Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
45 Bukan Jawaban Yang Diinginkan


__ADS_3

Setelah membersihkan rumah, Rafael dan Reva bersiap untuk pergi ke pemakaman umum. Sudah lumayan lama tidak berziarah ke makam Mama, keduanya kadang tidak ada waktu karena akhir-akhir ini sibuk belajar persiapan ujian kelulusan.


"Assalamu'alaikum Mama, aku dan Rafael datang," ucap Reva.


"Maaf ya Mah kita baru kesini lagi," timpal Rafael.


"Mama apa kabar di sana? Aku kangen banget sama Mama," ungkap Reva dari dalam hati.


Melihat ekspresi menahan tangis Reva, membuat Rafael yang berjongkok di sebelahnya langsung mengusap-usap punggung perempuan itu. Ia seolah bisa merasakan bagaimana rindunya seorang anak pada Ibunya yang sudah tiada.


"Sebentar lagi kami lulus, doa in ya Mah semoga ujiannya lancar."


"Iya aamiin."


"Aku walaupun emang gak terlalu pinter kaya Rafael, tapi kalau lagi ujian serius gitu kayanya bakal ngisi bener-bener deh hehe."


Rafael ikut tersenyum mendengar Reva yang sedang curhat pada Mamanya itu, membiarkan saja dan hanya diam mendengarkan. Tidak ada salahnya, toh Reva pasti merindukan Mamanya itu.


"Nanti aku bakal minta belajar tambahan di apartemen deh ke Rafael, ya semoga aja dia mau."


"Iya," ucap Rafael mengerti kode itu.


"Tapi kayanya dia bakalan belajar bareng sama pacarnya, bukan sama aku."


Rafael langsung menatap Reva bertanya dengan maksud perkataannya tadi, "Apaansih?"


"Iya, nanti lo bakal belajarnya sama si Dinda kan?"


"Tapi kita gak pacaran." Bela Rafael meluruskan.


"Tapi lo suka sama dia."


"Cuma sebatas itu, gak lebih."


Reva mendengus dan merasa alasan Rafael itu tetap tidak bisa Ia terima, menurutnya sama saja. Reva jadi teringat pada obrolannya dengan Lucas semalam. Pria itu pun bahkan sadar jika selama ini Rafael lebih dekat dengan Dinda, bahkan tahu juga perasaannya.


Perkataan Lucas yang membuat Reva mengganjal itu. Rafael saja bisa bebas berduaan dengan perempuan lain di sekolah, sedangkan dirinya bersikap sok setia. Reva merasa sedikit tersinggung, kalau dipikir yang dikatakan Lucas itu ada benarnya juga.


"Sudah ah jangan bahas itu, gak enak di depan Mama," ucap Rafael.


"Tapi kan Mama juga udah mati," celetuk Reva.


Memang sih, tapi menurut Rafael ini tidak pantas sekali.


"Setelah ini kita mau kemana?" tanya Rafael.


"Terserah."


"Loh Reva marah?"

__ADS_1


"Enggak, biasa aja."


"Tapi kok ngomongnya ketus gitu?" Padahal perempuan itu duluan yang memulai membahas Dinda, kenapa jadi ngambek?


"Gue laper," ucap Reva.


"Ya udah, kita cari restoran."


"Tapi pengen makan-makanan India."


"Coba kamu cari di google daerah sini, pasti ada. Cuma aku kurang tahu."


"Iya."


Setelah berpamitan pada Mamanya itu, keduanya pulang untuk mencari restoran khusus yang diinginkan Reva itu. Ternyata ada lumayan banyak, tapi jaraknya agak jauh. Walaupun begitu, Rafael tetap menuruti keinginan Reva karena kan sedang ngambek.


"Tenang aja makannya, aku gak akan minta kok," ucap Rafael.


Reva memelankan kunyahan nya, "Makannya enak, nanti kita kesini lagi ya?"


"Boleh, harganya juga termasuk murah untuk makanan luar negeri."


"Gue pengen coba nasi biryani lo, boleh?"


"Iya," angguk Rafael.


Saat Reva menyuapkannya, kepalanya langsung mengangguk-angguk merasakan masakannya yang enak. Ia termasuk orang yang bisa makan apa saja, hampir sama lah dengan Rafael soal selera.


"Ambil aja."


"Suapin dong."


Sebelah alis Reva terangkat, "Tumben manja, biasanya juga suka mandiri," ledek nya.


"Hehe gak papa lah kali-kali."


Reva hanya tersenyum dan menyuapi suaminya itu tanpa penolakan. Rafael itu memang jarang sekali manja padanya, mereka kan sering menjaga image dan meninggikan ego. Tetapi tanpa pria itu sadari, sebenarnya Reva lebih suka jika Rafael bersikap terbuka begitu.


"Rafael, gue mau ngomong sesuatu," ucap Reva serius.


"Apa? Cerita aja."


"Kalau misal gue sama Lucas jadian gimana?"


Rafael hampir tersedak makannya sendiri mendengar itu, Ia langsung menatap Reva terbelak. Tadi Ia tidak salah dengar, kan?


"Apa?" tanyanya meminta mengulang.


"Lucas udah beberapa kali nyatain perasaannya ke gue, gimana kalau semisal kita jadian?"

__ADS_1


Untuk beberapa saat Rafael terdiam sanking speechless, "Terus emangnya Reva juga punya perasaan yang sama ke dia?"


"Mungkin?"


"Aku pikir Reva gak tertarik sama dia."


"Emangnya tau dari mana gue gak tertarik sama dia?" tanya Reva menantang.


"Bener juga sih, lagian Lucas itu kayanya hampir disukain banyak cewek. Apalagi badannya tinggi, plus lagi wajahnya ganteng karena blasteran." Saat mengucapkan itu, terdengar sekali suara Rafael yang ketus.


Itu menurut Rafael, karena nyatanya Reva memang tidak terlalu tertarik pada Lucas. Perempuan itu hanya ingin mendengar pendapat suaminya itu saja jika Ia menerima tawaran Lucas untuk menjadi pacarnya karena ingin rahasianya tetap terjaga.


"Terserah Reva sih."


Jawaban itu bukan yang diinginkan Reva sebenarnya, inginnya Reva mendengar Rafael menolak dengan berdalih ini itu padahal sedang menahan cemburu. Reva cukup kecewa karena Rafael seperti tidak terlalu mempermasalahkan.


"Jadi kalau gue sama Lucas bener pacaran gak papa?"


"Ya terserah Reva," jawab Rafael mengulang, "Mungkin kebahagiaan kita memang berbeda, kita bisa cari itu masing-masing."


Masing-masing?


Tatapan Reva menjadi sendu, tapi bukankah seharusnya mereka selalu bersama-sama ya? Reva berusaha menyembunyikan ekspresi kecewanya dengan pura-pura tersenyum.


"Sebentar lagi kan ujian kelulusan, sekarang lagi sibuk-sibuknya belajar. Aku cuma mau bilang aja ke Reva, jangan sampai karena pacaran buat kamu jadi gak fokus belajar dan malas-malasan," nasihat Rafael.


"Iya enggak kok."


"Terus juga kalau bisa, kalian harus tetap jaga batasan dan hati-hati."


"Pikiran lo terlalu jauh," dengus Reva.


"Bukan gitu, kan cuma jaga-jaga aja. Terus kalau misal lagi ngedate di luar, Hati-hati takut ketemu keluarga. Mereka pasti akan salah paham, sama kaya Papa waktu itu."


"Iya bawel, jadi gak papa? Lo gak marah, kan?"


Rafael dengan perasaan tidak ikhlasnya berdehem pelan, pria itu pun meminum air putihnya sampai habis. Makannya tinggal setengah lagi, tapi nafsu makannya sudah menghilang. Padahal tadi sedang enak-enaknya menikmati, tapi karena membahas ini membuat Rafael jadi tidak mood.


"Terus kalau misal gue jadian sama Lucas, apa lo bakal nyatain perasaan ke Dinda?" tanya Reva memastikan.


"Gak tahu."


"Bukannya lo suka sama dia? Lo pernah ungkapin perasaan lo?"


"Belum pernah, tapi kayanya gak akan."


"Loh kenapa?"


"Kayanya mending kita temenan aja, aku gak mau karena udah nyatain perasaan buat pertemanan aku sama Dinda jadi renggang."

__ADS_1


Ada sedikit rasa lega yang Reva rasakan mendengar itu, tapi juga perasaan tidak enak. Ia kira Rafael akan bersikap tidak mau kalah dengan pacaran juga bersama orang lain, tapi pria itu memilih menahan ego dan memendam perasaannya.


Reva jadi semakin bingung, sayang sekali waktu yang diberikan tidak lama lagi.


__ADS_2