Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
Langsung Akrab


__ADS_3

Seperti janji mereka kemarin, malam ini Reva dan Rafael akan ke rumah Papa lagi untuk makan malam dengan Tante Intan. Sesampainya di rumah, ternyata Tante Intan itu belum datang. Reva pun membantu bibi menyiapkan makan malam, sedang dua pria itu terlihat mengobrol dengan asiknya di ruang utama.


Ting nong!


Suara bel berbunyi menghentikan obrolan keduanya. Harry pun beranjak untuk membukakan pintu, yakin jika yang datang adalah Intan dan ternyata dugaannya benar. Ia pun langsung mempersilahkan wanita itu masuk.


"Maaf ya Mas aku agak telat, tadi ada sedikit masalah di butik," ucap Intan memberitahu.


"Masalah apa?" Mungkin saja Harry bisa membantu.


"Bukan masalah besar, hanya gaun pernikahan yang di pesan ukurannya ingin diperkecil lagi. Nanti besok bisa aku kerjakan, tidak akan lama juga kok."


"Oh begitu, ya sudah kalau kamu bisa."


Harry lalu menarik Intan mendekati Rafael, "Intan kenalkan ini menantu aku," ujarnya.


Intan pun langsung menatap pria muda itu, sebelah tangannya terulur menyalami, "Nama kamu Rafael, kan?" tanyanya.


"Iya Tante, salam kenal."


"Ini pertama kalinya kita bertemu ya, katanya kamu kuliah di luar negeri?"


"Iya betul, di Harvard," jawab Rafael.


"Wah keren, semangat ya belajarnya."


"Ah iya." Rafael jadi senang mendapatkan reaksi baik dari calon Mama tirinya itu.


Tidak lama Reva pun datang dan langsung menghampiri Intan, mereka lalu cepaka-cepiki khas perempuan. Sempat berbincang beberapa saat, terlihat sudah akrab sekali. Selanjutnya Reva mengajak mereka semua ke meja makan untuk makan karena sudah siap.


"Kamu yang siapin semua Reva?" tanya Intan baru duduk di kursinya.


"Enggak sendirian kok, dibantu bibi juga," jawab Reva.


"Maaf ya Tante telat, tadi ada sedikit masalah di butik."


"Gak papa Tante, Tante tinggal nikmati. Ayo kita mulai makan."


Reva pun duduk bersebelahan dengan Rafael. Intan terlihat lebih dahulu membawa nasi dan lauk, bukan untuknya, melainkan untuk Harry. Selanjutnya Reva pun membawa juga, tentu saja untuk Rafael terlebih dahulu. Mereka sekarang sudah punya pasangan masing-masing.


"Apa Rafael di Indonesia sedang liburan?" tanya Intan kembali membuka suara.

__ADS_1


"Iya Tante, liburan semester," jawab Rafael.


"Berapa lama di sini?"


"Sepuluh harian, gak bisa lama-lama."


Intan menganggukan kepala, "Iya gak bisa lama, kalian selama liburan ini pasti gak akan terpisahkan ya," godanya.


"Hehehe."


Walaupun Reva dan Rafael itu masih muda, tapi di mata Intan mereka terlihat pasangan yang manis dan romantis. Orang lain mungkin akan menganggap hanya sebatas pacaran, padahal hubungan mereka sudah sangat jauh.


"Jadi bagaimana, semuanya sudah kamu persiapkan, kan?" tanya Harry mengalihkan obrolan. Sekarang waktunya membicarakan tentang pernikahan mereka.


"Oh iya sedang kok, besok kamu ke butik ya. Kita cari kebaya buat pernikahan," ucap Intan sambil tersenyum.


"Oke tapi kayanya baru bisa pas pulang kantor, gak papa?"


"Gak papa, aku juga kan pulang dari butik selalu malam."


Harry lalu membawa tangan Intan yang berada di atas meja, "Sebentar lagi kan pernikahan kita, kamu jangan terlalu kecapean ya, takut sakit," nasihatnya.


Intan pun membalas genggaman tangan pria itu, "Seharusnya aku yang bilang gitu ke kamu, kamu yang lebih sibuk dan capek kerjanya di banding aku."


"Dasar, malu ih dilihatin anak-anak."


Rafael dan Reva yang dikode begitu pun saling bertatapan, mereka lalu saling membalas senyuman. Rafael lalu membawa tangan Reva yang berada di bawah meja, memgusapnya beberapa saat. Tidak tahu saja orang tua itu kalau mereka lebih romantis.


"Nanti Reva sama Rafael juga pilih kebaya ya," ucap Intan.


"Gimana Tante?"


"Kalian kan anak-anak kami, jadi bajunya juga harus matching."


"Oh Oke, kapan?"


"Lusa aja ya, soalnya besok mau cari dulu untuk Tante sama Mas Harry," jawab Intan.


"Oke siap."


Karena acara hanya dilakukan kecil-kecilan, alias keluarga saja yang hadir, jadi persiapan pernikahan pun tidak terlalu banyak dan sibuk. Padahal uang Harry banyak, tapi ini semua atas permintaan Intan sendiri. Usia mereka tidak lagi muda, jadi gengsi pun sudah tidak tinggi.

__ADS_1


"Oh iya Pah aku mau bilang sekalian," ucap Reva baru ingat sesuatu. Kebetulan makan malam sudah selesai, sekarang sedang makan dessert.


"Ada apa sayang?" tanya Harry memfokuskan pandangan pada putrinya itu.


"Papa bisa bantu temen aku gak? Dia ada masalah, aku pengen laporin seseorang ke polisi atas dasar kekerasan."


Rafael pun langsung peka siapa yang sedang dibicarakan istrinya ini, sepertinya perempuan yang kemarin mereka jenguk di rumah sakit. Rafael pun tidak menahan karena yakin Reva pun sudah memikirkannya dengan baik-baik.


"Apa yang terjadi memangnya sama teman kamu itu Reva?" Intan pun mulai ikut dalam obrolan, sepertinya ini cukup penting.


"Teman aku kan kerja jadi pelayan gitu, nah bosnya itu ada yang seumuran kami, dia juga seangkatan sama aku di Kampus. Tapi bosnya itu sering kasar dan ngelakuin kekerasan fisik gitu ke teman aku, mentang-mentang dia pelayan," cerita Reva.


"Ya ampun kasihan," gumam Intan sambil menutup mulutnya. Jika tentang anak, hatinya selalu tersentuh sendiri.


"Lalu bagaimana keadaan teman kamu itu sekarang?" tanya Harry.


"Dia masih gak sadarkan diri di rumah sakit, kemarin malam juga aku sama Rafael lihat ke sana. Kata dokter ada pukulan keras di belakang kepala, kasihan dia."


Harry memganggukan kepalanya mengerti, Ia pun bisa langsung menyimpulkan jika perlakuan itu memang sudah tidak bisa diterima dan sangat keterlaluan.


"Ya sudah nanti Papa akan minta bantuan teman, dia akan urus semuanya dengan pengacara."


Mendengar itu membuat Reva tidak bisa menahan senyumammya lagi, "Asik beneran nih Pah?" pekiknya.


"Iya," angguk Harry.


"Makasih Papa."


"Sama-sama."


Intan lalu menyela, "Memang sepertinya dia harus di laporkan, kalau tidak takutnya akan terus kasar begitu," dukungnya.


"Dulu aku juga sempat memergoki, tapi Vanessa itu nahan aku untuk jangan ngelaporin. Kalau aja waktu itu dia gak tahan, mungkin kejadian buruk gini gak akan menimpa dia."


"Mungkin dia takut," ujar Intan dan diangguki Reva.


"Sekarang dia pasti gak akan nahan lagi, kamu sudah berbaik hati mau bantu dia."


"Iya Pah, tapi aku juga mau minta bantuan Papa."


"Tenang saja, Papa akan bantu kok." Bagi Harry, apapun yang terpenting untuk putri tersayangnya ini.

__ADS_1


Selesai makan malam, mereka berpindah ke halaman belakang untuk mengobrol santai. Ditemani popcorn dan minuman soda. Kebetulan malam itu angin malam pun sedang sejuk, langit pun terlihat sangat indah dengan banyak hiasan bintang dan bulan. Keluarga kecil yang terlihat harmonis.


__ADS_2