
Sudah dua hari Vanessa tidak masuk Kampus, katanya izin sakit dan Reva ingin menjenguknya. Memang temannya itu tinggal di rumah orang lain, tapi tidak apalah mungkin jika dirinya berkunjung untuk sekedar menjenguk. Di perjalanan tidak lupa Reva membeli beberapa buah-buahan untuk dibawanya.
"Vanessa, kamu di rumah, kan?" tanya Reva pada seseorang di sebrang sana.
["Iya Reva, ada apa?"]
"Aku ke rumah kamu ya? Mau jenguk."
["Eh jangan-jangan."]
Mendapat penolakan begitu, membuat Reva terkejut sendiri, "Loh kenapa?"
["Aku sudah baikan kok, selain itu gak enak sama yang punya rumah."]
"Gak papa kali kalau aku jenguk kamu, lagian gak akan ganggu juga."
["Bukan gitu tapi-"]
"Sebentar lagi aku sampai di rumah kamu, sudah dulu ya."
["Reva."]
Sebenarnya Reva bingung melihat reaksi penolakan Vanessa yang menolak dengan keras saat Ia akan jenguk. Bukannya bagus ya ada yang perhatian? Nanti juga di sana Reva akan jaga sikap, karena Vanessa memang bukan si pemilik rumah. Sesampainya di depan gerbang rumah itu, Reva pun turun dari mobilnya.
"Permisi Pak," teriak Reva pada seorang satpam yang berjaga, pria paruh baya itu pun berlari mendekatinya.
"Iya neng ada apa ya?"
"Saya mau jenguk Vanessa dong."
"Vanessa? Pelayan di rumah ini?" tanya satpam itu memastikan, karena hanya ada satu nama itu di sana.
"Iya, dia temen saya. Boleh gak Pak?"
"Waduh saya gak tahu neng, ini kan bukan rumah neng Vanessa. Dia kerja di sini cuman jadi pembantu, jadi harus minta izin Nyonya atau Tuan dulu kayanya."
Helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Reva, "Masa gak boleh sih Pak? Lagian saya juga di sana cuman di kamar Vanessa, gak akan ke mana-mana atau ganggu yang lain."
__ADS_1
"Maaf neng kayanya gak boleh." Si satpam itu terlihat tidak enak saat mengatakannya.
Baru saja Reva berbalik untuk pergi, tapi sebuah mobil Porsche datang dan berhenti di depannya. Ternyata benar itu Ivana, perempuan itu langsung tersenyum melihat kehadiran Reva di sana, segera Ia pun menghampiri.
"Reva, kamu lagi apa di depan rumah aku?" tanya Ivana.
"Ini Non, katanya dia mau jenguk neng Vanessa. Saya tadi sudah larang karena kayanya gak bisa, soalnya kan neng Vanessa di sini cuman pekerja." Si satpam itu membantu menjelaskan.
Ivana menganggukan kepala sambil tersenyum kikuk, "Kamu perhatian banget sampai mau jengukin dia," ucapnya penuh iri.
"Iya, Vanessa kan sudah dua hari gak masuk dan aku khawatir." Reva lalu terpikirkan sesuatu, "Ivana, boleh gak aku jenguk Vanessa?" Perempuan itu kan pemilik rumahnya, jadi Reva bisa minta izin langsung.
"Boleh kok, kenapa enggak? Yuk masuk," ajak Ivana setengah hati. Sebenarnya tidak masalah Reva itu main ke rumahnya, malahan Ia sangat senang. Tetapi kedatangannya bukan untuk bertemu dirinya, melainkan bertemu babunya.
Reva mengucapkan terima kasih karena Ivana memberikan izin, sempat khawatir tidak, tapi ternyata diberikan. Reva pun kembali masuk ke mobilnya begitu pun dengan Ivana, lalu masuk ke dalam gerbang yang sudah di bukakan oleh satpam tadi.
Ivana lalu mengajak Reva masuk, tapi tidak langsung diantarkan ke kamar Vanessa, Ivana malah meminta Reva duduk dahulu sambil menyuruh pembantu membawakan air. Reva sebenarnya ingin menolak, tapi tidak enak juga karena Ivana tadi sudah baik memberikan izin.
"Emangnya Vanessa itu sakit apa ya?" tanya Reva penasaran, Vanessa tidak mau menjelaskan lebih jadi Ia tidak tahu.
"Gak tahu," jawab Ivana sambil mengedikan bahu.
"Kenapa juga aku harus tahu keadaan dia?" tanya Ivana sambil tersenyum sinis, seharusnya Reva mengerti sendiri dong. Vanessa itu kan cuman pembantu, dan Ivana tidak peduli dengan mereka.
Reva tersenyum kecut melihat sikap Ivana, memang sudah tahu dari awal jika perempuan itu sangat sombong, itulah kenapa Reva tidak mau mendekatinya menjadi teman. Reva lalu meminum sedikit jusnya sebagai tanpa menghargai.
"Bisa antar aku sekarang ke kamar Vanessa? Gak papa gak di anter juga, cuman di tunjuk aja dimana kamar dia."
"Gak papa biar aku anter, tapi aku gak akan ikut masuk ya."
"Oke, makasih."
Rumah Ivana hampir sama saja dengan rumah Papanya, sama besar dan mewah, jadi bagi Reva yang orang berada juga tidak dibuat terkagum-kagum. Ivana terlihat ramah sekali menyambutnya, bahkan perempuan itu sampai memperkenalkan setiap ruangan kepadanya. Reva mendengarkan saja dengan sesekali mengangguk dan tersenyum.
"Kamar pelayan berada di bagian paling belakang," ucap Ivana memberitahu.
"Hampir sama saja seperti di rumah Papa, semua kamar pekerja di rumah ada di belakang," sahut Reva.
__ADS_1
"Tapi katanya Reva tinggalnya di apartemen ya? Gimana rasanya tinggal sendiri? Aku juga kadang pengen banget," tanya Ivana penasaran.
"Hm menurut aku ada seneng dan susahnya sih, apalagi kalau makan itu gak bisa masak dan harus nunggu pesen. Beda lagi kalau misal bisa masak, jadi gak repot."
"Mungkin orang tua aku juga khawatir gitu, soalnya aku gak bisa apa-apa hehe."
"Memang tinggal sendiri itu agak repot, jadi kalau semisal gak suka yang repot-repot jangan dulu. Mending sudah tinggal sama orang tua aja, biar di urusin juga."
"Terus kenapa Reva malah tinggal sendiri? Pengen bebas ya?"
"Bukan, tapi ada alasan lain."
"Apa aku boleh tahu?"
Reva tersenyum tipis, "Maaf ya, aku gak bisa cerita," ucapnya.
"Oh iya gak papa," balas Ivana malu sendiri. Sepertinya Ia terlalu jauh, Reva terlihat masih memberikan benteng di antara mereka.
Sesampainya di kamar itu, Ivana memberitahu jika itu adalah kamar Vanessa dengan bibinya. Reva kembali mengucapkan terima kasih, Ivana mengangguk lalu pergi dari sana. Reva mengetuk pintu kamarnya beberapa kali, sampai pintu pun terbuka dari dalam dan munculah orang yang Ia cari.
"Hai Vanes," sapa Reva dengan suara riangnya.
"Reva, jadi kamu serius kesini?" Vanessa terlihat terkejut dengan kedatangan temannya itu.
"Iya dong serius, masa aja aku bohong. Apa aku boleh masuk?"
"I-iya boleh." Vanessa pun membuka pintu lebih lebar, membiarkan temannya itu masuk ke ruang pribadinya. Kamarnya tidak terlalu kecil, dengan ranjang yang cukup besar juga.
"Nih buat kamu."
Vanessa menerima bingkisan itu lalu mengintip nya ke dalam, "Apa ini?"
"Buah-buahan, tadi sekalian beli."
"Kamu terlalu berlebihan, jadi ngerepotin." Reva itu memang baik sekali, Vanessa kan selalu segan.
"Gak papa."
__ADS_1
Reva lalu duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan Vanessa yang sedang menyimpan buah-buahan. Sekarang temannya itu sudah bisa berjalan dengan normal, kakinya sudah sembuh. Saat Vanessa berbalik menghadapnya, Reva baru menyadari sesuatu di wajah perempuan itu.
"Loh Vanes, kok wajah kamu babak belur gitu?" tanya Reva terkejut baru sadar.