
Bel istirahat berbunyi, membuat para siswa langsung bernafas lega. Segera mereka beranjak keluar kelas untuk beristirahat sejenak dari penatnya belajar beberapa jam tadi. Baru saja Reva akan berdiri, Lucas sudah menghampirinya.
"Ayo sayang kita ke kantin bareng," ajak Lucas dengan suara kerasnya.
Bukan hanya Reva yang terkejut mendengar panggilan berani itu, tapi juga beberapa teman di dekatnya. Ada yang menggoda bersiul, tapi Reva tidak tersanjung dan malah merasa malu. Ia lalu melirik Ica, temannya itu beranjak dan keluar kelas begitu saja.
Apakah marah?
"Gue sama Tata," tolak Reva.
"Ta, Reva makan sama gue. Gak papa, kan?" tanya Lucas.
"Em gimana yah, soalnya gue gak temen," ucap Tata.
"Tuh tadi Ica keluar, nanti gue yang bayar makanan kalian deh."
"Oke deal, gue duluan ya Rev." Tata pun melenggang pergi keluar kelas.
Reva mendengus pelan melihat itu, betapa mudahnya sahabanya itu dibujuk. Padahal Reva ingin menghindari Lucas, pria itu benar-benar memanfaatkan kesempatan dengan baik.
"Ayo, nanti keburu Bel masuk," ajak Lucas.
Reva memukul pelan uluran tangan Lucas, "Mau apa?" tanyanya.
"Pegangan tangan lah," jawab Lucas enteng.
"Enak aja, enggak."
"Kenapa? Malu ya dilihat banyak orang?" goda Lucas.
"Iya lah, lagian ini di sekolah jadi jangan aneh-aneh."
"Iya deh iya, udah dong jangan marah."
Bukan marah, tapi Reva kesal saja dengan sikap Lucas itu yang seperti benar-benar menjadikannya pacar. Padahalkan Reva tidak mau, Ia tidak terpaksa setuju. Sial sekali Reva sudah menerima penawarannya waktu itu, sekarang tidak bisa ditarik.
"Kamu kenapa cemberut terus sih? Dimakan dong baksonya, mau aku suapin?" tanya Lucas yang duduk di depannya.
"Gak," tolak Reva.
"Ya udah dimakan, sayang."
Dengan tidak nafsu Reva pun memakan baksonya itu. Ia memperhatikan sekitar kantin mencari keberadaan dua sahabanya, tapi mereka tidak terlihat membuat Reva gundah. Reva tidak nyaman hanya makan berdua dengan Lucas.
"Kemana suami kamu itu? Aku belum lihat dari pagi."
__ADS_1
Reva berdecak, "Jangan panggil gitu ih, gimana kalau ada yang denger?" desis nya.
"Oh okey, sorry. Maksudnya dimana si Rafael?"
"Hari ini dia gak sekolah, sakit."
"Wah sayang banget, itu berarti dia gak tahu tentang berita kita jadian. Padahal aku paling penasaran lihat ekspresi dia. Dia pasti cemburu banget karena kamu jadian sama aku."
Benarkah Rafael akan cemburu? Batin Reva.
Tetapi Reva juga cukup penasaran saat Rafael tahu tentang kabar ini, tapi di satu sisi entah mengapa merasa lega karena Rafael hari ini tidak sekolah. Reva merasa cukup berdebar saja jika sampai suaminya itu tahu Ia menjalin hubungan dengan laki-laki lain.
"Mulai besok aku yang anter jemput kamu ya," ucap Lucas.
"Gak usah."
"Gak ada penolakan, pokoknya kamu harus nurut." Lucas menghentikan makannya dahulu, "Ada satu lagi, aku gak suka kamu panggil aku lo."
"Tapi kan dari dulu juga emang begini."
"Tapi kan sekarang kita udah jadian, jadi harus lebih sopan. Sekarang panggilnya kamu aku, jangan lo gue. Oke?"
"Ck nyebelin!" Kenapa juga Reva harus menurut? Ia merasa tersinggung diperintah ini itu oleh Lucas.
Selesai makan Reva seperti biasa selalu ke toilet dahulu untuk sekedar buang air kecil atau mencuci wajah. Tetapi Ia bertemu dengan Ica di sana, kebetulan nya lagi hanya ada mereka berdua.
"Gak tahu," jawab Ica ketus tanpa menatap.
Reva mengernyitkan keningnya mendengar nada suara Ica, "Emang tadi gak ke kantin bareng?"
"Bareng sih, tapi pisah."
"Oh." Reva berdehem pelan, "Ca lo marah sama gue?"
"Menurut lo?"
"Kayanya lo ngambek ya, dari tadi natap gue sinis terus gak bicara apapun."
Ica lalu menghadapkan tubuhnya pada Reva, "Kok Reva tega-teganya sih, Reva kan tahu aku suka sama Lucas," ucapnya mengeluarkan isi hati.
"Sorry Ca, gue gak maksud."
"Gak maksud gimana? Dulu aja bilang gak tertarik sama Lucas, eh sekarang tiba-tiba denger malah udah jadian aja. Nyebelin, gak bilang-bilang lagi."
Saat Reva akan membawa tangan Ica, perempuan itu malah menyentak kasar membuatnya sedikit terkejut. Melihat ekspresi menahan marah Ica membuat Reva harus sabar dan tidak terpancing emosi.
__ADS_1
"Tapi kan lo juga belum jadian sama si Lucas."
"Oh gitu, ya tapi tetep aja Reva nikung aku."
"Iya deh sorry, tapi lo juga gak tahu masalah yang sebenernya."
"Maksudnya?"
Reva ragu sekali untuk menjelaskan ini, tapi Ia juga merasa mengganjal melihat sikap sahabanya itu yang ngambekan dari pagi. Haruskah Reva cerita jika sebenarnya Ia pun terpaksa menjalin hubungan dengan Lucas?
"Gue terpaksa," ucap Reva.
"Terpaksa gimana?"
"Pacaran sama Lucas."
Ica malah mendengus, "Mana ada, bilang aja Reva dengan senang hati jadi pacar Lucas. Ya siapa juga sih yang gak mau jadi pacar dia, ternyata Reva ini munafik ya."
"Kok lo ngomong gitu sih? Lo gak percaya sama gue?"
"Enggak, soalnya alasan Reva gak jelas. Udah deh, untuk sekarang Ica gak mau dulu ngobrol sama Reva. Ica lagi ngambek!" ketusnya lalu keluar dari sana.
Reva berdecak pelan melihat sikap sahabat nya itu yang berubah, membuatnya kesal sendiri tapi juga merasa bersalah. Reva tidak suka kalau sudah punya masalah dengan teman dekat, mereka lah selama ini yang selalu Ia utamakan.
Saat keluar dari toilet, Reva malah terkejut melihat kehadiran Lucas. Sejak kapan pria itu di sini?
"Ngapain di sini? Mau ngintip ya?" tanya Reva.
Lucas terkekeh kecil, "Bisa aja, tapi aku gak gitu kok. Tadi aku gak sengaja denger kamu ribut sama Ica."
Ternyata pria itu menguping, batin Reva.
"Puas lihat pertemanan aku sama Ica jadi berantakan gini?" tanya Reva sinis.
"Sebenarnya aku juga bingung kenapa dia harus marah sama kamu, toh aku gak ada hubungan apapun sama Ica. Aku juga selalu ngehindarin dia selama ini, dia aja yang terlanjur baper dan berharap," celetuk Lucas tanpa merasa bersalah.
"Tapi kan dia sahabat aku, kamu juga tahu dia suka sama kamu." Reva benar-benar tidak biasa harus bicara formal begini, tapi Lucas lah yang menyuruh tadi.
"Aku gak peduli sama perasaan dia, lagi pula aku pengen bahagia sama orang yang aku cintai yaitu sama kamu."
Tetapi di sini Reva tidak bahagia, Lucas saja yang bahagia karena bisa berpacaran dengannya. Percuma saja mengingati, toh Lucas tidak akan peduli dan mendengar. Kesabaran Reva benar-benar diuji.
"Reva, jangan katakan pada siapapun kalau kamu terpaksa pacaran sama aku," ucap Lucas dengan ekspresi seriusnya, "Tadi kamu hampir bilang sama Ica, tapi untung aja dia gak percaya sama kamu."
Lucas satu langkah mendekat, "Kalau kamu bilang begitu dan orang lain dengar, aku juga gak akan segan-segan bilang sama mereka tentang rahasia kamu itu, ngerti?"
__ADS_1
Reva menelan ludahnya kasar melihat Lucas yang tampak berbeda, auranya terlihat lebih kuat membuatnya ciut.