Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
107 Tidak Mengekang


__ADS_3

Tadi Reva sedang mengerjakan tugas bersama di perpusatakaan dengan Vanessa, tapi anehnya sudah beberapa menit temannya itu yang izin ke toilet tidak kembali juga. Reva pun memutuskan beranjak untuk menyusul, sekalian Ia pun memang sedang kebelet pipis. Tetapi baru saja keluar perpustakaan, Reva malah berpapasan dengan Vanessa.


"Ya ampun Vanessa, kamu kok lama banget?" tanyanya.


Vanessa terlihat tersenyum kikuk, "Maaf ya Reva, aku tadi sakit perut," jawabnya beralasan.


"Aku kira kamu ke toilet yang jauh, makanya lama."


"Enggak kok, di toilet yang deket sini aja."


Reva lalu baru menyadari sesuatu, yaitu rambut Vanessa yang agak berantakan dengan kedua mata yang merah seperti habis menahan tangisan, "Vanes, kamu gak papa, kan?" tanyanya.


"Hm memangnya aku kenapa?" tanya Vanessa balik.


"Beneran nih gak papa?" Atau mungkin Reva yang terlalu khawatir berlebihan ya? Kenapa juga pikirannya ini jauh sekali?


"Kamu mau kemana Reva? Ayo kerjain lagi," ajak Vanessa mengalihkan obrolan.


"Bentar deh aku pengen pipis, kamu duluan masuk."


"Oke."


Setelahnya Reva pun mencari toilet yang dekat dengan perpustakaan, sepertinya tadi Vanessa pun habis dari toilet ini. Tetapi baru saja akan masuk, tidak sengaja telinganya mendengar obrolan dari dalam. Suaranya terdengar familiar walaupun belum Reva lihat wajahnya.


"Lo emang suka gitu ya ke si Vanessa di rumah juga?"


"Iya lah, dia itu cuman babu dan gue sebagai Nona nya bisa lakuin apa aja ke dia. Apalagi kalau gue lagi marah atau kesel, ya gue lampiasin ke dia lah." Tidak salah lagi jika itu sepertinya suara Ivana.


"Si Vanessa juga bodoh banget lagi ya cuman bisa diem," sahut temannya.


"Dia gak akan mungkin berani ngelawan gue, lagian kan dia cuman babu dan harus nurut semua kemauan gue."


Ceklek!


Kedatangan Reva membuat obrolan dari ke empat perempuan tadi terhenti. Terlihat Ivana pun yang langsung tersenyum sok manis ke arahnya, tapi Reva hanya menatapnya datar tanpa membalas. Reva pun segera masuk ke dalam salah satu bilik yang terbuka untuk menuntaskan hajatnya. Tetapi ternyata setelah Reva keluar, Ivana masih di sana, hanya teman-temannya sudah pergi.


"Hai Reva," sapa Ivana sok akrab.


"Ya." Reva berusaha mengabaikan dan fokus mencuci kedua tangannya di wastafel.

__ADS_1


"Aku kan waktu itu pernah bilang pengen jadi temen Reva, apa bisa dimulai dari kita yang saling tuker nomor HP?" tanya Ivana.


Reva melirik nya sekilas, "Kalau aku gak mau ngasih gimana?"


"Hah?"


"Sekarang aku kayanya harus bener-bener cari temen yang baik dan tulus deh, gak sembarangan juga ngasih nomor ponsel ke orang asing," ucap Reva agak sinis.


Ivana menelan ludahnya kasar, "Apa Reva gak mau jadi temen aku? Aku janji gak akan nyebarin nomor ponsel kamu ke orang lain kok," ucapnya masih membujuk.


"Kayanya gak sekarang, aku masih belum percaya sama kamu," sahut Reva blak-blakkan.


"Belum percaya gimana?"


Reva pun menghadapkan tubuhnya pada Ivana, "Kamu ini siapanya Vanessa sebenarnya?"


"Dia itu pembantu di rumah aku, kerjanya ya beres-beres dan jadi pesuruh aku, alias asisten pribadi," jawab Ivana tanpa curiga.


"Terus apa kamu suka perlakuin dia seenaknya?"


"Apa?"


"Tadi aku gak sengaja denger di luar. Sebenarnya aku gak mau terlalu ikut campur, tapi hati aku ngerasa gak enak aja tahu kalau temen aku diperlakuin seenaknya begitu sama orang lain," ucap Reva sambil tersenyum tidak ikhlas.


"Bukan itu, tapi apa kamu sering kasar sama dia?"


"Itu--"


"Memang Vanessa itu kerja untuk layani kamu, tapi kamu juga gak bisa seenaknya melakukan hal kasar pada dia. Kalau kamu punya hati, kamu gak akan bersikap sok dan merendahkan orang lain sampai begitunya." Entahlah kenapa Reva bersikap peduli begini, hanya hatinya mengganjal saja jika membiarkan.


Tatapan Ivana memicing, "Kenapa Reva peduli banget sama dia? Dia itu cuman orang biasa, kenapa juga Reva mau jadi temen dia?" Dari nada suara Ivana saja sudah bisa menebak jika perempuan itu sedang cemburu.


"Tapi Vanessa orang baik, aku yakin itu. Kita akan jadi teman yang saling menjaga dan melindungi."


"Tapi aku juga bisa jadi temen baik Reva, aku yakin bakal lebih baik dari Vanessa," ucap Ivana percaya diri.


Reva yang mendengar itu malah tertawa geli, "Sayangnya aku gak yakin, dari awal kamu memang orang yang sombong dan sok ya Ivana. Suka jaga image dan bisanya merendahkan orang lain, aku juga tidak suka tipe teman perempuan seperti kamu." Setelah mengatakan itu, Reva pun keluar dari sana dengan helaan nafas lega.


Perasaan kesal yang ditahannya dari tadi sekarang sudah tersampaikan, Reva tidak merasa bersalah sudah meledek Ivana karena perempuan itu sepertinya memang pantas mendapatkannya. Perempuan sombong itu harus diberi pelajaran, dan Reva adalah lawannya yang seimbang. Karena dulu dirinya pun pernah ada di posisi Ivana, ternyata menjengkelkan juga.

__ADS_1


"Hei," panggil Reva sambil menepuk bahu Vanessa mengejutkan.


Vanessa menoleh, "Sayangnya aku gak kaget hehe."


"Ah gak seru banget." Reva pun kembali duduk di sebelahnya dan membawa ponselnya.


"Kenapa lama banget? Katanya cuman pipis," tanya Vanessa yang kini bertanya itu.


"Ada urusan sebentar tadi."


"Urusan apa? Apa sama dosen?"


"Bukan, sama seseorang."


"Siapa?"


"Ada deh." Reva tidak akan menceritakan kejadian tadi pada Vanessa, karena pasti perempuan itu akan kembali dilanda rasa cemas yang berlebihan jika menyangkut tentang Ivana. Reva mulai menyadari sesuatu, jika Vanessa akan selalu menjadi takut pada Ivana.


"Kamu bisa masak gak Vanes?" tanya Reva.


"Bisa kok, aku dari kecil sering bantu masak, makanya sekarang bisa."


"Wah serius nih? Kalau gitu, aku pengen diajarin masa dong," pinta Reva bersemangat.


"Boleh, tapi Reva beneran mau belajar masak dengan serius?"


"Iya beneran," jawab Reva cepat. Ingin sekali jika semisal suatu saat Rafael pulang, Reva bisa menunjukan bakatnya itu. Pasti Rafael pun akan bangga dan ikut senang karena akhirnya Ia bisa masak.


"Tenang aja nanti aku bayar deh, gimana?" tanya Reva sambil menaik turunkan alisnya.


Vanessa hanya tersenyum, "Enggak perlu dibayar, aku ikhlas kok ajarin kamu masak."


"Eh tapi--"


"Lagian selama ini Reva juga sudah baik sama aku, giliran aku yang balas kebaikan, mungkin dengan ngajarin masak."


"Serius nih gak usah dibayar?" Katanya kan sampai ada kelas memasak, dan biayanya pasti mahal hanya untuk bisa masak. Tetapi Reva ada rezeki, karena temannya mau mengajarkan dengan suka rela.


"Iya serius, jadi mau mulai dari kapan?"

__ADS_1


"Sepulang dari Kampus mau ke apartemen aku lagi?" tawar Reva.


"Oh jadi mau mulai belajarnya dari hari ini? Reva kelihatan semangat ya," ucap Vanessa sambil mencolek tangannya menggoda.


__ADS_2