Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
77 Laki-laki Normal


__ADS_3

Mendengar suara pintu apartemen dibuka, membuat Rafael langsung melihat. Senyumannya melebar melihat yang datang adalah Reva, Ia sampai menyimpan tablet nya untuk memfokuskan pandangan pada istrinya itu. Tetapi Rafael merasa ada yang aneh melihat ekspresi wajah Reva.


"Pulang-pulang kok cemberut gitu? Bukannya habis jalan-jalan sama temen-temen kamu ya?" tanyanya penasara.


Reva mendudukan tubuhnya dengan kasar di sisi Rafael, "Mereka di sana ledekin aku terus," ucapnya mengadu.


"Ledekin kamu gimana?" Candaan di antara temen dekat itu kan biasanya lucu, tapi melihat ekspresi cemberut Reva sepertinya sudah tidak dikatakan lucu lagi.


"Mereka tanya apa kita udah begituan, terus gue jujur aja kalau kita belum pernah begituan," ungkap Reva sambil melirik Rafael sekilas.


Rafael mengerjapkan matanya perlahan, Ia pun langsung paham maksud begituan yang diceritakan Reva, apalagi kalau bukan berhubungan badan. Rafael lalu merangkul kan tangannya di bahu Reva, menarik tubuhnya mendekat.


"Terus kamu bilang apa?" tanyanya.


"Ya gue bilang aja takut kebablasan, kita kan masih muda dan masih pengen fokus belajar. Tapi mereka malah nganggap kita cupu, bahkan ngatain gue anak kecil yang gak tau begituan."


Melihat bibir perempuan itu semakin tertekuk ke bawah, membuat Rafael gemas sampai mengusap dagu Reva sebentar, "Terus kenapa kamu tersinggung?"


"Hah? Ya ngerasa gak terima aja, apalagi dibilang gak tahu cara begituan." Reva langsung mengatupkan bibirnya karena mengatakan itu, Ia jadi malu sendiri. Seolah mengkode jika dirinya tahu tentang hal berbau dewasa.


Rafael terkekeh kecil, "Sudahlah gak usah terlalu dibawa perasaan, temen-temen kamu itu cuman godain kamu aja."


"Iya sih, tapi masa mereka juga bilang lo cupu katanya," celetuk Rafael.


"Aku cupu?" tanya Rafael sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, lo katanya gak bisa begituan." Reva tersenyum canggung, Ia sudah berusaha jujur.


"Ck enak aja bilang aku gak bisa begituan," dengus Rafael. Walaupun Ia terlihat seperti laki-laki baik dan cupu, tapi bukan berarti Ia tidak tahu tentang hal berbau dewasa. Ia kan bukan anak kecil, apalagi hormon laki-laki itu sangat tinggi.


"Emangnya lo tahu gimana cara berhubungan badan?" tanya Reva setengah meragukan.


"Tahu lah," jawab Rafael tanpa ragu.

__ADS_1


"Oh jangan-jangan lo sering nonton porno ya?" tuduh Reva sambil menunjuk wajahnya, perempuan itu terlihat menyeringai.


"Pernah sih, tapi gak sering juga kali." Rafael terlihat malu mengatakannya, tapi Ia berusaha jujur saja karena tidak mau dianggap cupu. Tidak masalah juga, kan?


"Ih gak nyangka gue cowok baik-baik kaya lo pernah nonton begitu juga," ucap Reva dambil berusaha menghentikan tawanya. Tidak bisa membayangkan saja Rafael saat melakukan itu, tidak terbayang sama sekali di pikirannya.


"Alah Reva juga pasti pernah, kan?"


"Hehe pernah." Reva menyengir lebar, Ia tidak malu sama sekali mengatakannya pada Rafael. Pria itu kan suaminya.


"Gak kaget sih kalau aku, soalnya kan Reva emang begitu."


"Begitu gimana?" tanya Reva penasaran.


"Gak jadi." Rafael mengedikan bahunya dan fokus kembali melihat data di tablet nya.


Reva memicingkan matanya masih penasaran dengan pandangan pria itu terhadap dirinya. Reva lalu terpikirkan sesuatu, sudah lama juga tidak menggoda suaminya itu. Ia pun menyimpan barang-barang nya di sisi sofa lain. Tanpa diduga Reva malah mendudukan tubuhnya di atas paha Rafael.


"Eh Reva, kamu ngapain?" pekik Rafael terkejut, hampir saja tablet nya jatuh sanking terkejutnya.


"A-aku lagi ngerjain tugas kantor dari Ayah, em jadi--"


Reva merebut tablet nya itu membuat perkataan Rafael pun terhenti, Ia pun menyimpan benda pipih besar itu di meja. Setelahnya Reva menyamankan duduknya di atas paha Rafael, pergerakannya itu tanpa disadari membuat Rafael menahan nafas karena bagian sensitif nya jadi tersentuh-sentuh.


"Tata sama Ica bilang kalau kita masih bisa begituan tanpa takut kebablasan," ucap Reva tepat di depan wajah Rafael.


"Hah?" Rafael tidak bisa berkata-kata, terlalu gugup dengan posisi ini. Wajah mereka bahkan sangat dekat, dan yang membuatnya berdebar adalah posisi duduk perempuan itu di atasnya.


"Katanya kita tetep bisa begituan dengan cara pakai pengaman dan ngeluarin nya di luar," bisik Reva sambil menyeringai.


"Hahaha i-iya." Hanya itulah yang bisa Rafael katakan. Sebenarnya pria itu pun tahu, tapi kenapa juga tidak Ia lakukan ya?


"Jadi gimana?"

__ADS_1


"Gimana apanya?"


Reva berdecak pelan merasa gemas melihat kelemotan berpikir Rafael, pria itu seperti tidak fokus dan hanya hah heh hoh tidak jelas dari tadi. Reva pun menggeser duduknya mencari posisi yang lebih nyaman. Tetapi pergerakan Reva terhenti saat telinganya tanpa sengaja mendengar geraman pelan Rafael.


"Kenapa?" tanyanya terkejut sendiri.


"Jangan gerak-gerak," ucap Rafael pelan dengan mata terpejam sebentar, pria itu berusaha tersenyum tapi tatapannya terlihat tidak fokus.


"Emangnya kenapa?"


Rafael mencoba mengatur nafasnya yang memburu, perempuan itu entah sengaja atau tidak menggodanya, "Emangnya Reva gak ngerasain?" tanyanya.


"Ngerasain apa? "


"Ada sesuatu yang keras gak di bawah yang Reva rasain?"


Reva baru sadar setelah mendengar itu, benda keras itu memang Ia rasakan tapi sama sekali tidak ngeh jika itu adalah bagian sensitif Rafael. Merasa terkejut Reva pun repleks berdiri dan memalingkan wajah merasa malu sendiri. Tunggu, kenapa jadi canggung begini? Bukannya seharusnya Reva bersikap biasa, Ia kan yang sengaja sudah menggoda duluan.


"Lo ereksi?" tanya Reva bodoh.


"Hm, habisnya Reva gak bisa diem," sahut Rafael malu. Apakah dirinya terlihat lemah sekali karena mudah tergoda? Namanya juga laki-laki.


"Padahal gue cuman duduk deh, tapi kok bisa?" Reva aneh sendiri dibuatnya.


"Duduk sih, tapi Reva goyang-goyang terus, kan itu aku jadi ke gesek-gesek." Setelah mengatakan itu dengan jujur, Rafael berdehem pelan berusaha menghilangkan perasaan canggung nya.


Reva meringis pelan ikut merasa malu. Seharusnya Ia senang dong karena berhasil menggoda Rafael, tapi selalu saja setelah di puncak Reva tidak kuat melanjutkan karena malu sendiri. Padahal Reva ingin menggoda Rafael dan selanjutnya kejadian itupun terjadi, tapi mereka ini terlalu canggung dan malu jadi tidak pernah ada kemajuan.


"Besok malam Reva mau datang ke prom night?" tanya Rafael mengalihkan obrolan.


"Iya, bolehkan? Lo juga datang dong, kan perayaan kelulusan kita."


"Iya datang kok, nanti kita berangkat bareng."

__ADS_1


"Oke."


Melihat jam di dinding semakin malam, membuat Reva memutuskan untuk pergi. Tubuhnya lengket sekali dan Ia harus mandi, untung saja tadi sudah makan malam di Mall bersama dua sahabatnya. Reva sampai tidak menanyakan pada Rafael karena terlalu malu, perempuan itu pun melenggang pergi dan Rafael hanya berdehem pelan saja sambil tetap menunduk.


__ADS_2