
Kasus kekerasan pada Vanessa sedang berlangsung, Ivana pun sudah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Kedua orang tuanya sempat tidak menyangka, tapi sebagai orang tua mereka tentu ikut sedih dan tidak mau anaknya itu di penjara.
Orang tua Ivana sempat akan menyelesaikan dengan jalur damai, tapi Reva meminta pada Vanessa untuk tidak luluh dan segan karena sikap Ivana sudah keterlaluan. Orang tua Ivana memang punya banyak uang, tapi bekingan Reva juga orang-orang hebat.
"Makasih ya Reva selalu temenin aku, aku gak tahu harus balas kebaikan kamu gimana," ucap Vanessa tulus.
"Sama-sama, kita kan teman."
"Iya kita teman, dan aku benar-benar beruntung bisa berteman sama kamu," sahut Vanessa.
Mungkin tanpa Reva, Vanessa akan terus ada dalam titik lemah ini, tidak bisa menyelesaikan semuanya sendirian. Reva menemaninya dari awal kasus sampai sekarang yang hampir selesai.
"Oh iya Vanes, terus gimana sama biaya kuliah kamu? Apa orang tua Ivana cabut biayanya?" tanya Reva penasaran.
"Iya," angguk Vanessa sedih, "Tapi gak papa, aku ngerti mungkin mereka kecewa karena aku gak mau bebasin Ivana."
Reva menatapnya sendu, merasa kasihan dengan nasib temannya itu. Ia juga mengerti sih kenapa kedua orang tua Ivana mencabut biaya pendidikan Vanessa. Tetapi seharusnya kan mereka tidak bersikap begitu, anggap saja sebagai tanda permintaan maaf.
"Nanti aku bicara ya sama Papa, mungkin--"
"Jangan Reva," sela Vanessa cepat, sudah tahu apa rencana temannya itu.
"Kenapa?"
"Aku mohon jangan terus bantu aku, aku akan merasa segan dan berhutang budi sama kamu," jawab Vanessa jujur.
"Tapi aku gak minta bayaran kamu kok," ucap Reva, Ia tulus membantu karena memang mampu.
Tetapi Vanessa tetap menggeleng, "Enggak, aku rasa kamu sudah terlalu banyak bantu aku. Lagian aku juga akan kerja part time."
"Oh ya?"
"Beberapa hari lalu aku ngelamar kerja part time di beberapa restoran, untungnya ada satu yang nerima aku. Aku pikir gajinya akan cukup untuk biaya kuliah aku. Bibi juga sudah dapat kerjaan baru, jadi kami bisa sama-sama saling bantu," ucap Vanessa sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau gitu, aku ikut senang."
Kalau Reva tidak bisa bayangkan sendiri jika dirinya kuliah dan kerja di waktu bersamaan, akan membuatnya merasa terbebani. Reva selalu bersyukur dengan nasibnya ini, karena pasti banyak yang iri ada di posisinya saat ini.
__ADS_1
"Besok sidang putusan Ivana, kamu harus hadir di sana. Tapi maaf kayanya aku gak bisa, aku harus anterin Rafael ke bandara karena dia mau berangkat lagi ke Amerika," ujar Reva.
"Gak papa Reva, aku pasti akan datang ke sidang sama bibi. Sekali lagi terima kasih ya Reva sudah bantu aku."
"Sama-sama."
"Titip salam juga untuk Rafael, semoga sampai di sana dengan selamat," ucap Vanessa.
"Nanti aku sampain."
Melihat jam yang sudah menunjukan pukul sembilan malam, Reva memutuskan pulang sekarang. Mengobrol dengan Vanessa itu selalu lupa waktu, banyak sekali yang mereka obrolkan. Reva dan Vanessa pun berpisah karena rumah mereka berlawanan arah.
"Aku pulang," teriak Reva saat masuk ke unit apartemennya.
Pandangan Reva pun langsung jatuh pada Rafael yang tertidur di sofa dengan kepala menengadah bersandar di punggung sofa. Reva tersenyum tipis melihatnya. Ia lalu mengurangi volume di TV, lalu ke kamarnya untuk membawakan bantal dan selimut.
"Kasihan dia, sampai ketiduran," gumam Reva.
Tetapi baru saja menyelimuti, Rafael terbangun dan langsung menatap Reva di dekatnya. Dengan manjanya pria itu menarik Reva sampai terduduk di atas pangkuannya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu perempuan itu sambil memeluk pinggang rampingnya.
"Maaf aku habis ketemu Vanessa, bicarain kasus dia," jawab Reva. Tangannya mengusapi kepala pria itu memberinya kenyamanan.
"Padahal malam ini hari terakhir aku di sini sebelum ke Amerika lagi, aku pengen habisin banyak waktu sama kamu," rengek Rafael.
"Kan tadi siang juga kita habis jalan-jalan," sahut Reva mengingatkan.
"Itu mah belum cukup, aku pengennya setiap waktu sama kamu, gak terpisahkan."
Reva tidak bisa menahan tawanya mendengar itu, memang dasar suaminya ini paling bisa saja menggombal. Mau bagaimana lagi, kan ada urusan lain. Sebenarnya bukan hanya Rafael saja yang ingin terus bersamanya, tapi Ia pun juga.
"Kamu sudah beres-beres, kan? Gak ada yang ketinggalan, kan?" tanya Reva memastikan.
"Sudah kok, kamu tega banget nyuruh aku beres-beres sendiri," dengus Rafael pura-pura ngambek.
"Hehe maaf, kan aku ada urusan sama Vanessa." Reva pun mencubit pipi Rafael sedikit merayunya.
"Kayanya bakalan ada yang ketinggalan," celetuk Rafael.
__ADS_1
"Apa?"
"Kamu."
Kedua mata mereka pun bertemu, tatapan yang terlihat dalam itu dapat membuat detak jantung keduanya menjadi cepat. Perlahan wajah keduanya mendekat dan bibir keduanya pun bertemu. Saat merasa pasukan oksigen hampir habis, baru lah melepaskan.
"Kita pindah ke kamar ya," kata Rafael dengan nafas memburunya.
"Emangnya mau apa di kamar?" tanya Reva menarik sebelah sudut bibirnya menggoda.
"Apalagi lah, puas-puasin sama kamu sebelum aku puasa lagi di sana berbulan-bulan."
Celetukan pria itu membuat Reva kembali terbahak, Ia lalu terpekik pelan saat pria itu mengangkat tubuhnya dan menggendongnua ala bridal. Reva sudah menebak pria itu membawanya ke kamarnya, setelahnya pasti akan terjadi sesuatu di sana.
"Rafael," panggil Reva setelah tubuhnya di dudukan di atas ranjang.
"Apa?"
"Kamu emangnya bisa tahan puasa gitu selama berbulan-bulan di sana? Kok aku ngerasa gak yakin ya," ucap Reva sambil memicingkan mata.
"Ya tahan dong, harus bisa."
"Beneran ya? Awas saja kalau kamu gak tahan terus malah begituan sama cewek lain," ketus Reva. Apalagi pergaulan di sana kan sangat bebas, bahkan katanya sering ons dengan sembarangan orang, bahkan yang pertama di temui pun.
"Kamu jangan khawatir, aku kan cowok baik-baik."
"Pffttt mana ada cowok baik-baik," kekeh Reva menahan tawanya.
Dulu sih Reva menganggap Rafael begitu, tapi setelah hubungan mereka semakin dekat dan mulai mengerti masing-masing, pandangannya pada Rafael tentang cowok baik-baik langsung hancur. Ternyata benar, Laki-laki pendiam lebih berbahaya karena Reva sudah membuktikannya sendiri.
"Kayanya malam ini kita bakal bergadang," ujar Rafael sambil menyeringai. Tangannya dengan telaten membuka pakaiannya satu persatu, di depan Reva yang duduk. Rafael tidak malu sama sekali, bahkan ingin mempertontonkan keseksian tubuhnya.
"Kamu gak akan biarin aku istirahat?" tanya Reva.
"Enggak, jadi kamu harus kuat malam ini bergadang. "
"Ck dasar," dengus Reva. Walaupun begitu Ia pasrah-pasrah saja, demi membahagiakan sang suami.
__ADS_1