Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
112 Panik Sendiri


__ADS_3

Sore itu Reva sedang mengajak Celine main di taman yang tidak jauh dari apartemen. Evan memang belum mendapatkan lagi babysitter baru, jadi setelah pulang kuliah biasanya Reva yang akan menjaga Celine karena Neneknya harus pulang lagi ke rumah.


"Kak Reva, aku mau arumanis dong," pinta Celine sambil menunjuk penjualnya yang berada di sebrang jalan.


"Beneran mau?" Reva sedang mendorong pelan ayunan yang di duduki anak kecil itu, terlihat benar-benat seperti pengasuh.


"Iya, bolehkan?"


"Boleh kok, ya sudah sebentar Kakak beliin dulu. Jangan ke mana-mana ya."


"Okey Kak, jangan lama."


"Iya."


Keadaan di taman sore itu seperti biasa selalu ramai, jadi mungkin Reva merasa akan aman-aman saja. Ternyata cukup lama menunggu arumanis itu selesai dibuat, apalagi tadi harus mengantri dengan dua orang anak. Setelah mendapatkannya, Reva pun kembali menghampiri Celine. Tetapi senyumannya langsung menghilang karena tidak menemukan anak itu di tempatnya.


"Loh, kemana Celine?" tanya Reva bingung. Ia memperhatikan sekitar, tapi Celine tidak ada juga. Perlahan perasaan cemas pun hinggap karena Reva khawatir Celine menghilang.


"Tolong Kak Reva!"


Teriakan familiar khas anak kecil itu membuat perhatian Reva teralih, terlihat di kejauhan seseorang yang sedang menggendong Celine dan berjalan cepat pergi. Reva memberikan arumanis itu begitu saja pada anak kecil di dekatnya, setelahnya Ia berlari untuk menyusul.


"Hei lepasin Celine!" teriak Reva. Menyadari dirinya mengejar, orang itu pun mulai berlari dan terjadilah aksi saling kejar.


"Tolong ada penculik!" Reva berteriak yang menarik perhatian orang di sekitar sana. Reva lalu menunjuk penculik yang memakai pakaian tertutup itu, dan beberapa orang pun mulai ikut membantunya mengejar.


Tetapi karena sanking terburu-buru dan tidak fokus, saat menyebrangi jalan Reva pun hampir tertabrak sebuah mobil. Untungnya saja si pengendara dengan cepat mengerem, namun Reva yang terlalu terkejut sampai terduduk di aspal dengan mata terpejam. Nafasnya sampai tidak teratur karena dirinya hampir celaka.


"Ya ampun, kamu baik-baik saja?" tanya seorang wanita yang sepertinya hampir menabraknya tadi.

__ADS_1


Reva mengangguk pelan walau kesadarannya belum terkumpul sempurna sanking terlalu syok, "I-iya gak papa."


"Lain kali hati-hati, kenapa nyebrang nya gak lihat jalan?"


"Itu adik saya, adik saya diculik." Astaga Reva hampir melupakan ini, Ia pun melihat ke arah dimana tadi si penculik itu lari. Sialnya sudah terlihat, sepertinya sudah pergi jauh. Berharap semoga para warga berhasil menangkapnya.


"Ya ampun adik kamu beneran di culik?" pekik wanita itu terkejut sendiri. Ia pun tidak jadi memarahi remaja muda itu setelah tahu alasannya.


"Iya, aduh gimana nih? Mereka sudah jauh."


"Ya sudah kalau gitu ayo naik ke mobil saya, saya ikut cari ya," ajak wanita itu.


Merasa tawarannya cukup menguntungkan dan bisa membantu Reva lebih cepat, akhirnya Ia pun terima. Segera keduanya pun masuk ke dalam mobil, dan wanita itu mengendarai mobilnya dengan cepat. Reva memperhatikan sekitar jalan berusaha mencari keberadaan nya. Melihat ada beberapa kumpulan warga yang mengerubun, membuat Reva pun menduga jika sepertinya sudah tertangkap.


"Berhenti di sana Bu, kayanya penculiknya sudah ditangkap," ucap Reva sambil menunjuk ke trotoar.


"Celine, kamu gak papa?" tanya Reva mendekat, Ia pun mengambil alih menggendongnya. Mendengar Celine yang semakin terisak, membuat dada Reva sampai bergetar, "Syutt sudah ya jangan takut, sekarang Kakak di sini."


"Hiks Kak Reva."


"Iya ini Kakak, maaf ya Kakak baru temuin kamu." Rasanya Reva merasa bersalah sekali sudah meninggalkan anak kecil itu sendirian tadi, tapi siapa yang tahu kalau kejadian buruk ini akan terjadi. Hanya saja Reva kurang ber hati-hati, jadi membuatnya merasa bersalah.


"Pak dimana penculiknya?" tanya wanita dewasa yang tadi mengantar Reva.


"Tuh itu, dia perempuan dan kelihatan masih muda," jawab salah seorang warga sambil menunjuk seorang perempuan yang sedang dipegangi tangannya agar tidak kabur.


Saat Reva bertatapan dengan si penculik itu, kedua matanya terbelak sebentar. Tatapannya tidak lama memicing menjadi tajam, Tiba-tiba merasa kesal begitu saja. Reva pun berjalan mendekat untuk berbicara.


"Heh Nana, apa-apaan kamu ini?!" tanya Reva menyentak dengan suara kerasnya. Jadi mantan babysitter nya sendiri yang hampir menculik Celine, kurang ajar sekali.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara kamu," balas Nana tidak mau kalah sambil membalas tatapan tajam nya.


"Apa sih?" tanya Reva bingung.


"Gara-gara kamu yang ikut campur, aku jadi dipecat dan sampai sekarang gak punya pekerjaan. Kamu itu sok sekali Reva, sombong!"


Reva mendengus kasar, "Hei tolong sadar diri ya, kamu dipecat karena memang tidak becus kerja. Kenapa jadi nyalahin aku?"


"Kamu itu orang asing Reva, kenapa sok-sok an sekali ikut campur sih? Kalau saja tidak kenal kamu, mungkin aku tidak akan bernasib buruk begini." Nana terlihat emosi sekali, tidak mengaca pada kesalahannya sendiri.


Sedangkan Reva yang melihat sikap keras kepala Nana hanya menggelengkan kepala, benar-benar tidak habis pikir saja ada orang seperti itu. Sepertinya Nana sangat dendam kepadanya karena sudah membuatnya dipecat Evan, tapi kenapa sampai menculik Celine? Apa maksudnya?


"Pak tolong bawa dia ke kantor polisi aja ya, nanti saya akan laporin ke orang tua Celine supaya kasusnya di tangani," pinta Reva pada salah seorang warga, dan mereka pun langsung menyeret Nana pergi dari sana.


Setelah kepergian Nana, Reva menghela nafasnya berat sambil tetap mengusapi punggung Celine yang masih sesekali terisak. Tetapi sepertinya anak kecil itu tertidur, hembusan nafas di bahunya terasa teratur. Kasihan sekali Celine, pasti kesalahan fisik dan batin sudah menghadapi kejadian buruk seperti ini.


"Kalian baik-baik saja?" tanya wanita yang tadi mengantarnya, ternyata belum pergi.


"Iya baik-baik saja, syukurnya belum pergi jauh jadi cepat tertangkap," jawab Reva sambil tersenyum lebar. Tidak terbayang jika sampai Celine benar-benar menghilang, perasaan bersalah Reva akan semakin besar.


"Terus adik kamu gak kenapa-napa kan? Terluka gak dia?" Wanita dewasa itu terlihat khawatir, bahkan sempat mengusap kepala Celine.


"Nanti aku akan cek Tante di apartemen. Makasih ya sudah anterin tadi." Mungkin jika tidak diantar dengan mobil, bisa-bisa Reva kehilangan jauh.


"Bukan apa-apa, tadi juga kan saya hampir nabrak kamu," balas wanita itu.


"Iya sih, tapi kan aku yang ceroboh." Reva baru teringat sesuatu, Ia pun mengulurkan tangan kanannya, "Nama aku Reva, kalau Tante siapa?"


Wanita itu membalas jabatan tangannya, "Kalau nama saya Intan, senang bertemu dengan kamu Reva."

__ADS_1


__ADS_2