
Rafael mendapat kabar dari orang tuanya jika malam ini harus menggantikan undangan ke acara pesta ulang tahun klien kerjanya. Rafael yang memang calon penerus tentu sekalian mengenal orang-orang hebat itu, menambah pengalaman juga sebelum terjun ke lapangan.
"Pokoknya harus ikut, temenin aku," ucap Rafael kekeuh.
"Ih males, di sana juga mau ngapain sih?" ketus Reva.
"Ketemu banyak pebisnis lah."
"Enggak ah, mau ngapain? Ngobrol tentang kerjaan? Bosen banget," keluh Reva.
"Di sana kamu bisa makan-makan, katanya suka pesta begitu."
"Beneran nih banyak makanannya?"
"Iya lah."
"Ya udah deh," desah Reva pasrah.
Perempuan itu beranjak untuk mulai bersiap, Rafael sendiri nanti saja karena dandannya tidak akan selama perempuan. Tetapi merasa Reva tidak suka dandan lama, membuatnya pun memutuskan segera bersiap juga.
Hanya saja ternyata kali ini dandan Reva lumayan lama, bahkan Rafael menunggu setengah jam. Tidak biasanya. Saat perempuan itu keluar kamar dengan penampilan glamor nya, sempat membuat Rafael terpesona.
"Kenapa? Baru nyadar gue cantik?" tanya Reva.
"Ekhem tumben dandan niat kaya gini, biasanya juga suka acuh."
"Kali ini kan beda, mau datang ke pesta formal gitu."
"Tapi kalau Reva dandan gini cantik juga."
"Ck gue emang cantik, kemana aja lo?"
Rafael terkekeh kecil mendengar nada ketus tidak terima itu, tadi Ia hanya sedikit menggoda saja. Rafael sadar kok kalau istrinya itu cantik, hanya kalau sudah berdandan seperti perempuan sungguhan itu lebih cantik dan mempesona.
"Emangnya Ayah kenapa gak bisa datang?" tanya Reva.
"Dia lagi ada kerjaan di luar kota, pulangnya dua hari lagi. Katanya gak enak kalau gak datang, ya udah minta aku wakilin."
"Oh gitu, terus Bunda gak ikut? "
"Enggak lah, katanya aku pergi sama kamu aja."
Acara pesta itu ada di sebuah hotel berbintang, saat sampai langsung di arahkan oleh seorang staff menuju aula tempat di adakannya acara. Ternyata sudah lumayan banyak orang, dan di sana terlihat meriah sekali.
"Huh untung aja pakai baju bener," ucap Reva, "Kebayang kalau tadi pakai celana, pasti langsung diusir."
"Hahaha ada-ada aja kamu Reva," kekeh Rafael.
Sebelum masuk, Rafael meminta Reva menggandeng tangan kirinya lewat tatapan. Reva yang mengerti mendengus pelan namun tetap menuruti. Tentu jika di acara seperti sebagai pasangan harus terlihat romantis.
__ADS_1
"Makanannya banyak, kelihatan enak-enak juga. Yuk makan sekarang," ajak Reva tidak sabaran.
"Nanti dulu, kita temuin temen kerja Ayah dulu lah. Gak sopan banget."
"Ck ya udah cepetan, mana klien kerjanya coba."
"Kita cari bareng-bareng."
Kebetulan Rafael juga pernah sekali bertemu, jadi wajahnya masih familiar. Saat menemukannya, mereka langsung menghampiri dan memberikan salam dengan ramah. Rafael juga memberikan kado titipan Ayahnya.
"Maaf ya Pak Dion, Ayah saya tidak bisa hadir dan jadi saya yang menggantikan," ucap Rafael tidak enak.
"Tidak apa-apa Rafael, Ayah kamu juga sudah menghubungi saya kok. Saya malah senang kamu yang gantikan untuk datang kesini."
"Iya Pak, selamat ulang tahun."
"Terima kasih ya." Perhatian pria paruh baya itu teralih pada perempuan di sebelah Rafael, "Ini siapa?"
Rafael dan Reva saling bertatapan, sekarang mereka harus menjawab apa?
"Perkenalkan nama saya Reva," ucapnya memperkenalkan diri.
Rafael berdehem pelan, "Dia istri saya."
Bukan hanya Dion yang terkejut, tapi Reva juga. Tidak menyangka saja Rafael akan berterus terang begitu, detak jantungnya perlahan menjadi cepat. Tetapi Reva anehnya hanya diam saja, walau hatinya ada sedikit mengganjal.
"I-iya Pak, kami dijodohkan."
"Begitu ya, Om kira masih pacaran saja, tapi ternyata sudah jadi suami istri." Dion lalu menepuk bahu Rafael, "Kamu hebat ya, tidak mudah loh laki-laki menurunkan gengsinya untuk menanggung beban di usia muda begini."
Rafael hanya tersenyum kecil, "Iya Pak, saya juga sedang berusaha menjadi yang terbaik dan bersikap lebih dewasa karena status kami sudah berbeda."
"Tapi kalian terlihat cocok, cantik dan tampan."
"Terima kasih."
Dion lalu memperhatikan sekitar, "Sebenarnya saya ingin kenalkan kalian pada anak saya, dia se usia kalian."
"Benarkah?"
"Iya, baru pulang dari Amerika. Ck tapi kemana dia itu? Dari tadi mondar-mandir tidak bisa diam," gerutu Dion, "Nanti deh kalau Om lihat, langsung suruh temuin kalian ya."
"Iya Pak."
"Sekarang mending kalian nikmati makanan dulu, jangan buru-buru pulang."
Setelah percakapan itu, keduanya berbalik dan mulai memilih beberapa makanan menarik untuk di santap. Setelah merasa cukup, keduanya mencari meja untuk bersantai.
"Kenapa natap aku begitu?" tanya Rafael tidak nyaman.
__ADS_1
"Kenapa tadi lo bilang kalau kita suami istri sih?!" kesal Reva mengeluarkan uneg-unegnya.
"Emang bener gitu kan kenyataannya? "
"Iya sih, cuma-"
"Kenapa? Reva malu ya punya suami kaya aku?"
"Ck mulai deh, kenapa lo bahas itu mulu sih? Gue gak ngerasa gitu perasaan."
Rafael meminum anggurnya sedikit, "Terus kenapa Reva selalu gak mau kalau orang tahu kita suami istri?"
Reva terdiam beberapa saat, tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya campur aduk sekali. Tetapi yang pasti, alasannya di sini bukan karena malu suaminya adalah Rafael. Kenapa juga harus malu? Toh pria itu normal.
"Kita kan masih sekolah, gimana kalau ada yang tahu?"
"Gak mungkin lah, siapa juga yang bakalan tahu? Pak Dion itu klien kerja Ayah, memangnya dia bakalan bocorin rahasia ini ke sekolah? Gak punya kerjaan banget."
Benar juga, batin Reva.
"Sudahlah tidak usah di pikirkan, jangan cemas begitu juga."
"Tapi gue baru kali ini denger lo berterus terang gitu, gak gugup?"
"Lumayan, tapi kalau bohong juga gak enak. Apalagi kan Pak Dion klien kerja Ayah, harus punya hubungan baik. Masa cuma gara-gara bohong, hubungan mereka jadi renggang."
"Iya juga."
Rafael lalu meminta izin akan ke toilet, meninggalkan Reva di sana sendirian. Yang datang ke pesta ini kebanyakan se usia Papanya, ada beberapa yang muda juga. Reva tidak terlalu memperhatikan sekitar, Ia terlalu asik memakan dessert enak itu.
"Sendirian aja nih, kemana pasangannya?"
Suara familiar itu, membuat Reva langsung mengangkat kepala. Reva hampir tersedak kue yang dimakannya melihat kehadiran Lucas di dekatnya. Kenapa pria itu ada di sini?
"Loh Lucas, kok lo--"
Lucas terkekeh kecil merasa lucu melihat reaksi menggemaskan perempuan itu. Dengan santainya Ia menarik satu kursi lalu duduk di dekat Reva.
"Malam ini kamu cantik banget, apalagi pakai make up dan dress," puji Lucas sambil tersenyum-senyum.
"Makasih, tapi kok lo di sini?"
"Emangnya kenapa?"
"Ini kan pesta ulang tahun Pak Dion, lo kenal dia?"
"Kenal lah, dia kan Papa aku."
Jawaban itu membuat Reva terpekik keras sampai menutup bibirnya dengan tangan. Kedua matanya sampai melotot pada Lucas yang sedang tersenyum, namun di mata Reva senyuman itu terkesan seperti seringai jahat.
__ADS_1