
Ternyata memang benar yang dikatakan kedua orang tuanya, tinggal sendirian saat hamil trimester pertama itu sangat tidak enak. Jadinya Reva pun memutuskan pindah dulu ke rumah Papanya, di sana Ia akan dijaga dengan baik oleh semua orang.
"Reva, minum susu dulu," ucap Intan memasuki kamarnya.
Reva yang sedang mengerjakan tugas menolah lalu menerima susu itu, "Makasih ya Mah, selalu ngingetin hehe."
"Sama-sama, Mama kan harus jagain kalian."
Intan menatap lembut putri tirinya itu, Ia benar-benar menyayangi Reva dengan tulus, sudah seperti anak kandungnya sendiri. Apalagi saat mendengar Reva hamil dan dirinya akan menimang cucu, siapa yang tidak bahagia?
Semenjak Reva tinggal bersamanya pun, Intan selalu berusaha menjaganya dan memperlakukannya dengan baik. Ia merasakan beratnya menjadi Ibu hamil, karena dulu kan pernah juga. Apalagi Reva masih muda, sedangkan dulu Intan saat hamil sudah hampir kepala tiga.
"Kamu masih sering muntah-muntah di bulan kedua ini?" tanya Intan.
"Sudah gak terlalu Mah, tapi nafsu makan aku jadi berantakan. Kadang aku gak mau makan nasi, malas aja makan nasi itu," jawab Reva sekalian curhat.
"Paksain aja ya, soalnya kan nasi makanan pokok. Kalau gak makan nasi takutnya kamu laper sendiri," desak Intan.
"Tapi aku bisa nyemil, dan lumayan bisa ganjel laper, ya walau cuman sebentar."
Intan menggeleng tidak setuju, "Tetep aja ah jangan sampai ninggalin makan, nanti kamu sakit lagi. Kalau misal kamu mau makannya sama sesuatu bilang aja, nanti biar Mama yang minta ke bibi biar masakin."
"Iya."
Reva tahu Mama tirinya itu tidak bisa masak, tapi setiap hari pasti yang mengatur jadwal menu masakan kepada pembantu di rumah. Walaupun Intan juga bekerja di butik, tapi perannya menjadi Ibu rumah tangga tidak ditinggalkan.
"Reva, Mama mau tanya. Jujur apa kamu gak sedih karena saat hamil begini, suami kamu gak ada di samping kamu," ucap Intan penasaran.
"Sebenarnya sih sedih, malahan aku sering nangis kalau misal lagi kerasa berat cobaan hamil itu. Tapi aku harus bisa nyelesain sendiri, aku juga gak mau bersikap egois." Reva berusaha tersenyum walaupun hatinya agak sesak.
Intan lalu membawa tangan Reva, "Tenang saja ya, kamu gak sendirian kok. Ada Mama terus Papa, Bunda dan Ayah kamu," ujarnya.
__ADS_1
"Iya, kalian yang selalu jagain aku sekarang."
Padahal Reva bukan anak kecil lagi, tapi setelah para orang tua itu tahu dirinya hamil, sikap mereka jadi super protektif kepadanya. Jangan kecapean lah, harus makan-makanan bergizi lah, dan masih banyak lagi. Reva pun hanya menurut-nurut saja karena pasti itu yang terbaik untuk dirinya dan bayinya.
"Mama gak sabar gendong cucu hehe," celetuk Intan sambil terkekeh kecil.
"Gimana rasanya di umur tiga puluh satu tahun sudah punya cucu?" tanya Reva penasaran.
"Rasanya sih campur aduk, tapi pastilah seneng," jawab Intan, "Apalagi Mama kan dulu sempat keguguran, bahkan belum sempat gendong anak Mama sendiri."
Menyadari Mamanya itu yang menjadi murung saat membahas topik ini, membuat Reva merasa kasihan dan tidak tega. Tetapi Intan tidak pernah menunjukan kesedihannya saat di depannya, selalu ceria setiap saat.
"Nanti kalau misal aku kuliah, gak papa aku titip bayi di sini?" tanya Reva.
"Boleh dong, biar Mama yang jagain dia. Nanti mungkin bisa juga jagain nya sekalian pas jaga butik, biar Mama pamerin ke temen-temen Mama yang sering datang ke sana," jawab Intan tampak bersemangat.
Cukup lama mereka mengobrol, menyadari Reva pasti sedang mengerjakan tugas dan Ia tidak mau mengganggu, Intan pun memutuskan beranjak keluar kamar. Sempat memberitahu pada perempuan itu untuk tidak tidur terlalu larut.
Drrrt!
"Rafael?"
Melihat ada video call dari Rafael, membuat Reva pun segera mengangkatnya. Tetapi Reva terkejut karena wajah Rafael yang terpampang di layar terlihat babak belur. Pria itu pun seperti sedang ada di rumah sakit.
"Rafael, kamu kenapa?" tanya Reva langsung.
["Tadi sempat kecelakaan,"]
"Ya ampun, kecelakaan apa?"
["Bus saat akan berangkat ke Kampus, tapi aku baik-baik aja kok. Untungnya gak ada korban jiwa, cuman ya banyak yang luka-luka kaya aku."]
__ADS_1
Perlahan kedua mata Reva berkaca-kaca, "Bohong, itu muka kamu luka-luka gitu. Pasti yang lain juga ada yang luka, kan? Tangan atau kaki?"
["Sebenarnya kaki kiri aku juga agak sakit, tadi ke himpit sama kursi. Kata dokter mungkin jalan aku harus dibantu tongkat untuk beberapa waktu dulu."]
Mendengar jika benar suaminya itu terluka parah, membuat Reva pun tidak bisa menahan tangisannya lagi. Ia menundukan wajahnya lalu terisak, dadanya terasa sesak. Merasa sedih saja dengan kejadian buruk yang menimpa Rafael.
["Sayang jangan nangis, aku gak papa kok."] Rafael terlihat jadi panik di sebrang sana, ingin sekali memeluk Reva kalau bisa.
"Hiks kamu kenapa gak hati-hati sih? Pasti kamu selalu lebih mentingin orang lain, seharusnya kamu juga jaga diri kamu sendiri!" isak Reva.
["Namanya juga musibah, gak ada yang tahu. Bus tadi remnya blong, jadi gak bisa dikontrol supir. Sudah ya Reva jangan nangis, aku mohon."]
Bukannya berhenti menangis, Reva malah semakin terisak dan menangis keras. Reva merasa sedih dan kesal di waktu bersamaan, karena Ia tidak bisa berada di samping Rafael sekarang yang sedang membutuhkannya. Mereka terpisah jarak yang jauh.
Ceklek!
"Loh Reva, kamu kenapa?" tanya Intan panik melihat anaknya itu menangis. Suara tangisnya sampai terdengar keluar kamar, Intan pun segera menghampirinya.
"Reva kamu kenapa sayang? Kok nangis?" tanya Intan sambil merendahkan tubuhnya dan merangkul bahunya.
"Hiks Rafael," isak Reva, merasa tidak sanggup menjelaskan.
Intan pun melirik ponsel Reva, dan ternyata perempuan itu sedang video call dengan Rafael. Intan juga sempat terkejut melihat menantunya itu yang ter luka-luka, Rafael pun menjelaskan dengan baik kepadanya. Intan sekarang jadi mengerti kenapa putrinya ini menangis.
"Sudah ya sayang jangan nangis lagi, Rafael bilang dia gak kenapa-napa kok. Mama tahu kamu khawatir sama dia, tapi Rafael pasti bisa jaga dirinya sendiri," ucap Intan mencoba menenangkan.
"Tapi aku gak bisa jagain dia," gumam Reva lirih.
"Rafael bilang dia malah lebih khawatir sama kamu, bahkan dia sempat bilang nyesel karena hubungin kamu saat kondisinya seperti itu. Dia khawatir kamu jadi kepikiran lalu buat bayi kamu gak nyaman. Sudah ya jangan terlalu sedih, kasihan baby nya." Intan terlihat sabar sekali saat menjelaskan.
Akhirnya Reva pun mengangguk dan mulai menghentikan tangisannya, walau masih sesekali terisak. Benar juga Ia jangan terlalu banyak pikiran, kasihan bayinya.
__ADS_1