
Karena tidak enak mengobrol didengar orang lain, Evan pun mengajak Reva ke dalam untuk bicara lebih jelas. Ia tentu harus mendengar semua penjelasannya tentang tuduhan yang Reva berikan pada babysitter putrinya itu, karena Ia adalah orang tua Celine yang paling bertanggung jawab.
"Celine sayang, apa yang Kak Reva katakan itu benar tentang mbak Nana?" tanya Evan pada putrinya. Mencoba berbicara baik-baik, agar Celine pun tidak merasa tertekan.
Celine lalu mengangguk, "Iya Papa, Kak Reva juga tahu semua dari aku," adunya.
"Terus kenapa kamu gak pernah cerita sama Papa sayang?" Hati Evan menjadi sedih begitu saja karena putrinya itu memilih curhat pada orang lain, padahal Ia adalah orang tuanya.
"Papa jarang di apartemen, Papa selalu sibuk kerja dan pulang kalau aku sudah tidur. Cuman Kak Reva teman aku, dia juga selalu jagain aku kalau mbak Nana lagi marahin aku."
Tatapan Evan menyendu mendengar itu, Ia pun membawa putrinya itu ke pelukan dan mengusapi punggung ringkih nya. Sanking terlalu sibuk sampai tidak ada waktu dengan putrinya. Evan sempat menduga jika Celine akan baik-baik saja setelah ada yang mengasuhnya, tapi ternyata dugaannya salah.
"Maafin Papa ya sayang, Papa juga gak pernah tanyain keadaan kamu," ucap Evan.
"Iya Papa."
Evan lalu melepas pelukannya dan beralih menatap Nana, perempuan itu dari tadi terlihat menunduk dengan ekspresi wajah cemas nya. Tanpa meminta penjelasan lebih pun, Evan sudah bisa menduga jika sepertinya tuduhannya itu benar.
"Nana, jadi kamu selama bekerja dengan lalai? Bagaimana bisa kamu tidak menjaga anak saya dengan baik?" tanya Evan memarahi. Walaupun nada suaranya masih rendah, tapi percayalah pria itu sedang menahan emosi.
"Sa-saya minta maaf Tuan, tapi saya sudah bekerja dengan baik kok," ucap Nana masih membela diri.
Reva mendengus melihat akting memelas perempuan itu, "Hah jangan bohong deh, aku udah lihat semuanya gimana cara kerja kamu selama ini," ledek nya.
"Apa saja yang Celine ceritakan pada kamu Reva?" tanya Evan penasaran.
Reva pun menjelaskan jika Celine pernah ditinggalkan di depan apartemem sendirian, tidak diperbolehkan jajan dan Nana yang malah bersantai di apartemen tanpa mempedulikan Celine. Lalu tadi saja yang Celine ke apartemennya karena mengeluh lapar belum makan dari siang.
"Nana, bisa-bisanya kamu memperlakukan anak saya begitu?!" desis Evan yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Kedua tangannya sampai terkepal, kesal saja ternyata putrinya di perlakukan semena-mena begitu oleh orang lain.
__ADS_1
"Maafin saya Tuan, tapi--"
"Tapi apalagi? Mau alasan apalagi kamu hah?!"
Nana sampai tersentak baru pertama kali mendapat bentakan seperti itu dari Evan, "Saya minta maaf," cicitnya mengakui kesalahan.
"Padahal saya memperkerjakan kamu untuk menjaga Celine dengan baik, tapi kenapa kamu malah tidak merawat dia dengan baik?" Evan lalu menyadari sesuatu, jika setelah Nana datang anehnya putrinya jadi lebih pendiam dan sering murung.
"Apa kamu juga sering melakukan kekerasan pada Celine?" tuduh Evan dengan mata tajamnya.
Nana menggeleng pelan enggan menjawab.
"Mbak Nana sering cubit aku kalau misal aku ngerengek pengen mainan atau mau jajan." Celine pun akhirnya yang mengakui sendiri.
Evan memijat pelipisnya yang berdenyut, "Kurang ajar ya kamu Nana, beraninya kamu sama anak sekecil Celine. Mau saya laporkan kamu ke polisi?" ancam nya.
Kedua mata Nana terbelak, "Jangan Tuan, saya benar-benar minta maaf," pintanya memohon. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca merasa takut sendiri membayangkan Ia masuk penjara.
"Maaf Tuan." Hanya itu saja yang bisa Nana katakan. Merasa malu saja karena kejahatannya ketahuan.
Evan lalu menarik Celine dan mendudukan nya di atas pahanya, "Kamu selama ini memendamnya dan harus menghadapi sendirian. Maafkan Papa ya sayang?"
"Iya Papa gak papa. "
"Tapi Papa ingin kamu jangan menyembunyikan apapun lagi dari Papa. Kalau semisal kamu gak baik-baik aja atau ada yang jahat pada kamu, cerita pada Papa. Mengerti?"
"Iya Papa," angguk Celine mengerti. Anak itu pun memeluk Papanya setelah memberikan kecupan singkat di pipi.
Reva yang melihat itu dibuat tersenyum, kembali Ia merasa nostalgia saat kecil bersama Papanya. Perhatian Reva lalu teralih pada Nana, Reva memberikan senyuman sinis mengejek perempuan itu karena merasa puas sudah mengadukan semua kebobrokan nya sebagai babysitter gadungan.
__ADS_1
"Kak Evan, menurut aku lebih baik pecat dia saja," usul Reva sambil menunjuk Nana. Bukan maksud memanasi, tapi menurutnya Nana memang sudah tidak pantas jadi babysitter untuk Celine.
Evan pun mengangguk, "Iya saya juga sudah pikirkan dengan baik, hari ini Nana berhenti bekerja di sini." Walaupun baru bekerja di sini, tapi melihat bagaimana cara kerjanya yang buruk membuat Evan tanpa ragu langsung memutus kontrak.
Nana lalu bersimpuh di lantai sambil mengatupkan kedua tangannya, "Tuan saya mohon beri saya kesempatan, saya.. Saya janji tidak akan mengulangi," pintanya.
"Jangan Kak, dia ini orangnya munafik. Di depan Kakak saja sok memelas begini, padahal di belakang busuk dan tidak bisa menjaga Celine dengan baik. Menurut aku jangan berikan dia kesempatan, Kakak bisa cari babysitter yang lebih baik." Reva sampai menghela nafasnya lega setelah mengatakan itu.
"Kamu benar, maaf Nana kamu saya pecat." Evan memilih mendengarkan usulan Reva, karena perempuan itu lebih banyak tahu bagaimana keadaannya.
"Tuan," panggil Nana lirih masih berusaha memohon.
Reva lalu beranjak dari duduknya dan berinisiatif mengantarkan Celine ke kamarnya. Sebenarnya tidak enak juga percakapan tadi didengar Celine, anak itu masih terlalu kecil untuk melihat keributan, semoga saja tidak mengerti. Reva menggendong Celine ke kamarnya, lalu merebahkan tubuh mungilnya di kasur.
"Sekarang Celine tenang ya, mbak Nana sudah Papa Celine pecat dan gak akan di sini lagi," ucap Reva sambil mengusap kepalanya.
"Terus nanti di apartemen apa aku akan sendirian lagi? Tapi aku takut." Celine terlihat murung membayangkan itu.
"Tenang aja, nanti kan Celine bisa main ke apartemen Kakak. Kakak juga tinggal sendirian, jadi kita bisa main."
Mendengar itu membuat kedua mata Celune kembali berbinar, "Beneran Kakak?"
"Iya dong."
"Kalau gitu, kenapa bukan Kakak aja yang jagain aku? Gantiin mbak Nana," celetuk Celine sambil memegang tangan Reva.
Reva hanya tersenyum kecil, "Kakak bisa jadi teman Celine, yang akan ikut jagain juga. Tapi kan Kakak kuliah, jadi gak bisa setiap saat jagain Celine," ucapnya memberikan pengertian.
"Oh begitu ya, tapi kalau Kakak yang jagain aku pasti aku senang banget."
__ADS_1
"Iya kita kan bisa jadi teman dan main bareng." Reva pun menemani anak itu sampai tidur, dengan sebelumnya sudah membacakan dongeng.