
Semuanya bersiap di tempat persembunyian saat mendengar mobil yang dikendarai Ayah terparkir di depan halaman rumah. Saat pintu utama terbuka, mereka semua langsung menunjukan diri sambil bersorak dan mengucapkan selamat. Lampu yang dimatikan tadi pun kembali dinyalakan.
"Selamat ulang tahun Ayah," ucap mereka nersamaan.
Pria paruh baya yang baru masuk ke rumah itu terkejut mendapatkannya, "Astaga, Ayah kaget banget," ucapnya sambil mengelus dada, membuat mereka semua pun tertawa.
Alisa langsung menghampiri suaminya itu sambil memegang kue tart spesial yang di pesannya. Sedangkan yang lain bertugas menyanyikan lagu ulang tahun dengan gembira dan riangnya. Ayah yang melihat kehangatan itu dibuat tersenyum dan terharu sendiri, terlihat kedua matanya pun berkaca-kaca.
"Selamat ulang tahun ya Ayah, Bunda berdoa yang terbaik untuk Ayah. Yang paling utama Ayah selalu sehat dan semoga pekerjaannya selalu dilancarkan," ucap Alisa sambil tersenyum tulus.
"Iya sayang, terima kasih ya."
Melihat pasangan yang sudah tidak muda lagi itu berpelukan, membuat Reva dan Rafael tersenyum canggung sambil melirik satu sama lain. Reva menatapnya dengan senyuman, merasa iri pada hubungan mertuanya yang masih tentram hingga tua. Katanya kalau sudah tua itu sudah tidak romantis, tapi mereka mematahkan perkataan itu.
"Mau dipeluk juga?" bisik Rafael di sebelahnya.
"Sama siapa? "
"Ya sama aku lah, ayo kita pelukan juga," goda Rafael sambil menaik turunkan alisnya.
"Huh itu mah mau kamu," dengus Reva. Bibirnya berkedut berusaha menahan senyuman, Rafael itu memang sekarang jadi sering menggodanya.
Setelah Ayah dan Bunda selesai berpelukan, Anak-anak pun menghampiri dan ikut memberikan selamat. Tidak lupa juga mereka memberikan kado yang sudah disiapkan. Saat Ayah membukanya, terlihat senyuman bahagia di wajah pria paruh baya itu.
"Maaf Bunda gak ngado apapun untuk Ayah," ucap Alisa dengan ekspresi tidak enak.
"Gak papa, Bunda sudah kerja keras siapin kejutan ini untuk Ayah aja sudah cukup."
__ADS_1
"Tapi anak-anak juga bantu nyiapin, mereka juga ngado."
Suaminya yang melihat wajah sendu istrinya pun mendekat lalu merangkul bahunya, "Hadiahnya Ayah bisa minta nanti malam hehe," bisiknya di telinganya. Keduanya pun tertawa kecil bersamaan.
Rafael dan Reva saling bertatapan, merasa bingung apa yang mereka bicarakan sampai tertawa seperti itu. Tetapi Alisa menghentikan keheningan itu dan mengajak semuanya untuk makan. Pembantu dan penjaga rumah pun sampai diajak, agar lebih ramai merayakan syukuran ini.
"Makasih ya untuk semuanya yang sudah bantu nyiapin, saya seneng banget. Padahal sudah tidak lagi muda, tapi sampai dirayakan begini," ucapnya sambil tersenyum canggung.
"Gak papa Ayah, kan biar romantis," celetuk Rafael. Melihat orang tuanya yang akur begitu pasti selalu membuat anak ikut bahagia.
"Tapi kan Ayah gak usah sampai di hias ruangan juga, cukup makan nasi kuning aja sudah cukup. Kalau kamu masih mending karena masih muda."
Rafael lalu melirik Reva yang sedang makan di sebelahnya, "Iya nanti juga katanya Reva bakal nyiapin kejutan kaya gini, tapi pasti lebih mewah dari Ayah," sahutnya sambil mengkode.
Reva hanya menggelengkan kepala melihat tingkat kepercayaan suaminya itu, tapi sebenarnya sudah pasti juga Ia akan melakukan itu untuk pasangannya. Hanya saja Reva tidak mau terlalu menunjukan, nanti namanya bukan kejutan dong.
"Oh iya gimana persiapan kalian melanjutkan ke Universitas?" tanya Ayah di sela makannya.
"Jadi apa kamu serius akan kuliah di sana Rafael? Sudah kamu pikirkan baik-baik lagi?"
"Aku sebenarnya pengen banget, itukan mimpi aku dari dulu. Tapi kan belum pasti juga karena pengumuman diterima enggaknya belum keluar, aku masih nunggu." Keputusan Rafael tidak berubah untuk masuk ke Universitas di Amerika.
"Lalu kalau misal kamu diterima, berarti kamu akan pergi?" Kini giliran Bunda yang bertanya.
"Aku harus pergi lah, aku malah akan sangat senang kalau benar sampai diterima di sana." Rafael mengungkapkannya tanpa merasa terbebani sedikit pun.
"Lalu bagaimana dengan Reva?"
__ADS_1
Reva yang dari tadi terdiam tersentak saat namanya disebut, "Aku juga di sini kan kuliah Bunda," sahutnya.
"Tapi masa kalian bakalan LDR." Membayangkan itu, membuat Alisa jadi tidak bisa tenang sendiri. Kalau misal hanya sebatas pacaran menurutnya biasa saja, tapi kan ini mereka sudah menikah.
"Kayanya Rafael akan diterima kuliah di sana, dia kan pintar dan berbakat. Impian dia masuk Harvard juga sangat besar, jadi aku gak akan halangin cita-cita dia itu." Reva berusaha tersenyum saat mengatakannya, padahal hatinya nyesek sekali.
"Kamu yakin Reva bisa berjauhan dengan Rafael? Padahal kalian baru jadi pengantin baru, tapi masa sudah LDR begitu." Alisa dan suaminya terlihat terbebani memikirkan nasib hubungan anak-anak nya itu.
Reva ikut menunduk dengan perasaan campur aduk nya. Sebenarnya Ia tidak rela sepenuhnya jika sampai berjauhan dengan Rafael, tapi Reva berusaha kuat dan menerima semuanya karena Ia tahu cita-cita Rafael itu sangat tinggi untuk bisa kuliah di sana. Reva tidak akan bisa menahannya, bahkan mungkin dengan cara apapun juga.
"Gimana kalau Reva ikut Rafael ke sana?" bujuk Alisa masih berharap, menggunakan berbagai cara agar mereka tidak terpisahkan.
"Aku gak tahu Bunda," jawab Reva lirih. Ia juga sangat bingung, kenapa sih mereka harus terjebak dalam masalah seperti ini?
Setelahnya makan malam itu pun hening, mereka terlihat fokus pada makanan masing-masing. Para perempuan masih di dapur membereskan semua bekas makan-makan, sedangkan Rafael dan Ayahnya di halaman belakang sambil menikmati udara malam yang sejuk.
"Rafael, memangnya kamu tidak masalah kalau sampai meninggalkan Reva di Indonesia?" tanya Ayahnya.
"Dia tidak akan kenapa-napa, lagi pula kan kami juga pasti sama-sama fokus belajar."
Jawaban ringan itu, membuat Ayahnya menghela nafas berat merasa putranya itu terlalu menanggapi santai, tidak memikirkan ke depannya, "Bukan begitu Rafael, tapi kan kalian suami istri. Tolong mengerti kata-kata itu."
"Sepertinya banyak juga yang lain seperti aku, kami harus berpisah untuk melanjutkan pendidikan masing-masing. Aku pikir akan baik-baik saja, asalkan kita saling mempercayai saja." Rafael berusaha meyakinkan dengan kata-kata bijaknya itu.
"Ya sudah terserah kamu, Ayah juga gak bisa larang." Sebenarnya impian putranya itu bagus untuk bisa kuliah di Harvard, hanya saja kan kini statusnya sudah tidak lajang lagi. Ada seseorang yang menjadi tanggung jawabnya, karena jika ditinggalkan bagaimana nasibnya?
"Tapi ingat ya, kamu juga harus bicara dengan Reva. Minta pendapat dia apa dia beneran ikhlas izinin kamu pergi atau enggak. Ayah cuman gak mau hubungan kalian merenggang karena ini."
__ADS_1
"Iya tenang saja, aku yakin Reva juga bakalan izinin."
Tanpa mereka ketahui, Reva sudah beberapa saat berdiri di ambang pintu mendengarkan. Perasaannya terasa mengganjal mendengar percakapan itu. Di satu sisi ada rasa lega karena Ayah mertuanya terlihat perhatian kepadanya, tapi juga sedih karena Rafael terlihat tidak mengerti bagaimana perasaannya yang sebenarnya.