
Reva memutuskan ikut turun dari mobil membantu Vanessa, mereka sudah sampai di rumah itu. Terlihat langit pun sudah gelap, tidak terasa lumayan lama juga tadi mereka bersama. Tetapi saat Vanessa akan masuk ke gerbang, sebuah mobil porsche warna putih datang. Si pengemudi pun turun, dan ternyata itu adalah Ivana.
"Hai Reva, kamu sedang apa di sini?" tanya Ivana berusaha ramah, Ia kan masih ingin berteman dengan Reva.
"Aku mengantar Vanessa, kami selesai mengerjakan tugas bersama," jawab Reva. Merasa bingung kenapa Ivana ada di sini.
"Oh begitu ya, sampai di antar pulang? Maaf ya kalau dia merepotkan," ucap Ivana sambil melirik sinis Vanessa yang menunduk.
Reva mengernyitkan keningnya, "Tidak kok, aku sendiri yang menawarkan diri untuk mengantar dia. Kenapa juga kamu mengatai dia begitu?"
"Soalnya Vanessa ini kan pembantu di rumah aku, dia itu sebenarnya pelayan pribadi aku," ungkap Ivana menjelaskan.
Reva terdiam beberapa saat baru mengetahui ini, "Jadi ini rumah kamu?" tanyanya.
"Iya, kamu tahu kalau Vanessa itu sebenarnya babu?" tanya Ivana dengan nada mengejek Vanessa.
"Tahu kok," sahut Reva.
"Memangnya kamu tidak masalah gitu temenan sama pembantu kaya dia?"
"Tidak," geleng Reva sambil mengedikan bahu, "Aku bisa berteman dengan siapa saja, asalkan orangnya tulus dan baik hati."
"Oh kalau aku juga begitu sih," ucap Ivana percaya diri, masih berharap Reva mau menjadi temannya.
Reva berusaha tidak mempedulikan lalu beralih menatap Vanessa, "Aku pulang dulu ya, sampai ketemu besok di Kampus," pamitnya.
"Iya Reva, sekali lagi makasih."
Sebenarnya Reva malas berpamitan pada Ivana, Ia hanya tersenyum tidak ikhlas saja pada perempuan itu lalu masuk ke mobilnya. Setelah memperhatikan dua perempuan itu di luar beberapa saat, Reva pun mengendarai mobilnya pergi dari sana. Sepanjang perjalanan pikirannya ini terus memikirkan kejadian tadi, sungguh tidak menyangka jika Vanessa bekerja di rumah Ivana yang menurut firasatnya sering menindas Vanessa.
"Aku harus mencari tahu sesuatu," gumam Reva sambil berusaha fokus menyetir.
__ADS_1
Tiba-tiba di perjalanan mobil Reva berhenti, perempuan itu merasa bingung dan panik sendiri. Reva lalu turun dari mobilnya lalu membuka kap bagian depan, langsung terbatuk-batuk saat banyak asap putih yang keluar.
"Aduh ini kenapa sih?" tanyanya kesal.
Sialnya lagi Reva tidak membawa ponsel, karena Ia merasa akan pulang cepat. Reva memperhatikan sekitar jalanan, di sana kawasan sepi dan tidak banyak kendaraan maupun orang yang lewat. Reva merasa takut jika ada orang jahat atau macam-macam, perempuan itu pun memutuskan kembali masuk ke mobil.
"Hiks Rafael, kamu dimana sih?" Tangisan Reva pecah merasa setelah kepergian pria itu, banyak sekali hal yang terjadi dan Reva harus melewatinya sendirian.
"Harusnya kamu ada di sini, aku lagi butuh kamu sekarang," lirih Reva. Kepalanya lalu di tumpukan di atas setir, sambil menangis dalam diam memikirkan Rafael terus.
Trak trak!
Reva terkejut mendengar ketukan dari kaca pintu mobilnya, saat Ia menoleh terlihat seorang pria dewasa di luar. Siapa? Apakah orang yang akan membantunya? Merasa bisa meminta tolong, Reva pun memutuskan turun menghampirinya langsung.
"Ada apa ya Pak?" tanya Reva.
"Kenapa mobilnya diam di sini neng?" tanyanya.
"Mobil saya tiba-tiba mogok, banyak asap keluar dari kap depan mobilnya," jawab Reva menceritakan.
"Gimana Pak caranya?"
"Biar saya coba nyalain dulu mesinnya ya, izin masuk ke dalam."
"Oh iya silahkan."
Tetapi ternyata tidak menyala juga, si Bapak lalu meminta Reva menghampiri bengkel itu dan bertemu pemiliknya. Awalnya Reva sempat menolak dan menyuruh balik karena tidak tahu, tapi si Bapak beralasan masih berusaha menyalakan mesin mobilnya. Akhirnya Reva pun menurut dan berlari ke depan mencari dimana bengkel itu.
"Katanya gak jauh di depan, tapi dimana sih?" tanyanya seorang diri sambil memperhatikan sekitar sisi jalan, sayangnya tidak ada bengkel juga, "Aduh dimana sih bengkelnya? Ini udah lumayan jauh, tadi kata Bapaknya gak jauh," keluh nya.
Reva bisa merasakan jika perasaannya tidak enak, Ia pun memutuskan kembali sambil berlari secepat mungkin. Tetapi sayangnya mobilnya sudah tidak di tempat tadi, kosong dan entah kemana bersama Bapak itu. Reva masih berpikir positif lalu mencari lagi, tapi setelah lumayan jauh dan lama mencari tidak menemukan juga. Perempuan itu pun terduduk dengan lesunya di trotoar.
__ADS_1
"Huhu kenapa sih hari ini? Hiks mobilku hilang," isak Reva terlihat menyedihkan. Rasanya nyesek sekali kendaraan kesayangannya itu hilang, sepertinya pria tadi pencuri. Kenapa juga Reva dengan mudahnya percaya saja?
Tin!
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya, Reva pun mengangkat kepala untuk melihat. Entah kebetulan atau bagaimana, ternyata itu adalah Papanya. Reva pun langsung beranjak berhambur memeluk Papanya itu sambil kembali menangis.
"Reva kamu kenapa sayang? Kenapa kamu sendirian di sini? Kenapa kamu juga nangis?" tanya Papanya dengan nada khawatir.
"Hiks mobil aku hilang," rengeknya mengadu.
Papanya lalu meregangkan pelukan, "Apa? Bagaimana bisa?"
"Ceritanya panjang, tapi aku kena tipu hiks. Aku sudah cari ke mana-mana, tapi mobilnya udah gak ada." Apalagi mobil itu hadiah dari kedua orang tuanya, Reva merasa tidak enak dan merasa sedih sendiri.
"Ya Tuhan, kenapa bisa sih?" Papanya terlihat tidak menyangka sendiri dengan musibah yang menimpa putrinya itu, "Ya sudah jangan nangis, ayo masuk mobil."
Sebenarnya Papanya itu hanya kebetulan sedang lewat saja, melihat ada seorang perempuan familiar terduduk di trotoar sendirian membuatnya tertarik menghampiri, mungkin saja butuh pertolongan. Tetapi tanpa diduga, ternyata yang akan di tolong nya itu adalah putrinya sendiri.
"Kenapa juga kamu sampai gak bawa ponsel sih? Kan jadinya repot begitu," omel Papanya yang sedang fokus menyetir. Putrinya itu sudah menjelaskan kejadian tadi, membuatnya emosi sendiri.
"Kan tadinya juga gak akan lama mau langsung pulang, aku juga gak tahu kalau mobilnya bakalan mogok," ucap Reva membela diri.
"Mobilnya sudah di cek belum ke bengkel? Kan harus rutin setiap bulan."
"Biasanya sih Rafael yang selalu anterin, tapi kan.. Sekarang dia gak ada." Mengingat pria itu lagi, membuat kedua mata Reva berkaca-kaca. Perasaannya campur aduk sekali sekarang, sedih dan juga marah.
"Ya sekarang kan Rafael sudah gak ada, jadi kamu harus mandiri lakuin apa-apa sendiri. Kamu juga yang kekeuh mau tinggal sendiri, jadi Papa gak akan bisa tahu apa aja yang lagi kamu kerjain."
Reva menghela nafasnya berat, "Mungkin dulu aku terlalu bergantung pada dia, jadi sekarang gak terbiasa dan repot sendiri," gumamnya.
"Untuk soal mobil jangan khawatir, Papa akan minta bantuan teman polisi Papa untuk cari pelakunya dan mobilnya," ucap Papanya.
__ADS_1
"Iya makasih, tapi kalau bisa mobilnya jangan sampai rusak ya Pah."
"Hm."