Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
Ekstra Chapters 1


__ADS_3

Menjalani menjadi orang tua bagi Rafael dan Reva adalah sebuah pengalaman hidup yang luar biasa. Kesabaran mereka benar-benar di uji, tapi melihat pertumbuhan anak mereka yang semakin besar membuat pasangan itu merasa senang.


Trak!


"Ya ampun Non," pekik babysitter Rosalind saat melihat anak kecil itu menjatuhkan vas bunga, "Kenapa dijatuhin?" tanyanya.


Rosalind melipat kedua tangannya di dada, dagunya terangkat sombong, "Emangnya kenapa? Itu kan punya aku," ketusnya.


"Ini punya Nyonya, nanti kalau Nyonya marah gimana?"


"Mama gak akan marah," ujarnya percaya diri.


Rahma yang bertugas menjadi babysitter anak gadis itu hanya menggelengkan kepala, sudah biasa melihat kenakalan anak asuhannya yang setiap hari pasti selalu ada saja tingkahnya. Rahma pun berjongkok untuk memunguti pecahan kaca itu.


"Nona lagi pengen apa?" tanya Rahma. Biasanya kalau Rosalind sudah nakal begini pasti sedang ingin sesuatu.


"Aku mau ketemu Papa," jawab Rosalind pelan.


Rahma mengangguk pelan, "Sabar ya, Papanya kan sedang ke luar kota ada pekerjaan, sebentar lagi juga pulang kok," ucapnya memberikan pengertian.


"Mbak terus bilang sebentar terus dari kemarin!" kesal Rosalind sambil mengerucutkan bibirnya.


"Coba hitung Papa Nona baru berangkat berapa hari?" tanya Rahma sambil menguji.


Dengan jari mungilnya Rosalind pun mulai menghitung, "Satu, dua, tiga, tiga hari ya?" tanyanya.


"Iya baru tiga hari, nah besok Tuan baru pulang."


"Ahhh masih besok, aku mau ketemu Papanya sekarang!" rengek Rosalind. Anak itu lalu menjatuhkan tubuhnya hingga terduduk di lantai, menggulingkan tubuhnya ke sana kemari.


Rahma pun berjongkok mulai bingung jika anak itu sudah merengek seperti ini. Kesabarannya benar-benar di uji, tapi Rahma tidak pernah marah sekali pun dengan tingkah Rosalind. Ia merasa harus menjaga anak perempuan itu dengan baik.


"Nona jangan begini, mending kita main yuk," bujuk Rahma sambil menahan tangan mungilnya.


"Gak mau gak mau, aku maunya ketemu Papa. Aku mau Papa!" jerit Rosalind dan anak itu pun mulai menangis.

__ADS_1


"Aduh bagaimana ini?" gumam Rahma.


Suara derap langkah mendekat membuat Rahma langsung melihat ke arah tangga. Bibirnya tanpa sadar melengkungkan senyuman melihat seorang wanita cantik berjalan menghampiri mereka, Rahma seperti mendapatkan pertolongan.


"Ada apa ini?" tanyanya.


"Maaf Nyonya, Nona Rosalind nangis karena katanya pengen ketemu Tuan," jawab Rahma.


Reva menghela nafasnya berat lalu meminta babysitter putrinya itu untuk menggendong Rosalind. Anak itu sempat tidak diam dan minta dilepaskan, tapi saat menatap Reva langsung tenang walau masih terisak menangis.


"Mau gendong sama Mama," rengek Rosalind sambil mengulurkan sebelah tangannya.


"Sama mbak aja ya, kasihan nanti dedek bayinya keberatan," ucap Rahma membujuk.


Tetapi Rosalind menggeleng kencang, "Gak mau, aku mau sama Mama hiks!"


"Ya sudah sini, tapi kamu jangan nangis lagi," kata Reva.


Rosalind pun mengangguk begitu saja sambil menghapus air mata di pipinya, sesekali menarik ingusnya. Saat tubuh kecilnya sudah berada di pangkuan Mamanya itu, Ia pun menyandarkan kepalanya di cerukan leher dan memeluknya erat.


"Tapi aku kangen sama Papa," rengek Rosalind.


"Kan tadi malam juga sudah video call."


"Aku mau ketemu Papa langsung."


Reva lagi-lagi menghela nafas melihat putrinya yang sekarang menginjak usia enam tahun sedang manja-manjanya. Rosalind memang dekat sekali dengan Rafael, di rumah pun selalu menempel dan tidak mau berjauhan.


Sikap Rafael saat bersama Rosalind memang lembut dan penuh perhatian, berbeda dengan dirinya yang lumayan tegas. Setiap Rosalind menangis lalu melihatnya pasti langsung berhenti menangis karena sudah tahu pasti akan dimarahi.


"Jangan manja, nanti Mama gak akan ajak kamu jalan-jalan lagi," ancam Reva menakut-nakuti.


"Mama jahat!"


"Hei apa?!"

__ADS_1


Mendapatkan pelototan tajam dari Mamanya itu, membuat Rosalind ciut, "Gak, Mama baik kaya malaikat."


Reva menyeringai, "Jangan nangis lagi, ngerti? Tenang aja dong, besok juga Papa kamu pulang."


"Huft iya-iya, tapi aku boleh ya makan es krim?" Rosalind pun langsung tersenyum lebar berusaha membujuk.


"Huh dasar tukang cari kesempatan, ya sudah boleh tapi jangan banyak-banyak. Lihat nih ingus kamu meler mulu, jadi gak cantik ih," ucap Reva pura-pura jijik.


Rosalind pun mengerucutkan bibirnya mendengar itu, "Aku cantik kok," ucapnya keras.


Rasanya Reva ingin tertawa, merasa lucu saja kalau sudah menggoda putrinya ini. Btw Rosalind itu selalu tidak senang jika ada yang mengatakan dirinya tidak cantik, atau bahkan lebih cantik Mamanya. Rosalind sangat percaya diri mengatakan jika anak itu sangat cantik lebih dari Mamanya.


Ya Reva akui sendiri jika Rosalind memang sangat cantik dan imut, wajahnya perpaduan dirinya dan Rafael. Padahal masih enam tahun, Reva jadi tidak sabar anaknya tumbuh besar, pasti bisa jadi primadona di sekolah. Tetapi jangan deh, nanti Reva juga keburu tua lagi.


"Mbak tolong bersihin dulu ingus dia ya, terus kasih es krim nya sedikit aja," perintah Reva pada Rahma si babysitter.


"Baik Nyonya."


Rahma pun dengan sigap mengambil alih anak perempuan itu, merasa senang dan lega karena kini Rosalind sudah tidak menangis lagi. Memang Nyonya Reva itu selalu menjadi penyelamat, karena Rahma selalu bingung sendiri harus membujuk Rosalind dengan cara apa.


Beralih pada Reva, Ibu hamil itu kembali ke kamarnya untuk mandi karena waktu sudah mau sore. Ia tidak perlu khawatir pada Rosalind karena pasti anaknya itu nanti juga akan dimandikan oleh Rahma. Reva tidak akan sanggup menjaganya sendirian, jadi dari saat Rosalind berumur tiga tahun sudah menyewa babysitter.


"Kamu cepet juga ya besarnya," gumam Reva sambil mengusap perutnya.


Terlihat bayangannya yang tidak memakai sehelai benang pun di cermin yang ada di kamar mandi. Reva selalu memperhatikan perutnya yang semakin besar, itu berarti anak keduanya pun semakin cepat lahir. Kini usia kandungannya sudah menginjak tujuh bulan.


"Padahal kaya baru kemarin aja aku lahirin Rosalind, sekarang adek udah ada di perut Mama dan sebentar lagi lahir ya," ujarnya sambil mengajak mengobrol.


Jenis kelamin pun sudah di ungkapkan, yaitu laki-laki. Tentu saja Reva dan Rafael senang, karena itu berarti anak mereka berjodoh. Di kehamilan kedua ini Reva merasa lebih matang, karena usianya pun sudah dua puluh enam tahun lebih.


Selesai mandi Reva turun ke lantai bawah menuju kamar Rosalind. Saat masuk terlihat anak itu sedang dipakaikan baju oleh Rahma. Melihat putrinya yang sangat menggemaskan, membuat Reva pun mendekatinya lalu mengecup kedua pipi gembul Rosalind.


"Ih Mama jangan cium-cium, aku sudah pakai bedak," kesal Rosalind sambil mengusap bekas kecupan di pipinya.


"Huh dasar pelit!" dengus Reva pura-pura ngambek.

__ADS_1


__ADS_2