudah sekarang tidur, kapan lagi kan aku ngasih kamu waktu tidur lebih awal?" tanya Rafael agak konyol.


Memang semenjak pria itu pulang, mungkin hampir setiap malam Reva tidak pernah tidur lebih awal lagi. Mereka selalu melakukan hubungan suami istri. Tetapi karena malam ini sedang di rumah Papa, jadi Reva bisa sedikit tenang.


Besok paginya mereka bangun tidak terlalu siang. Setelah mandi, turun ke bawah bersama. Saat memasuki ruang makan, terlihat di sana sudah ada Tante Intan yang sedang menyimpan buah-buahan di meja. Sedangkan Harry sedang sarapan dengan roti bakar. Kedua orang itu pun langsung menyapa mereka.


"Kirain Tante sudah pulang," ucap Reva sambil mendudukan tubuhnya di kursi.


"Papa kamu nyuruh Tante sarapan dulu katanya," jawab Intan.


Harry mengangguk, "Kalau nanti di butik pasti makannya siang, kamu kan selalu sibuk di sana," sahutnya.


"Iya bener, Tante sarapan dulu aja," ucap Reva setuju.


Reva pun membantu menyiapkan sarapan untuk suaminya, Rafael pagi itu katanya ingin sarapan dengan oatmeal jadi Ia buatkan. Sedangkan Reva sendiri sarapan dengan nasi goreng, kebetulan Tante Intan yang masakkan dan masih ada sisanya.


"Kalian juga mau pulang sekarang?" tanya Harry.


"Iya Pah, tapi sebelum itu mau ke rumah sakit dulu," jawab Reva.


"Mau apa ke rumah sakit?" Kini giliran Intan yang bertanya.


"Mau jenguk Vanessa, dia sudah sadar tadi malam kata bibinya."


"Syukurlah kalau dia sudah sadar, titip salam dari kami ya," ucap Intan.


"Iya Tante."

__ADS_1


__ADS_2