Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
44 Berusaha Menyembunyikan


__ADS_3

Sekembalinya dari toilet, Rafael merasa bingung melihat ekspresi wajah masam Reva. Ia pun menepuk bahu perempuan itu, dan Reva baru menatapnya. Apakah dari tadi melamun?


"Kamu kenapa?" tanyanya.


"Gak papa," jawab Reva, "Kok lama banget?"


"Tadi habis buang air besar, terus ketemu beberapa kenalan Papa jadi ngobrol dulu. Maaf ya?"


Pantas saja, batin Reva.


Tetapi kalau dipikir ada untungnya juga Rafael itu tidak cepat kembali dan menemukan Lucas di sini. Saat mengingat percakapan mereka tadi, membuat emosi Reva naik turun lagi. Sekarang Reva bingung, apa Ia ceritakan pada Rafael atau tidak.


"Kok gak dihabisin?" tanya Rafael melihat isi piringnya.


"Udah gak nafsu."


"Loh tadi katanya mau makan banyak."


Mau bagaimana lagi, semua gara-gara si Lucas. Padahal tadi Reva pun sedang menikmati makanannya, tapi saat mengancam begitu membuatnya jadi tidak mood. Walaupun lapar, tapi Reva jadi malas lagi untuk makan.


"Kita pulang aja yuk," ajak Reva.


"Tumben buru-buru, kenapa?"


"Ngantuk, pengen tidur. "


"Lucu kamu, biasanya juga kalau malam minggu gini suka bergadang."


"Ih bawel banget, ya udah kalau gak mau pulang, gue pulang duluan."


"Ck iya-iya, sabar dong." Rafael ikut berdiri, "Tapi kita pamit dulu sama Pak Dion, gak enak kalau pulang gitu aja."


Reva menggigit bibir bawahnya gugup, Ia hanya khawatir Pak Dion itu sedang bersama Lucas. Tetapi ternyata Lucas tidak ada di sana, membuat Reva sedikit lega. Reva dari tadi pun terus memperhatikan sekitar, mencari Lucas.


"Pak Dion, kami mau pamit pulang," ucap Rafael.


"Kenapa buru-buru? Kalian sudah makan-makan, kan?" tanya Dion.


"Sudah kok, semua makanannya enak."


"Ya sudah kalau begitu, terima kasih ya sudah datang."


"Iya Pak, sudah jadi kewajiban."


Dion lalu menjabat tangan pasangan itu bergantian, "Tadi anak saya juga bilang sudah ketemu Reva, sempat ngobrol juga ya?"


Ditanyai seperti itu, membuat Reva panik, "Hah? I-iya, tadi sebentar."


Rafael mengernyitkan keningnya bingung, Ia baru tahu ini. Apa mungkin anak Pak Dion itu mengobrol dengan Reva saat Ia tidak ada? Sepertinya begitu. Nanti di perjalanan pulang, akan Rafael tanyakan.

__ADS_1


"Dia terus muji kamu, katanya kamu mirip banget sama tipe idealnya. Tapi saya bilang aja kalau kamu sudah punya orang lain, jadi dia gak akan bisa berharap lagi," ucap Dion sambil terkekeh kecil.


Reva hanya tersenyum kikuk merasa bingung juga harus menanggapi bagaimana. Reva lalu melirik Rafael, bisa melihat ekspresi penasaran pria itu. Sepertinya nanti Rafael akan bertanya di mobil.


"Kalau begitu kami permisi dulu Pak Dion, terima kasih undangannya." Rafael sekali berpamitan.


"Iya terima kasih juga kalian sudah datang. Nanti kapan-kapan kita makan malam bersama ya?"


"Iya Pak, siap."


Keduanya keluar dari aula itu dengan saling terdiam. Sebenarnya Rafael ingin bertanya tentang banyak hal, tapi melihat ekspresi wajah masam Reva membuatnya jadi segan. Sebenarnya kenapa dengan istrinya itu?


"Kok gak bilang sudah ketemu anak Pak Dion?" tanya Rafael yang sedang menyetir.


"Lupa."


"Terus siapa orangnya? Gimana juga anak Pak Dion itu?"


"Ya gitu."


"Hah? Gimana?"


Reva berdecak pelan merasa malas menceritakan si Lucas itu. Sebenarnya Lucas itu tidak buruk-buruk juga, hanya saja karena ancaman tadi membuat pandangan Reva pada lelaki itu jadi turun drastis. Menganggap jika Lucas orang yang licik dan memanfaatkan kesempatan.


"Dia seumuran kita, laki-laki," ungkap Reva.


"Aku tahu soal itu, terus siapa namanya?"


"Oh namanya Luthfi, aku kira bakal agak bule-bule gitu namanya. Soalnya kan katanya istri Pak Dion orang Amerika, itu berarti anaknya wajahnya blasteran."


"Haha gak ngaruh, mau blasteran ya terserah namanya siapa aja."


"Iya juga sih. Terus gimana lagi?"


"Gimana apanya?" tanya Reva malas.


"Apa dia ganteng? Kayanya kalau blasteran pasti ganteng ya?"


"Ganteng sih, malah lebih dominan bule wajahnya."


"Terus pas ngobrol, apa kalian nyambung?"


"Kok lo banyak banget nanyanya?!"


Telinga kiri Rafael sampai sakit mendengar suara melengking itu, "Ya kan aku cuma penasaran aja, tadi gak sempet ngobrol dan ketemu."


"Huh makanya kalau pergi jangan lama-lama, udah gitu ninggalin sendirian lagi. Gimana kalau istrinya lagi sendirian malah di deketin cowok lain?"


"Ya kamu ngehindar aja jangan ladenin."

__ADS_1


"Gak semudah itu!" ketus Reva. Pria itu terlambat menyelamatkannya dari Lucas, sampai Reva harus menanggung sendirian.


Rafael melirik Reva yang kembali diam dengan ekspresi wajah sulit di artikan nya, tapi Rafael merasa ekspresi itu seperti yang sedang terbebani. Apakah hanya dugaannya saja?


"Besok mau ke rumah Papa?" tanya Rafael, "Udah lama kita gak ke sana."


"Boleh, tapi kayanya Papa gak sering di rumah. Gimana kalau kita ziarah ke makan Mama?"


"Oke, kita ziarah ya."


Mungkin dengan bertemu almarhum Mamanya itu, bisa membuat perasaan Reva sedikit membaik. Sekarang ini banyak sekali yang sedang Ia pikirkan, dan jujur Reva memang terbebani dengan pilihan Lucas, pria itu pun hanya memberikannya waktu tiga hari memikirkan ini.


Sesampainya di apartemen, keduanya langsung masuk ke kamar masing-masing. Reva merebahkan tubuhnya di ranjang sambil menatap langit kamar dengan tatapan kosong. Ia bimbang apakah harus cerita ini pada Rafael atau tidak. Juga apakah Ia harus menerima jadi pacar Lucas atau tidak.


Drrrt!


Deringan ponselnya membuat lamunan Reva terhenti, Ia pun mengangkatnya tanpa melihat siapa si Penelepon itu, "Hallo, siapa?"


["Hai Reva, kamu sudah pulang ya? Sayang banget kita gak ketemu lagi, tadi aku lagi ada urusan di belakang. "]


Hanya mendengar suaranya saja, Reva sudah tahu jika itu adalah Lucas, "Ada apa?"


["Gak papa sih, cuma kangen aja."]


Menggelikan sekali, padahal tadi pun baru bertemu.


"Kalau gak ada yang penting, gue tutup."


["Kok buru-buru banget? Padahal masih pengen denger suara kamu."]


"Ck nyebelin lo, alay tahu gak?!"


["Hehe iya deh maaf. Ekhem jadi Reva udah mau tidur?"]


"Iya."


["Besok kan libur, mau jalan-jalan sama aku gak? "]


"Enggak."


["Ya ampun langsung di tolak dong."]


"Besok gue mau ke makan nyokap, gak ada waktu."


["Oh gitu ya, ya udah deh gak papa, lain kali kan bisa."]


Kepedean sekali pria itu.


["Aku cuma sekalian mau ngingetin Reva aja soal persyaratan tadi, aku serius. Jangan lupain itu ya, waktunya masih lumayan lama kok. Aku harap Reva pikirin baik-baik. Selamat malam Reva cantik."]

__ADS_1


Reva langsung mematikan panggilan itu lalu melempar ponselnya dengan kasar di ranjang. Reva memijat pelipisnya kembali memikirkan masalahnya ini, kepalanya sampai berdenyut pusing. Si Lucas itu juga pasti akan terus meneror nya, tapi sayangnya Reva tidak bisa menghindar karena khawatir Lucas bersikap nekad.


__ADS_2