
"Silahkan masuk."
Lucas masuk ke unit apartemen itu dengan senyuman lebar di bibirnya, matanya memperhatikan setiap sudut dengan jeli. Seperti apartemen lainnya, terlihat nyaman dan bersih. Lucas pun duduk di sofa.
"Mau minum apa?" tanya Reva.
"Air putih aja."
"Yakin nih? Ada soda loh."
"Enggak ah gak sehat, mending air putih."
"Haha dasar." Tetapi Reva pun tetap membawa minuman yang diinginkan tamunya itu.
"Lo tinggal sendiri di sini Reva?" tanya Lucas.
"Iya, emangnya kenapa?"
"Enak banget diizinin, padahal biasanya anak cewek kalau tinggal sendiri selalu susah."
Memang sih, tapi kan Reva bohong, padahal sebenarnya Ia tinggal berdua dengan Rafael.
"Soalnya bokap tahu kalau gue anak baik, jadinya diizinin."
"Bwahaha anak baik?"
Melihat pria itu yang tertawa meremehkan, membuat Reva jadi kesal, "Jadi menurut lo gue bukan cewek baik-baik?" tanyanya sensi.
"Enggak kok, bukan gitu. Kalau dilihat dari depan aja, Reva nih kaya cewek-cewek nakal gitu. Tapi setelah tahu sifatnya, kayanya bukan."
"Ck tetep aja lo masih ragu," dengus Reva.
Lucas kali ini hanya tersenyum tipis, "Tapi gue yakin lo bukan cewek nakal, ya kan?"
"Iya lah, gue gak suka mabuk, ngerokok atau dugem."
"Wah beneran nih?"
"Iya, dan lo harus percaya."
"Oke gue percaya kok."
"Terus lo gimana? Ah tapi kayanya lo mah emang nakal ya? Apalagi tinggal lama di Amerika, di sana kan bebas banget."
"Ya gue akuin di sana emang bebas banget sih, tapi gue gak sampai berlebihan juga."
"Free *** dan narkoba?"
"Enggak, itu terlalu jauh. Gue selalu nahan diri dan menghindar, apalagi kedua orang tua gue larang banget."
"Ternyata iman lo kuat juga ya."
"Hahaha bisa aja kamu Reva."
"Kamu?" tanya Reva mengulang sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Hm gimana kalau aku manggilnya kamu aja? Kayanya lebih enak gitu."
"Biasa aja tuh, terserah lo aja sih."
Mungkin karena Lucas masih menyukai Reva, jadi ingin menunjukan sedikit sopan santun dan menghargai perempuan itu, dimulai dari hal kecil saja. Tetapi jika diperhatikan, sikap terbuka Reva ini kepadanya memang hanya sebatas teman, tidak lebih.
__ADS_1
"Bentar ya gue sakit perut, ke kamar mandi dulu."
"Oh oke."
Setelah kepergian perempuan itu, Lucas sempat melihat-lihat sosial medianya. Tetapi ternyata Reva lumayan lama, membuatnya bosan dan memilih beranjak untuk melihat-lihat. Apartemen ini terbilang luas, sudah Ia duga pasti harga sewanya pun mahal. Tetapi bagi seorang Reva, sepertinya bukan masalah.
"Kok banyak piala di sini? Punya siapa?" tanyanya seorang diri.
Tidak terlalu banyak juga, ada beberapa di dekat televisi. Melihat nama-nama penghargaan itu, membuat Lucas bertanya-tanya karena perlombaan nya adalah materi yang sulit dan sudah sampai ke cabang nasional.
"Lagi ngapain?" tanya Reva yang sudah kembali.
Lucas menoleh, "Ini punya kamu Reva?"
"Apa?"
"Piala-piala ini."
"Menurut lo?"
"Tapi katanya bukan ya? Reva kan gak terlalu pintar-pintar juga hehe." Tentu saja Lucas tahu, toh mereka kan se kelas.
"Gimana kalau ternyata gue sebenarnya pinter, cuma nyembunyiin bakat gue itu di sekolah? "
"Hahaha emangnya ini cerita novel?"
"Ck jadi lo gak percaya?"
"Enggak," jawab Lucas lalu tidak lama tertawa terbahak.
"Ah nyebelin lo," dengus Reva.
"Lo laper gak?" tanya Reva.
"Lumayan, tapi males keluar. Reva bisa masak?"
"Boro-boro, masak telur aja gosong."
"Hahaha astaga Reva-Reva, kamu itu terlalu jujur ya."
"Emang harus jujur lah, jangan jaim-jaim."
Akhirnya keduanya memutuskan memesan makanan saja, yaitu se paket seafood lengkap saus padang. Sambil menunggu, keduanya menonton film di Netflix lewat televisi. Hampir setengah jam kemudian, paket yang ditunggu akhirnya datang juga.
"Jadi berapa?" tanya Reva.
"Gak usah, dari aku aja," tolak Lucas.
"Beneran nih?"
"Iya, cuma seratus lima puluh ribu."
"Ya udah deh makasih, kayanya lo emang orang kaya ya makanya uang segitu gak ada apa-apa."
"Bukan gitu, tapi kan nraktir temen juga dapat pahala. "
"Oh gitu ya."
Mereka memutuskan makan di meja, tidak memakai piring karena langsung dituang saja semua pada sebuah plastik besar. Ada berbagai macam kerang, kepiting, udang. Agar lebih kenyang, keduanya pun makan ditambah sepiring nasi.
"Hm enak," ucap Lucas setelah mencoba sausnya.
__ADS_1
"Enak kan? Biasanya gue kalau beli seafood selalu dari sini."
"Kalau makan-makanan Indonesia itu selalu lebih enak dari di Amerika."
"Kenapa? Pasti bumbunya lebih medok kan?"
"Nah itu, lebih kerasa aja bumbunya. Kalau masakan di Amerika rasanya malah ke arah hambar, makanya aku kayanya bakal betah di Indonesia."
"Terus gak bakal balik lagi ke Amerika gitu nanti?"
"Tapi kayanya bakal, aku disuruh kuliah di sana. Kontrak kerja Papa juga sudah habis di sini."
"Sayang banget, berarti kita bakal pisah dong."
Seringai terukir di bibir Lucas, "Kenapa? Reva gak mau pisah jauh dari aku?"
"Soalnya lo asik jadi temen, kayanya cowok yang paling asik itu lo."
"Cuma temen ya?"
"Iya lah, kalau pacar kayanya enggak."
"Kenapa?"
"Gak kenapa-napa."
Tentu saja karena Lucas tidak sesuai kriteria Reva, pria itu pun menyadarinya. Sebenarnya Lucas sedang mencari tahu siapa lelaki yang sedang dekat dengan Reva, tapi sayangnya sampai saat ini belum ketahuan. Ia selalu memperhatikan diam-diam dari kejauhan.
"Biasanya kalau cewek selalu pelan-pelan makan bareng aku, tapi kamu lahap banget," ucap Lucas.
"Habisnya lagi laper, terus enak juga makanannya."
"Tenang aja makannya, gak bakal aku habisin kok."
Tidak sengaja Lucas melihat noda saus di dagu perempuan itu, Ia pun membawa selembar tisu dan mengelap nya. Reva yang tadinya sedang makan sampai berhenti dan menatapnya bertanya.
"Sorry, tadi ada saus."
"Apa kelihatan jorok?"
"Enggak kok, malahan aku suka lihat cewek makan lahap."
"Makasih."
"Iya, ayo lanjut aja makannya."
Mungkin Reva selalu bersikap natural saat bersamanya, tapi tanpa perempuan itu sadari sikap aslinya malah membuat Lucas semakin tertarik kepadanya. Sayang sekali sulit sekali bisa masuk ke hatinya, padahal Lucas selalu berusaha mendekati.
"Aku kan udah ke tempat tinggal kamu, nanti lain kali giliran kamu ya yang main ke rumah aku," ucap Lucas.
"Boleh, lo tinggal sama orang tua lo?"
"Iya, gak papa kan?"
"Gak papa, tapi nanti jelasin ya kalau kita cuma temen."
"Kenapa? Reva takut dianggap pacar aku? Apa sampai sebegitunya ya?"
"Ck bukan gitu, kan mending jujur di awal sebelum makin salah paham."
"Iya deh iya," desah Lucas pasrah.
__ADS_1