Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
80 Bertemu Dia Lagi


__ADS_3

Pukul delapan malam pasangan suami istri itu baru berangkat ke sebuah Kafe bar ternama yang ada di Jakarta, dimana dilaksanakan nya acara pesta prom night itu. Kafe bar itu memang sengaja disewa, jadi yang datang kesana hanya angkatan dua belas sekolahnya saja.


"Kamu sudah cantik, kenapa lihat cermin terus sih?" tanya Rafael sedikit ketus, pria itu sedang menyetir tapi sesekali melirik Reva di sebelahnya.


"Ya takut aja make up nya crack," sahut Reva tanpa menatapnya.


"Tapi udah cantik kok, make up nya juga udah pas. Jangan tambahin lip tin, udah merah itu bibir kamu." Rafael segera merebut salah satu make up yang Ia kenali khusus untuk bibir itu, Ia pun memasukannya ke dalam dasbor mobil.


"Ih balikin," rengek Reva.


"Mau ngapain sih? Bibir kamu itu udah merah astaga!" Rafael sampai frustasi sendiri melihat Reva yang malam ini terlihat sangat berbeda dari biasanya. Kalau bisa ingin Rafael tahan saja di apartemen, alias mereka tidak jadi pergi. Tetapi sudah pasti Reva itu akan protes tidak mau.


"Tambahin sedikit lagi," ucap Reva.


"Enggak, sudah itu cukup."


Hembusan nafas berat keluar lewat celah bibir Reva, Ia pun melipat kedua tangannya di dada melihat sikap Rafael. Apa salahnya sih jika Ia berdandan cantik? Kan pria itu juga pasti akan merasa bangga memilikinya, tapi dari tadi sikapnya sensitif sekali.


Sesampainya di tempat acara, keduanya langsung turun. Terlihat ada beberapa teman mereka pun baru datang, ada yang menyapa dan ada pun tidak. Reva lalu menggadeng tangan Rafael dan masuk bersama ke dalam Kafe bar itu.


"Wah ternyata udah rame ya," pekik Reva melihat keadaan di dalam. Matanya berbinar melihat suasana di sana yang ramai dan seru, hingar bingar musik pun menggema dengan hiasan lampu yang kerlap-kerlip.


"Dimana temen-temen kamu? " tanya Rafael.


"Gak tahu, kenapa?"


"Mungkin aja mau kumpul sama mereka."


"Terus lo gimana?" tanya Reva jika dirinya pergi, bukankah pria itu tidak punya cukup banyak teman?


"Aku mau ketemu anggota OSIS yang pernah se jabatan dulu, kita kan bakal buka acara ini dulu."


"Oh iya juga." Reva hampir lupa jika suaminya itu dulu adalah sekertaris OSIS, "Ya sudah sana pergi, gue juga mau nyari Tata sama Ica."


"Oke nanti kita ketemu lagi." Rafael pun sempat mengusap kepalanya sebelum pergi meninggalkan Reva. Reva memperhatikan sekitar yang ramai, memfokuskan matanya berusaha mencari kedua sahabatnya itu.


"Ck mereka dimana sih?" Batinnya sambil menelusuri tempat itu sedang mencari.

__ADS_1


Tetapi karena terlalu fokus menatap layar ponselnya, membuat Reva jadi tidak fokus berjalan sampai menabrak seseorang. Reva langsung mengangkat kepala untuk meminta maaf, tapi bibirnya malah terdiam melihat yang ternyata bertabrakan dengannya adalah Lucas.


"Hai Reva, sudah lama ya gak ketemu," sapa Lucas sambil melambaikan tangannya sedikit, pria itu tersenyum lebar walau sedikit kikuk.


"Lo datang kesini?" Reva malah menanyakan hal itu, bukannya membalas sapaan Lucas.


"Iya, harus dong. Ini kan acara terakhir perpisahan kita, masa aku gak datang," jawab Lucas.


"Lo gak pernah datang ke sekolah lagi." Dan semenjak itu pun Reva tidak pernah bertemu lagi dengan Lucas, terakhir mereka bertemu saat menyelesaikan masalah itu saja.


"Iya lagian kan ujiannya juga udah selesai, aku males ke sekolah juga gak ngapa-ngapain," sahut Lucas.


Lucas lalu memberanikan diri mengajak Reva duduk di sebuah kursi agar mereka bisa mengobrol lebih santai. Awalnya Lucas merasa gugup karena khawatir ditolak, tapi tanpa diduga Reva menerimanya. Sebelum melanjutkan obrolan, keduanya pun sempat memesan minuman non alkohol karena memang tidak disediakan.


"Gimana kabar kamu?" tanya Lucas bertanya lagi.


"Gue baik, lo?"


"Gak terlalu baik, tapi sekarang masih tahap nyembuhin hati sih." Setelah mengatakan itu, Lucas tertawa kecil entah apa maksudnya.


"Lo pasti dendam kan sama gue?"


"Iya, karena gue ngaduin kelakuan lo ke orang tua lo. Gue--"


"Oh itu, gak sampai dendam juga kok," sela Lucas lalu meminum sedikit jusnya.


"Masa?"


"Cuman emang aku kecewa sama Reva," lanjut Lucas menjelaskan, "Sekarang hubungan kita pun selesai, aku benar-benar kehilangan kamu."


Reva yang duduk bersebelahan dengan Lucas bisa melihat ekspresi wajah pria itu yang menjadi sendu dan tersenyum getir. Reva sampai meremas gelasnya merasa bersalah dan tidak enak, tapi keputusannya ini sudah benar karena Ia sudah tidak tahan lagi berpura-pura seperti itu terus.


"Tapi kita masih bisa temenan," ucap Reva pelan tapi masih bisa didengar Lucas.


Lucas menoleh menatapnya, "Serius nih?"


"Hm, kalau lo mau."

__ADS_1


"Ya mau lah, gak nyangka aja Reva masih nerima aku. Bukannya Reva benci banget ya sama aku?"


"Itu dulu, tapi sekarang biasa aja," jawab Reva tanpa beban.


"Oh ya?"


Trak!


Reva baru teringat sesuatu, Ia menyimpan gelas kecilnya sedikit kasar di meja. Perempuan itu lalu menatap Lucas dengan tatapan sulit di artikan, mumpung berdua dengan pria itu jadi Reva akan menanyakan dan meminta penjelasannya sekarang.


"Tapi gue sedikit sebel sama lo," celetuk Reva.


"Sebel kenapa?"


"Lo nyebarin rahasia itu, ya gue tahu sih karena itu konsekuasinya karena hubungan kita pun udah selesai. Jadi apa lo puas udah nyebarin berita tentang gue di sekolah?"


Kernyitan terlihat di kening Lucas, "Berita apa emangnya?"


"Ck jangan pura-pura bego gitu deh, apalagi lah kalau bukan gue udah nikah sama Rafael," dengus Reva. Melihat ekspresi bingung Lucas, membuat Reva gemas sekali ingin menjitak keningnya kalau bisa.


"Tunggu, jadi rahasia hubungan kamu sama Rafael udah kesebar di sekolah? Semua orang udah tahu kalian suami istri?" tanya Lucas dengan suara lebih keras, ekspresi wajahnya terlihat terkejut sekali.


"Iya lah, kan lo yang nyebarin." Kenapa juga pria itu terlihat pura-pura terkejut begitu? Padahal Reva sudah yakin Lucas lah pelakunya yang menyebarkan.


"Kok aku?"


"Iya lah, selain lo yang tahu itu gak ada siapapun lagi. Beritanya juga langsung kesebar setelah kita putus."


"Tapi sumpah bukan aku," bantah Lucas sampai mengangkat tangan kanannya seolah menunjukan reaksi seriusnya.


Reva terdiam beberapa saat, "Serius bukan lo? Jangan bohong deh!"


"Beneran Reva, serius bukan aku. Aku kan dari saat itu gak pernah ke sekolah lagi, aku juga baru tahu kalau hubungan kamu dan Rafael sudah kesebar di sekolah." Lucas terlihat serius sekali mengatakannya, tidak ada kebohongan sedikit pun di matanya.


"Bisa aja lewat sosial media gitu?"


"Enggak sumpah, aku beneran gak nyebarin rahasia kamu itu."

__ADS_1


Perasaan cemas perlahan hinggap di dada Reva, tiba-tiba perasaannya jadi tidak enak begitu saja, "Tapi bukannya ancaman lo itu ya? Kalau kita selesai, otomatis rahasia gue juga bocor."


"Memang, tapi.. Sebenarnya aku juga gak setega itu Reva. Aku sangat menikmati hubungan kita, aku cuman nakut-nakutin kamu aja." Karena Lucas akan sedih sendiri jika semua orang pun tahu miliknya ternyata sudah menjadi milik orang lain.


__ADS_2