Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
13 Sangat Berhati-hati


__ADS_3

Dinda merasa bosan menunggu Rafael mengerjakan tugasnya. Ia lalu menyimpan ponselnya dan beranjak untuk melihat-lihat sekitar apartemen itu. Di sini sangat nyaman, luas juga bersih. Dinda jadi ingin sering main ke apartemen Rafael.


"Dinda, kamu mau kemana?" tanya Rafael melihatnya.


"Aku boleh lihat-lihat gak?"


"Em di sana cuma kamar aja sama kamar mandi, gak ada apa-apa lagi."


"Tapi aku penasaran, boleh ya?"


Melihat Rafael yang diam saja seperti bingung sedang memikirkan, membuat Dinda kesal sendiri. Ia pun tanpa meminta pendapat lagi, melenggang ke lorong yang di setiap sisinya ada pintu ruangan.


Baru saja akan membuka salah satu pintu, Rafael langsung berteriak dan berlari menghampirinya. Pintu yang sedikit terbuka itu langsung Rafael tutup, bahkan menguncinya dan memasukan benda kecil itu ke saku celananya.


"Kamu kenapa sih?" tanya Dinda tersinggung, "Lagian aku juga cuma lihat aja Rafael, gak akan nyuri."


"Bu-bukan gitu, tapi kamar ini cukup privasi."


"Itu kamar kamu kan?"


"Bukan, ini.. Kamar orang tua aku," jawab Rafael berbohong. Sebenarnya itu kamar Reva, kalau sampai Dinda lihat bisa gawat.


"Loh katanya kamu gak tinggal sama orang tua di sini."


"Iya, cuma mereka juga sering nginep seminggu sekali kesini. "


"Oh gitu ya, terus kamar kamu emangnya dimana?"


Rafael pun menunjuk salah satu pintu yang bersebrangan, "Di sana, kalau mau lihat yuk sama aku."


Sebenarnya Rafael pun sadar kalau sikap Dinda itu tidak sopan, tapi Ia tidak berani menegur karena rasa sukanya yang terlampau besar pada perempuan itu. Dinda Ia izinkan melihat-lihat apartemennya, asalkan tidak dengan kamar Reva.


"Kamar kamu besar juga, nyaman lagi," ucap Dinda memasuki kamarnya.


"Iya, aku juga gak simpan terlalu banyak sih, biar gak sempit gitu."


"Tapi kayanya kamu memang orangnya rapih, jadi mau banyak barang juga gak akan berantakan."


"Hehehe." Rafael hanya tertawa kecil mendapat pujian begitu.


Dinda lalu duduk di ujung ranjangnya, sedangkan Rafael masih berdiri di dekat pintu memperhatikan. Di kamarnya tidak ada yang mencurigakan yang berkaitan dengan hubungannya dengan Reva, jadi aman-aman saja.


"Aku selalu bayangin suatu saat nanti tinggal di apartemen begini," ucap Dinda, "Tapi kayanya sampai kapanpun gak akan kecapaian."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aku gak punya uang, kamu tahu sendiri kalau aku bukan dari kalangan orang berada seperti kamu."


"Nanti kalau sudah bekerja, kamu pasti bisa kok tinggal di apartemen begini."


"Kayanya enggak deh, mending tinggal di kontrakan aja. Gaji kerja itu gak seberapa, cuma cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari aja. Sedangkan untuk beli apartemen itu kan mahal banget." Dinda berkata sambil menunjukan wajah memelas nya.


Rafael lalu duduk di sebelah Dinda, rasanya tidak tega sekali melihat wajah sedih itu. Ingin Rafael bantu, tapi dengan cara apa?


"Nanti Dinda boleh deh sering main kesini," ucap Rafael.


Senyuman langsung terukir di bibir Dinda, "Beneran?"


"Iya, lagian kan aku juga tinggal sendiri di sini."


"Aku seneng banget deh kalau bisa sering main kesini, makasih ya Rafael."


"Sama-sama."


Rafael lalu mengajak Dinda ke ruang utama lagi, menyuruh perempuan itu menyalin tugasnya yang sudah Ia kerjakan semua sendirian. Sambil menunggu Dinda menyelesaikan nya, Rafael membawakan sesuatu.


"Dinda, ini untuk kamu," ucap Rafael.


Dinda melihat dan membawanya, "Ini apa?"


"Itu oleh-oleh dari Perancis, kebetulan Papa aku beberapa hari lalu ada tugas di sana."


Oleh-oleh nya dikemas dalam sebuah paperbag berukuran sedang. Isinya ada beberapa coklat dan makanan khas dari negara itu. Kedua mata Dinda sampai berbinar mendapatkannya, senang sekali rasanya.


"Harus di abadiin dulu nih, buat kenang-kenangan hehe," ucap Dinda.


Perempuan itu menyimpan paperbag nya di tengah meja, membuat posisi terbaik lalu segera mengambil beberapa foto. Setelahnya Ia pun mengupload ke story instagram nya, dengan caption yang terkesan sombong.


"Sudah selesai tugasnya, hah pegel juga ya nyatet nya," ucap Dinda sambil meregangkan badannya.


"Iya, soalnya emang cuma lima, tapi jawabannya panjang."


"Seneng deh kalau ngerjain tugas bareng Rafael, soalnya Rafael kan pinter."


"I-iya, aku juga seneng ngerjain tugas bareng kamu," balas Rafael sambil tersenyum malu-malu.


"Sudah malam, kayanya aku harus pulang sekarang."


"Oh iya, nanti orang tua kamu nyariin lagi."


Rafael dengan perhatiannya mengantarkan Dinda ke bawah. Tidak terasa sudah pukul enam sore lagi, padahal seperti baru sebentar mereka bersama. Rafael merasa lega karena acara mengerjakan tugas bersama ini berjalan lancar, tanpa ada yang mengganggu.

__ADS_1


"Hati-hati ya Dinda," ucap Rafael sambil melambaikan tangannya.


"Iya, aku pulang dulu."


Setelah mobil yang dikendarai perempuan itu pergi, Rafael pun berbalik untuk kembali ke apartemennya. Tetapi Ia terkejut luar biasa melihat kehadiran Reva di pintu utama gedung, sedang mengemut permen lolinya.


"Reva, kamu dari kapan di situ?" tanya Rafael panik.


"Dari tadi," jawab Reva enteng.


"Terus apa Dinda tahu? Ya ampun, gimana kalau dia lihat kamu?"


Reva mendengus tanpa sadar, "Lo kenapa panik gitu sih? Lebay banget."


"Bukan lebay Reva, tapi kan Dinda bisa aja curiga kalau kita di tempat yang sama."


"Ya elah gak akan, kenapa pikirannya jauh banget sih? Lagian gue juga duduknya di tempat gelap begitu, lagi nyemil."


Tetap saja Rafael takut, tapi Ia berharap semoga saja tadi Dinda memang tidak melihat. Rafael tersentak saat Reva memberikannya beberapa paperbag, untung saja dengan cepat Ia memegangnya agar tidak jatuh.


"Ini apa Reva? Buat aku?" tanya Rafael sudah senang, "Kamu beliin banyak untuk aku ya?"


"Jangan kepedean, itu punya gue semua."


"Hah? Kamu shopping sebanyak ini?"


"Iya, kebanyakan baju sih sama aksesoris."


"Ya ampun Reva, kamu kok boros banget sih?!" omel Rafael mulai terpancing emosi.


Reva memutar bola matanya malas, "Cuma tiga juta."


"Apa?!"


"Ih gak usah teriak-teriak kali."


Rafael menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap santai Reva, "Kan aku sudah bilang, jangan belanja terlalu banyak. Bisa gak lebih hemat?"


"Itu juga udah hemat Rafael, biasanya juga sampai lima juta lebih."


"Tapi--"


"Syutt udah deh, gak usah bawel. Lagian kan gue juga punya uang jajan dari Papa, bukan semua dari lo." Reva lalu berbalik, "Bawain ya barang-barang gue semua, pegel nih dari tadi bawa sendiri."


Beginilah Rafael, selalu tidak bisa memarahi Reva atau sekedar menasehati nya. Hatinya selalu lelah sendiri karena perempuan itu yang keras kepala, untung saja Rafael punya kesabaran yang tinggi.

__ADS_1


"Berarti uang jajan Reva aku kurangin ya, soalnya kan shopping nya banyak."


Reva langsung menoleh, "Dasar pelit!" jerit nya.


__ADS_2