Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
49 Pagi Yang Heboh


__ADS_3

Besok paginya saat keluar kamar, Reva merasa bingung tidak melihat kehadiran Rafael. Biasanya pria itu sudah rajin membuat sarapan untuk mereka berdua, bahkan sekarang di atas meja kosong tidak ada makanan.


"Kemana dia?" tanyanya bingung.


Apakah Rafael berangkat lebih dahulu? Tidak mungkin, pria itu akan menghubunginya dulu. Reva memutuskan mengeceknya di kamar pria itu, dan ternyata benar. Rafael masih tidur di ranjangnya.


"Astaga Rafael, bangun woy udah siang," teriaknya heboh.


Reva membuka gorden di jendela besar itu, membuat cahaya matahari langsung masuk ke dalam. Reva lalu melihat Rafael baru membuka mata sambil duduk. Reva mendekat sambil berkacak pinggang.


"Baru kali ini anak rajin bangun kesiangan," ledek nya.


"Jam berapa sekarang?" tanya Rafael dengan suara serak.


"Jam enam lebih, buruan bangun masih ada waktu."


"Aduh aku bangun kesiangan, bentar deh mandi dulu."


Tetapi Reva terkejut saat Rafael turun dari ranjang, pria itu hampir terjatuh dan repleks dirinya menahan tubuh Rafael. Jika diperhatikan dari dekat, wajah pria itu terlihat pucat. Bahkan tangan Rafael yang Ia pegang pun panas.


"Lo sakit ya?" tanya Reva.


"Pusing," jawab Rafael pelan.


"Kayanya bener lo sakit, ya udah tidur lagi."


"Enggak, aku harus sekolah," tolak Rafael.


Reva berdecak, "Jangan keras kepala deh, jangan maksain kalau beneran sakit. Udah tidur lagi, hari ini jangan sekolah."


"Tapi aku bakal ketinggalan les."


"Astaga Rafael, lo itu udah pinter. Ketinggalan pelajaran sehari dibuat repot, belajar sendiri juga pasti ngerti." Beda lagi dengan Reva, memang suaminya itu terlalu rajin.


"Ya udah deh, kayanya hari ini aku bakal izin dulu. Gak kuat."


Sebenarnya Rafael merasakan dari semalam, bahkan Ia tidak bisa tidur karena tubuhnya menggigil dingin. Mungkin karena imun nya sedang turun, lalu malam tadi malah bermain di tempat yang dingin. Mau bagaimana lagi, Rafael hanya ingin menghibur istrinya.


"Bentar gue bawain kompresan ya," ucap Reva lalu beranjak keluar kamar.

__ADS_1


Masih ada waktu untuk sedikit mengurus Rafael sebelum Ia tinggal ke sekolah. Untungnya lagi ada bubur instan, jadi tidak perlu lama pesan. Reva juga tidak lupa membawakan obat khusus untuk sakit Rafael.


"Badan lo panas banget, kalau sakit kenapa gak bilang sih?" gerutu Reva.


"Baru ngerasanya pas tengah malam."


"Ya udah, lain kali gak usah main ke ice skating lagi."


"Jangan dong, itu kan tempat favorit kamu."


"Tapi lo sampai sakit gini."


Melihat Reva yang terlihat khawatir, membuat dada Rafael menghangat, "Besok juga aku pasti udah agak baikan, kan punya perawat spesial."


"Beneran ya besok udah sembuh, jadi sekarang harus banyak istirahat. Nih gue buatin bubur, nanti kalau udah makan terus minum obat dan tidur. Ngerti?"


"Iya bu dokter, makasih ya udah disiapin. Makin cantik deh."


Reva mencebikan bibirnya mendengar gombalan itu, tapi Ia merasa senang hanya malu-malu. Reva lalu beranjak dan berpamitan untuk berangkat sekolah. Ingin sebenarnya izin untuk menjaga Rafael, tapi Rafael pasti akan menolak karena tidak mau direpotkan.


Sesampainya di sekolah, baru saja masuk ke gerbang. Reva merasa dirinya menjadi banyak perhatian, bahkan dari mereka saling berbisik satu-sama lain. Reva berusaha mengabaikan, tapi di Koridor menuju kelasnya, Reva terkejut saat bahunya ada yang merangkul.


Kedua mata Reva terbelak mendapat perlakuan itu, Ia pun langsung menurunkan tangan Lucas di bahunya, "Lo apa-apa an sih?" protesnya.


"Loh kenapa emangnya? Lupa ya kalau kita udah jadian?"


Reva terdiam baru mengingat itu, Ia kembali melirik sekitar mendengar bisikan-bisikan yang semakin banyak. Apa mungkin mereka membicarakannya? Reva lalu menatap Lucas meminta penjelasan, sedang pria itu dari tadi hanya tersenyum.


"Kenapa sayang?" tanya Lucas gemas.


"Ck jangan manggil gitu ih, ini kan di sekolah."


"Gak papa dong, kan biar orang lain makin percaya kalau kita beneran jadian."


"Tapi gak enak aja, gimana kalau guru denger?"


"Yang pacaran di sini bukan cuman kita loh, banyak juga tuh yang lain." Lucas mengusap rambutnya gemas, "Kamu jangan malu-malu gitu ah."


Reva mengernyitkan kening mendengar itu, malu-malu katanya? Yang benar saja. Reva bukan malu-malu, malah Ia tidak nyaman dipanggil dengan sebutan sayang begitu oleh Lucas. Apalagi ini kan di lingkungan sekolah, sudah pasti akan langsung tersebar.

__ADS_1


"Yuk ke kelas bareng," ajak Lucas.


Dengan santainya pria itu pun menggandeng tangannya. Reva berusaha melepaskan, tapi Lucas malah menggenggamnya semakin erat tidak mau dilepaskan. Akhirnya Reva pun pasrah saja, karena merasa percuma.


Saat baru masuk kelas, Reva sampai menelan ludah kasar melihat teman-temannya langsung bersorak dan bersiul menggoda ke arahnya. Apakah mereka pun sudah tahu kalau di antara Ia dan Lucas ada hubungan? Reva lalu tidak sengaja melihat ke arah Ica, tapi sahabanya itu langsung memalingkan wajah.


"Cie jadian juga ya kalian."


"Pajak jadiannya di tunggu ya."


Rasanya Reva ingin menutup telinga mendengar godaan dari teman-teman kelasnya itu. Lucas bahkan sampai mengantarkannya ke bangkunya, sebelum pergi mengusap kepalanya dulu. Rasanya Reva ingin menghilang saja dari sana merasa malu.


"Reva, lo serius jadian sama si Lucas?" tanya Tata yang langsung menghampirinya.


"Em itu lo emangnya denger dari siapa?"


"Dari banyak orang, pagi ini heboh banyak yang gosipin kalau lo sama si Lucas jadian. Jadi bener?"


Reva sempat melirik ke arah Lucas, pria itu cepat sekali bertindak. Tidak terbayang kalau kabar lain yang disebarkan, seperti Reva dan Rafael yang ternyata adalah pasangan suami-istri.


"Hm." Reva berdehem tidak ikhlas.


"Katanya lo gak suka sama dia."


"Ah pokoknya rumit banget, gue juga gak tahu harus gimana."


"Maksdunya?"


Reva hanya menggeleng dan tidak menjelaskan lagi, merasa percuma karena pasti dirinya malah akan berkata membingungkan. Selain itu masa saja Reva beralasan dimanfaatkan Lucas, yang ada nanti pria itu akan langsung menyebarkan rahasianya. Reva tidak boleh bertindak gegabah.


"Dari tadi si Ica cemberut, dia juga gak mau diajak ngobrol," bisik Tata.


Reva melirik salah satu sahabanya itu, merasa bersalah karena seperti sudah memgkhianatinya, "Gue gak enak sama dia, dia pasti marah sama gue," ucap Reva.


"Bukan salah lo, lagian lo gak salah kok. Si Ica cuma sebatas suka, beda lagi ceritanya kalau dia udah jadian sama si Lucas."


Tetap saja Reva merasa bersalah dan tidak enak. Reva juga khawatir karena ini membuat hubungan persahabatannya dengan Ica jadi merenggang. Semoga saja tidak, dan Ica bisa mengerti.


"Pokoknya lo harus cerita awal gimana bisa jadian sama si Lucas, nanti pas jam istirahat ya," ucap Tata sambil tersenyum lalu kembali ke bangkunya karena sudah bel masuk.

__ADS_1


__ADS_2