
Reva menatap bayangannya di cermin dengan senyuman lebar, rambutnya yang sudah rapih pun terus Ia sisir. Ia terlihat sudah cantik seperti akan ke pesta, padahal tidak akan ke mana-mana. Reva memang sengaja berdandan, untuk menyambut Rafael yang sebentar lagi pulang.
Ceklek!
"Aku pulang."
Mendengar suara Rafael memasuki apartemen, membuat Reva segera keluar kamar menemuinya. Terlihat Rafael yang tersenyum ke arahnya, lalu memperhatikan penampilannya. Reva berjalan pelan mendekat lalu menyalami tangan suaminya itu.
"Selamat datang," ucapnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Rafael.
"Gak ke mana-mana."
"Hah? Kok sudah cantik gini."
"Biasa aja tuh, gue kan emang cantik," sombong Reva sambil mengibaskan helaian rambutnya.
Rafael menggeleng-gelengkan kepalanya lalu memberikan paperbag berukuran sedang, "Aku bawa oleh-oleh dari Bandung."
"Asik apaan nih?"
"Makanan khas aja, gak terlalu banyak karena takut kamu gak suka."
"Suka kok, gue kan suka makan."
Keduanya lalu duduk di sofa, tapi sebelum itu Reva membawakan Rafael minum dahulu. Setelahnya duduk di sebelahnya dan membuka oleh-oleh yang diberikan Rafael. Ada beberapa makanan yang sudah pernah Ia coba, tapi ada yang belum juga.
"Beli buat Bunda sama Papa juga gak?" tanya Reva.
"Beli kok, nanti dikasihin nya."
"Kirain gak beli."
"Enggak lah, aku masih inget mereka."
"Oh iya, terus gimana perlombaan nya?" tanya Reva.
"Lancar kok, tapi aku juara ke tiga."
"Gak papa, lo tetep hebat."
"Tumben muji."
"Hei gue emang baik, dari pada gue gak bisa apa-apa."
Mendengar ucapan polos jujur Reva membuat Rafael tertawa kecil, merasa sikap istrinya itu tidak menyebalkan sekarang. Rafael juga menduga sepertinya Reva sengaja berdandan cantik untuk menyambutnya, membuatnya senang saja.
"Pasti di sana banyak kontestan dari banyak kota ya?"
"Iya banyak banget, yang datang ke tempat perlombaan juga banyak."
"Pasti seru, sayang banget gue gak ikut. "
__ADS_1
"Emangnya kalau semisal Reva ikut mau ngapain di sana?"
"Ya semangatin lo misal."
"Mana ada, palingan di sana Reva jajan terus selfie mulu."
Plak!
Reva tertawa sambil memukul tangan pria itu, "Hahaha tau aja lo."
Di tengah obrolan mereka, ponsel Rafael tiba-tiba berdering. Itu adalah Papa mertuanya, membuatnya pun langsung mengangkat. Tetapi Rafael memakai mode loudspeaker, agar Reva pun bisa mendengarnya.
"Hallo Pah."
["Kamu sudah pulang Rafael?"]
"Sudah Pah, baru sampai."
["Katanya kamu juara tiga ya? Keren, Papa bangga sama kamu."]
Rafael mengusap tengkuknya merasa senang dipuji seperti itu, "Makasih Pah. Oh iya, aku beli oleh-oleh Bandung buat Papa. Nanti aku kirimin ya ke sana, pas main ke rumah aja."
["Ya ampun sampai repot-repot, gak usah kali."]
"Gak papa, nyoba sedikit aja."
["Ya sudah makasih."]
"Iya."
["Begini Rafael, Papa cuma mau ngasih tahu. Tadi sore kan Papa lagi di Mall ya, eh Papa gak sengaja ketemu Reva. Tapi dia gak sendirian di sana, sama laki-laki ganteng. Cuma berduaan."]
Kedua mata Reva terbelak mendengar Papanya mengadukan ini, Ia pun bisa melihat Rafael yang menatapnya dengan tatapan memicing.
"Papa tahu siapa laki-lakinya?"
["Katanya namanya Lucas, wajahnya blasteran gitu. Tapi tenang aja, kamu tetap paling ganteng Rafael."]
"Aku kenal sih Lucas."
["Mereka sih alasannya lagi ngerjain tugas, tapi kalau dilihat-lihat malah lagi nge-date."]
"Ih Papa apaan sih? Kok ngadu yang enggak-enggak," protes Reva menjerit.
["Loh ada Reva di situ? Papa kira gak ada."]
Reva menghembuskan nafasnya berat, "Kan tadi aku sudah bilang kita lagi kerja kelompok, kok Papa gak percaya juga sih? Terus kenapa juga malah ngaduin ke Rafael?"
Reva jadi curiga, jangan-jangan Papanya ini memang diam-diam mematainya, lalu jika bersikap aneh-aneh akan melaporkan pada Rafael yang berstatus sebagai suaminya.
["Habisnya kalian kelihatan kaya pasangan gitu."]
"Papa jangan ngomong aneh-aneh deh!"
__ADS_1
["Iya-iya maaf, tapi kan sekarang Rafael itu yang bertanggung jawab sama kamu. Sebagai suami, dia tentu harus bersikap tegas dan menuntun kamu ke jalan terbaik."]
Rafael mengangguk pelan, "Iya Pah, makasih juga ya. Tapi kayanya Reva memang lagi kerja kelompok, aku percaya kok sama dia."
["Papa cuma khawatir kamu cemburu, nanti kamu nasihatin Reva ya untuk jaga batasan sama laki-laki lain."]
Reva mencebikan bibirnya, ingin sekali mengatakan jika Rafael pun sama saja dengannya, pria itu pun bisa dekat dengan perempuan lain. Kenapa Reva terasa terpojok kan di sini?
"Iya Pah, selamat malam."
Setelah panggilan berakhir, terdengar helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Rafael. Pria itu lalu menatapnya, tapi dengan tatapan tidak ramah. Reva meninggikan dagunya, merasa tidak mau kalah.
"Apa?" tanya Reva.
"Kan aku sudah bilang, jangan buat masalah saat aku pergi."
"Siapa yang buat masalah? Gue sama si Lucas kan cuma kerja kelompok, bukan lagi nge-date."
"Sebenarnya aku gak masalah kalau kalian lagi bareng pun, tapi kenapa harus ada Papa?"
"Ya gue juga gak tahu kalau Papa lagi di sana."
Reva membatin, Ia jadi kesal pada Papanya itu karena sudah mengadukan ini kepada Rafael. Maksudnya apa coba? Bukankah yang dilakukannya itu malah membuat keributan di rumah tangganya? Jadi di sini siapa yang kekanakan?
"Rafael, lo jangan marah dong."
"Aku gak marah."
"Terus kenapa wajahnya masam gitu?"
Rafael malah mendengus lalu beranjak pergi dari sana, meninggalkan Reva yang diam dengan perasaan gundahnya. Padahal Ia sudah janji sendiri tidak akan membuat ulah, tapi sekarang tanpa sengaja juga mempermalukan Rafael.
"Hei Rafael, mau gue siapin air panas buat mandi?" tawar Reva yang ikut masuk ke kamarnya.
"Aku bisa sendiri," tolak Rafael yang sedang membuka kemejanya.
"Lo pasti laper, kan? Gue beliin makanan dari bawah ya?"
"Aku gak laper, tadi sudah makan."
Saat Rafael akan melewatinya, Reva langsung menahan pergelangan tangannya. Mereka pun saling bertatapan. Walaupun Rafael berdalih tidak ngambek, tapi Reva percaya jika pria itu sedang kesal. Selalu seperti itu, Rafael tidak pernah menunjukan kemarahannya.
"Rafael, gue minta maaf," ucap Reva.
"Gak papa."
"Lo jangan marah lagi dong."
"Siapa yang marah sih? Aku biasa aja."
"Bohong, terus kenapa dingin gini?"
Rafael menggeleng lalu melepaskan tangannya, "Sudah ah Reva, aku mau mandi dulu."
__ADS_1
Tetapi Reva menahan tangan Rafael kembali, dan tanpa diduga perempuan itu mengecup pipi Rafael beberapa saat. Rafael membelakan matanya mendapatkan itu, lalu perlahan menyentuh pipi kanannya yang baru dikecup. Masih terasa rasa hangat di bagian sana.
"Sekarang gak marah lagi, kan?" tanya Reva sambil mengedipkan matanya perlahan.