
Setelah mendapatkan pesanan sate sapinya, Rafael kembali ke mobilnya. Saat masuk, langsung menghela nafas melihat Reva yang malah tertidur. Padahal Ia merasa tidak lama di sana, tapi perempuan ini cepat juga terlelap nya.
Sebelum menjalankan mobilnya, dengan perhatian Rafael memakaikan jaketnya ke tubuh perempuan itu. Terkadang Ia terkekeh kecil melihat Reva yang tidur sampai mulutnya terbuka kecil, benar-benar tidak menunjukan perempuan feminim.
"Reva-Reva, tidak ada malunya dia memang," gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Rafael mengendarai mobilnya itu menuju apartemen tempat mereka tinggal. Tidak lama sampai juga, tapi Rafael kini bingung harus bagaimana. Ia bangunkan Reva atau gendong saja? Merasa tidak tega untuk membangunkan, Rafael memutuskan akan menggendongnya saja.
"Kyaaa lo mau apain gue?!" jerit Reva yang baru sadar.
Plak!
Rafael langsung meringis merasakan tamparan di pipinya, "Reva ih, ini aku," kesalnya.
Reva berdehem pelan, "Gue kira orang jahat yang mau apa-apa in gue," belanya.
"Ya gak mungkin lah, kan aku aja masih di sini."
"Terus lo tadi mau ngapain hah pegang-pegang pinggang gue lagi?!" sewot Reva.
"Aku tadi mau gendong kamu ke apartemen, gak tega kalau dibangunin," jawab Rafael.
"Lo mau gendong gue? Hahaha."
"Kenapa?"
"Rafael, lo kan kurus, mana kuat gendong gue."
"Bisa kok, kurus-kurus gini juga kuat."
"Halah yang ada tar pas gendong lo langsung jatuh gak kuat," ledek Reva, "Dah gak usah, gue bisa sendiri."
"Ya sudah." Padahalkan Rafael sedang bersikap perhatian.
Keduanya pun berjalan bersama ke kamar apartemen mereka yang berada di lantai tujuh. Keadaan di sana sudah sepi, mungkin karena hampir jam sembilan juga. Sesampainya langsung masuk.
"Oh iya hampir lupa, sate nya dimana?" tanya Reva yang selesai meminim soda di kaleng.
"Habis."
"Habis gimana?"
"Tadi aku habisin, soalnya Reva tidur."
"Ih kok lo habisin sih, itu kan punya gue!" kesal Reva.
Perempuan itu lalu mendekati Rafael, tapi pria itu malah berlari sambil tertawa membuatnya semakin kesal. Seperti anak kecil, keduanya saling mengejar mengelilingi tempat tinggalnya.
"Heh Rafael sialan, sini lo. Berani-beraninya makan sate punya gue!" teriak Reva.
__ADS_1
"Makanya jangan kebluk, dikit-dikit tidur huh!"
"Awas ya lo!"
Mereka memang pasangan suami istri, tapi kalau dilihat sekarang lebih cocok seperti teman yang sedang menjahili dan sering bertengkar. Mungkin karena usia juga masih muda dan sedang masa ke tahap dewasa, jadi masih ada sikap kekanakan.
"Hah-hah capek, udahan ah," ucap Rafael sambil mengangkat tangannya di udara.
Posisi Rafael sudah duduk menyender di lantai, sedangkan kini Reva berdiri di depannya sambil berkacak pinggang. Terlihat seringai penuh senang perempuan itu karena akhirnya bisa menangkap juga Rafael.
Dengan tanpa ampun, Reva sedikit membungkukan tubuhnya dan menjewer telinga kiri Rafael membuat pria itu langsung berteriak kesakitan. Rafael sampai berdiri karena Reva yang menariknya itu.
"Aduh-aduh Reva ampun," ucap Rafael sesekali meringis.
"Makanya jangan main-main."
"Iya-iya, aku tadi cuma bercanda."
"Maksudnya?"
"Satenya ada kok, tuh di pantri."
Reva sempat melirik ke arah dapur, "Tadi kata lo--"
"Hehe cuma bercanda aj-Aww!"
Reva sempat menekan lagi jeweran di telinga pria itu merasa kesal karena sedang dibercandai. Ia lalu melepaskan jeweran nya dan ikut meringis melihat telinga kiri Rafael yang sedikit memerah, jadi merasa bersalah.
"Ya sakit lah Reva, emang suka kasar ih!" dengus Rafael kesal.
"Makanya jangan jahil."
"Reva juga suka jahil, tapi aku gak suka tuh marah atau balik ngasarin."
"Ck iya-iya maaf." Mau bagaimana lagi, sifat mereka kan berbeda, "Sini gue obatin."
"Obatin gimana?"
Sebelah tangan Reva terulur dan mengusap-usap telinga kiri Rafael itu dengan lembut. Rasa kesalnya sudah menghilang karena tahu hanya dikerjai, sekarang yang Reva rasakan lebih ke perasaan kasihan pada suaminya ini.
"Sudah belum?" tanyanya.
"Sudah, gak sakit lagi sekarang."
"Ya sudah, sekarang pindahin satenya ke piring ya, gue lapar."
Rahang Rafael jatuh mendengar perintah bernada santai itu. Astaga memang, ternyata Reva tetap saja menyebalkan. Ia pikir tadi sikap manisnya itu tulus, tapi ternyata ada maunya.
"Reva dosa ih nyuruh-nyuruh suami, kan harusnya Reva yang gitu."
__ADS_1
"Males gue, ayo dong."
"Hah dasar, ya sudah lah."
"Hehe makasih, gue tunggu di ruang TV ya."
"Hm." Dehem Rafael malas.
Walaupun sikap Reva sangat semena-mena dan sering Pissical Attack, tapi Rafael tidak terlalu menanggapi serius dan bersikap biasa saja. Mereka itu suami istri, harus bisa menerima satu-sama lain, kan?
"Mau sama nasi gak?" tanya Rafael sedikit berteriak.
"Gak usah, sate doang aja."
"Katanya harus sama nasi, biar kenyang."
"Ih gak mau, kan sudah tadi makan di rumah Papa."
Rafael membawa sepiring sate itu ke ruang TV, lalu memberikannya pada Reva yang langsung mengucapkan terima kasih. Rafael lalu duduk di sebelahnya sambil membawa remot dan memindahkan ke saluran lain.
"Kok dipindahin sih? Kan lagi lihat filmnya," kesal Reva dengan mulut penuh daging.
"Gak seru, mending nonton bola."
"Bola yang gak seru, mending nonton film tadi."
Reva merebut remot itu lalu memindahkan nya ke film yang tadi. Baru saja satu menit menonton sambil memakan sate itu, Rafael kembali memindahkan saluran ke bola yang diingkannya. Saat Reva akan merebut remotnya, langsung pria itu jauhkan.
"Ih Rafael, pindahin gak?!" omelnya sambil melotot.
"Gak, udah ini aja. Lihat tuh, bentar lagi mau gol."
"Ah gak seru, sok tahu banget lagi mau gol. Pindahin!"
"Mending Reva pindah aja sana ke kamar, tidur sana!" usir Rafael.
"Ck gue belum ngantuk, ini juga lagi makan."
"Makanya kalau lagi makan tuh fokus, jangan ngomong mulu dari tadi bawel banget."
"Tapi--"
"Syuut mending nih habisin cepet satenya, atau aku aja yang habisin?" tanya Rafael menyuapkan sate itu ke mulut Reva.
Reva terdiam beberapa saat karena mulutnya penuh dengan makanan, kalau bicara takut tersedak. Namun begitu, dari tadi matanya terus menatap tajam Rafael. Memang kalau sudah seperti ini, selalu tidak mau kalah.
"Huh dasar pelit!" ketus Reva lalu beranjak pergi.
Rafael walaupun menonton bola, tapi lewat ekor matanya sempat memperhatikan Reva yang menuju kamarnya. Apakah perempuan itu marah? Biar saja lah, sesekali Ia juga ingin menang.
__ADS_1
"Pasti ngambek," gumam Rafael, "Besok di sekolah dia pasti bakalan aneh-aneh."
Rafael mendesah berat memikirkan esok hari di sekolah. Kalau Reva sedang bad mood, pasti akan di lampiaskan nya nanti di sekolah padanya. Anehnya lagi, Rafael kalau sudah di sana selalu tidak berdaya membalas. Mending seperti itu saja, dari pada membuat orang salah paham.