
Untuk meluluhkan istrinya yang sedang ngambek, Rafael memasak beberapa makanan kesukaan Reva untuk makan malam nanti. Dari sore Ia sudah berkutat di dapur, terlihat lihai memasak karena memang bisa.
Tok tok!
"Reva ayo makan dulu," teriak Rafael dari luar kamar. Merasa tidak ada tanggapan, membuat Rafael pun membuka pintunya.
"Kyaaa!"
Brak!
Repleks Rafael menutup pintu kembali mendengar jeritan keras dari dalam. Ia meringis pelan merasa ceroboh membuka pintu begitu saja, ternyata di dalam Reva sedang memakai baju. Untung saja hanya melihat sesaat, karena Rafael jadi malu sendiri.
"Ada apa?" tanya Reva baru keluar.
"Em ayo makan."
"Kebiasaan lo main buka pintu aja."
"Tadi aku kan sudah ketuk, tapi kamu gak nyaut. Aku kira kamu gak ada atau lagi tidur, makanya aku buka aja pintunya," ucap Rafael membela diri.
"Tapi gak papa deh lihat aurat gue juga, kita kan halal."
"Hahaha iya." Rafael tertawa canggung sendiri.
Keduanya pun berjalan menuju meja makan. Reva terdiam beberapa saat melihat hidangan makan malam kali ini adalah makanan kesukaannya, segera perempuan itu pun duduk sambil menelan ludah kasar mulai tergiur.
"Lo beli?" tanya Reva.
"Enggak lah, aku yang masak semuanya."
"Beneran?"
"Iya lah, aku sengaja buat masakan kesukaan kamu."
"Kenapa?"
"Biar Reva gak ngambek lagi," jawab Rafael enteng.
Reva mendengus pelan mendengar itu, tapi tidak bisa berbohong merasa sedikit terharu dengan usaha Rafael. Jadi pria itu merasa tidak enak ya dengan kejadian tadi di sekolah? Baguslah kalau berpikir, memang seharusnya juga begitu.
"Makan yang banyak," ucap Rafael.
"Iya, gue laper banget."
Reva juga menyukai masakan Rafael yang enak, ya walau memang tidak seenak Mamanya dan mertuanya. Tetapi kan masih untung di rumah ini ada yang bisa masak, Rafael walaupun statusnya jadi suami pun tidak mempermasalahkan itu.
"Reva," panggil Rafael.
"Hm?"
__ADS_1
"Kamu beneran bakal ajak Lucas ke apartemen?"
Perhatian Reva teralih mendengar itu, "Maksudnya?"
"Tadi di sekolah aku gak sengaja denger obrolan kalian, kamu ngajak dia main ke apartemen. Beneran dia mau kesini?"
Sebelah sudut bibir Reva terangkat, ternyata Rafael menguping, baguslah, "Oh iya dong," jawabnya keras.
"Kapan emangnya?"
"Kapan-kapan, tapi pasti dia bakal kesini. Gak papa, kan?"
"Hah? Ya em.. Gak papa."
Rafael terlihat ragu saat menjawab itu, membuat Reva jadi semakin ingin menggodanya. Kapan lagi memanas-manasi pria itu, selama ini selalu Reva yang cemburu. Memangnya Ia tidak bisa bermain-main juga?
"Ya sudah, nanti kalau si Lucas main kesini, lo jangan di apartemen ya," ucap Reva.
"Hm, terus aku kemana dong?"
"Ya di luar aja, main ke Mall atau kemana gitu. Pokoknya jangan pulang dulu, nanti dia bakal curiga."
"Terus nanti kalian di apartemen bakal ngapain aja?" tanya Rafael yang seperti ingin banyak tahu.
"Gak tahu lah, nanti juga bakal ngalir gitu aja."
"Ekhem tapi nanti jangan aneh-aneh ya di sini."
"Misal kelewat batas gitu, jangan main di kamar juga. Harus di ruang utama aja, jangan sampai masuk kamar."
Reva berusaha menahan senyumannya mendengar itu, rasanya lucu saja saat Rafael memperingati dengan nada yang seperti menahan cemburunya. Benarkah Rafael cemburu? Entahlah, hanya pria itu yang tahu perasaannya.
"Emangnya lo ngebayangin apa gue kalau sama si Lucas ke kamar?" tantang Reva.
Kedua mata Rafael terbelak, "Astaga Reva, jangan bicara sembarangan," tegur nya.
"Ih kan cuma nanya, lagian gak mungkin juga."
"Ya takut aja gitu kalian kebawa suasana, terus malah ngelakuin hal di luar batas. Ingat ya, kamu itu sudah menikah."
"Hahaha iya-iya dasar, gue juga bisa jaga batasan kali." Reva menopang dagunya dengan tangan, "Seharusnya gue yang bilang gitu ke lo."
"Kenapa?"
"Iya lah, lo malah lebih sering deket sama si Dinda. Kalian juga sering berduaan, mau di luar ataupun di dalam ruangan."
Rafael terlihat menghela nafas, "Tapi aku gak pernah aneh-aneh sama Dinda juga, kita lagi barengan karena ngerjain tugas."
"Hm gitu ya."
__ADS_1
"Reva gak percaya?"
Percaya sih, lagi pula Rafael ini bukan terlihat seperti laki-laki kurang ajar. Tetapi tetap saja mau hanya mengerjakan tugas atau apapun, rasanya tidak terima saja saat melihat pasanganmu berduaan dengan lawan jenis lain. Khawatir perasaan di antara mereka semakin berkembang.
"Kayanya Lucas itu suka sama Reva," celetuk Rafael.
"Masa? Dari mana lo tahu?"
"Aku laki-laki dan bisa lihat sih gerak-geriknya, akhir-akhir ini dia sering deketin kamu, kan?"
"Iya sih, tadi aja sempat nawarin bakal ngobatin gue. Terus katanya dia sekali-kali pengen jemput gue berangkat sekolah."
"Tuh kan, kayanya bener. Terus Reva terima ajakan dia?"
"Iya, gue bilang kapan-kapan bisa berangkat bareng."
"Oh."
Hanya itu saja reaksinya? Bukan seperti yang Reva harapkan. Tetapi kalau diperhatikan, ekspresi wajah Rafael sedikit masam dengan bibir bawah tertekuk ke bawah.
"Padahal kita aja belum pernah ya berangkat ataupun pulang sekolah bareng," ucap Rafael sambil melanjutkan makan.
"Iya juga, tapi kan emang harusnya gini, biar orang gak curiga."
"Iya sih bener, tapi ngerasa aneh aja gitu. Padahalkan kita suami istri, tapi gak suka nunjukin di depan umum sampai orang lain pun gak tahu. Terus kita aja bisa deket sama orang lain, dan selalu berpikir gak masalah atau khawatir orang lain curiga. Menurut kamu gimana?"
Reva terdiam beberapa saat mendengar itu, hatinya jadi mencelos begitu saja. Sebenarnya cukup miris mengetahui itu, tapi bukankah ini memang kesepakatan dari mereka ya untuk merahasiakan?
"Reva, apa kamu malu kalau semisal orang tahu aku suami kamu?" tanya Rafael tiba-tiba.
"Hah? Lo ngomong apaan sih?"
"Mungkin aja gitu, aku tahu aku bukan tipe Reva banget."
Kenapa pria itu menyimpulkan sendiri? Sok tahu sekali, batin Reva protes. Memangnya tipenya yang seperti apa? Cowok-cowok novel yang bad boy gitu?
"Kalau suatu saat nanti semua orang tahu kita sebenarnya pasangan, gimana reaksi kamu?" tanya Rafael.
"Kenapa jadi serius gini?"
"Gak tahu, tapi aku cuma penasaran aja."
"Gak tahu, gue gak bisa bayangin saat semua orang tahu kalau sebenarnya kita suami istri. Kaget mungkin ada, tapi memang sudah saatnya juga rahasia itu bocor. Kalau lo sendiri?"
"Aku gak masalah, aku juga gak terlalu peduli sama reaksi orang. Malahan aku lebih mikirin perasaan kamu."
Kenapa sampai sebegitunya?
"Aku cuma khawatir teman-teman kamu itu ngeledek kamu karena menikah sama aku, aku tahu aku jauh banget dari kata sempurna untuk jadi pasangan kamu," lanjut Rafael.
__ADS_1
Tatapan Reva menyendu, merasa terharu saja mendengar jawaban itu. Rafael lebih mementingkan dirinya, bukankah seharusnya pria itu yang lebih bisa menjaga dirinya sendiri sebelumnya? Reva jadi ingin menangis.