
"Terus kalau bukan lo.." Sebelum Reva melanjutkan perkataannya, terdengar deheman keras di belakang punggung mereka.
"Ekhem!" Tatapan Rafael terlihat dingin saat menemukan istrinya itu sedang berduaan dengan lelaki lain, parahnya lagi mereka sempat menjalin hubungan. Rafael memutuskan menghampiri karena khawatir terjadi sesuatu.
"Rafael," panggil Reva sambil tersenyum canggung.
"Lagi ngapain?" tanya Rafael dengan ekspresi wajah tetap datarnya.
"Cuman ngobrol, gak sengaja ketemu." Entah kenapa Reva jadi merasa gugup sendiri, seperti ketahuan sedang selingkuh, padahalkan tidak seperti itu.
"Ngobrolin apa emangnya?" Rafael terlihat terus mengintimidasi, berjaga-jaga saja.
Lucas berdiri dari duduknya lalu memgulurkan tangan kanannya, "Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabar kamu Rafael?" tanyanya berusaha ramah.
Untuk menjaga sopan santun, Rafael pun membalas jabatan tangan pria itu, "Baik, kita baru bertemu lagi."
"Iya, selesai ujian aku tidak pernah ke sekolah lagi." Lucas tersenyum kikuk sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Sayang sekali, padahal ada berita heboh di sekolah." Rafael seperti menyindir Lucas, berusaha mengingatkan pria itu pada kejadian dulu jika dirinya pun pernah diledek.
"Berita heboh ya, hm aku sudah tahu dari Reva," sahut Lucas sambil tetap berusaha tersenyum. Apakah Rafael akan mengungkap semuanya?
"Oh ya? Bagus deh kalau begitu, tapi kamu juga memang sudah lebih awal tahu dari pada mereka, kan?"
"Hah?"
Rafael menarik sebelah sudut bibirnya, "Sebenarnya aku marah karena kamu bersikap seperti itu pada Reva, memanfaatkan dia dan mengancamnya. Tapi aku juga tidak suka kekerasan, walau begitu bukan berarti aku terima saja semua perlakuan kurang ajar kamu pada dia." Suara Rafael terdengar dingin sekali, dengan tatapan tajamnya.
"Aku minta maaf." Lucas mengakui kesalahannya, Ia harus menurunkan perasaan gengsinya ini untuk meminta maaf.
"Jangan minta maaf padaku, tapi pada Reva," ucap Rafael.
Reva menghela nafasnya berat melihat aura tidak nyaman di sana, obrolan mereka pun terdengar serius sekali. Ia dari tadi hanya diam karena tidak tahu harus bagaimana, mungkin Rafael dan Lucas memang butuh waktu untuk saling bicara.
"Aku minta kamu jangan ganggu Reva lagi," ucap Rafael.
__ADS_1
Lucas mengangguk pelan dengan berat hati, "Tenang saja, aku tidak akan mengganggu hubungan kalian. Lagi pula sebentar lagi aku akan pergi, aku akan kuliah di Amerika." Mungkin dengan pergi jauh, bisa membuat Lucas mengobati patah hatinya ini dan melupakan Reva.
"Kamu jadi ternyata kuliah di sana," gumam Reva sambil tersenyum. Masih ingat jika pria itu sempat akan menolak karena tidak ingin meninggalkannya, tapi akhirnya Lucas memutuskan yang terbaik.
"Iya, apa kamu senang?" tanya Lucas.
"Tentu saja senang, aku yakin di sana kamu akan lebih sukses," jawab Reva tanpa memikirkan perasaan Lucas yang sebenarnya menginginkan perempuan itu menahannya.
"Selamat, semoga lancar," ucap Rafael.
Lucas mengangguk, "Iya, kalian juga." Sebelum pergi, Lucas ingin mengatakan sesuatu, "Rafael, aku titip Reva ya. Semoga kalian bisa menjadi pasangan yang saling mengasihi." Sungguh, berat sekali bagi Lucas mengikhlaskan semuanya. Tetapi Ia sadar jika Reva memang bukan miliknya.
"Tanpa kamu beritahu pun, aku akan selalu menjaga dia dengan baik. Aku suaminya, sekarang Reva tanggung jawabku," celetuk Rafael membuat Lucas tertunduk malu.
"Baiklah kalau begitu, aku percaya kau bisa menjaganya dengan baik. Entah kapan kita akan bertemu lagi." Lucas juga merasa bodoh mengatakan itu, toh Ia tahu jika Rafael memang laki-laki yang baik. Lucas hanya merasa khawatir saja jika meninggalkan Reva, tapi semoga perempuan itu selalu bahagia.
"Nanti kita bertemu lagi setelah kamu punya pacar ya," sahut Reva sambil tersenyum menggodanya.
Lucas terkekeh kecil, "Iya, aku akan cari bule di sana."
"Haha iya, kalian pasti akan cocok. Nanti jangan lupa kenalkan pada kami."
Reva melirik Rafael, ekspresi wajah pria itu pun sudah tidak se datar tadi lagi, "Lo tadi kelihatan galak sama si Lucas," celetuknya.
"Masa?" tanya Rafael balik.
"Iya, kaya bukan Rafael aja."
Rafael terlihat menghela nafasnya, "Ya mau gimana lagi, sebenarnya aku tuh marah banget sama dia. "
"Gara-gara itu?"
"Iya lah, berani-beraninya dia ngancam kamu. Untung aja kamu gak dibawah kuasa dia terus dan berani ngelawan, kalau enggak kayanya sampai kapan pun gak akan pisah." Dari nada suara Rafael terdengar ketus, seperti menahan marah.
"Iya-iya, lagian masalahnya juga sudah selesai."
__ADS_1
"Kamu sudah maafin dia?" tanya Rafael.
"Kayanya gitu, lagian Lucas juga gak suka gangguin gue lagi. Dia kayanya bener-bener nurut sama perintah Papanya, mungkin takut."
"Baguslah, jangan sampai dia gangguin kita lagi."
Rafael pun menarik Reva ke tengah ruangan, menari bersama banyak teman lainnya. Suasana di sana semakin ramai, ditambah musik dj yang menggema memekakan telinga. Keduanya pun terlihat tidak malu-malu lagi menunjukan kebersamaan, padahal banyak yang memperhatikan.
"Aku kira tadi kamu lagi ngapain sama dia, makanya aku samperin," ucap Rafael kembali membuka suara.
"Emangnya lo ngira gue sama Lucas tadi lagi apa?" tantang nya.
"Mungkin aja dia yang ngancam kamu lagi."
"Enggak mungkin lah, gak lihat wajah memelas dia tadi?"
Rafael mengingatnya dan itu membuatnya merasa aneh saja karena Lucas tidak seperti biasanya, "Kayanya dia masih patah hati putus dari kamu."
"Putus apaan? Gue juga terpaksa jadian sama dia."
"Tapi pasti gitu aja tetep buat si Lucas seneng." Rafael bisa melihatnya sendiri saat mereka masih menjalin hubungan bersama, Lucas selalu berbinar dan bahagia di samping Reva. Ya walau ekspresi istrinya berbanding terbalik dengan Lucas.
"Kayanya, sudahlah gak usah bahas dia lagi," dengus Reva. Lucu saja jika mereka kembali ribut nanti hanya karena membahas ini, baru juga baikkan.
Merasa lumayan lelah karena menari ria dari tadi, membuat Rafael dan Reva menyampir ke sisi untuk sekedar minum. Tidak terasa waktu pun berjalan dengan cepat, tapi suasana di sini masih ramai dan malah semakin ramai.
"Aku baru pertama kali ke tempat begini, jadi klubbing itu gini ya?" tanya Rafael polos.
Reva tidak bisa menahan tawanya mendengar itu, "Dasar anak kecil, ya enggak juga lah," bantah nya.
"Hah terus di klub itu gimana?"
"Kalau di klub itu suasananya lebih hot, di sini mah bukan apa-apa. Ditambah ada alkohol, banyak yang minum sampai gak sadarin diri. Terus juga mereka pada gak malu mesra-mesraan, bahkan sama orang asing sekali pun." Saat menceritakannya, Reva terlihat banyak tahu sekali.
Tatapan Rafael memicing, "Reva sering klubbing ya?" tuduh nya. Perasaan tidak terima pun perlahan hinggap, membayangkan Reva melakukan itu di sana bersama orang asing.
__ADS_1
"Gak sering, tapi sebelum nikah pernah beberapa kali." Sebelum Rafael protes dan marah, Reva pun kembali melanjutkan, "Tapi kita gak aneh-aneh kok, lagian ke sananya juga sama Tata Ica kali."
"Awas aja kalau Reva sampai gitu lagi," ancam Rafael galak.