Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
Sama-sama Beruntung


__ADS_3

Saat Reva diizinkan masuk ke dalam melihat Vanessa, tanpa bisa ditahan kedua matanya berkaca-kaca melihat temannya itu yang terbaring lemah di atas ranjang. Jika diperhatikan lebih dekat, wajah Vanessa pun agak babak belur. Sepertinya kejadian yang sudah menimpanya itu cukup memilukan.


"Hai Reva," sapa Vanessa dengan suara lemahnya.


Reva tidak menyapa nya balik, masih menatap dalam temannya itu, "Kenapa kamu jadi kaya gini?" tanyanya.


"Maaf ya lagi-lagi buat kamu khawatir, aku sudah berusaha bertahan tapi--"


"Ivana sudah keterlaluan, sekarang aku serius akan melaporkan dia." Melihat Vanessa terdiam membuat Reva penasaran, "Kamu gak akan tahan aku lagi kali ini?"


Kepala Vanessa menggeleng, tangannya yang tidak di infus lalu membawa sebelah tangan Reva dan mengusapnya. Terlihat kedua mata Vanessa berkaca-kaca, tapi perempuan itu dengan sekuat tenaga menahan tangisannya.


"Terima kasih Reva selalu khawatir dan peduli pada aku, padahal kita hanya teman. Aku benar-benar sangat berterima kasih pada kamu," ucap Vanessa.


"Aku cuman gak tega ada orang yang di bully begini, apalagi pakai kekerasan fisik," sahut Reva.


Dulu saat sekolah Reva juga memang sering usil pada murid lain, tapi kan Reva dan teman-temannya tidak pernah sampai tahap kekerasan. Berbeda lagi pada Rafael, pria itu sendiri kan yang meminta agar orang lain tidak curiga kalau mereka ada hubungan.


"Aku serahin semuanya sama kamu Reva, aku juga sudah merasa lelah," gumam Vanessa jujur. Merasakan air matanya menetes, segera perempuan itu usap.


"Kamu memang gak pantas mendapatkan ini, dia bukan siapa-siapa kamu."


Reva merasa senang karena kali ini temannya ini tidak keras kepala dan menahannya untuk melaporkan Ivana ke polisi. Mungkin Vanessa sudah ada di tahap akhir, sudah dari lama juga mendapatkan kekerasan fisik begini dan menyerah. Saat ada seseorang yang menawarkan pertolongan, tentu Ia menerimanya.


"Aku mau kenalin kamu ke seseorang," ucap Reva sambil tersenyum.


"Siapa?"


"Sebentar." Reva pun keluar dari ruang rawat itu, lalu memanggil Rafael yang dari tadi menunggu di lobi.


Reva pun langsung menggandeng tangannya dan menariknya masuk ke ruangan itu. Mereka lalu berdiri di sisi ranjang, terlihat Vanessa yang kebingungan menatap mereka.

__ADS_1


"Kamu dari dulu katanya pengen ketemu suami aku ya, nih sekarang sudah ketemu," kata Reva.


Vanessa mengangguk pelan, "Nama aku Vanessa, aku temannya Reva."


"Iya saya tahu, Reva banyak cerita tentang kamu," sahut Rafael, "Terima kasih ya sudah menjadi teman baik dia."


Rafael yakin Vanessa ini adalah anak baik-baik, perubahan istrinya pun pasti ada campur tangan Vanessa. Dulu kan Reva sangat sombong dan egonya tinggi, mungkin saja berteman dengan orang biasa seperti Vanessa dapat merubah sedikit demi sedikit sifatnya itu.


"Tidak, saya yang beruntung bisa berteman dengan Reva," balas Vanessa, "Dia adalah teman pertama saya, sangat baik dan perhatian."


Jika mengingat betapa beruntungnya Vanessa bisa mendapat teman seperti Reva, selalu membuat nya ingin menangis. Reva itu sudah cantik, baik, dari kalangan orang berada. Melihat suaminya itu, membuat Vanessa yakin jika pasangan Reva tidak kalah sempurna.


"Kamu bisa saja Vanes," ucap Reva malu-malu.


Rafael yang memperhatikan dibuat tersenyum oleh pertemanan mereka, "Semoga kamu cepat pulih ya, pasti tidak betah harus dirawat di rumah sakit."


"Ah iya, terima kasih juga kalian sudah menyempatkan waktu menjenguk aku," balas Vanessa.


Reva lalu menceritakan jika dirinya sudah bicara dengan Papanya, dan sepertinya dalam waktu cepat ini kasusnya akan segera di urus. Vanessa sempat gugup, tapi Reva mencoba memberikan pengertian lagi dan jangan mundur.


"Kamu tenang saja Vanes, aku akan selalu bersama kamu," ucap Reva sambil mengusap tangannya.


"Sekali lagi terima kasih ya Reva, aku gak tahu harus balas apa atas semua kebaikan kamu." Vanessa lalu membatin, biar Tuhan saja yang membalas semua kebaikan perempuan itu.


"Sudahlah kita kan teman, harus saling bantu," ucap Reva sambil tersenyum.


Rafael mengiyakan, "Mungkin sekarang Reva yang bantu kamu, bisa saja suatu saat nanti Reva yang butuh bantuan dari kamu," gumamnya.


Vanessa mengangguk, dan jika pun suatu saat nanti Reva benar membutuhkan bantuannya. Vanessa janji akan memberikan apapun, jasa temannya itu kepadanya sangat banyak. Lagi pula kan siapa yang tahu takdir masa depan seseorang. Bisa saja yang sekarang baik-baik saja, akan terjadi suatu hal buruk.


"Vanessa, kayanya aku dan Rafael harus pulang sekarang," pamit Reva. Sudah dua jam juga mereka di sana. Tidak bosan karena mengobrol dengan Vanessa.

__ADS_1


"Oh iya, makasih ya Reva sudah jenguk." Vanessa sampai tidak sadar sudah berapa kali mengucapkan terima kasih.


"Iya, kamu cepat sembuh ya. Nanti aku akan kabari lagi."


"Iya, kalian hati-hati di jalan."


Tidak lupa Reva dan Rafael pun berpamitan pada bibi Vanessa. Wanita itu dari kemarin selalu setia menemani keponakannya di sini, barang-barangnya pun sudah diambil dari rumah karena sudah memutuskan berhenti kerja di sini. Keputusan yang tepat.


"Sekarang ke Mall kan?" tanya Reva bersemangat.


Rafael yang baru saja memakai seatbelt nya langsung menoleh, "Aku kira kamu sudah lupa," celetuknya.


"Oh tidak akan dong, mana mungkin aku lupa kalau soal belanja hehe," kekeh Reva.


"Dasar, ya sudah deh." Lagi pula kan Rafael sudah janji, kalau tidak ditepati pasti istrinya itu akan ngambek lagi.


Rafael mengendarai mobilnya menuju salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. Sepanjang perjalanan Reva terus menyanyi, perempuan itu terlihat bersemangat dan ceria sekali. Rafael yang melihatnya jadi ikut senang. Kapan lagi bisa ada dalam suasana seperti ini.


Sesampainya di Mall itu, keduanya langsung masuk sambil berpegangan tangan. Karena ini hari libur, suasana di Mall sangat ramai. Reva pun langsung mengajak suaminya itu ke lantai dua, dimana di sana banyak toko pakaian dengan brand terkenal. Rafael hanya menurut-nurut saja.


"Katanya mau beli skincare doang," sindir Rafael. Reva malah masuk ke toko pakaian.


Reva pun langsung menyengir lebar, "Kapan lagi bisa shoping, kan mumpung ada kamu."


"Ya sudah, tapi jangan banyak-banyak."


"Iya tenang saja," ucap Reva tidak meyakinkan.


Melihat Rafael yang hanya diam saja menemaninya, membuat Reva pun jadi tidak tega dan berinisiatif memilihkan sebuah kemeja bercorak. Awalnya suaminya itu menolak, tapi Reva terus membujuk. Sepertinya ada juga yang menarik mata Rafael, akhirnya pria itu pun jadi ikut belanja.


"Aku dengar Ayah kemarin menang dan untung banyak di perusahaan, kamu juga pasti dapat bonusnya, kan?" tanya Reva sambil menyeringai.

__ADS_1


Mendengar jika istrinya ini tahu, membuat Rafael menelan ludah kasar. Gawat, kalau Reva tahu Ia dapat bonus banyak pasti akan minta uang lebih. Haruskah Rafael jujur?


__ADS_2