
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, liburan akhir tahun akan segera tiba. Inilah waktu yang Reva tunggu-tunggu, karena Rafael akan pulang untuk menghabiskan liburnya bersama di Indonesia. Reva benar-benar tidak sabar, mereka bisa melepas rindu selama beberapa bulan tidak bertemu.
"Kapan suami kamu itu akan datang?" tanya Evan. Kebetulan Reva sedang ada di apartemennya makan malam bersama, tadi selesai main dengan Celine di waterpark.
"Katanya besok, aku gak sabar banget," jawab Reva dengan kedua mata berbinar nya.
Evan terkekeh kecil melihat tingkah perempuan muda itu, "Cie mau lepas rindu sama suami," ledek nya.
"Iya dong, udah lama LDR an. Kenapa, iri ya?"
"Iya iri. "
"Makanya cepetan cari Mama baru buat Celine, dia juga pasti butuh sosok Mama."
Evan terlihat menghela nafasnya, "Gak semudah itu cari istri, apalagi aku masih sibuk kerja, gak ada waktu buat cari pacar," sahutnya.
"Mau aku bantu cariin?" tawar Reva seolah meremehkan karena Evan itu tidak becus mencari kekasih baru.
"Boleh, tapi harus cantik dan baik ya."
"Dasar, iya-iya."
Hubungan Reva dengan Evan sekarang sangat dekat, sudah seperti saudara. Obrolan di antara mereka pun tidak formal dan sangat asik, seperti memang sudah sangat sedekat itu. Terkadang Reva sering main ke apartemen ini. Jangan salah paham, hanya bermain dengan Celine. Walau memang anak itu sudah punya babysitter baru, tapi tetap saja Reva selalu ikut menjaganya.
"Nanti kenalin aku ke suami kamu ya, pengen lihat suami kamu itu kaya gimana," ucap Evan.
"Iya lah pasti, dulu belum sempat ketemu ya?"
"Gak tahu lupa lagi."
"Huh dasar," dengus Reva. Setelah mengenal lama, Evan itu memang kadang menyebalkan. Padahal usianya jauh di atasnya, tapi mereka kadang selalu ribut layaknya saudara.
"Pengen lihat aja dia seganteng apa," ucap Evan.
"Pasti ganteng lah, mana mau aku sama cowok jelek," celetuk Reva yang mengundang tawa Evan.
"Iya juga sih, pasti ganteng, soalnya kamu juga cantik." Evan berdehem pelan, "Terus kapan kalian ada rencana untuk punya anak?"
__ADS_1
Reva hampir tersedak makanan mendengar itu, "Belum ada, kita sama-sama mau fokus kuliah dulu."
"Bener juga, kalau misal sekarang bener-bener bakalan repot. Suami kamu kan kuliah di Amerika, kasihan kamu harus jaga diri sendirian di sini."
"Nah itu, selain itu aku juga belum siap sih jadi Ibu."
"Kenapa? Padahal kamu kalau jagain Celine perhatian banget, kamu juga cukup bagus bisa jaga emosional sama anak-anak," ucap Evan yang selalu memperhatikan cara Reva menjaga putrinya, Celine juga terlihat sudah nyaman sekali dengan Reva.
"Aku masih muda, katanya kalau sudah jadi orang tua itu gak bakalan bisa bebas lagi. Fokusnya pasti ke anak terus."
Evan menganggukan kepalanya, "Iya juga sih, bener kata kamu. Kamu masih muda, puas-puasin dulu main. Tenang saja, kan sudah menikah."
"Ya."
Di pukul setengah sepuluh malamnya, Reva baru pulang ke apartemennya. Kalau sudah dengan Evan, Ia selalu lupa waktu karena mengobrol kan banyak hal. Reva juga terkadang selalu meminta bantuan pria itu mengerjakan tugas Kampusnya. Kalau dulu kan selalu dibantu Rafael, tapi sekarang tidak ada, jadi pada Evan. Maklum saja Reva kan tidak terlalu pintar, walau sekarang sudah rajin.
Ceklek!
"Loh kok lampunya pada mati? Perasaan tadi udah dinyalain," ucap Reva bergumam sendiri saat masuk ke unit apartemennya. Dengan perlahan Ia mencari saklar lampu, saat Ia nyalakan matanya repleks tertutup merasakan silau. Perlahan matanya pun kembali terbuka, tapi Reva dibuat terpekik terkejut melihat seseorang yang berdiri di depannya.
"Kejutan!" teriak Rafael dengan senyuman lebarnya.
"Rafael, ini beneran kamu?" tanya Reva, suaranya sampai bergetar sanking terkejutnya.
"Haha iya lah, emangnya aku hantu jadi-jadian apa?"
Reva pun meregangkan pelukannya, walau begitu Ia belum mau turun dari pangkuan pria itu, "Astaga aku gak nyangka kamu pulang hari ini, bukannya katanya besok ya?"
"Hehe iya, sengaja soalnya aku mau ngejutin kamu."
"Ck dasar, iya aku beneran kaget."
Rafael sedikit membenarkan Reva di pangkuannya, merasa perempuan itu sekarang lebih berat, "Aku kangen banget sama kamu," ucapnya sambil menatap dalam.
"Aku juga."
Perlahan wajah mereka mendekat, kedua mata terpejam saat bibir keduanya pun bertemu. Hanya kecupan singkat, setelah itu saling membalas senyuman. Perasaan rindu itu tidak bertemu berbulan-bulan langsung terobati hanya dalam waktu beberapa detik.
__ADS_1
"Kamu gak mau turun? Berat tahu," ucap Rafael.
"Hehe sorry." Dengan berat hati Reva pun turun dari pangkuan Rafael, lalu memperhatikan penampilan suaminya itu dalam, "Waw kamu agak berbeda sekarang."
"Oh ya? Beda apa?" Rafael merasa tidak sabar sendiri istrinya itu menyadari perubahannya.
Reva lalu menepuk dada Rafael dan memegangi otot di tangannya, "Sekarang jadi kekar ya?"
"Haha iya dong, gimana, hebat kan aku?"
"Iya, badannya jadi bagus dan gak sekurus dulu."
"Soalnya aku rajin nge gym, bahkan hampir setiap hari."
"Pantesan." Jujur saja Reva suka dengan perubahan Rafael, pria itu selain lebih kekar juga terlihat lebih tampan. Apa saja yang Reva lewatkan selama mereka tidak bertemu?
"Kamu juga agak beratan, padahal sekarang aku sudah agak kuat."
"Hehe iya, nambah tujuh kilo," ucap Reva sambil tertawa canggung.
"Waw, tapi gak papa. Kamu makin montok, aku suka hehe." Rafael terlihat jujur sekali, karena memang Ia suka pada tubuh istrinya itu yang dimatanya semakin seksi.
"Dasar," dengus Reva sanbil memukul pelan dada Rafael.
Keduanya lalu pindah ke sofa, terlihat di sana pun ada satu koper dan tas ransel yang sudah pasti milik Rafael. Rafael lalu memberikan satu paperbag berukuran besar pada Reva, dengan riang perempuan itu membukanya.
"Kamu beliin banyak oleh-oleh buat aku," ucap Reva setelah melihat isi paperbag itu. Kebanyakan makanan yang tidak ada di Indonesia, membuat Reva senang sendiri.
"Soalnya aku pengen kamu coba juga," sahut Rafael.
"Nanti aku makin gemuk dong."
"Gak papa, makin seksi."
"Seksi sama gemuk itu beda, jadi aku gimana?" tanya Reva sambil menghadapkan tubuhnya pada pria itu, meminta Rafael memperhatikan tubuhnya.
Rafael lalu berbisik di telinga Reva, "Kamu itu seksi, apalagi dada sama bokong kamu makin berisi. Aku jadi gak sabar nyobain."
__ADS_1
"Ih dasar mesum!" jerit Reva. Pipinya perlahan merona merasa malu sendiri mendapatkan rayuan seperti itu. Baru saja datang, sudah membicarakan hal dewasa begitu.