
Brak!
Reva terkejut saat tubuhnya Rafael dorong sampai bersandar di pintu. Sekarang posisinya terpojok kan, kedua tangan Rafael bahkan berada di sisi kepalanya seperti menjaga takut Ia kabur. Tatapan pria itu pun terlihat dalam, membuatnya jadi gugup.
"Apa maksudnya tadi?" tanya Rafael.
"Apa?"
"Tadi kamu yang cium aku."
"Itu.. Anggap aja gue lagi bujuk lo biar gak marah lagi."
"Reva, kamu ini selalu aja ngegoda aku duluan."
Reva meninggikan dagunya, "Emangnya kenapa? Kita kan suami istri."
"Memang, tapi aku selama ini selalu berusaha tahan. Tapi aku juga laki-laki normal Reva, ada batas kesabarannya juga."
"Oh jadi lo gak suka ya? Malu lo?"
"Bukan," geleng Rafael, "Aku cuma takut kelewat batas."
"Hahaha kelewat batas apaan? Lo kan gak berani," ledek nya.
"Kata siapa?"
Reva langsung menahan nafasnya saat Rafael mendekatkan wajahnya, membuat kening dan hidung mereka menempel. Tanpa bisa ditahan detak jantung Reva menjadi cepat, belum pernah Ia se gugup ini. Kenapa Rafael seperti berbeda sekali?
"Kalau aku sudah lupa diri, nanti kamu sendiri yang repot Reva," bisik Rafael, "Apalagi aku selama ini selalu tahan, gimana kalau aku keluarin aja sekarang?"
Kata-kata tadi terdengar ambingu, membuat Reva jadi mulai panik. Keluarkan apa?
"Apaan sih? Udah ah, gue mau ke kamar, pengen tidur."
Tetapi kedua tangan Reva yang tadinya akan mendorong bahu Rafael, pria itu tahan lalu disimpannya di dinding, sekarang posisi Reva semakin terpojok kan dan tidak bisa bergerak bebas. Suasana di sana pun tiba-tiba menjadi panas, apalagi pada posisi yang cukup intim itu.
"Memangnya Reva udah siap jadi Ibu?" tanya Rafael.
"Hah? Apaan sih maksud lo?"
__ADS_1
"Reva kan pasti pengen hubungan badan kan sama aku?"
"Ngawur lo, kapan gue bilang?"
"Terus kenapa selalu godain aku?"
"Ck gue cuma bercanda," ketus Reva.
"Oh ya? Tapi Reva sadar gak? Kalau bercandanya itu gak lucu, kamu buat aku tegang."
Kedua mata Reva terbelak mendengar Rafael yang bicara blak-blakkan seperti itu. Sepertinya ini bukan Rafael, pria itu kan sangat pemalu dan selalu berkata sopan. Kenapa juga Reva terlihat tidak berdaya sekarang? Selama ini kan Ia yang selalu lebih dominan.
Tetapi Reva merasa bingung, jika pun Rafael sampai tegang, kenapa selama ini terlihat biasa saja ya saat Ia goda? Atau jangan-jangan memang menyembunyikannya? Tetapi sungguh, Reva menggodanya hanya untuk jahil saja, bukan berarti ingin bermesraan.
"Lagian kita itu masih sekolah, aku takut kebablasan dan malah jadi hambat pendidikan kita. Sabar ya, sebentar lagi juga kan lulus."
"Apaan sih? Udah ah lepasin!"
Saat tangannya akhirnya di lepaskan, membuat Reva pun langsung melarikan diri dan pergi dari sana. Perempuan itu sempat mendengar tawa Rafael, apa pria itu senang sudah mengerjai nya balik? Dasar menyebalkan sekali.
"Hah-hah, aku hampir gila," ucap Reva sambil mengatur nafasnya yang memburu.
Tidak sengaja Ia melihat bayangannya di cermin, bisa melihat wajahnya yang sudah merah karena salah tingkah. Siapa juga yang tidak berdebar saat ada dalam posisi sedekat itu dengan laki-laki, apalagi sempat digoda nya. Reva juga anehnya merasa tidak berdaya, Rafael kali ini lebih dominan.
Membalas dengan cara apa? Apa dengan menggodanya lagi? Tetapi Rafael bilang sendiri jika pria itu selalu tegang, bagaimana kalau tidak bisa menahan diri dan malah menerkam nya? Nanti Reva pasti akan menyesal sendiri karena sudah merencanakan itu.
"Huhu beraninya dia menggoda aku seperti itu." Reva pun menjatuhkan tubuhnya di ranjang sambil menggerutu.
Besok paginya, Reva sudah lima menit diam di dekat pintu kamarnya. Ia merasa gugup keluar karena pasti akan bertemu Rafael. Tetapi kalau tidak keluar juga nanti akan terlambat, apalagi harus sarapan dulu.
"Selamat pagi, " sapa Rafael yang sedang menyimpan sepiring nasi goreng di meja makan.
"Hm." Reva hanya berdehem pelan lalu duduk di kursi dan mulai makan.
Rafael juga duduk di depannya, "Gimana tadi malam? Pasti Reva gak bisa tidur, kan?"
"Kata siapa? Emangnya kenapa gue gak bisa tidur?"
"Pasti terus mikirin kejadian kemarin, kamu suka aku yang dominan dan nakal begitu?"
__ADS_1
Reva meremas sendok di tangannya sambil menundukan kepala. Matanya terpejam beberapa saat karena si Rafael itu malah membahasnya lagi, Ia kan jadi malu. Kenapa pria itu juga bisa tahu jika semalam Ia kurang tidur nyenyak, yang Ia pikirkan memang kejadian kemarin terus.
"Lo gak bisa nakal, malahan lo lucu kemarin," ucap Reva membantah.
"Terus kenapa kemarin Reva kelihatan gugup gitu?"
"Haha gugup? Enggak tuh," bantah nya sambil tertawa canggung.
Rafael mengangguk-anggukan kepalanya, "Iya deh, terserah Reva aja."
"Nyebelin lo!"
Merasa sudah tidak nafsu makan lagi, Reva memutuskan berangkat sekolah lebih dulu. Rafael sempat memanggilnya untuk menghabiskan dulu, tapi tidak Ia idahkan dan tetap melanjutkan pergi. Reva malu hanya berduaan dengan Rafael.
Sesampainya di sekolah, Reva mencoba terlihat biasa. Kedua sahabatnya pun langsung mengajaknya mengobrol, ya walau memang Ia tidak banyak bicara dan hanya mendengarkan. Lamunan Reva lalu terhenti saat mendengar namanya dipanggil lumayan keras, membuatnya pun langsung menoleh ke ambang pintu kelas.
"Reva, ini bekal makanan kamu."
Reva langsung beranjak dari duduknya melihat Rafael di sana, melihat ekspresi wajahnya yang polos malah membuat Reva panik sendiri. Segera Reva pun menghampiri dan merebut kotak makanan itu.
"Lo ngapain sih kesini? Pakai acara bawain bekal di sini lagi, banyak yang lihat," desis Reva sambil melotot.
"Tadi kan kamu cuma sarapan sedikit, nanti pasti lapar lagi. Makanya turutin perintah aku, soalnya sekarang aku bakal lebih berani. Reva kan suka cowok nakal hehe."
Sialan, batin Reva.
Setelah Rafael pergi sambil tersenyum menyeringai, Reva masih di tempatnya sambil memegang kota bekalnya erat. Ingin sekali Ia menyumpah serapahi si Rafael itu, sengaja ya mau mempermalukan nya? Bagaimana kalau ada yang curiga.
"Reva, apa itu tadi?" tanya Tata.
Ica mengangguk, "Iya, kok si Rafael bawain lo bekal? Aneh."
"Haha jangan salah paham, dia itu cuma nganterin doang."
"Maksudnya?" tanya kedua temannya bingung.
"Katanya tadi ada supir dari rumah yang anterin bekal gue yang ketinggalan, terus dititipin aja ke si Rafael. Gitu ceritanya."
"Oh gitu, kirain si Rafael yang buatin lo bekal."
__ADS_1
"Ck gak mungkin lah, gak bakal gue makan juga."
Rafael itu benar-benar nekad, membuat Reva hampir jantungan saja. Ternyata pria itu serius, entah kenapa Reva merasa jadi harus hati-hati sekarang agar tidak membuat Rafael itu kesal lagi dan malah membalas balik.