
Untung saja keributan itu diketahui salah seorang guru, dia pun dengan cepat memisahkan dua siswi itu. Awalnya cukup sulit karena keduanya yang sama-sama menyerang dan tidak mau kalah, tapi setelah dibantu dengan yang lain akhirnya bisa terlepas juga.
"Kalian apa-apa an sih? Di sekolah melakukan tindakan buruk seperti itu, sangat tidak patut di contoh sekali!" bentak seorang guru BK.
Reva dan Dinda menundukan kepala merasa ciut mendengar suara keras itu. Selain itu mereka juga merasa malu menunjukan wajah yang luka-luka, apalagi rambut mereka yang sudah sangat berantakan dan tidak tertata rapih.
"Kenapa kalian berantem di toilet hah?!"
Dinda menunjuk Reva, "Dia duluan Bu yang nyerang saya, saya melawan karena sedang mempertahankan diri," belanya.
Reva langsung menatap nyalang Dinda, "Enak aja lo!"
"Emang bener kok, Reva duluan yang jambak aku. Kenapa masih ngelak?"
"Tapi lo yang ngeselin ngeledek gue duluan, kalau enggak kan gue juga gak akan nyerang. Salah siapa mancing emosi orang?!"
Brak!
"Sudah-sudah, kalian sama-sama salah," tegur si guru yang lelah melihat dua siswanya itu malah ribut kembali.
"Gak bisa gitu dong Bu, tetep aja Reva yang salah karena melakukan kekerasan. Dia harus dihukum Bu," ucap Dinda.
"Lo!"
"Reva, kamu kenapa kasar sekali sih? Kamu itu perempuan."
Reva menghela nafasnya, "Tadi kan saya sudah jelaskan, dia duluan yang ngeledek saya Bu."
"Tetap saja salah Reva, kamu kan tidak perlu melakukan kekerasan juga. Apalagi ini masih di lingkungan sekolah, banyak yang melihat."
Rasanya Reva ingin teriak tidak menerima paling disalahkan di sini, tapi Ia memilih diam saja karena malas juga memperpanjang masalah. Memang sih luka di wajahnya tidak sebanyak yang Ia berikan pada Dinda, tapi menurut Reva itu pantas di dapatkan Dinda.
"Permisi Bu."
Perhatian ke tiga orang di sana teralih mendengar kedatangan seseorang, ternyata itu Rafael. Tanpa sadar Reva tersenyum, apa Rafael datang karena khawatir padanya dan ingin membelanya?
"Ya Rafael, silahkan masuk," ucap guru itu.
Rafael masuk ke ruangan, kedua matanya terbelak melihat penampilan dari dua perempuan itu. Matanya lalu terpejam beberapa saat merasa sedikit iba dan juga miris melihat apa yang terjadi, tidak terbayang saat kejadian tadi. Kabar tentang Reva dan Dinda yang bertengkar di toilet memang sudah tersebar cepat.
"Rafael, tolong antarkan Dinda ke UKS ya. Luka di wajahnya harus segera diobati," perintah si guru.
"Iya Bu."
Reva mengernyitkan keningnya, "Terus saya gimana Bu?"
__ADS_1
"Kamu nanti, tunggu Kepala Sekolah kesini. Kakek kamu katanya ingin bicara dengan kamu."
"Tapi--"
"Reva," panggil gurunya menekan.
Reva menghembuskan nafasnya kasar sambil melipat kedua tangan, pasrah saja mendengar perintah itu. Reva lalu memperhatikan Rafael yang membantu Dinda, pria itu sempat melirik nya tapi hanya sebentar. Bukan tatapan kasihan yang Ia dapatkan, tapi tatapan tidak suka. Kenapa?
"Kalau begitu kami permisi dulu Bu," pamit Rafael.
"Iya silahkan."
Beralih pada Rafael yang sedang menggandeng Dinda menuju UKS. Untuk beberapa saat tidak ada obrolan di antara mereka, tapi Rafael sesekali melirik wajah perempuan itu yang banyak luka. Cakaran di pipi, lalu sudut bibir yang berdarah tapi sudah kering.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Rafael.
"Enggak, tadi serem banget pas Reva ngamuk," jawab Dinda jujur.
"Dia apain kamu aja memangnya?"
"Dia yang nyerang aku duluan, terus jambak dan mulai cakar dan nampar wajah aku."
"Astaga, separah itu?" tanya Rafael tidak menyangka.
"Hm, aku mau lawan tapi gak berdaya karena Reva lebih galak."
"Iya, makasih."
Sesampainya di ruang UKS, Rafael langsung mendudukan Dinda di sebuah kursi, sedang dirinya pergi mencari kotak obat. Untung saja di ruangan itu tidak ada orang lain lagi, jadi bisa lebih bebas mengekspresikan diri.
"Aww," ringis Dinda.
"Maaf, pasti sakit ya? Tahan ya."
"Pelan-pelan."
"Ini juga sudah pelan, kamu tahan sebentar lagi."
Rafael sampai ikut meringis saat mengobati luka-luka di wajah Dinda yang lumayan banyak karena cakaran. Ternyata Reva itu benar-benar ganas, sampai bisa seperti ini. Tiba-tiba Rafael jadi kesal sendiri, sepertinya nanti harus menegur istrinya itu.
"Memangnya bagaimana kejadiannya sampai Reva itu nyerang kamu? Gak mungkin kan dia tiba-tiba nyerang kamu, pasti ada penyebabnya."
Dinda sedikit gelagapan mendengar itu, berpikir Rafael ini cukup pintar. Ia pikir Rafael akan langsung percaya saja dan membelanya walaupun tanpa mendengar penjelasan juga, tapi ternyata pria itu ingin tahu saat kejadian. Mungkin Dinda akan sedikit berbohong untuk membela dirinya sendiri.
"Dia gak suka kalau aku sering deket kamu," ungkap Dinda.
__ADS_1
Rafael menghentikan sejenak gerakannya, perlahan rasa khawatir pun hinggap di dadanya. Kenapa Reva tidak suka? Rafael tidak berpikir perempuan itu sedang cemburu. Ia malah khawatir jika status mereka yang suami istri terbongkar.
"Dia bilang aku deketin kamu karena cuman mau manfaatin kamu, apalagi aku sering minta bantuan kamu untuk ngerjain tugas bareng." Dinda menunjukan wajah memelas nya, "Maaf ya Rafael kalau aku bebanin kamu selama ini."
"Enggak kok Dinda, sama sekali kamu gak repotin aku," ucap Rafael sampai menggenggam tangannya.
"Tapi yang Reva anggap gitu, makanya dia gak suka kalau lihat aku deketin kamu. Tapi aku bingung, kenapa Reva gak suka ya? Apa jangan-jangan dia suka sama kamu?"
Rafael menggeleng pelan, "Enggak mungkin, kamu tahu sendiri dia sering ngerjain aku."
"Bisa aja karena dia sering ngerjain kamu, itu karena dia sebenarnya suka sama kamu dan pengen deket kamu terus."
"Jangan berpikir terlalu jauh, aku dan Reva itu gak akur."
"Iya juga sih, tapi--"
"Sudah aku obatin semua, apa adalagi luka dia tempat lain?" tanya Rafael menyanggah.
"Gak ada sih, cuma kepala aku masih nyut-nyutan."
"Apa karena jambakan tadi?"
"Iya, si Reva itu kuat juga ternyata."
"Memang," gumam Rafael pelan.
Pria itu lalu beranjak mencari sisir, dan untung saja ada. Ia juga membawa cermin kecil dan memberikannya pada Dinda. Perempuan itu pun merapihkan lagi rambutnya sambil bercermin. Rafael memperhatikannya dengan senyuman tipis.
"Tapi Rafael, kenapa kamu ke ruang BK?" tanya Dinda.
"Aku khawatir pas denger kamu dan Reva katanya bertengkar, jadinya nyusul."
"Ya ampun, kamu manis banget sampai se khawatir itu ya sama aku. Makasih ya Rafael, kamu emang temen yang baik."
"Iya."
Sebenarnya Rafael ke sana bukan cuma mau mengecek keadaan Dinda, tapi juga Reva. Tetapi untungnya luka perempuan itu tidak terlalu banyak, jadi lebih membantu Dinda dahulu yang lebih parah. Mungkin setelah ini Rafael akan kembali ke BK menyusul Reva.
"Kamu mau istirahat di sini atau ke kelas?" tanya Rafael.
"Aku gak mau belajar, tolong izinin aku sakit ya?"
"Ya sudah, kamu istirahat aja dulu di sini. Nanti kalau sudah agak baikan bisa lanjut belajar."
"Iya."
__ADS_1
"Ya sudah, aku pergi dulu ya Dinda," pamit Rafael sambil beranjak untuk pergi.
"Oh iya, sekali lagi makasih Rafael."