
Perjalanan dari Jakarta ke Surabaya dengan menaiki mobil pribadi memakan waktu panjang. Selain sudah meminum obat penahan kantuk, Rafael juga harus ber hati-hati dalam berkendara. Ia memang tidak memakai supir karena ingin berangkat sendiri menyusul Reva. Di pukul tiga dini harinya, Rafael baru sampai di rumah yang sangat Ia kenali itu. Rumah Omanya Reva, dulu sempat kesini jadi masih ingat.
"Loh den Rafael, subuh-subuh begini datang kesini?" tanya si penjaga terkejut sendiri melihat pria muda itu.
Rafael tersenyum tipis, "Iya Pak, dari Jakarta berangkat jam enam an."
"Ya ampun lama sekali, Tuan pergi sendiri?"
"Iya, saya sendirian."
"Den Rafael hebat, silahkan masuk." Penjaga itu pun dengan sigap membukakan gerbang mempersilahkan mobil yang dikendarai Rafael masuk ke halaman.
Saat turun dari mobilnya, Rafael menggigil merasakan angin subuh yang cukup dingin, padahal Ia sudah memakai jaket tebal. Rafael masuk ke rumah lewat pintu belakang dengan dibantu Pak Agus, memasuki rumah itu terasa hening dan sepi sekali. Tentu saja karena masih terlalu pagi, semua orang pasti masih terlelap.
"Pak Agus, Reva ada di sini, kan?" tanya Rafael pada penjaga itu.
"Iya den, sudah mau dua hari Non Reva sama Tuan di sini. Saya kira aden juga ikut, tapi hanya Nona Reva."
Rafael tersenyum kecut, "Iya saya gak diajak, jadi nyusul dia kesini bela-belain."
"Aden kangen ya sama istri?" goda Pak Agus.
"Bapak bisa aja ah."
"Ya sudah den, Bapak permisi ke depan lagi ya."
"Iya, makasih Pak." Setelah mengatakan itu Rafael pun naik ke lantai dua menuju salah satu kamar yang biasanya ditempati Reva saat berkunjung kesini. Saat membuka pintu, suasana temaram tapi Rafael masih bisa melihat jelas Reva di atas ranjang.
"Dasar istri nakal, jadi selama dari kemarin kamu sembunyi di sini," desis Rafael sambil berkacak pinggang di sisi ranjang.
Sebuah ide lalu melintas di kepala Rafael untuk mengerjai Reva, istri nakalnya itu pasti akan terkejut saat bangun menemukan Ia tidur di sebelahnya. Rafael terlebih dahulu membuka jaket dan sepatunya, setelahnya naik ke atas ranjang dengan perlahan khawatir membangunkan Reva.
__ADS_1
"Awas aja kamu Reva, aku bakalan repotin kamu selama di sini." anggap saja Rafael sedang kesal, jadi itu adalah hukuman yang harus ditanggung Reva nanti.
Berjam-jam perjalanan membuat tubuh Rafael rasanya pegal-pegal, mungkin nanti Ia akan minta dipijati Reva. Kalaupun semisal perempuan itu menolak, Rafael akan paksa dengan cara apapun. Ia sudah jauh-jauh menyusul kesini hanya demi Reva, perempuan itu setidaknya kan harus menghargai perjuangannya.
Di pukul enam paginya, Reva perlahan membuka kedua matanya merasakan silau cahaya matahari yang masuk lewat celah gorden. Perempuan itu lalu mendudukan tubuhnya sambil menguap lebar dan meregangkan badannya. Saat menoleh ke sisi sebelahnya, Reva ngeleg beberapa saat melihat seseorang tidur di sana. Tetapi saat nyawanya terkumpul semua, perempuan itu pun menjerit terkejut sampai turun dari kasurnya.
"Hah hah kok bisa dia di sini?" tanya Reva bingung sendiri. Perempuan itu mengucek matanya takut salah lihat, tapi ternyata benar yang tidur di ranjangnya itu adalah Rafael. Tetapi bagaimana bisa?
Tok tok!
"Reva, kamu kenapa?" tanya Papanya dari luar kamar.
"Hah? Em ini anu--"
"Ada apa?" Merasa penasaran, Papanya itu pun masuk ke dalam kamarnya untuk mengecek. Tadi saat naik tangga akan membangunkan Reva tidak sengaja mendengar jeritan nya.
Setelah masuk Papanya menatap Reva bertanya meminta penjelasan. Melihat putrinya itu yang menunjuk ke arah ranjang, membuatnya pun ikut melihat. Betapa terkejutnya pria paruh baya itu melihat ada menantunya tidur pulas di sana.
"Loh sejak kapan Rafael di sini? Kapan dia datang?" tanya Papanya sambil tersenyum lebar.
"Dia terlihat nyenyak sekali tidurnya, mungkin kecapean di jalan dan baru sampai," ucap Papanya, "Biarkan saja, nanti juga bangun sendiri."
Selepas kepergian Papanya itu, Reva kembali melirik Rafael di ranjang. Ia masih terdiam karena tidak bisa berkata-kata, terkejut saja saat bangun malah menemukan suaminya itu di sebelahnya. Apakah Rafael sampai saat Ia tidur? Reva benar-benar tidak merasakannya sedikit pun.
"Ck kok dia bisa tahu sih aku di sini?" gerutu Reva sambil menghela nafas berat. Padahal Ia merasa yakin Rafael tidak akan menemukannya, padahal Reva minggat baru sehari dan inginnya masih beberapa hari lagi.
"Tahu ah, mending sekarang aku mandi dulu terus bangunkan dia." Reva membawa handuknya lalu masuk ke kamar mandi. Perempuan itu masih berharap ini mimpi saja, jadi saat keluar kamar Rafael itu tidak ada.
Selesai mandi Reva keluar kamar mandi dan langsung melirik ke arah ranjang. Tetapi harapannya tidak sesuai, karena Rafael masih tertidur pulas di sana. Reva pun memutuskan menghampiri untuk membangunkannya. Reva menepuk-nepuk dada Rafael sambil menggoyangkan nya, butuh beberapa waktu sampai akhirnya Rafael bisa bangun juga.
"Hei bangun!" perintah Reva dengan suara kerasnya.
__ADS_1
"Engghh ada apa?" tanya Rafael dengan suara seraknya, kedua matanya masih terpejam karena masih ngantuk.
"Kenapa lo ada di sini? Sejak kapan?" tanya Reva menuntut, butuh jawabannya sekarang.
"Nanti saja deh, aku masih ngantuk," rengek Rafael.
Tetapi sebelum pria itu menaikkan selimutnya, Reva malah merebutnya dan memeluknya erat. Rafael pun terpaksa membuka mata ingin protes karena sekarang Ia kedinginan dan masih ingin tidur.
"Bangun Rafael, lagian udah siang juga," omel Reva.
"Aku baru sampai Reva, capek banget sembilan jam di jalan nyetir," keluh Rafael.
Reva terdiam beberapa saat mendengar itu, "Lagian kenapa kesini?"
"Apalagi lah kalau bukan nyusul kamu."
"Terus dari mana lo tau gue di sini?" tanya Reva bingung.
"Pas kamu telepon sama Bunda, sebenarnya aku ada di sana dan denger."
Reva meringis pelan merasa bodoh sendiri baru terpikirkan itu, tapi tidak menyangka karena Rafael ada di sana saat itu. Reva pun mengembalikan selimut itu, dan Rafael langsung menyelinuti tubuhnya sambil tersenyum kesenangan.
"Terus nyampe jam berapa? "
"Jam tigaan mungkin."
"Astaga pantas saja." Batin Reva. Di jam segitu Reva sudah pasti sedang nyenyak-nyenyaknya tidur, jadi tidak merasa Rafael datang.
"Aku masih ngantuk, nanti bangunin jam sembilan ya?" pinta Rafael.
"Baru tahu anak rajin bisa bangun kesiangan gitu," ledek Reva.
__ADS_1
"Hei ini kan ada alasannya, sudah ah sana mending Reva keluar, aku bener-bener butuh waktu untuk tidur lagi." Rafael pun kembali memejamkan matanya sambil memeluk guling dengan erat, seperti anak kecil saja.
Reva hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat itu, tapi Ia pun membiarkan saja karena tidak tega juga, apalagi Rafael sudah menyetir sejauh itu hanya demi dirinya. Dada Reva menghangat begitu saja, merasa terharu dengan perjuangan Rafael sampai mau menyusulnya.