
Di hari minggu itu keluarga kecil Rafael sedang jalan-jalan ke sebuah tempat wisata bermain terkenal di Jakarta. Rosalind lah yang lebih dahulu mengajak, anak itu setiap minggu pasti harus jalan-jalan dan Rafael selalu tidak berdaya menolaknya.
Tetapi mereka hanya pergi berdua, Reva tidak bisa ikut karena katanya capek kemarin baru pulang dari acara keluarga. Untung saja Rosalind pun tidak masalah jika Reva tidak ikut, kan masih ada Papanya.
"Papa aku mau naik kuda-kudaan," pinta Rosalind sambil menunjuk sebuah komedi putar.
"Boleh, Papa temenin ya?"
"Gak mau," tolak Rosalind.
"Loh kenapa?" Rafael sampai terkejut sendiri mendengar itu, baru kali ini Rosalind mau naik tanpa dirinya.
"Papa aku sudah besar, aku bisa jaga diri aku sendiri."
Mendengar itu membuat hati Rafael terenyuh, Tiba-tiba dadanya seperti sakit. Selama ini Rosalind selalu manja dan membutuhkannya, tapi saat mendengar anak itu ingin mandiri kenapa rasanya Rafael tidak terima ya?
"Tapi kan kamu masih butuh pengawasan dari Papa, takut jatuh," ucap Rafael mencoba memberikan pengertian.
"Gak akan Papa, aku kan selalu pegangan. Setiap kesini Papa pasti selalu ikut naik, aku pengen ngerasain naik sendirian." Rosalind terlihat terus membujuk sang Papa.
Setelah memikirkannya lagi dengan baik, akhirnya Rafael pun memberikan putrinya itu izin untuk naik sendirian. Sebenarnya komedi putar nya juga tidak terlalu bahaya, dan Rosalind sudah lumayan besar jadi mungkin aman-aman saja.
"Ya sudah Papa kasih izin, tapi kamu pokoknya harus pegangan terus dan duduk diem ya?" nasihatnya.
"Iya Papa," angguk Rosalind semangat.
Rafael pun mengantar Rosalind dahulu sampai ke dalam, menyamankan duduknya di sebuah patung kuda yang menurutnya paling aman. Setelah selesai Rafael pun turun lalu berdiri di pembatas luar, memperhatikan putrinya dalam.
"Dadah Papah," teriak Rosalind sambil melambaikan tangannya.
Rafael pun membalas dengan senyuman lebarnya. Rasanya berdebar sekali melihat Rosalind yang naik sendirian, Rafael terus dihinggapi perasaan khawatir takut-takut anaknya itu terjatuh. Tetapi bukankah bagus Rosalind mulai mandiri? Entahlah, Rafael merasa belum siap saja.
"Anak perempuan yang cantik dan menggemaskan," ucap seorang perempuan yang entah sejak kapan berdiri di sebelahnya.
Pria itu menoleh, "Terima kasih," balasnya sopan.
"Berapa usianya? Dia berani sekali naik sendirian," tanya perempuan itu yang terlihat ingin mengobrol banyak.
"Masih enam tahun, tiga bulan lagi tujuh tahun," jawab Rafael.
__ADS_1
"Pantas saja."
Sebenarnya Rafael tidak mengenal perempuan di sebelahnya ini, mungkin hanya orang asing yang bisa jadi anaknya juga ikut naik komedi putar. Tidak ada salahnya juga mengobrol, percakapannya juga biasa.
"Apa kalian jalan-jalan hanya berdua?" tanya perempuan itu lagi.
"Iya, kebetulan Mamanya baru pulang dari luar kota jadi kecapean," angguk Rafael.
"Pasti seru ya habisin waktu berdua itu, tapi pasti agak merepotkan juga kalau tanpa Mama."
Rafael mengangguk setuju, "Iya benar, biasanya kan apa-apa Mama."
"Nah itu benar."
Perempuan itu pun mengenalkan diri kepada Rafael, namanya Melati dan ternyata usianya masih dua puluh dua tahun. Cukup lama mereka mengobrol, baru terhenti saat komedi putar nya selesai. Rafael pun langsung menyambut putri kecilnya yang sudah kembali.
"Hallo Rosalind, kamu cantik banget kaya namanya," sapa Melati sok akrab, perempuan itu sampai berjongkok untuk menyamakan posisi tubuh mereka.
"Aku emang cantik," ucap Rosalind percaya diri, tanpa berniat mengatakan terima kasih.
Melati tersenyum canggung, sempat melirik Rafael merasa sedikit malu karena sapaannya seperti di acuhkan. Tetapi sepertinya perempuan itu tidak menyerah, Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Rosalind menengadahkan kepalanya menatap Papanya, siapa juga anak kecil yang tidak tertarik. Melihat Rafael yang menganggukan kepala seperti mengizinkan, membuat Rosalind senang dan langsung menerima makanan manis itu.
"Ayo bilang apa sama Kakaknya?" tanya Rafael.
"Makasih," ucap Rosalind dengan nada tidka ramah.
Melati kembali berdiri, "Selanjutnya kalian mau kemana?" tanyanya.
"Kebetulan kami memang baru datang, jadi kayanya Rosalind masih pengen main di sini," jawab Rafael.
"Boleh gak aku ikut? "
"Hah?"
Rafael terkejut sendiri mendengar pertanyaan itu, kenapa Melati itu jadi sok akrab ya? Gerak-geriknya juga terlihat sekali orang yang sedang ingin mendekatinya. Rafael bukan maksud percaya diri, tapi Melati sangat menunjukan diri.
"Papa kita pulang aja yuk," ucap Rosalind tiba-tiba.
__ADS_1
"Loh kenapa? Kan baru naik satu wahana," tanya Rafael bingung. Biasanya kalau sudah main di sini selalu lupa waktu.
"Aku ngantuk pengen bobo." Saat mengatakan itu, Rosalind sempat melirik Melati.
"Oh gitu ya, ya sudah deh."
Rafael pun kembali menatap Melati, izin untuk pamit pulang. Tetapi Rafael sempat terkejut saat Melati malah meminta nomor ponselnya, sempat Rafael tanyakan untuk apa dan Melati beralasan hanya menambah teman. Karena Rafael adalah orang yang tidak enakan, akhirnya dengan terpaksa Ia berikan saja.
"Sayang kalau sudah ngantuk tidur aja, nanti Papa pasti pindahin ke kamar kalau sudah sampai di rumah," ucap Rafael yang mulai menjalankan mobilnya.
"Aku gak ngantuk," ujar Rosalind. Anak itu terlihat sedang asik mengemut permen coklatnya.
"Tadi katanya ngantuk terus minta pulang."
"Gak jadi ngantuknya," celetuk Rosalind.
Rafael yang mendengar itu dibuat bingung sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang ada-ada saja pikirnya anaknya ini, terkadang sikapnya random sekali. Tetapi tidak apa, malah pulang lebih awal cukup bagus.
Sesampainya di rumah Rahma pun langsung menyambut Rosalind dan mereka pergi ke kamarnya. Sedangkan Rafael menuju dapur untuk minum merasa haus. Sempat melihat ada sebuah pesan dari Melati, perempuan itu menyapanya dan memintanya menyimpan nomer.
"Kok cepet banget pulangnya? " tanya Reva.
Rafael menoleh, "Iya, tumben banget Rosalind cuman naik komedi putar aja. Dia bilang ngantuk, tapi pas di jalan pulang udah gak ngantuk katanya," ceritanya.
"Ya sudah gak Papa, mungkin dia bosen main," sahut Reva agak konyol dan tidak mungkin.
Reva lalu memutuskan ke kamar putrinya itu untuk menemuinya. Kebetulan Rahma pun keluar kamar karena akan mencuci sepatu bekas dipakai Rosalind, jadinya Reva dan Rosalind hanya berduaan di dalam kamar.
"Kamu tumben mainnya cepet, padahal baru berangkat sebentar," ucap Reva bingung. Perempuan itu duduk di sebelah putrinya yang sedang menonton kartun.
"Soalnya di sana Papa berduaan sama Tante-Tante," jawab Rosalind.
Kedua mata Reva langsung terbelak, "Apa?!" tanyanya agak keras.
"Namanya Melati, bukannya itu bunga yang suka dimakan kunti ya? Dia terus deketin Papa, sok kecantikan. Cantikan juga aku sama Mama, pasti dia suka sama Papa."
Rasanya dada Reva panas sekali mendengar itu, ternyata dirinya salah tidak ikut ke sana karena ada kejadian seperti itu. Reva pun berdiri dari duduknya pergi dari sana, sekarang tujuannya adalah bertemu Rafael dan meminta penjelasannya.
Katanya anak kecil tidak suka bohong kan?
__ADS_1